
"Kamu harus segera ditangani..!!"
"Jangan panggil siapapun Bang, Jihan ingin dekat dengan Abang" pinta Oma Jihan memegangi tangan Opa Rico.
Opa Rico menoleh dan melihat ke belakang. Ada Papa Ranggi di balik kaca ruang ICU. Papa Ranggi pun mengerti apa yang harus ia lakukan.
"Waktu cepat berlalu ya Bang..!!" kata Oma Jihan.
"Biarkan waktu berlalu, tapi Abang harap jiwa-jiwa yang ada tak akan pernah berlalu. Cepat sembuh, nanti kita jalan-jalan berdua."
"Abang sudah tau waktu Jihan tak akan lama lagi. Abang tidak perlu membawa Jihan jauh hanya untuk sembuh. Sayang uangnya..!!"
"Kenapa kamu tidak pernah mengatakan sakitmu?? Andai saja kamu katakan sejak lama, pasti Abang akan mencarikan pengobatan terbaik untukmu. Abang kerja siang malam juga demi kamu, lantas untuk apa Abang kerja kalau kamu tidak sehat, tidak bahagia hidup bersama Abang" jawab Opa Rico.
"Hidup ini sudah ada yang mengaturnya Bang. Mungkin Tuhan meminta hidup Jihan cukup sampai disini saja" senyum itu tersungging manis menampakkan keriput tipis tapi tidak seperti kebanyakan Oma pada umumnya. Aura cantik masih terlihat jelas dari raut wajah Oma Jihan.
"Jangan mendahului takdir Tuhan, kita pasti akan selalu sehat sama-sama" Opa Rico sekuat mungkin menahan rasa sedihnya. Ingin rasanya mengikuti kata yang biasa ia dengar.. 'cintailah pasanganmu seperlunya saja agar jika terjadi sesuatu pada hubungan kalian maka rasa sakit itu tidak terasa seperti akan membunuhmu', tapi kata hanya sekedar kata.. jika cinta sudah bicara, tak akan ada yang sanggup menolak hadirnya seperti saat ini.. seperti dirinya yang sangat mencintai sang istri melebihi apapun.
"Aku tak tau Bang.. mengapa hatiku terlalu mencintaimu hingga kadang aku merasa cemburu jika sesekali nama Mbak Asya tidak sengaja keluar dari bibirmu." ucap Oma Jihan semakin melemah.
Opa Rico tersenyum antara rasa sedih dan haru. "Abang paham.. nggak apa-apa. Abang juga salah terkadang masih mengingatnya" jawab Opa Rico sampai kemudian team dokter datang.
"Jihan juga ingin Abang sayangi dalam do'a, setiap saat, di setiap Hela nafas..!!" mata Oma Jihan mulai sayu.
Opa Rico mengangguk. "Iya, pasti.. apapun akan Abang lakukan untukmu"
Senyum Oma Jihan perlahan menghilang bersamaan dengan matanya hampir berat terpejam dan dokter terus mengusahakan segala yang terbaik untuk Oma Jihan.
"Jihan.. Jihaan..!!" Opa Rico memanggil lirih nama Oma berkali-kali tapi Oma Jihan tak kunjung bereaksi.
"Dalam hidupku, hanya ada satu pria yang begitu memikat hatiku dan itu adalah Abang. Rasa sayang ini akan Jihan bawa hingga nafas terakhir. Terima kasih telah menjadi ayah yang baik untuk anak-anak dan menjadi suami yang sangat bertanggung jawab............ Jihan sayang Bang Rico" mata Oma Jihan terpejam.
Para team medis memasang alat pemantau agar keadaan Oma Jihan bisa lebih stabil meskipun kemungkinannya sangat tipis.
__ADS_1
"Abang sudah dengar semua pesan dari hatimu. Abang juga sayang sama kamu Jihan..!!" ucap Opa Rico tak sanggup membendung air matanya.
:
Dokter meminta Opa Rico untuk keluar agar mereka bisa lebih fokus menangani Oma Jihan.
"Papa tunggu disini saja.. Mama pasti baik-baik saja" bujuk Papa Ranggi.
Tak lama Om Gazha datang. Ia pun tak bisa membendung rasa sedihnya. Oma Jihan mungkin bukanlah ibu kandungnya tapi segala jerih payah Oma Jihan lah yang membuat dirinya bisa berdiri tegak dan tidak kekurangan kasih sayang.
"Kenapa Ayah baru bilang tentang Mama????" tanya Om Gazha kecewa.
"Ayah saja baru tau keadaan Mama" jawab jujur Opa Rico seakan kehabisan tenaga.
"Lalu apa yang bisa kita perbuat sekarang Yah?"
"Tidak ada. Kita hanya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan" kata Opa Rico.
"Mamaaaaa.." Om Gazha histeris melihat Oma Jihan tidak sadarkan diri. Ia ingin berlari menerobos masuk ke ruang ICU tapi Papa Ranggi menahannya.
"Ma_maaa" Om Gazha merosot lemas tak sampai hati melihat mamanya terbaring lemah.
"Sabar Bang, mudah-mudahan Mama bisa bertahan" Papa Ranggi memeluk Om Gazha.
#
Tangis Angger dan Inay semakin bersahutan. Bang Khaja dan Bang Langsang menggendong bayi mereka masing-masing.
"Ada apa nak? Apa kamu memberi tanda untuk kita?" tanya Bang Khaja pada baby Inay.
Bang Langsang ikut bersedih, hatinya juga gelisah. "Jangan sampai ada apa-apa ya Le. Kasihan Opa buyut" kata Bang Langsang.
"Baaang.. Abaaaaang..!!" teriak Naya dengan keras dari arah dapur.
__ADS_1
"Ada apa dek?"
"Ada ular Bang"
"Sebentar, kamu naik dulu ke tempat yang lebih tinggi..!!" perintah Bang Khaja kemudian menidurkan baby Inay.
"Kamu jaga anak-anak di dalam kamar, Abang mau bantu Bang Khaja..!!"
"Iya Bang, hati-hati..!!"
~
"Mana ularnya??"
"Itu di bawah kolong meja kompor" kata Naya.
Bang Khaja dan Bang Langsang membuka tirai kolong kompor.
"Astaga Lang, besar sekali"
"Aku saja yang ambil" Bang Langsang sigap mengulurkan tangannya.
"Jangan ceroboh, lihat dulu jenisnya..!! itu berbisa tinggi..!!" Bang Khaja menepis tangan Bang Langsang.
"Halaah.. takut amat kau Bang, kita saja punya ular berbisa tinggi" jawab Bang Langsang santai.
"Cucukmu..!! Punyaku masih pemalu. Ularmu saja yang kurang ajar, tidak tau sopan, kepala masih suka angguk sana sini" ledek Bang Khaja.
"Jangan banyak bicara, sudah gerak tuh Bang..!!"
.
.
__ADS_1
.
.