
Indri mempersiapkan banyak kain dan air panas bersama penduduk setempat. Mau tidak mau Bang Langsang sedikit banyak membantu kelahiran bayi kecil milik kepala suku.
Bang Langsang sungguh tak sampai hati melihatnya. Perutnya seakan di aduk kuat. "Andiiinn.. cepat dek. Perut Abang mulas."
"Tangan Abang di situ, takut bayinya loncat" kata Andin mengarahkan tangan Bang Langsang lebih dekat ke arah pintu.
"Astagfirullah.. Besok kalau anak ku lahir, Aku nggak mau lihat yang seperti ini" gumamnya sambil memejamkan mata.
Tak lama, tangan Bang Langsang basah dan terasa hangat. Suara tangis bayi terdengar kuat. Kepala suku sangat bahagia melihat bayi kecilnya begitu sehat apalagi sang istri juga dalam keadaan baik-baik saja.
"Indri.. bawa bayinya..!!" perintah Bang Langsang. Indri pun menerima bayi tersebut dan segera mundur dari area perang.
Tanpa di duga kepala suku memeluk Bang Langsang. "Terima kasih atas bantuanmu kawan. Ternyata pikiranku salah. Kau sungguh pria yang hebat"
"Kau yang hebat, menekan ego demi istrimu" balas Bang Langsang.
"Nanti kami akan menjamu kalian dengan pesta adat sebagai rasa terima kasih kami karena telah membantu menyelamatkan calon kepala suku" kata kepala suku.
Bang Langsang ingin menolak tapi kepala suku terus saja meminta.
-_-_-_-_-
Malam begitu indah di tanah itu. Seluruh anggota dan penduduk setempat bahu membahu membuat acara pesta. Andin dan Indri berbincang akrab dengan ibu kepala suku begitu pula dengan Bang Langsang dan Bang Huda sudah bisa membaur akrab dengan kepala suku.
"Istrimu dukun terhebat ya Pak Langsang." kata kepala suku memuji Andin.
"Ooo jelas. Kalau saya salah sedikit, saya bisa remuk di buatnya" jawab Bang Langsang yang sebenarnya berniat bercanda.
"Waahh.. demi leluhur kita.. jangan sampai maitua tau. Biar kau punya maitua saja yang bisa buat mati orang" kata kepala suku serius dan tak menyangka Andin berilmu tinggi.
Bang Huda dan Bang Langsang ikut tertawa mendengarnya. Bang Langsang pun menjelaskan bagaimana caranya Andin bisa membantu istri kepala suku.
:
Para anggota dan warga makan malam bersama. Sampai akhirnya kepala suku melihat Andin sedikit memucat.
"Lebih baik bawa istrimu istirahat. Kemarin saya punya maitua juga begitu. Lemas, manja, tidak bisa banyak buat pekerjaan. Kami ini lah yang susah tanggung inginnya" kata kepala suku.
Bang Langsang tersenyum dan akhirnya meminta Andin tidur. Disana tempat laki-laki dan perempuan terpisah. Pemandangan yang indah dan nyaman di tanah tersebut.
***
Pagi hari mereka berpamitan untuk patroli dan warga suku paham maksud mereka, tak ada lagi huru hara yang terjadi. Semua aman dan damai.
∆∆∆
"Kenapa Abang senyum? Naya malas lihatnya" ucap Naya ketus.
"Ya wes, Abang nggak senyum.. Abang minggir ya..!!" Bang Khaja sengaja menjauh dan pura-pura ingin meninggalkan tempat, dirinya sudah tau Naya tidak suka di tinggalkan meskipun istrinya itu kesal melihat wajahnya.
"Abang duduk saja di sofa" pinta Naya.
"Benar nih?? Nanti muntah lihat Abang?" tanya Bang Khaja.
__ADS_1
"Nggak.. si dedek lagi pengen di temani" jawab Naya menutup rasa gengsinya.
"Tapi makan ya, Abang suapi bubur. Abang pakai masker deh"
Naya mengangguk pelan.
Dek.. dek.. masih butuh Abang kemana-mana tapi galaknya bukan main. Dekat Abang mabuk, jauh juga nggak mau. Apa lah maunya si kecil.
...
Andin meremas perutnya, agaknya ia mengalami datang bulan.
"Ini minum dulu.. biar reda sakitnya" Bang Langsang memberikan teh hangat untuk Andin. Kini dirinya tau ribetnya wanita membawa perbekalan juga ada faedahnya.
"Iya Bang, bulan ini datang lebih cepat" jawab Andin kemudian bersandar membawa wajah pucat.
"Apa selalu begini?" tanya Bang Langsang.
"Iya Bang, biasanya juga begini.. tapi Andin merasa kali ini jauh lebih sakit" jawab Andin.
"Ya sudah kamu istirahat saja. Kita sudah kirim tugas kita untuk di lanjutkan 'yang berwajib'. Secepatnya kita bisa pulang" bujuk Bang Langsang.
***
Tiga hari kemudian.
"Alhamdulillah.. situasi aman terkendali. Pasukan di tarik kembali ke Batalyon. Satu minggu ini aman dan terkendali. Besok kita kembali ke Batalyon..!!" kata Bang Langsang melaporkan pada anggota team nya.
"Siap.. Alhamdulillah.."
***
"Andiiinn.. dek..!! kalau sudah sampai nanti kita check ke rumah sakit ya..!!" Bang Langsang tak bisa menyembunyikan rasa paniknya.
...
Siang hari pesawat mereka tiba dan Andin segera di larikan ke rumah sakit. Saat itu bertepatan dengan Naya yang juga keluar dari rumah sakit.
"Lho Bang, Naya kenapa?" tanya Bang Langsang kaget melihat ada beberapa jejak luka di sekitar wajah dan tangan Naya.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa Andin sampai di dorong begini??"
"Sejak berangkat tugas malah sakit Bang, tadi muntah sampai pingsan." jawab Bang Langsang.
"Ya Allah.. ada-ada saja sih para istri ngerjain suami"
"Kamu antar Naya pulang. Biar Mama sama Papa yang temani Langsang disini..!!" perintah Papa Ranggi.
"Iya Pa"
...
"Istrimu kecapekan Lang, makanya lemas begini. Tapi.. haid terakhir kapan?" tanya Bang Pratama.
__ADS_1
"Ijin Bang, tiga hari yang lalu masih dapat." jawab Bang Langsang.
"Oohh begitu.. ya sudah nanti kalau sudah sadar.. Andin sudah bisa di ajak pulang"
"Eehh Langsang.. kamu yakin sudah mengamankan diri?? Papa nggak yakin kamu bisa di percaya" kata Papa Ranggi.
"Ya ampun pa, tanya sendiri sama Andin. Aku benar-benar misi pengamanan" jawab Bang Langsang serius.
"Ya sudah kalau begitu"
-_-_-_-
Sore hari Andin sudah bisa pulang dan langsung beristirahat di temani Mama Hana. Bang Khaja pun menemui adiknya perkara unicorn.
"Ya.. hancur.. nanti Abang ganti lah, daripada Andin nangis motornya ringsek di pakai Naya. Maaf ya"
"Sudah Bang, biar saja.. nanti aku beli lagi." kata Bang Langsang masih terus mencemaskan Andin.
"Abang sudah pesan gantinya. Besok siang baru datang" jawab Bang Khaja.
"Terserah mu lah Bang. Oiya.. ngomong-ngomong kenapa Naya bisa kabur naik motor?" tanya Bang Langsang.
"Calon ponakanmu, ngerjain papanya habis-habisan" Bang Khaja mengusap wajahnya setiap mengingat gaduhnya bersama Naya.
Bang Langsang mengangguk mendengarnya tapi sesaat kemudian dirinya tersadar. "Naya hamil????"
"Iya, lima minggu"
"Walaahh.. Alhamdulillah Bang. Selamat ya Bang. Tinggal aku nih nyusul. Setelah ini buatin teman buat teman main Opa Rico" kata Bang Langsang ikut bahagia mendengar berita kehamilan Naya.
***
Usai apel pagi, Andin mengikuti kegiatan seperti biasa padahal Bang Langsang sudah melarangnya mengikuti kegiatan dan hanya mengijinkan istrinya itu untuk apel laporan kedatangan saja dan usai kegiatan dinas di markas.
"Andin.. kamu antar berkas ini ke Batalyon ya. Minta tanda tangan Danyon dan Pak Langsang" kata Mbak Sita.
"Iya Mbak" Andin pun segera berjalan cepat meninggalkan ruangan mbak Sita.
~
"Awwhh.. perutku sakit sekali" Andin memegangi perutnya. Hari ini rasanya amat sangat nyeri sekali. Naik turun tangga markas membuat nya sangat lelah.
Kali ini ia benar-benar tidak sanggup merasakan sakitnya sampai ia melihat sela pahanya mengeluarkan darah segar.
Tepat saat itu Bang Huda melintas di hadapan Andin. "Lho Ndin.. kamu kenapa?" tanya Bang Huda melihat tubuh Andin gemetar. Ia segera turun menghampiri Andin. Astagfirullah.. Andiin.. Aduuuhh" Bang Huda mengusap wajahnya merasa cemas.
"Bang, tolong hubungi Bang Langsang..!!" pinta Andin.
"Iya.. iyaa.. sebentar ya..!!"
.
.
__ADS_1
.
.