
Bang Ranggi mengecup sekilas bibir Hana dan kemudian mengulang hal tersebut berkali-kali. Ia sengaja mengulangnya untuk menarik perhatian Hana dan benar saja. Saat dirinya berhenti mengecup, kini Hana mulai menuntut kehangatan darinya.
"Mau??" tanya Bang Ranggi karena merasa sudah bisa memperdaya Hana.
Hana menunduk malu-malu menyembunyikan wajahnya.
"Mau juga nggak apa-apa kok. Ajudanmu ini paling setia melaksanakan perintah dari Ibu Ranggi" Bang Ranggi menjawab dengan nada yang begitu lembut dan kali ini hati Hana sedikit mulai tergerak.
"Ibu komandan mulai tergoda. Boleh tolong pijat tangan saya.. Letda Ranggi??" pinta Hana.
Denyut jantung Bang Ranggi berdegub kencang.
"Jangankan tangan.. pijat yang lainnya juga boleh Bu"
Pada akhirnya.. keduanya saling menunduk malu. Bagai baru pertama kali saling jatuh cinta kembali.
"Abang mau berdiri saja disitu?" tanya Hana.
Wajah Bang Ranggi seketika berubah berbinar nakal.
"Jatah Abang boleh di minta sekarang nggak dek?" tanya Bang Ranggi memelas.
Melihat wajah Bang Ranggi sudah terlihat begitu tersiksa. Itu semua membuat Hana menjadi tidak tega.
Hana mengangguk pelan.
"Iya Bang, boleh" jawab Hana.
"Alhamdulillah.. beneran nih dek???" senyum tampan menghias wajah Bang Ranggi.
"Iya Pa"
"Astagfirullah.. Ya Allah.. mimpi apa aku semalaaam??? Manis sekali bibirmu dek" pekik Bang Ranggi kegirangan.
Tak menunggu waktu lama Bang Ranggi menghampiri Hana dan langsung ingin melaksanakan niatnya tapi Hana mencegahnya.
"Apa lagi dek???" Bang Ranggi yang sudah tidak sabar segera mengambil posisi terbaiknya.
"Sungguh Abang tidak ada hubungan lagi sama si Imelda itu?" Hana memastikan sendiri dari Bang Ranggi.
"Nggak ada ma. Sayangnya Abang yang paling cantik" bujukan demi bujukan akhirnya meluluhkan hati Hana.
__ADS_1
"Sudah boleh makan apa belum ma? Baterai Abang sudah drop"
Tak ada lagi yang bisa Hana perbuat. Hana menarik kerah baju Bang Ranggi, tanpa kata lagi Bang Ranggi luluh lantah bagai kehilangan taring. Segarang garangnya seorang pria pasti akan tunduk jika sudah berhadapan dengan peristiwa satu ini.
Suara mende*ah pelan dari bibir Bang Ranggi. Rasa penasaran dan rindu bercampur menjadi satu. Perlahan tapi pasti, tanpa membuang banyak waktu.. ia segera melaksanakan kewajibannya sebagai suami Hana.
:
Bang Ranggi memercing kelelahan di ranjang. Nafasnya masih tak beraturan. Punggungnya terasa berat dan tempurung lututnya seakan mau lepas. Matanya sudah akan terpejam tak tahan merasakan ngantuk yang teramat sangat.
Jemari lentik Hana masih bermain-main di dada Bang Ranggi dan terkadang malah bermain di tempat tak semestinya.
"Kenapa sayang?" tanya Bang Ranggi dengan suara serak paraunya. Harus ia akui kali ini ia merasa amat sangat puas dengan pelayanan Hana dan ia pun harus mengakui bahwa ia terkalahkan oleh pesona istri cantiknya.
"Sekali lagi donk Bang" ajak Hana dengan manjanya khas seorang istri.
Allahu Akbar.. mati lah aku. Istri masih mau tapi aku sudah lesu. Harus bagaimana ini. Tapi menyenangkan Hana juga kewajiban ku, jangan sampai Hana mencari kehangatan dari pria lain karena aku tidak bisa membuatnya bahagia.
"Ya sudah.. tapi bantu Abang dulu. Rasanya tulang Abang mau patah tulang" jawab jujur Bang Ranggi.
"Okeeyy Pap"
-_-_-_-_-_-
Bang Ranggi keluar dari kamar bertelanjang dada sambil memakai celana kolor. Jambulnya acak-acakan dan berantakan.
"Baru sadar?" sapa Ayah Rico.
"Lho yah.. sejak kapan ada disini?" tanya Bang Ranggi kaget.
"Sudah daritadi. Kalian saja yang tidak menjawab" jawab Ayah Rico yang mengerti apa yang pastinya di lakukan pengantin baru.
"Oohh.. Cherry mana yah?" agaknya Bang Ranggi sedang merindukan putri kecilnya.
"Ada sama Oma dan Opa Garin. Cherry nggak mau pisah sama Opa buyut" Ayah Rico pun sekarang jadi sulit berpisah dari Cherry dan berniat membawanya ke Aceh agar Bang Ranggi dan Hana bisa fokus dengan kehamilan Hana.
Bang Ranggi pun berjalan menghampiri Cherry.
~
"Sekarang maunya sama Opa buyut ya.. nggak mau sama Papa lagi" Bang Ranggi memasang wajah sedih dan masam.
__ADS_1
"Cherry sayang Opa buyut. Cherry boleh ya pa.. ikut Opa buyut?" tanya Cherry kecil.
"Tanya Mama donk.. Papa sih boleh-boleh saja tapi Cherry juga harus bilang sama Mama. Hmmm.. sama Papa Hasdin juga." kata Bang Ranggi yang sebenarnya juga mengkhawatirkan perasaan Hana karena Hana adalah ibu kandung Cherry.
"Cherry nggak mau ketemu Papa Hasdin" Cherry menjadi kesal setiap kali ada nama Papa Hasdin di sebut.
"Eeehh.. kok bilangnya begitu sih sayang. Papa Hasdin khan papanya kakak Cherry" bujuk Bang Ranggi memberi pengertian pada putrinya.
"Nggak mau.. Papanya Cherry cuma Papa Ranggi" jawab Cherry. Disana hati Bang Ranggi bergemuruh sedih. Disaat dirinya begitu ingin mendapatkan panggilan Papa.. kini ia merasakan hal tersebut langsung tanpa hambatan apapun.
"Waahh.. Papa Ranggi senang sekali" Bang Ranggi mengangkat Cherry setinggi kepalanya lalu mencium putrinya itu.
"Tapi... Cherry juga harus sayang sama Papa Hasdin. Kalau nggak ada Papa Hasdin.. Cherry nggak akan bisa main sama Papa Ranggi" meskipun sangat berat mengucapkan nya, tetap saja kata itu harus ia ucapkan karena memang Hasdin adalah ayah biologis dari Cherry.
Semua orang yang melihat kejadian itu seketika diam tanpa kata.
"Besok pagi Papa antar Cherry temui Papa Hasdin ya. Papa Hasdin rindu sekali sama Cherry."
***
Pagi ini Bang Ranggi mengajak Hana dan Cherry menemui Bang Hasdin. Bukannya tanpa pertimbangan dirinya mempertemukan Hana dan Bang Hasdin apalagi di antara keduanya pernah terjadi hal yang sungguh sangat menyakitkan.
Bang Ranggi menggendong Cherry di ikuti Ayah Rico dan Mama Jihan yang sebenarnya sangat menentang pertemuan Hana dan Bang Hasdin tapi mereka juga masih menghargai keputusan putra mereka yang pastinya sudah memikirkan baik dan buruknya.
"Jangan takut, ada Abang" Bang Ranggi menggandeng tangan Hana yang terasa dingin.
"Hana nggak mau melihat wajahnya Bang" ucap Hana.
Sesungguhnya hati Bang Ranggi jauh lebih nyeri, tapi ia pun harus kuat menghadapi kenyataan yang pernah terjadi.
"Abang tau ada rasa sakit di dalam hati, tapi Abang mohon.. jangan memberi pemikiran buruk untuk Cherry. Biarkan putri kita bahagia sayang. Tidak seharusnya dia merasakan sakit yang kita rasakan, kalau kamu nggak kuat.. biar Abang saja yang memikul beban untukmu dan Cherry."
Hana memandang wajah Bang Ranggi dengan ragu, hatinya kembali tidak pasti dan terombang ambing.
"Hana sungguh tidak ingin melihat wajahnya Bang" ucap Hana sesenggukan.
.
.
.
__ADS_1
.