
"Allahu Akbar.. mirip saya Bang???" Bang Langsang seakan bisa menebak alur wajah yang serupa dengan dirinya.
"Coba lihat Bang, Andin mau lihat..!!" pinta Andin.
Dokter mendekatkan bayi kecilnya ke pipi sang Mama.
Tangis Andin baru pecah saat untuk pertama kalinya bersentuhan dengan jagoan kecilnya. "Kenapa Abang menang banyak? Andin yang sudah mengandungnya" protes Andin.
"Abang malah membawanya selama dua puluh tujuh tahun" jawab Bang Langsang yang seketika mendapat tatapan horor dari Andin. "Kamu kebagian seluruh rasa sayang jagoan kecilmu, sekaligus rasa sayang Abang yang tidak akan pernah terbagi untuk wanita manapun di dunia ini.. kecuali Mama" Bang Langsang mengecup bibir Andin hingga tanpa terasa air matanya menetes. "Terima kasih banyak sayang. Abang sayang sekali sama kamu"
...
Bang Langsang mengetuk-ngetuk pena di atas meja dokter. Kepalanya berpikir keras memberi nama untuk jagoan kecilnya sebab dalam benaknya malah tersimpan nama seorang gadis yang ia kira akan menjadi nama untuk putrinya. Tapi takdir Tuhan begitu indah, ia malah mendapat berkah seorang putra dari rahim Andini istrinya.
"Sudah dapat atau belum?" tanya Papa Ranggi.
"Ehmm.. Gusti Angger Pananjakan. Ya.. aku akan memberi nama itu" jawab Bang Langsang akhirnya memutuskan.
"Ya sudah itu saja. Cepat tulis..!!"
:
Baby Angger tidur nyenyak di dalam inkubator. Berat badan 2,6 kilogram sudah lumayan bagus untuk bayi prematur.
"Wajahnya mirip sekali sama kamu. Pantas saja Andin marah, ternyata ada duplikat mu menyiksanya" kata Papa Ranggi.
Bang Langsang tersenyum penuh makna. Ia membaca kembali lembaran surat di tangannya.
Maaf ya sayang, Abang benar-benar nggak mau menyakiti kamu lagi. Biar Angger besar dan menjadi satu-satunya buah hati kita. Abang tidak sanggup melihatmu susah payah dan kesakitan menjalani kehamilan sampai harus melahirkan sebelum waktunya.
"Apa Andin sudah tau kamu 'menutup jalannya'?" tanya Papa Ranggi.
"Tadinya mau seperti itu, tapi dokter tidak mengijinkan karena Andin masih terlalu muda. Jadi dokter hanya menutup sementara, kalau memang ada niat lagi untuk menambah momongan.. baru di lepas Pa" jawab Bang Langsang.
"Ya sudah lah, mungkin memang lebih baik begitu. Persalinan secara tindakan juga punya banyak resiko kalau terlalu cepat hamil lagi" Papa Ranggi pun mendukung keputusan putranya yang kali ini di anggapnya benar dan sesuai dengan kata hatinya.
...
Andin menangis tanpa suara di ranjangnya. Efek obat bius sudah habis dan ia merasa sangat kesakitan.
__ADS_1
"Abang bantu miring..!!" kata Bang Langsang.
"Ngilu Bang, sakit sekali" Andin meringis tak tahan sakitnya, keringat bercucuran. Saat ini.. ingin melakukan apapun rasanya begitu sia-sia.
"Jangan di tekan kuat, Abang saja yang bantu."
Andin menggigit bibirnya berusaha untuk memiringkan badan di atas ranjang tapi tetap saja ia tak sanggup. Nafasnya terasa putus sambung, kepalanya pusing.
"Andin nggak kuat Bang" usai mengatakannya.. Andin pun tak sadarkan diri.
"Dek.. sayang..!!" Bang Langsang menepuk pipi Andin. "Ya Allah dek.. kalau begini caranya, bagaimana Abang nggak khawatir sama kamu" Bang Langsang segera menekan tombol darurat di samping ranjang.
:
"Keadaan pasca persalinan memang beda ya Lang. Mungkin usai persalinan kemarin.. Andin sedang dalam keadaan lelah, imbasnya ia tidak bisa mengatur respon tubuh"
"Apa bahaya Bang?"
"Selama tidak ada hal serius.. pendarahan, demam tinggi, baby blues.. maka semua masih bisa si toleransi" jawab Bang Pratama.
"Siap Bang, Terima kasih banyak penjelasannya"
***
Dengan ketelatenan Bang Langsang, akhirnya perlahan Andin sudah bisa bergerak. Ia mengajak Andin berjalan di sekitar ranjang.
"Masih terasa sakit sekali?" tanya Bang Langsang.
"Nggak begitu Bang"
"Maaf ya sayang, Abang bukannya nggak kuat belikan kamu obat paten. Ada obat yang tidak boleh bentrok dengan kesehatanmu." ucap sesal Bang Langsang.
"Nggak apa-apa Bang. Andin menikmati indahnya menjadi seorang ibu. Rasa sakit, nyeri.. semuanya nikmat dan terbayar lunas setelah melihat si kecil kita" jawab Andin.
Bang Langsang tersenyum haru, ia mendekati Andin berniat mencium bibir manis sang istri tapi tak di sangka rombongan keluarga datang menjenguk Andin.
"Heeehh Langsang.. jangan berulah..!!!!" bentak Papa Ranggi sampai menimpuk kepala putranya dengan sandal.
"Aaaww.. astaga.. Papa..!!! Masa cium istri saja nggak boleh" protes Bang Langsang.
__ADS_1
"Boleh kalau akal sehatmu waras, tapi Papa nggak yakin akalmu bisa waras" kata Papa Ranggi.
"Astagfirullah kalian berdua ini. Andin masih sakit kok malah ribut sendiri" tegur Opa Rico.
Papa Ranggi dan Mama Hana langsung menghampiri menantunya. "Masih sakit ndhuk?" tanya Mama Hana.
"Nggak Ma, sudah lebih baik" jawab Andin tersenyum bahagia, apalagi ia juga mendapatkan mertua yang baik dan perhatian.
"Syukurlah, nanti Mama temani kamu di rumah sampai Papa dapat pengasuh untuk Angger ya" kata Mama Hana.
"Iya Ma, dari kemarin Andin juga mikir begitu.. harus dapat orang yang bisa mengasuh Angger"
"Sama aku juga nggak apa-apa Ndin. Apa kamu nggak takut anakmu di asuh sama orang yang tidak kamu kenal?" kata Mbak Naya.
"Nanti aku cari lewat agen penyalur tenaga kerja"
"Jangan sembarangan kamu Lang, kamu ingat atau tidak masalah anggota kita yang anaknya terjepit pintu karena pengasuhnya lalai" Bang Khaja pun mengingatkan Bang Langsang.
"Kalau kamu mau, biar Oma Alisa membantu" tiba-tiba Oma Jihan bersuara.
"Apa sih kamu Ma"
"Sudah sejak dulu Mama mengingatkan Papa agar turut memperhatikan Alisa"
"Papa sudah menuruti inginmu untuk memperhatikan dia. Apa yang dia alami saat ini adalah hasil perbuatannya sendiri. Mengertilah Ma" kata Opa Rico.
"Tapi Alisa pernah mengandung anak Papa"
"Dan Papa tidak pernah menyentuhnya seujung kuku pun Ma. Dia mengambil sample dari tubuhku lalu membuatnya hamil. Aku juga tidak pernah menginginkan anak itu. Jangan bahas dia lagi....!!!!!!!" karena terlalu emosi, sakit Opa Rico menjadi kambuh. Ia memegang dadanya yang terasa sesak.
Oma Jihan panik melihat Opa Rico kambuh.
.
.
.
.
__ADS_1