
Beberapa rekan Andin sudah bersiap menolongnya tapi ternyata pria yang membawa Andin adalah atasan mereka, Lettu Langsang yang terkenal begitu bringas dan penuh perhitungan matang di medan tugas.
Para anggota sedikit memberikan penghormatan, antara bingung melawan atasan atau menolong Andin lebih dulu. Pasalnya hari ini tidak ada arahan perintah bantuan razia gabungan dengan Matra lain.
Andin semakin bingung karena rekan team nya tidak segera menolongnya. Beberapa detik kemudian ada berita dari jajaran atasan bahwasanya Lettu Langsang dari Batalyon sebelah, Intel dalam bidangnya.. mohon ijin bergabung dan akan mengawasi sendiri proses kerja Serda Andini yang di nilai masih sangat baru dalam bidangnya. Alasan tersebut membuat team pusat mengarahkan team jalak untuk mengikuti arahan Lettu Langsang dalam kerja kali ini dengan alasan tambahan dalam tanda kutip. Team jalan pun paham.
"Jalak.. mohon bantuan..!!" pinta Andin.
"Ijin.. Parkit sudah aman dalam penanganan Elang Timur" jawab team Andin.
Mata Andin melotot, ia merasa kesal setengah mati karena team nya tidak solid dan seakan menjerumuskan dirinya ke lembah hitam.
"Lepas Bang, jangan lancang.. atau Andin akan bilang suami. Dia bisa menghajarmu sampai babak belur." ancam Andin.
"Panggil saja, hubungi dia sekarang..!!" tantang Bang Langsang memasang wajah serius.
Andin mengibaskan tangan Bang Langsang kemudian memutar pergelangan tangannya dengan susah payah namun semua seakan sia-sia. "Suami Andin sedang dalam perjalanan kesini. Andin kerja Bang.. sudah ada janji sama orang. Jangan bawa Andin." ucap Andin dengan panik.
"Apalagi alasanmu, ngomong ngalor ngidul nggak jelas. Namanya suami nggak akan pernah ikhlas istrinya di bawa orang apalagi suamimu menuju kesini." bentak Bang Langsang. "Cepat masuk..!! Atau kamu mau Abang paksa disini?????"
∆∆∆
Hari menjelang tengah malam. Bang Khaja mengetuk pintu kontrakan Naya. Ia sengaja menyewa rumah yang jaraknya tidak jauh dari Batalyon, tepat di belakang tembok pembatas mess perwira.
"Buka dek, ini Abang"
Mendengar suara itu Naya segera membukanya.
Begitu pintu terbuka, Bang Khaja mengecup kening istrinya lalu memeluknya.. tak lupa segera menutup pintu dan mematikan lampu ruang tamu.
"Kenapa Abang bisa kesini? Bukannya nggak boleh keluar kesatrian?" tanya Naya.
"Boleh saja kalau nekat, Abang kangen pengen ketemu istri. Apa mereka bisa mengobati rasa rindu Abang?" jawab Bang Khaja.
Naya menunduk malu. Hati Bang Khaja terasa berdesir, ia pun tak menyangka jalan hidupnya akan seperti ini. "Bisakah mulai detik ini kita belajar saling mengenal satu sama lain, belajar saling mencintai dan selalu bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki saat ini? Abang akan berusaha menjadi imam yang baik untuk kamu dek"
__ADS_1
"Iya Bang, Naya pasrahkan segalanya di hadapan Allah. Insya Allah Naya juga akan belajar menjadi makmum yang bisa sejalan dengan bimbingan Abang"
Bang Khaja tersenyum lalu mengangkat Naya masuk ke dalam kamar. Naya pun kaget karena semua begitu cepat dan tiba-tiba tanpa bisa ia tolak.
~
Layaknya pengantin baru, Bang Khaja tak ingin melewatkan waktu berdua dengan sang istri. Ia membelai lembut tubuh Naya dari ujung rambut hingga ujung kaki membuat badan Naya gemetar di buatnya.
"Jangan takut, ini suamimu sendiri" kata Bang Khaja, ia tau Naya mungkin sedang gelisah padahal sama sekali belum melakukan apapun dan masih membelainya saja bahkan pakaian Naya masih menempel sempurna.
Naya sekarang malah menangis dan Bang Khaja menjadi bingung. "Kamu kenapa sayang? Apa kamu menyesal menikah sama Abang?" tanya Bang Khaja.
"Naya nggak tau bagaimana cara melayani suami. Nggak ada yang mengajari Naya, Naya takut Abang marah"
Bang Khaja terhenyak antara menahan rasa geli dan kasihan. "Mana ada tutorial cara melayani suami, semua berdasarkan naluri, muncul dari hati. Nanti kamu akan paham dengan sendirinya apa yang Abang inginkan dalam kebersamaan kita, begitu juga sebaliknya. Hubungan suami istri adalah tingkat tertinggi masalah batin. Abang dan kamu saling membutuhkan, dari situ kita akan lebih saling mencintai dan jika Allah berkehendak.. akan ada si kecil kita yang akan segera memberi warna dalam pernikahan kita"
Naya tersenyum mendengar kata halus dari Bang Khaja. Wajah tegas dan garang namun begitu lembut hati saat berhadapan dengannya.
"Kalau Abang minta sekarang, boleh nggak?" tanya Bang Khaja langsung pada pokok persoalannya.
"Kita sayang-sayangan dek"
Perlahan Naya menarik selimut dan menutupi diri.
"Abang nggak akan nyakitin kamu" bujuk Bang Khaja.
Naya pun pasrah saat Bang Khaja mendekatinya. Nafsu lelakinya sudah merangkak naik hingga ujung tanduk. Pikiran dan hatinya sudah tertuju pada satu arah tapi kemudian mata Bang Khaja terbuka lebar saat tangannya berhenti di satu titik. Segala harapan dan cita-cita luhurnya malam ini seakan musnah sudah, ia ambruk menimpa Naya.
"Abang kenapa?" tanya Naya bingung melihat reaksi Bang Khaja yang berubah drastis.
"Kenapa nggak bilang kalau lagi palang merah sih sayang????" protes Bang Khaja.
"Memangnya kenapa Bang?"
Rasanya Bang Khaja ingin mengumpat kesal karena geram merasakan misi perdamaiannya harus gagal, apalagi setelah mendengar pertanyaan yang jauh dari rasa bersalah karena kepolosan sang istri membuat hatinya semakin gemas. "Colokannya konslet dek, sepertinya memang Abang harus sabar nunggu komponen dalam perbaikan" jawab Bang Khaja pasrah.
__ADS_1
"Oohh.." Naya terdengar santai dan seakan tidak ada beban dosa sama sekali.
∆∆∆
Sepanjang jalan Andin menangis sesenggukan. Bang Langsang setengah mati jengah di buatnya.
"Kalau kamu tidak mau Abang bawa, kenapa harus bekerja seperti ini??" bentak Bang Langsang. "Suamimu juga pasti sangat kecewa kalau tau istrinya nyambi. Kalau kamu tidak ingin di lecehkan orang.. jaga harga dirimu..!! Aset terpenting dalam hidupmu hanya untuk suamimu, hak suamimu dan milik suamimu.!!"
Hati Andin menciut mendengar bentakan Bang Langsang seakan-akan Bang Langsang adalah suami yang sangat kecewa karena istrinya.
"Apa kurangnya suamimu sampai kamu mengambil pekerjaan seperti ini??? Kamu ini benar-benar keterlaluan..!!!!!!" saking emosinya, Bang Langsang sampai menghantam kemudi dengan kencangnya.
Andin semakin menangis kencang, tiba-tiba hatinya merasa sangat bersalah mendengar kekecewaan Bang Langsang yang seolah mengarah pada dirinya.
"Andin hanya bekerja, semua tuntutan pekerjaan. Andin sadar kok kalau Andin sudah menikah"
"Berapa bayaranmu setiap bulan??? Kamu kerja sama Abang..!! Abang lebihkan bayaranmu itu." kata Bang Langsang dengan sengaja, ia pun mengambil kartu ATM dari dompetnya. "Bawa, pakai sepuasmu tapi jangan kerja seperti ini lagi..!!!"
"Andin nggak mau Bang..!!"
Semakin lama perasaan Bang Langsang semakin tidak tega, tangisan Andin membuatnya begitu lemah. Ia mendekap Andin, Andin pun menolaknya tapi Bang Langsang tetap memeluknya.
"Apa boleh Abang menjadi bagian dari hidupmu?" tanya Bang Langsang menguji Andin.
"Nggak.. suamiku segalanya. Kembalilah pada istrimu Bang. Jangan ganggu Andin. Andin hanya kerja.. Please Abaang"
Ada setitik air mata menetes di sudut mata Bang Langsang tapi ia segera menghapusnya. "Suamimu meridhiomu dek, akan selalu menjagamu.. dimana pun kamu berada. Dia pasti sangat mencintaimu, dia bangga padamu"
Andin kembali menangis pilu. Hingga saat ini pun, ia tidak tau dimana suaminya berada.. tak tau pula apakah ada cinta untuknya.
.
.
.
__ADS_1
.