Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 1. Awal kehidupan.


__ADS_3

Oma Jihan menangisi kepergian Opa buyut. Opa terbaik sepanjang masa kini telah berpulang. Setelah satu tahun kepergian Oma Esa, kesehatan Opa Garin terus menurun. Opa sangat kurus. Mungkin Opa buyut begitu kehilangan Oma Esa.


"Allahu Akbar.." Opa Rico kaget karena Kak Cherry tiba-tiba saja pingsan.


Bang Farid segera membawa istrinya itu ke mobil.


"Bagaimana Cherry?" tanya Opa Rico.


"Nggak apa-apa Opa, biasa bawaan bayi" kata Bang Farid sembari membenahi kerudung Kak Cherry.


"Mama kenapa Pa?" tanya Intan. Putri pertama Kak Cherry dan Bang Farid.


"Adiknya capek. Biar Mama tidur dulu ya nak..!!" Bang Farid mengangkat Intan di atas pangkuannya.


∆∆∆∆


"Kamu dimana???" tanya Bang Khaja.


"Aku masih di bar Bang, sebentar lagi" kata Bang Langsang.


"Kamu itu cari informasi atau cari hiburan???" bentak Bang Khaja.


"Ya cari informasi Bang.. tapi sekalian cari hiburan" jawab jujur Bang Langsang.


"Allahu Akbar.. pulang kamu sekarang..!!!!!!!"


...


Papa Ranggi menampari pipi kedua putranya. Dalam hal pekerjaan.. Papa Ranggi memang tetap selalu bersikap profesional.


"Kepalamu isinya memang hanya perempuan. Lebih baik kamu menikah saja..!! Lama-lama pikiranmu bisa nggak fokus Langsang..!!!!!!"


Bang Langsang melempar flashdisk dan alat kerjanya di depan Papanya. "Kerja ya kerja. Itu hasil kerjaku satu minggu ini" Bang Langsang keluar ruangan tanpa pamit.


"Langsaaaaang..!!!!!!" suara Papa Ranggi menggelegar dalam satu ruangan.


"Kurangi suaramu Ranggi.. Masa mudamu sudah turun ke putramu. Nikmati saja dulu rasanya jadi Ayah yang stress karena ulahmu." kata Opa Rico.


Papa Ranggi terduduk lemas. Putranya itu memang begitu bengal. Khaja yang penurut dan Langsang yang pembangkang. "Apa ada perempuan yang mau sama dia Yah" Papa Ranggi pusing tujuh keliling memikirkan putrinya. "Khaja.. ikuti kemana adikmu..!!"

__ADS_1


"Heehh Ranggi.. biarkan saja Langsang. Dia sudah paham apa yang harus dia lakukan. Putramu tidak sebodoh yang kau kira. Dia sudah Lettu" kata Opa Rico. "Perlu kamu tau, Khaja dan Langsang sama saja bengalnya. Hanya saja Khaja lebih berhati-hati dalam tindakannya sedangkan Langsang memang Bar-bar dan terbuka apa adanya"


Bang Khaja tersenyum penuh arti mengangkat sebelah alisnya dengan nakal, memang benar Opa Rico memang terbaik dan selalu memahami semua cucunya. "I love you Opa"


"Dasar nakal" Opa Rico ikut tertawa melihat ekspresi cucunya.


-_-_-_-_-


"Seharusnya kau jangan pergi"


"Aku heran kenapa Papa tidak pernah percaya padaku" Bang Langsang berucap datar.


"Kau jangan begitu, itu tandanya Papa sangat sayang padamu." jawab Bang Khaja.


"Hmm.. oke lah. Tak usah di bahas lagi"


Tak lama Belinda datang dan langsung memeluk Bang Langsang. "Sayang, apa benar aku nggak boleh beli tas warna pink itu?" tanya Belinda.


"Kamu khan tau aku hanya pegawai minimarket. Hanya satu juta satu bulan, mana cukup sayang" jawab Bang Langsang.


"Kalau aku punya pekerjaan 'lain' boleh nggak yank?"


Bang Khaja sampai menggeleng geregetan melihat adiknya terus berdekatan dengan Belinda tapi mata Belinda tak lepas menatapnya dengan tatapan nakal.


"Aku pulang dulu. Mama mencariku" Bang Khaja menegaskan kata Mama agar Bang Langsang ingat Mamanya di rumah karena malam ini ada do'a bersama berpulangnya Opa Garin.


***


Tengah malam usai do'a bersama, Bang Khaja dan Bang Langsang segera lajur menuju Batalyon karena tugas mereka pun juga telah usai.


"Sudahi urusanmu dengan Belinda. Kesal sekali aku melihatnya" kata Bang Khaja.


"Tak beda jauh saat aku melihatmu dengan Chintya" Bang Langsang terdengar lebih santai.


"Hahaha.. Aseeemm" Bang Khaja pun tertawa mendengar ocehan adiknya.


:


Dua jam perjalanan dan mereka berdua hampir sampai ke Batalyon. Seorang gadis menyeberang jalan dengan menggendong sekeranjang buah jeruk, ia tak melihat ke kanan dan ke kiri hingga Bang Langsang terkejut refleks menginjak rem. Sisi depan mobil tersebut menyenggol gadis itu, masih untung buah jeruk tidak jatuh berhamburan.

__ADS_1


"Astagfirullah.. piye to Lang..!! Kalau ngantuk aku saja yang nyetir..!!" Bang Khaja membuka pintu mobil dan ikut turun bersama Bang Langsang yang masih syok.


"Kamu nggak apa-apa dek? Mau kemana?" tanya Bang Khaja.


"Mau ke pasar di pusat kota Pak, mau jual jeruk untuk bayar kuliah" jawab gadis itu sambil memercing.


"Saya bantu berdiri..!!" Bang Khaja hendak membantunya tapi tangan Bang Langsang tiba-tiba mencubitnya.


"Jatahku kapan Bang..??" bisik Bang Langsang.


"Bukan main. Di saat seperti ini masih sempat kau ya..!!" Bang Khaja menggeleng heran tapi Bang Khaja dengan sigap membantu gadis itu masuk ke dalam mobil.


...


"Terima kasih banyak Pak, saya harus segera ke pasar kota untuk jual jeruk" kata gadis itu berusaha berdiri tapi kakinya masih belum kuat meskipun Bang Langsang sudah membawa gadis itu dan mengobatinya di klinik terdekat.


"Biar saya yang beli semua. Kamu nggak usah pergi ke pasar..!!" Bang Khaja mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya. "Ini.. ambilah dan nggak usah pergi ke pasar..!!"


Tangan gadis itu gemetar menerimanya. Ternyata masih ada orang baik di dunia ini dan itu membuatnya terharu.


"Bagaimana saya panggil namamu?" tanya Bang Khaja.


"Panggil saya Naya Pak" jawab Naya.


"Tidak usah panggil Pak, masa ganteng begini di Panggil Pak.. panggil Abang donk..!!" pinta Bang Khaja.


Naya menundukan wajah hal itu membuat Bang Khaja meleleh.


"Abang antar pulang ya, dimana rumahmu?"


"Naya masih kost Bang" jawab Naya.


"Ya sudah Abang antar..!!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2