Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S.2. 30. Ikhlas.


__ADS_3

"Ayu istri saya..!!"


"Nggak mungkin.. tolong Bang, saya butuh bicara dengan Ayu..!!" pinta Bang Asnan terus ingin menarik tangan Ayu.


"Apa ucapan saya sulit di pahami?? Ayu istri seniormu..!! Bersikaplah sopan..!!" ucap Bang Huda lebih tegas.


Bang Asnan mundur beberapa langkah. Hatinya terasa sakit harus menerima kenyataan pahit bahwa Ayu telah menjadi istri pria lain yang juga adalah seniornya sendiri. Dalam hati kecilnya sungguh mencintai dan menyayangi Ayu melebihi apapun, wanita sabar yang selalu menemaninya selama ini. "Abang tidak bermaksud buruk dek. Abang menyimpannya agar kamu tidak lari dari Abang..!!" ucapnya pada Ayu.


"Apa harus dengan cara seperti itu?? Lalu kau gunakan apa uang sebanyak seratus lima puluh juta rupiah itu? Ayu mendapatkan setengah dari uang yang kamu gunakan dari hasil jerih payahnya bekerja membantu bagian penyelidikan" suara Bang Huda semakin meninggi.


"Saya tau Bang, tapi saya terpaksa"


"Apapun alasanmu.. kamu sudah menyakiti hati seorang gadis. Kamu juga sudah menduakan Ayu dengan Belinda."


Bang Asnan menatap mata Bang Huda. Tak ada yang salah dari ucapan seniornya itu. Dirinya memang masih memiliki hubungan spesial dengan Belinda bahkan mungkin sudah di luar batas yang seharusnya.


"Kamu tidak bisa mencintai dua wanita dalam satu waktu, di balik senyumnya.. mereka berdua menangis karenamu Asnan" Bang Huda sudah semakin emosi.


Ayu memeluk punggung Bang Huda dengan erat. Ia menahan tangis sekuatnya. Debaran jantung itu saling beradu. Sebesar apapun amarah Bang Huda.. melihat Ayu menyimpan lemahnya sendirian.. perasaannya menjadi tidak tega. Ia pun menyudahi pertemuan hari ini.


"Selesaikan apa yang menjadi tanggungan mu. Cerita mu dengan Ayu usai sampai disini..!!"


:


Ayu menangis sesenggukan meratapi nasibnya.


"Kamu masih menangisi pria itu?" tegur Bang Huda mulai terpancing rasa jengkel karena Ayu terus menangisi Asnan. "Apa hebatnya dia sampai kamu tidak bisa lupa?? Terlalu tampan atau terlalu jantan????"


"Apa cinta butuh alasan??" tanya Ayu.


"Ya memang tidak, tapi menangisi pria yang sama sekali bukan siapa-siapa mu itu sangat keterlaluan..!!!!!" jawab Bang Huda.


"Lalu Abang siapanya Ayu???" Ayu pun terbawa jengkel karena Bang Huda terus memarahi nya.


"Kamu pikir apa yang kita lakukan subuh tadi??" ucap Bang Huda kembali meninggi.


"Perjanjian hitam di atas putih" jawab Ayu.


Seketika mata Bang Huda membulat tajam. "Kau ini bodoh atau dungu?????"


"Abang yang bodoh..!!!!!!"


"Aahh sudahlah, terserah. Tiga butir saja makhluk Tuhan seperti mu, bisa punah kaum Abang. Pusing kepala Abang ribut sama kamu..!!!!" Bang Huda memandang lurus ke arah jalan sembari menekan emosinya.


"Tiga biji makhluk Tuhan sepertimu, Ayu bisa gagal panen karena bibitnya soak" cerocos Ayu tanpa perhitungan.


"Ooohh.. berani kamu ya..!!! Lihat saja kamu nanti, bahkan Abangmu yang garang itu tidak akan berani berbuat apapun."


"Apa maksud Abang"

__ADS_1


"Tunggu saja..!!"


...


"Saya mau bawa Ayu tinggal di depan rumahmu Lang..!!" kata Bang Huda.


"Oke.. mau kapan??"


"Bang.. Abang tega Ayu di bawa pria tidak bermutu ini?????" tanya Ayu.


Bang Langsang tidak menjawab, Ayu beralih pada Bang Khaja meminta dukungan Abangnya. "Bang.. Ayu mau di culik bekantan" kata Ayu merengek di lengan Bang Khaja tapi Abangnya pun diam saja.


"Mau kau di culik beruk macam dia.. Abang mau bilang apa?? Kau sendiri yang mau tanda tangan" kata Bang Langsang.


Bang Huda tersenyum penuh kelicikan beraura mesum membuat Bang Langsang dan Bang Khaja jengah di buatnya.


"Abaang.. tolong Ayuuu..!! Ayu nggak mau sama Bang Huda..!!" Ayu mulai menangis merengek di lengan Bang Langsang.


"Bawalah dia. Jangan buat Ayu nangis..!!" pesan Bang Khaja.


"Berani kamu buat lecet Ayu.. habis kau di tanganku..!!!" ancam Bang Langsang.


Bang Huda semakin melebarkan senyumnya. Tak lama ia menatap Ayu. "Sungkem sama Abangmu. Mulai hari ini kamu ikut Abang..!!" perintah Bang Huda untuk Ayu.


Mau tidak mau, Ayu mengikuti perintah Bang Huda. Ayu merosot dan bersimpuh memegang kedua kaki Abangnya. Rasanya tak ada pilihan lain lagi selain ikut dengan Bang Huda. Ayu menengadah menatap kedua Abangnya secara bergantian. "Apa Abang ikhlas Ayu ikut dengan Bang Huda??"


Bang Khaja menyentuh pipi Ayu. Ada rasa sakit, sedih, takut bercampur menjadi satu. "Insya Allah Abang ikhlas.. Huda akan menjagamu.. mulai detik ini kamu akan hidup bersamanya, nurut apa kata Bang Huda..!!" Bang Khaja memeluk adiknya itu kemudian mengusap titik air mata yang akan menetes.


Berbeda dengan Bang Khaja. Bang Langsang jauh lebih tenang tapi siapa sangka Abangnya itu menyimpan kesedihan tersendiri. Ia begitu jarang memeluk adiknya tapi perasaannya tak kalah dalam.


"Abang ikhlas, Ayu ikut Bang Huda?"


"Pergilah.. Abang ikhlas" jawabnya tanpa menatap mata Ayu.


"Tidak inginkah Abang memeluk Ayu?" tanya Ayu.


Bang Langsang masih diam di tempatnya. Ayu menunduk mencium tangan Bang Langsang. "Ayu minta maaf, selama ini sudah membuat Abang susah. Ayu sering membangkang dan melawan apa kata Abang. Mungkin ini hukum karma karena Ayu nggak nurut sama Abang sampai Ayu harus di buang.. ikut sama Bang Huda. Abang sudah capek punya adik macam Ayu" ucap Ayu sesenggukan.


"Kalau sudah tau segera bertaubat dan resapi semua kesalahanmu. Kelakuamu yang dulu tidak untuk di ulang" kata Bang Langsang bernada datar seolah tak peduli.


Mendengar Bang Langsang bernada datar, Ayu berdiri untuk meninggalkan tempat, tapi baru dua langkah menghampiri Bang Huda.. Bang Langsang pun berdiri, menarik tangan Ayu lalu memeluknya. Setetes air mata yang ia tahan kuat akhirnya tumpah juga. "Minus sekali kelakuanmu sampai semua ini harus terjadi. Gadis bodoh..!!" semakin erat pelukan Bang Langsang, semakin tangis itu tumpah.


"Awas saja kau Huda.. sampai kamu sakiti Ayu.. Mati kau di tanganku..!!!" tak hentinya Bang Langsang mengancam Bang Huda.


"Ya awalnya harus sakit, lama-lama adikmu sendiri yang minta" jawab Bang Huda seenaknya.


Seketika Bang Langsang dan Bang Khaja kesal. Keduanya bersamaan mengambil bantal sofa lalu menghantam Bang Huda.


"Baaang..!!!!"

__ADS_1


Perhatian Bang Khaja teralihkan karena Naya menarik ujung kaosnya.


"Apa sayang?" jawab Bang Khaja lembut.


"Naya lapar Bang"


"Mau nasi goreng? Beli di lapak depan Batalyon yuk..!!" ajak Bang Khaja kemudian membantu Naya berdiri dari duduknya kemudian mencari kunci motornya di dalam saku.


Bang Langsang menoleh melihat Andin yang hanya diam tidak meminta apapun padanya. Gundah hatinya kembali berlipat-lipat. "Kamu nggak mau apa-apa dek?" tanya Bang Langsang.


"Buatkan pesawat kertas Bang..!!" pinta Andin.


"Oke..!!" Bang Langsang segera menuju lemari hias untuk mengambil kertas HVS.


"Kertasnya warna merah dari dompet Abang" kata Andin.


"Duit lagi.. ya ampun nak, kalau bapakmu ini nggak kerja.. terus mau dapat kertas merah darimana??" gumam Bang Langsang.


"Nggak ikhlas nih????" tanya Andin sudah bersungut-sungut.


"Ikhlas sayangku.. ikhlas.. ini juga ambil dompet" jawab Bang Langsang lembut tak ingin berdebat dengan bumil.


Bang Huda terbahak melihat kedua sahabatnya harus bersabar menghadapi bumilnya.


"Kau jangan tertawa..!!!!" ucap Bang Khaja dan Bang Langsang bersamaan.. mereka begitu sebal mendengar tawa Bang Huda.


"Mulutmu itu akan terkunci rapat menghadapi namanya istri" kata Bang Khaja.


"Hhh.. pantas saja tidak ada yang mau menikah denganmu. Hanya perempuan kena pelet saja yang mau menjadi istrimu." Ayu menyambar tas kecilnya lalu melenggang pergi.


Bang Khaja, Bang Huda dan Bang Langsang saling tatap.


"Cepat netralkan peletmu..!! Ingat umur.. kejar setoran..!!" sindir Bang Langsang.


"Aseeemm tenan kok adikmu..!!!!" gerutu Bang Huda.


.


.


.


.


Cek cerita Ayu n Huda di Cerita Nara terbaru ya 😘😘😘😘😘


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2