Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
40. Pribadi yang kuat.


__ADS_3

Abang tidak begitu yakin Rang.. tapi dari hasil visum memang ada indikasi Hasdin sudah melakukan perbuatan tercela. Memang ada benda asing yang melukai tubuh istrimu.


Kata-kata dokter senior masih terus terngiang di telinga Bang Ranggi. Perasaannya benar-benar tertekan kuat.


Astagfirullah hal adzim.. kenapa hatiku masih terus saja sakit seperti ini. Bisakah Tuhan meredakan sedikit saja beban batinku? Hatiku sakit sekali.


Baru saja Bang Ranggi keluar dari ruang rawat, dirinya tumbang menghantam lantai dengan keras. Bang Ares sampai menahan keterkejutannya agar Hana tidak cemas.


"Astaga Rang.. kamu ini nggak bisa jaga kesehatanmu sendiri" gumam Bang Ares.


"Ayo tolong bantu saya bawa Pak Ranggi ke UGD..!!" pinta Bang Ares.


"Aaawwhh.. kepalaku sakit sekali. Siapa yang menghantamku?" tanya Bang Ranggi di tengah kesadarannya yang hilang timbul.


"Kamu hebat sekali, berani gelud dengan bumi" jawab Bang Ares ikut mengangkat Bang Ranggi sampai ruang UGD.


...


Entah apa yang terjadi.. sejak siuman tadi Bang Ranggi mual, baru berjalan.. langkahnya tersendat sampai terjungkal, menegakkan badan saja sudah tidak mampu.


"Allahu Akbar.. tolong aku Res, langit rasanya runtuh" ucapnya tak seperti seorang Ranggi yang biasanya kuat.


"Aku ini sedang membawamu ke ranjang. Kamu nggak lihat??" tanya Bang Ares.


"Mau lihat bagaimana? Baru buka mata saja aku mual, aku malas muntah lagi" gerutu Bang Ranggi semakin tak bertenaga.


"Astagfirullah.. tau begitu kulempar saja kau ke laut, merepotkan sekali" gumam Bang Ares padahal ia pun tak tega melihat Bang Ranggi yang begitu sengsara. Ia tau Bang Ranggi begitu tertekan saat ini.


"Terserahmu. Tapi ingat.. adikmu yang cantik itu pasti akan menangis kehilangan pria tampan seperti ku" jawab Bang Ranggi.


Ia ingin menghantam bibir Bang Ranggi, tapi apa daya, hatinya lemah merasakan segala kekacauan.


...


"Aaaahh.. sakit sekali" Hana menggeliat di ranjangnya merasakan perutnya begitu kesakitan. Teriakan Hana terdengar sampai telinga Bang Ranggi yang sedang tidur di kamar sebelah.


deg..


Seketika Bang Ranggi membuka matanya. Ia memercing sejenak saat melihat jarum infus menancap di punggung tangannya.


"Huuhh.." Bang Ranggi bangkit perlahan dari ranjang.


"Heeehh.. mau kemana kamu??" tegur Bang Ares.


"Itu Hana kenapa? aku mau lihat Hana dulu" jawab Bang Ranggi.


"Ada Dinar disana. Kamu istirahat dulu disini. Tenagamu belum pulih"


Bang Ranggi tak peduli. Perlahan ia berjalan masuk ke kamar rawat Hana.

__ADS_1


:


"Istighfar dek, ada Abang disini" Bang Ranggi memeluk dan mengusap kening Hana, tak lupa ia mengusap perut Hana.


"Astagfirullah hal adzim.. ini sakit sekali Bang"


Bang Ranggi tersenyum karena Hana sudah mau lebih terbuka padanya.


"Tarik nafas dan buang nafas pelan-pelan..!!" kata Bang Ranggi.


Perlahan Hana bisa menuruti ucapan Bang Ranggi.


"Apa anak ini akan hilang Bang? Apa dia tidak bisa bertahan? Hana masih merasakan kram"


"Insya Allah dia akan tetap bersama kita. Dia anak yang kuat" kata Bang Ranggi.


Dokter senior Bang Ranggi datang untuk memeriksa keadaan Hana.


"Sayang-sayangan nya nanti dulu ya. Sekarang kita check kondisi mama dan debay nya" dokter tersenyum melihat Hana tak sehisteris seperti pertama kali Bang Ranggi membawa Hana masuk UGD sampai akhirnya tak sadarkan diri.


Disana Bang Ranggi benar-benar stress dan kalut. Seorang Ranggi bisa lemah tak berdaya menghadapi wanita yang begitu ia cintai.


Bang Ranggi membiarkan dokter untuk memeriksa Hana tapi ternyata rasa trauma istrinya itu masih sangat melekat hingga Hana sangat takut bertemu dengan orang lain yang menurutnya sangat asing.


"Jangan takut, ada Abang disini" Bang Ranggi menenangkan Hana.


Dokter mendekati Hana saat dirasa istri Ranggi itu sudah perlahan tenang.


"Sudah sembilan minggu ya. Dia sedikit lebih 'anteng' karena Mamanya stress. Coba kalau Mamanya bisa sedikit rileks, bayinya juga akan nyaman di perut Mama." kata dokter.


"Pendarahan sudah berhenti atau belum?" tanya dokter menatap Hana dan Bang Ranggi secara bergantian.


"Sudah jauh berkurang Bang, apa itu aman?" Bang Ranggi selalu waspada dengan keadaan Hana. Setiap kali ia tidak pernah melupakan untuk mengontrol sang istri.


"Insya Allah. Selama obat di minum teratur, kurangi tingkat stress dan tidak ada trauma fisik lagi.. semua akan aman" Jawab dokter.


Bang Ranggi paham maksud dari seniornya. Itu berarti dirinya harus lebih kuat lagi berjuang menahan rindu demi Hana dan calon bayinya.


"Siap Bang. Saya akan usahakan yang terbaik dan mengontrol diri sendiri."


Bang Ares tertegun sejenak. Tak bisa ia bayangkan bagaimana keadaan littingnya itu saat ini.


"Apa kamu sanggup?" tanya Bang Ares ragu.


"Banyak jalan menuju Roma bro. Jangan cemaskan hal kecil" jawab Bang Ranggi berusaha tenang padahal dalam hati mungkin sudah tak terlukiskan bagaimana berantakannya.


"Jangan macam-macam kau ya..!!" ancam Bang Ares yang hanya mendapat ekspresi nakal Bang Ranggi.


***

__ADS_1


Bang Ranggi teler setengah mati. Ia duduk menelungkup di ranjang Hana. Istrinya itu bisa tertidur pulas sambil memegang tangannya, hanya dirinya yang tidak bisa tidur karena kepalanya terasa berat dan terus berputar-putar. Belum lagi mual yang terkadang suka kadang datang tiba-tiba.


"Hhkkk.." Hana mulai mual. Bang Ranggi berlari ke toilet dan mulai dengan mualnya di pagi hari. Entah sudah berapa kali sejak semalam ia terus seperti itu. Setiap kali Hana bereaksi, maka dirinya yang harus berlari ke toilet untuk menguras isi perut.


Bang Ares hanya melongo melihat Bang Ranggi yang kalang kabut menjalani hidupnya.


:


"Asam lambung sih ini" kata dokter Tari. Astari.. dokter wanita tentara, rekan sepangkat dengan Bang Ares dan Bang Ranggi namun satu beda cabang pendidikan.


"Hmm.. mungkin benar tuh. Ranggi khan telat makan beberapa hari ini. Obat untuk pemulihan juga tidak di minum" jawab Bang Ares.


"Ngomong-ngomong bukankah seharusnya Abang Ranggi di rawat di kamar rawatnya sendiri ya? Lalu kenapa jalan-jalan 'keliling' rumah sakit.


"Kekasih hatiku di rawat disini. Lagi hamil muda" jawab jujur Bang Ranggi.


Wajah Astari seketika berubah lesu. Memang selama ini ia mengenal dekat sosok Ranggi Tanuja. Pria dengan talenta luar biasa yang mampu menghipnotis kebanyakan wanita. Pria yang mudah membaur dengan pihak manapun namun mampu tegas menyesuaikan diri.


"Sejak kapan Abang punya kekasih?" tanya Tari.


"Sejak Abang pindah tugas di sini lah. Sudah.. mana obatnya. Abang bosan nih hanya lihat perabot rumah sakit. Pengen cepat pulang..!!" jawab Bang Ranggi.


"Abang mau obat oral atau infus saja? Tapi kalau infus.. jangan di lepas lagi ya Bang..!!" kata Tari karena dirinya mendapat laporan ada seorang pasien perwira yang membangkang dan tidak menurut aturan rumah sakit dan pasti lah itu Bang Ranggi.


"Oral saja. Sakit sekali pakai jarum infus" jawab Bang Ranggi.


Tari tersenyum dan segera menyiapkan obat terbaik untuk Bang Ranggi.


"Ngomong-ngomong, kenapa model rambutmu jadi keriting begitu Tar?" tanya Bang Ranggi sedikit geli melihat penampilan baru Astari.


"Gaya baru saja Bang. Apa lebih cantik?" pipi Astari terlihat sedikit memerah.


Bang Ranggi ternganga kelabakan mendapat todongan pertanyaan menjebak seperti ini.


"Ooo.. ya jelas donk.. kamu khan selalu cantik" jawab Bang Ranggi refleks.


Astari tersenyum salah tingkah.


"Waahh.. niat bunuh diri lu ya?" tegur Bang Ares melirik Bang Ranggi.


Bang Ranggi menoleh kearah kakak iparnya.


"Aku jujur Res, masa perempuan ganteng?"


"Coba saja kau katakan itu di depan kekasihmu, jangankan kau bisa berdiri.. saat itu juga kau akan hangus di sembur naga betina" jawab Bang Ares.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2