Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
70. Hasil kerja.


__ADS_3

Empat bulan berlalu.


"Tolong kamu kirim berkas hotel yang dari Bogor ke email saya ya Has..!!" pinta Bang Ranggi. Saat ini ia sudah mempercayakan urusan perusahaan dan hotel untuk di tangani mantan suami istrinya itu.


"Baik bos. Apa ada lagi?"


"Nggak ada, itu saja" jawab Bang Ranggi.


Bang Ranggi duduk bersandar di ruangannya. Bukan tanpa alasan dirinya mempercayakan perusahaan pada pria yang bahkan sudah merusak mental sang istri. Saat ini Hana tidak begitu mengingat jelas masa lalunya tapi rasa takut akan ingatan Hana yang bisa saja tiba-tiba kembali juga pasti akan membuat Hana terpuruk kembali.


Ia mempercayakan perusahaan pada Hasdin karena dirinya tau rasanya di rendahkan saat pria tidak memiliki pekerjaan apalagi kini Hasdin telah memiliki seorang putri dari pernikahannya dengan Citra. Ia tak ingin menagih tanggung jawab Hasdin pada Cherry karena ia mampu menanggung semuanya meskipun Hasdin tak pernah sekalipun lalai dalam tanggung jawabnya.


tok.. tok.. tok..


"Masuk..!!"


Pintu terbuka, Bang Ares pun masuk ke dalam ruangan. "Ngopi yuk..!!" ajak Bang Ares.


"Ayo, pusing nih lihat tugas nanti siang. Protokol dadakan begini, mana belum gladi bersih" kata Bang Ranggi setengah mengeluh.


"Tumben lu ngeluh begitu. Ada masalah apa?" tanya Bang Ares.


"Nggak ada sih. Cuma puyeng aja, bawaanya pengen ngamuk aja" jawab jujur Bang Ranggi.


Bang Ares tersenyum mulai paham masalah adik iparnya. Apalagi kalau bukan masalah yang satu itu. Ia segera merangkul bahu Bang Ranggi. "Ojo di pikir jeru broo.." ledek Bang Ares.


Bang Ranggi pun tertawa ringan mendengar ledekan sahabatnya.


...


Danyon memeriksa segala persiapan dan kelengkapan untuk acara siang nanti. Ia menggeleng karena pekerjaan juniornya kurang memadai.


"Siapa perwira yang bertanggung jawab?"


"Siap.. Letda Ranggi"


"Panggil sekarang..!! suruh menghadap saya..!!" perintah Danyon.


~


plaaaaakkk..

__ADS_1


"Bagaimana bisa protokol penyambutan kamu gabung dengan protokol pemakaman??? Otakmu geser????" tegur keras Danyon.


"Siap salah"


"Mikir apa kamu Ranggi??? Urusan di luar dinas jangan kamu bawa-bawa dalam pekerjaan" Danyon begitu kecewa dengan hasil kerja Bang Ranggi dua Minggu ini.


"Anggotamu sampai tidak ada yang berani menegur salahmu karena sudah gilo setengah mati lihat tampangmu yang sangar itu, meskipun mereka dekat denganmu" Danyon terus mengomel dan itu membuat dada Bang Ranggi semakin sesak.


"Siap salah Dan.. akan saya perbaiki"


"Kamu itu ngopo to le? Kalau ada yang bisa Abang bantu itu cerita, jangan buat masalah seperti ini.. kalau perwakilan pusat sampai lihat kacaunya persiapan seperti ini, satu batalyon bisa malu le" Danyon memeluk Bang Ranggi sebagai Abang, wajah kusut Bang Ranggi memang tidak bisa di sembunyikan begitu saja.


"Ambil cuti sana. Segarkan pikiranmu..!!" perintah Danyon.


"Siap tidak Bang, nanti saya ambil kalau istri melahirkan" tolak Bang Ranggi.


"Ya sudah, terserah kamu saja. Tapi kalau mau ambil cuti, nanti langsung Abang loloskan. Sekarang kembali kerja.. perbaiki salahmu. Dua jam lagi kita ke Bandara untuk penyambutan"


"Siap.. terima kasih Abang"


-_-_-_-_-


Susah payah Bang Ranggi memperbaiki salahnya. Untung saja para anggota kooperatif bekerja sama dengannya dengan waktu yang cukup singkat tapi ternyata...


Para anggota membuang nafas lega tak terkecuali Bang Ranggi yang jelas merasa sangat bersalah karena sudah membuat kekacauan. "Maafkan saya ya"


"Siap Dan, tidak apa-apa" jawab Para anggota.


Tak jauh dari tempatnya terlihat Hana sedang berjalan pelan bersama beberapa para ibu pengurus ranting. Para istri sedang mengikuti kegiatan pemeriksaan kesehatan keluarga secara menyeluruh. Bang Ranggi menghela nafas melihat perut Hana yang sudah sangat besar dan kadang membuat denyut nadinya berdesir ngilu.


"Ranggi.. titip Langga sebentar, aku mau ke toilet" pinta Bang Ares langsung menyerahkan Airlangga pada Bang Ranggi juga menyampirkan tas bayi di bahu Bang Ranggi tanpa persetujuan si adik ipar karena Dinar sedang sibuk dengan kegiatan.


Mau tidak mau Bang Ranggi langsung menggendong keponakannya itu.


"Walaahh.. kamu gendut banget le, Mamamu apa nggak pegal gendong kamu?" gumam Bang Ranggi sambil menebar senyumnya tapi si kecil Langga malah menangis sangat kencang. "Duuhh.. kenapa nih??" Bang Ranggi panik menenangkan Airlangga, ia bingung apalagi keponakannya itu tak kunjung diam.


"Ranggi.. kamu gendong yang benar. Dia nggak mau di tidurkan seperti bayi, atur seperti posisi duduk..!!" teriak Bang Ares dari dalam toilet tak jauh dari Bang Ranggi.


"Astagaa.. anak jaman sekarang. Kenapa kamu suka sekali buat Om Ranggi jadi panik?? Kamu ini sama saja seperti tantemu, kalau ada yang nggak benar.. om mu ini yang jadi tumbal" gerutu Bang Ranggi.


Memang benar setelah posisi Airlangga setengah duduk, bayi gendut itu langsung diam dan ceria tapi beberapa saat kemudian terasa getaran halus di tangan Bang Ranggi bersamaan dengan bau 'nikmatnya panggilan alam'.

__ADS_1


"Aseeemm.. Areeess.. anakmu pup nih" Bang Ranggi balik berteriak.


"Tangani duluu, aku lagi tanggung"


"Jangan macam-macam Res, aku belum ahli." jawab Bang Ranggi.


"Lebih baik cepat kamu tangani daripada kamu berurusan sama Dinar, Mamanya paling anti kalau si mbul nggak bersih" kata Bang Ares.


"Lu memang terlalu ya, aku nggak bisa Res..!!"


"Kalau nggak bisa, jangan harap lu jadi bapak" sambar Bang Ares.


"Okee.. sekembalinya lu dari toilet, kita duel..!!!!!" ancam Bang Ranggi.


Di dalam toilet, Bang Ares terkikik geli karena berhasil mengerjai Bang Ranggi pasalnya ia hanya buang air kecil saja. "M****s lu, apa di kira momong bayi tuh enak. Momong mamanya aja harus tahan sambar telinga dengar Mamanya berkicau" gumam Bang Ares.


~


Bang Ranggi sudah menahan mual. Ia kembali panik saat Airlangga sudah berontak marah. Tak lama pintu toilet pria terbuka.


"Mana Bang Ares???"


Refleks Bang Ranggi menoleh melihat wajah marah Dinar.


"Itu, daritadi belum selesai ritual sesat. Apa dia makan batu?" jawab Bang Ranggi sambil menunjuk toilet paling ujung dengan bibirnya.


Tak lama Bang Ares keluar dari toilet. "Ada apa sih yank.. ini toilet pria lho" tegur Bang Ares.


"Dinar hamil lagi. Ini bukti USG nya" Dinar menyerahkan hasil USG dari pemeriksaan kesehatan keluarga anggota tadi.


Bang Ares bersandar lemas melihat hasil USG kehamilan Dinar yang masuk usia lima Minggu. "Innalilahi.. Iki piye to dek" matanya menatap Airlangga yang masih berusia empat bulan.


"Pokoknya Abang harus tanggung jawab" teriak Dinar sambil memukuli Bang Ares.


"Iyaaa.. iyaaaa sayang, Abang tanggung jawab. Mau Abang kawinin kapan? Pagi.. siang.. atau sore???" tanya Bang Ares gemas sambil menghindari tepakan sayap dari Dinar yang tak mungkin ia balas. Bang Ares ikut panik karena Dinar menodong meminta pertanggung jawaban darinya.


"Hayoo loh Res, tanggung jawab..!! Kurang ajar lu jadi laki" imbuh Bang Ranggi memanasi kesalnya Dinar.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2