
"Andin mau hiking sama anggota Markas akhir pekan ini"
"Nggak..!!" tolak Bang Langsang.
"Itu nggak kebut-kebutan, nggak banyak goncangan" kata Andin.
"Tapi capek. Kamu nggak akan bisa mengontrol diri kalau sudah kecapekan. Belum lagi harus membawa tas berkilo-kilo di punggung mu"
Andin terdiam dan berbalik memunggungi Bang Langsang. Tanpa kata, air mata Andin menetes.
Bang Langsang menarik nafas dalam menekan emosinya menghadapi bumil cantik. "Shoping aja ya, nggak usah hiking" kata Bang Langsang membujuk memberikan pilihan.
Andin menggeleng menolak.
"Apa ada pilihan lain?" tanya Bang Langsang lembut.
"Paralayang?"
"Hiking aja nggak boleh, ini malah mau paralayang." suara Bang Langsang kembali meninggi dan Andin kembali melow.
Mata Bang Langsang terpejam sesaat kemudian ia mengusap dadanya. "Abang tau, kadang kamu menginginkan sesuatu dan sulit untuk di tunda.. tapi selama ada dedek di perutmu, Abang minta tolong jangan dulu ya sayang. Abang mohon..!!" Bang Langsang sungguh memohon pada Andin. "Apa saja permintaan mu pasti Abang lakukan, dengan catatan selama Abang mampu.. juga selama Abang nilai semuanya tidak beresiko untuk kamu juga anak kita"
"Okee.. setiap Minggu harus ada bucket yang cantik untuk Andin..!! terhitung per hari ini" pinta Andin.
"Siap laksanakan..!!"
...
Suara ketukan pintu terdengar cukup keras. Andin beranjak turun perlahan dari ranjang meninggalkan Bang Langsang yang tidur nyenyak tertelungkup. Mungkin lelah dengan kegiatan pagi ini.
"Selamat sore ibu. Ini mau mengantarkan bucket uang dari Pak Langsang" kata seorang anggota piket jaga."
"Oohh iya, terima kasih banyak ya om" jawab Andin.
Setelah anggota Bang Langsang pergi, ia mengamati bucket uang cantik, kali ini memakai lembaran berwarna hijau. "Ternyata bahagia sekali melihat bucket bunga yang cantik ini" gumam Andin.
"Siapa sayang?" tanya Bang Langsang dari dalam kamar.
"Ini.. ada yang antar bucket cantik. Terima kasih ya Bang, Andin suka"
"Sama-sama. Jangan cemberut lagi ya" jawab Bang Langsang dari dalam kamar.
***
__ADS_1
Andin bersandar di kantin Pak Sakih. Badannya terasa lemas tapi banyak sekali pekerjaan.
"Pulang ya dek.. nanti Abang hubungi Bang Farid..!!" Bang Langsang selalu cemas kalau sudah melihat Andin lemas seperti ini. Bang Langsang memijat pelipis Andin sekedar mengurangi rasa mual istrinya.
"Andin nggak apa-apa Bang, namanya juga bawaan bayi" jawab Andin.
Dari tempatnya, Bang Langsang seolah mendengar perdebatan dua orang.. jauh di balik kebun singkong Batalyon. Bang Langsang pun beranjak dan menghampiri. "Sebentar ya dek..!!" pamitnya pada Andin.
~
"Abang keluar dari dinas.. dan Abang akan temui orang tuamu. Jangan cegah Abang lagi" kata Bang Kristian.
"Abang jangan pikirkan aku, aku nggak apa-apa"
"Kamu masih nggak mau jujur juga???" bentak Bang Kristian.
"Kalian berdua ikut saya..!!" perintah Bang Langsang menegur anggota itu daripada suara Kris dan Indri harus terdengar anggota yang lain.
:
Praka Kristian dan Sertu Indri masuk ke dalam ruangan baru Bang Langsang karena suami Andin itu akan melaksanakan kenaikan pangkat esok hari sekaligus menempati jabatan yang baru di Batalyon.
"Kenapa kalian membawa masalah pribadi dalam pekerjaan?" tegur Bang Langsang sambil berdiri dan terus memijat Andin yang duduk di kursinya. Andin merasa nyaman hingga nyaris tertidur.
"Siap salah, sebelumnya saya sudah pernah menghadap untuk mengundurkan diri" jawab Praka Kristian.
"Abang mungkin pria bejat, tapi Abang bukan pecundang yang tidak mau bertanggung jawab..!!"
"Tanggung jawab apa?? Indri sudah katakan berulang kali. Ini semua masalah Indri dan Abang nggak perlu pusing dengan semuanya" Indri tetap emosi sampai dadanya terasa sesak.
"Diam semua, saya bawa kalian kesini untuk meluruskan masalah.. bukan untuk menambah masalah..!!"
"Katakan Indri.. kamu hamil atau tidak?" tanya Praka Kristian.
Indri terdiam, hanya matanya memerah.. bibirnya seakan terkunci rapat.
"Ya Allah Kris, kenapa kamu buat masalah runyam seperti ini??" Bang Langsang menopang tubuhnya pada meja kerjanya. Ia menatap Andin sekilas. Setiap tangannya berhenti menyentuhnya, Andin akan langsung merasa mual. Bang Langsang pun kembali mengusap lengan Andin.
"Maka dari itu saya buat surat pengunduran diri dari kesatuan. Karena saya merasa, Indri mengandung anak saya" jawab Praka Kristian.
"Saya tau kadang kita tidak berpikir rasional saat berhadapan dengan 'yang satu itu', tapi juga jangan lantas membuatmu jadi dungu..!!"
"Saya terima segala akibatnya Letnan" Ucap Praka Kristian tegas.
__ADS_1
Bang Langsang mengurut pangkal hidungnya pening merasakan permasalahan yang terasa buntu. "Bagaimana ini?"
"Kewajiban laki-laki itu apa Bang?" tanya Andin seraya memejamkan mata.
"Ya menanggung segala resiko dari setiap tindakan yang berani di ambilnya"
Andin mengarahkan tangan Bang Langsang agar tetap stay memijat pelipisnya. "Ya sudah, Om Kristian harus mengambil beban tanggung jawab itu. Mbak Indri tidak boleh egois. Anak itu akan tumbuh besar, kalian sudah berani mengambil langkah yang salah.. apa masih harus menimpakan beban pada anak kalian?"
"Siap ibu, saya mengerti..!!" kata Indri menghormati Andini sebagai istri dari atasan Praka Kristian.
Agaknya Bang Langsang paham maksud Andin.
"Silakan kalian berunding dan berpikir matang, ini bukan hanya tentang kalian berdua.. tapi jika memang kamu sudah titip benih dalam rahim Indri. Kamu harus bertanggung jawab secara penuh" ucap tegas Bang Langsang pada Praka Kristian.
Tangan Indri bertaut gelisah. Setitik air matanya menetes mengurai perasaannya yang campur aduk tak karuan. "Selama ini, aku sudah berusaha untuk mandiri. Aku mendapatkan seragam ini dengan usahaku sendiri agar keluargaku tau.. aku tidak sehina yang mereka bayangkan. Orang tuaku berpisah.. aku ini anak tanpa cinta. Mungkin jika aku mati pun, tidak ada yang peduli padaku."
"Kalau kamu tau perbuatan ini bisa mencelakai mu, kenapa kamu lanjutkan???" tegur Bang Langsang.
"Have fun. Aku tau para pria hanya mengincar tubuhku, bukan mencintaiku. Lagipula ini bukan anakmu Bang" Indri pun berlari keluar dari ruangan membawa tangis.
Bang Kristian tertegun bingung, ia juga syok mendengar perkataan Indri tapi secepatnya ia mengejar Indri.
"Indriiiii..!!!!!"
"Praka Kristian.. mohon ijin undur diri" pamit Bang Kristian.
"Silakan..!!" Bang Langsang mempersilahkan Bang Kristian untuk menyelesaikan masalahnya bersama Indri.
"Abang mau memikirkan wanita lain?" tegur Andin.
"Ngomong apa kamu.. Abang nggak mikir Indri, Abang mikir kelakuan Kris. Semua serba dilema dek. Kamu tau sendiri bagaimana perjuangan untuk mendapatkan seragam ini. Tangis, keringat, lelah, dan tak jarang berdarah untuk mendapatkannya.. Lalu sekarang ada kejadian seperti ini. Ini tidak hanya menyangkut diri, segalanya tergores" jawab Bang Langsang.
"Percayalah Bang, waktu akan menjawab semua. Imam yang baik akan mampu menaklukkan makmumnya seiring dengannya, suara imam akan tetap terdengar meskipun badai menggelegar" kata Andin.
"Tapi Indri bilang, bukan anak Kris"
Andin tersenyum kemudian membuka matanya. "Jangan dangkal menghadapi perempuan Bang..!! Berapa banyak mantan Abang sampai menerka sikap Mbak Indri saja tidak paham"
"Kamu meledek Abang?? Buat apa Abang menerka sifat dan sikap perempuan lain. Abang hanya ada urusan sama kamu. Kamu ini benar-benar player menakutkan. Siapa saja mantanmu?? Enteng sekali kata-katamu..!!" tiba-tiba saja Bang Langsang terserang rasa cemburu. Berondongan pertanyaan sudah mengisyaratkan rasa penasaran dirinya akan masa lalu Andini, meskipun ia sudah memenangkan hati sang istri.
.
.
__ADS_1
.
.