Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
74. Dunia baru.


__ADS_3

Sebuah brankar keluar dari ruang bersalin.


"Alhamdulillah..!!" ucap syukur seluruh anggota keluarga tapi betapa terkejutnya mereka saat melihat pasien yang sedang di dorong adalah Letda Ranggi Tanuja yang terkenal penuh wibawa dan gagah perkasa.


"Lho.. kok Ranggi?????" Ayah Rico melotot bingung.


"Alhamdulillah Ibu Ranggi sehat wal afiat, hanya saja sekarang sedang tidur usai mendapat penanganan." kata dokter Joy.


"Terus Ranggi kenapa dok??" tanya Ayah Rico.


"Mas Ranggi drop, mendadak Hb nya turun drastis. Kalau Bu Ranggi sehat, besok pagi sudah diijinkan pulang tapi Mas Ranggi nya harus mendapat perawatan dulu sampai benar-benar sehat" jawab dokter Joy menjelaskan.


"Ya Tuhan, kenapa terbalik begini pasiennya??" Ayah Rico sampai menepuk dahi melihat Ranggi belum sadar dengan jarum infus menancap di punggung tangan.


"Tadi sempat sadar, tapi lihat proses penyelesaian persalinan.. Mas Ranggi nggak kuat dan akhirnya tumbang lagi. Mungkin tidak tega lihat istrinya kesakitan"


"Duuhh Ranggi.. nggak cocok banget sama tampangmu yang sangar itu" gerutu Opa Garin.


...


Para anggota menjenguk Letda Ranggi di rumah sakit, entah mereka harus tertawa atau sedih melihat komandan terbaring di ranjang sedangkan sang istri sedang di temani keluarga dan duduk di kursi roda.


"Selamat atas kelahiran jagoannya ya Bu" Danyon hadir bersama Ibu untuk memberi selamat pada Hana.


"Siap Bapak.. ibu.. Terima kasih" jawab Hana lebih formal di hadapan para anggota.


"Waahh.. saking bahagianya Letda Ranggi sampai belum sadar juga" sela wadanyon. Seisi ruangan jadi tertawa melihat Bang Ranggi tepar di atas ranjang.


Danyon melihat box bayi di rumah sakit yang berada tepat di samping Hana. "Ini nama pemberian Papanya?" tanya Danyon.


"Iya Pak."


Danyon menyentuh papan nama itu. "Nukhaja Dewa Harera. Nama yang kuat. Sekuat Papanya. Besok kamu harus tau Papamu itu adalah pria yang tangguh dan lemahnya Papamu hanya satu.. yaitu Mamamu"

__ADS_1


...


Bang Ranggi tersadar, ia melihat Hana sedang di suapi mamanya, ia pun segera bangkit dan merasa tubuhnya sudah tidak selemas tadi.


"Abang jangan bangun" kata Hana.


"Abang nggak apa-apa. Seharusnya kamu yang tidur disana.. bukan Abang" jawab Bang Ranggi.


"Sadar juga kamu??" tegur Ayah Rico kemudian menghampiri putranya. "Selamat ya..!!" Ayah Rico memeluk Bang Ranggi.


Mata Bang Ranggi berkaca-kaca. Kini dirinya telah menjadi seorang ayah tapi Hana yang sudah menjadi seorang ibu lagi jauh lebih menyentuh hatinya.


"Terima kasih banyak yah" setelah memeluk ayahnya. Bang Ranggi menghampiri Mama Jihan kemudian memeluk kaki dan menciumnya.


"Ranggi..!!" Mama tertegun melihat Bang Ranggi yang memeluk kakinya.


"Maafin aku ma. Aku belum bisa jadi anak yang berbakti.. suka buat mama nangis sedih karena ulah ku. Sungguh ma, aku yang suka bertengkar, semua bukan tanpa alasan dan aku nggak pernah main perempuan sampai kebablasan. Hanya Hana satu-satunya perempuan yang aku sentuh. Percayalah Ma" ucap Bang Ranggi terasa sesak. Terima kasih banyak Mama sudi melahirkan laki-laki sepertiku."


Bukannya bicara baik-baik, Bang Ranggi malah menubruk memeluk Hana hingga setengah terbaring di sofa. Ia kembali menghujani Hana dengan ciuman sayangnya. "Terima kasih banyak sudah melahirkan jagoan kita. Abang janji ini yang terakhir. Abang sayang kamu dek"


"Itu sudah berkali-kali Abang ucapkan" protes Hana.


"Makanya jangan percaya. Enam bulan lagi pasti kamu sudah isi" kata Ayah Rico.


Opa Garin melipat kedua tangan di depan dada. "Kalau melihat kelakuannya yang lemah iman sih sepertinya Ranggi nggak bakalan kuat puasa."


Bang Ranggi tersenyum kecil. Ia tidak peduli lagi ledekan Ayah dan Opanya. Ya ia tau saat ini hatinya sedang bahagia meskipun terbersit sedih melihat Hana masih belum kuat sesekali hatinya masih ngilu mengingat masa persalinan Hana.


"Permisi.. kita cek dulu ya Bu Ranggi. Masih pendarahan atau tidak" kata seorang bidan yang membantu persalinan Hana. "Kalau Bapak kuat, bisa ikut cek sama-sama" ajak Bu bidan.


Hana sedikit bergeser dari duduknya, tapi sesaat kemudian ia memercing sampai mengeluarkan air mata. Bang Ranggi pun paham keadaan Hana dan segera memasukan botol infusnya ke kantong lalu menggendong Hana ke ranjang.


"Aaawwhh.."

__ADS_1


"Abang pelan-pelan" kata Bang Ranggi.


~


Bang Ranggi menggigit bibirnya melihat luka Hana, tak sampai hati melihat istrinya kesakitan. "Biar saya yang lanjutkan Bu" kain handuk di tangan Bu bidan kini beralih di tangannya.


Bu bidan tersenyum melihat cara Bang Ranggi memperlakukan istrinya, sangat lembut dan penuh perhatian hingga Hana merasa nyaman dan tidak sakit lagi.


"Saya tinggal ya Pak Ranggi..!!" pamit Bu bidan.


"Silakan Bu, terima kasih banyak" senyum Bang Ranggi tetap terurai.


:


Para anggota keluarga sibuk berebut baby Khaja tak terkecuali Cherry yang sangat senang denga kelahiran adik barunya.


"Adiknya nggak punya leher" kata Cherry dengan bahasanya karena melihat baby Khaja yang gemuk di usia kelahiran delapan bulan. 3,5 kilo yang sangat menyiksa Mama Hana. Tawa renyah keluarga semakin membahana.


"Kutukan apa ini? Mirip sekali sama Papanya" kata Ayah Rico.


"Lalu Ranggi kena kutukan apa sampai mirip denganmu yah" imbuh Mama Jihan.


"Itu berkah Ma, gimana kamu ini"


"Allahu Akbar, bisakah suara kalian sedikit tenang. Anakku mau tidur" tegur Bang Ranggi sambil memeluk baby Khaja dengan model kangguru. Bayi mungil itu sungguh tenang dalam dekapan Papanya sama seperti Mama Hana yang bisa tidur dalam hitungan detik di pelukannya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2