Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
36. Awal kekacauan.


__ADS_3

"Kemana Letda Ranggi??" tanya Danyon.


"Siap.. Ijin sakit Komandan" jawab Bang Ares secara formal mewakili Bang Ranggi.


"Sakit apa? alasan saja pengantin baru itu" kata Danyon menggerutu.


"Dia harus berangkat penugasan ke daerah pesisir.. ada info pergerakan musuh disana."


"Mendadak sekali Bang?" tanya Bang Ares.


"Keadaan seperti ini mana bisa di prediksi Res. Musuh bisa datang kapan saja dan kita sebagai pagar bangsa harus siap kapan saja berangkat, tak mengenal apakah kamu pengantin baru atau istrimu sedang hamil. Negara membutuhkan.. berangkat sekarang juga..!!" ucap Danyon.


"Siap laksanakan Bang..!!"


...


"Sekarang??" tanya Bang Ranggi dengan mata membulat besar.


"Perintahnya begitu. Hanya kamu yang di andalkan saat ini, semua perintah Dan Ganda" jawab Bang Ares.


"Tua bangka sialan. Berangkat ya berangkat.. apa susahnya" kata Bang Ranggi.


"Dalam surat perintah tertulis selama lima hari.. tapi ini medannya beda. Bisa saja lebih dari itu bro"


Bang Ranggi terdiam sejenak. Hatinya ngilu membayangkan harus meninggalkan Hana dan Cherry.


"Selama aku pergi.. aku titip anak dan istriku ya..!!" entah kenapa perasaanya tidak enak.


"Pasti.. aku akan jaga mereka baik-baik"


"Aku mau bicara serius sama kamu Res..!!"


"Apa itu??" tanya Bang Ares.


...


Siang itu juga Bang Ranggi mempersiapkan barangnya di bantu Hana. Wajah Hana nampak sedih dan pias tapi ia berusaha keras menahannya.

__ADS_1


"Abang cuma sebentar dek. Nggak lama kok" bujuk Bang Ranggi yang paham perasaan Hana saat ini.


"Iya Bang, Hana nggak apa-apa kok" jawab Hana.


"Nggak apa-apa kok mewek? Mana nih cantiknya.. masa Abang di kasih rambut aja nih mau berangkat dinas luar" tegur Bang Ranggi karena Hana hanya beringsut saja dalam pelukannya.


"Senyum donk yank..!!" pinta Bang Ranggi.


Hana mencoba tersenyum tapi kemudian tangisnya mengalahkan senyum manis itu.


"Sebenarnya Abang pengen banget sayang-sayangan sama kamu sekarang. Tapi waktunya terlalu mepet. Kalau Abang nggak tahan.. bisa telat nih apel gelar nya" kata Bang Ranggi.


"Kalau begitu yang kilat saja Bang"


Bang Ranggi ternganga.. istrinya sungguh mencampur aduk perasaannya. Ia melihat jam tangannya, tersisa waktu hanya tiga puluh menit lagi di rumah dan tak mungkin ia berikan semuanya untuk Hana karena ia pun pasti akan rindu dengan putri kecilnya.


"Abang nggak mau?" tanya Hana lagi.


"Astagfirullah hal adzim.. Abang kudu piye to dek." Rasanya Bang Ranggi ingin berteriak mengacak-acak rambutnya karena hatinya kini sedang dilema.


"Abang nggak mau seperti ini. Kamu nggak selesai atau Abang saja yang merasa puas. Abang maunya kita berdua menikmati masa berdua kita dek. Kamu bukan barang pelampiasan Abang, kamu itu istri Abang" ucap Bang Ranggi sembari membelai rambut Hana. Tak tega rasanya meninggalkan Hana, belum lagi resepsi pernikahan yang terpaksa harus batal karena tugas negara yang mendadak ini.


"Abang hanya sebentar. Abang janji hanya sebentar saja. Nanti terserah kamu.. mau bagaimana pun inginmu pasti Abang turuti"


Akhirnya Hana pun mengangguk menurut. Sebenarnya dalam hati Bang Ranggi pun sangat menginginkan kebersamaan mereka, tapi waktu yang sangat sedikit tidak mungkin ia paksakan.


"Anakku mana dek. Abang belum lihat dia daritadi" tanya Bang Ranggi.


"Main sama Daddy nya" jawab Hana.


:


"Tadi mama.. sekarang Cherry yang marah. Kenapa hari ini Papa cuma dapat hadiah rambut dari Mama dan Cherry" protes Bang Ranggi.


"Papa nggak boleh pergi" kata Cherry memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.


"Papa khan harus kerja, untuk mama.. untuk Cherry. Biar bisa beli mainan lagi buat Cherry" bujuk Bang Ranggi.

__ADS_1


"Cherry nggak mau mainan lagi. Cherry sama Papa aja"


Trenyuh hati Bang Ranggi mendengar cicitan gadis mungil di hadapannya. Betapa ia sangat menyayangi gadis kecil itu.


"Cherry sayang.. Papa maunya juga sama Cherry, tapi.. laki-laki yang sudah sebesar Papa.. memang harus bekerja, untuk keluarga. Mama dan Cherry" pelan-pelan Bang Ranggi membujuk Cherry.


"Ya sudah, kalau begitu Cherry mau adik saja" pinta Cherry.


Bang Ranggi mengusap wajahnya. Tak karuan rasa hatinya mendengar permintaan putri semata wayangnya. Bagaimana dirinya bisa memberikan seorang adik untuk Cherry sedangkan semalam ia harus rela selesai dengan berantakan. Hana memilih beranjak tepat saat dirinya tengah menumpahkan calon Ranggi junior bahkan kejadian itu sungguh ia sesali dan masih membuatnya penasaran.


"Insya Allah, mudah-mudahan Papa cepat bisa kasih adik untuk Cherry" jawab Bang Ranggi tersenyum getir.


Bang Ranggi mencium pipi Cherry kemudian memeluknya.


"Baik-baik sama Mama di rumah ya. Papa hanya pergi kerja sebentar." kata Bang Ranggi. Hatinya sungguh berat meninggalkan putri kecilnya hingga air matanya menggenang.. dadanya terasa sesak.


-_-_-_-_-_-


Bang Ranggi tak habis pikir, ia membaca kembali surat penugasan yang ia terima. Ada sesuatu yang janggal disana. Letda Erawan ternyata sama sekali tidak ada tugas tambahan apapun.. tapi dirinya yang harus menggantikan dan setelah melihat dengan teliti.. ternyata nama Erawan telah di edit menjadi nama dirinya.


"B*****t.. sudah hampir sampai tempatnya, kenapa aku baru sadar. Apa mungkin semua sudah di atur Dan Ganda??" gumamnya.


Pratu Richi sampai menoleh melihat komandannya yang sedang frustasi.


"Ijin Dan.. ada yang bisa saya bantu?"


"Kenapa jadi seperti ini Richi.. istri saya pasti sedih sekali, baru saja menikah tapi sudah saya tinggalkan" kata Bang Ranggi.


"Ijin.. saya bisa menjawabnya tapi pasti semua tidak akan bisa menjadi jawaban yang tepat kalau ini menyangkut urusan negara serta atasan dan bawahan" jawab Om Richi.


"Iya Richi.. kamu benar. Kali ini saya yang ceroboh dan tidak teliti. Saya hanya berharap.. urusan belakang ini segera terbongkar dan saya bisa segera pulang." Bang Ranggi menahan rasa sedihnya meskipun perasaan itu tidak bisa di tutupi sama sekali.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2