Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
48. Tak sengaja terjadi.


__ADS_3

Pagi hari keluarga Bang Ranggi mengunjungi rumah Bang Gazha. Mengingat Avi sudah terlanjut hamil 9 Minggu, mau tidak mau Ayah Rico harus melamar secara resmi.


"Tumben Abang mampir ke rumah saya nggak bilang-bilang. Ngomong-ngomong ada acara apa ini? Kenapa ramai sekali?" tanya Papa Vian masih dengan senyum ramahnya.


"Langsung saja Vian, saya datang kesini untuk melamar putrimu.. Avi" kata Ayah Rico.


"Haah??" Papa Vian ternganga pasalnya ia pun cukup kaget. Avi baru saja di terima kerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit. Kira-kira lima bulan yang lalu.


"Ehmm.. kalau masalah ini saya nggak bisa jawab Bang, karena ini khan urusan Gazha dan Avi. Tapi apa ini semua tidak terlalu terburu-buru Bang?" tanya Papa Vian.


Opa Sanca menyentuh bahu Papa Vian. Papa Vian pun menoleh menatap Papa mertuanya. Tak lama senyum itu pun pudar.


"Aviiiiiii.. kesini kamu..!!!!" panggil Papa Vian.


Bang Gazha hendak berdiri, ia tau mungkin saja Papa Vian akan marah jika tau keadaan putrinya tapi Opa Garin menahan bahu Bang Gazha.


Avi pun berjalan menunduk saat Papa Vian memanggilnya.


"Papa ingin dengar lebih jelas dari mulutmu sendiri. Sejauh apa hubunganmu dengan Gazha????" tanya Papa Vian.


Bibir Avi bergetar. Ia lumayan takut mendengar suara Papanya.


"Jawab Avi.. kamu punya mulut atau tidak????" bentak Papa Vian.


Tak tega melihat Avi mendapat bentakan dari Papa Vian, Bang Gazha berdiri menarik Avi ke belakang punggungnya.


"Avi hamil om. Anak saya" Ucap Bang Gazha dengan jantan.


Papa Vian berdiri berhadapan dengan Bang Gazha. Semua tamu pun refleks berdiri karena ikut tegang.


"Coba ulangi..!!!!!!" kata Papa Vian.


"Avi hamil anak saya" jawab Bang Gazha.


Tanpa di duga, Papa Vian menarik tangan Avi dan menamparnya. Bang Vian mencoba mencegah tapi keadaan begitu semrawut sampai akhirnya satu kali tamparan keras melayang kuat ke pipi Avi. Tak sengaja Hana juga ikut terdorong. Bang Ares menarik Dinar karena kekacauan sedang berkumpul di tengah ruang tamu.


Keadaan Avi yang lemah karena tamparan papanya pun melemah sampai pada puncaknya, Papa Vian menampar lagi pipi Avi.


"Jangan om.. bayinya sudah besar" cegah Bang Gazha.


braaaakkkk..


"Aaaaaarrhh" pekik Avi mengagetkan semua.


"Dek.. Ya Allah" Bang Gazha panik dan langsung membawanya keluar dari rumah.


"Viaaann.. Papa sudah menahanmu..!! Kenapa kamu tidak bisa mengontrol emosimu????" Papa Sanca balik membentak Papa Vian.


"Itu yang di perut sudah terlanjur"


Papa Vian mengepalkan tangan. Ada rasa marah dan kesal.


"Bisa kita ikuti mereka. Tunda dulu marahnya. Ada cucu kita di sana" kata Ayah Rico.


...

__ADS_1


Bang Gazha berbalik menyandarkan kening. Hatinya gundah dan cemas. Berkali-kali ia mengusap dadanya. Rasa bersalah begitu menghantui batinnya.


Tak lama dokter keluar dari ruang tindakan.


"Yang mana keluarganya?" tanya dokter.


Papa Vian baru ingin menjawabnya tapi Bang Gazha sudah menjawabnya terlebih dahulu.


"Saya suaminya" jawab Bang Gazha.


Papa Vian terdiam karena tidak ingin membuat keributan, ia tau pasti.. putrinya sudah stress di dalam sana.


"Alhamdulillah calon bayinya kuat Pak, hanya saja keadaan ibunya tidak stabil. Tolong di jaga emosinya." pesan dokter.


"Baik dok, saya mengerti"


~


Bang Gazha sampai menitikan air mata. Avi begitu tertekan dan takut. Badannya gemetar, tangannya dingin dan nafasnya terasa sesak.


"Papa marah sekali Bang. Avi sudah mengecewakan Papa. Gugurkan saja anak ini..!!" Avi histeris memukuli perutnya yang sudah sedikit terasa jika diraba.


"Jangan dek, tolong jangan begini. Abang yang salah, Abang yang tidak bisa mengendalikan diri sampai kamu begini." ucap Bang Gazha di landa kalut.


~


"Bang.. perut Hana nyeri sekali. Ada bau aneh. Hana nggak kuat Bang"


"Aduuuhh.. kenapa nih si Terong Belanda??" seketika Bang Ranggi panik.


bruugghh..


Tiba-tiba saja Hana ambruk dan pingsan.


"Hanaaa.. Astagfirullah dek..!!" Bang Ranggi pun bergegas menggendong Hana masuk ke ruang tindakan.


"Duuhh.. kenapa sih nak??" gumam Bang Ranggi.


~


Sesaat setelah sadar tadi Hana terus muntah hingga mengalami dehidrasi, bahkan bicara pun sulit.


"Bilang sama Abang, rasanya bagaimana dek?"


"Bau ini.. Hana nggak kuat Bang" jawab Hana setelah dirinya merasa kuat untuk bicara.


Satu ruangan yang hanya di dominasi keluarga itu hanya ribut sendiri perkara dua bumil. Bang Ares yang tidak ingin Dinar terpengaruh terpaksa membawa istrinya itu ke tempat yang lebih lega.


"Iya ya, memang sedari tadi saya juga bau parfum yang aneh" jawab Opa Sanca. Karena Opa Sanca merasa curiga, ia mendekati Opa Garin dan menghirup aroma tubuhnya.


"Heh Opa trouble maker.. ini pakai parfum apa?" tanya Opa Sanca.


"Kau mau pakai juga? Aku baru beli parfum baru." jawab Opa Garin.


Mata Bang Ranggi melihat sesuatu yang aneh, ia pun ikut menghampiri Opa Garin.

__ADS_1


"Astagfirullah Opaaa.. ini bukan parfum. Ini obat nyamuk sekali semprot" pekik jengkel Bang Ranggi.


"Ya Allah Tuhan.. gimana sih Pa. Kemarin Papa keramas pakai karbol, sekarang malah pakai obat nyamuk" Oma Esa merebut obat nyamuk di tangan Bang Ranggi.


"Papa di luar saja. Takut ganggu yang muda..!! Ajak Oma Esa.


Bang Ranggi menepuk dahinya.


"Ternyata cicitnya Opa Garin tau ya kalau Opa buyut nya sudah kangen ngajak main" kata Bang Ranggi.


Benar saja, begitu Opa Garin keluar ruangan.. keadaan Hana berangsur pulih.


"Sudah enakan dek?" tanya Bang Ranggi.


"Iya Bang, sudah"


Opa Sanca menggeleng heran tapi akhirnya juga sedih.. sahabatnya itu sekarang tidak sekuat dulu lagi sejak tertembak beberapa tahun yang lalu. Kondisinya kadang drop.. tidak seperti dulu lagi. Beruntung sahabatnya itu masih tetap di beri kesehatan hingga saat ini.


~


"Apa kabar?" tanya Opa Sanca.


"Kau lihat.. aku tetap paling tampan" jawab Opa Garin.


Opa Sanca pun tersenyum.


"Nggak nyangka ya, kita sudah mau punya cicit. Kita sudah tua sekali" Opa Sanca mengambil rokoknya.


"Iya, tinggal nunggu antrian." kaya Opa Garin sambil memasukkan lagi bungkus rokok ke dalam saku Opa Sanca.


"Jaga kesehatanmu baik-baik. Apa kau tidak ingin bermain dengan cicitmu?"


Opa Sanca mengurungkan niatnya.


"San.. kalau umurku sudah habis nanti.. aku titip anakku ya, cucuku juga cicitku. Tolong jaga dan sayangi mereka..!!"


Perasaan Opa Sanca terasa terpukul. Ia menatap wajah Opa Garin.


"Eehh sebentar, aku nyontek dulu" ucap Opa Garin kemudian mengambil secarik kertas dari sakunya.


"Apaan sih Gar..!!" Opa Sanca seketika berubah kesal.


"Aku di tawari main film nih.. jadi Opa. Ini mau latihan dulu ceritanya" jawab Opa Garin sambil membaca tulisan yang benar-benar mirip dengan ucapan Opa Garin barusan.


"Sungguh keterlaluan.. sejak dulu kau tidak pernah berubah ya..!!!!" pekik Opa Sanca geram dan mencari benda apapun di sekitarnya.


~


"Ma.. lihat itu di luar, Opa Sanca ribut sama siapa?" tanya Papa Vian dalam kacaunya pikiran.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2