
"Lettu Khaja dan Lettu Langsang memimpin pengamanan demo mahasiswa di universitas kota. Jangan ambil tindakan gegabah meskipun mahasiswa anarkis..!!" pesan Danyon.
"Siap..!!"
:
"Nggak jadi kegiatan santai nih gara-gara demo" gerutu Bang Langsang.
"Sudahlah.. namanya juga perintah"
Truk pun melaju kencang menuju TKP. Saat sedang asyik melihat pemandangan di jalan, pikiran Bang Langsang teringat dengan sikap Belinda yang sangat keterlaluan tapi semua tidak menjadi beban pikirannya karena jauh di dalam lubuk hatinya tak ada cinta untuk gadis itu.
...
Mata Bang Langsang tertuju pada seorang gadis bar-bar yang sedang menyuarakan pendapat, gadis itu sampai memanjat tembok gedung dewan.
"Om-om pakai baju loreng lebih baik menyingkir dari sini. Ini area kami yang menyuarakan hati rakyat" ucap gadis itu menunjuk Bang Langsang.
"Heehh gadis kecil.. cepat turun..!! Kau bisa kabur terbawa angin. Biar mahasiswa laki-laki saja yang bersuara. Suaramu itu tidak berbobot" bujuk Bang Langsang yang sebenarnya sudah kesal karena sejak tadi gadis itu menyorotnya.
Mendengar kata kecil, gadis itu marah.. ia segera turun.
Dengan berkacak pinggang, gadis itu menantang Bang Langsang. "Tidak boleh body shaming. Bapak mau bilang saya kecil, pendek dan tidak berguna???" kata gadis itu.
"Saya tidak bilang begitu, kamu saja yang perasa" jawab Bang Langsang.
"Dasar sok tampan"
Entah bagaimana awalnya.. tiba-tiba aksi penyerangan terjadi. Seorang mahasiswa tertusuk dan suasana semakin mencekam.
Bang Langsang mengambil HTnya. "Leopard satu, ada penyusup.. amankan di koordinat tempat jaguar berdiri..!!" perintah Bang Langsang.
Mata Bang Langsang melihat gadis itu terseret pendemo. Seorang pria sudah bersiap menghujam pisau dan Bang Langsang sigap mengamankan situasi, ia menepis pisau di tangan pria tersebut, baku hantam pun terjadi.
Gadis itu menjerit Ketakutan dan Bang Langsang meladeni pria tersebut sembari melindungi gadis itu.
"Darimana kamu????" bentak Bang Langsang pada pria asing tersebut.
Pria tersebut hanya tersenyum sampai akhirnya para anggota pun datang. Bang Langsang melihat gadis itu dengan panik. "Astagfirullah..!!" Bang Langsang segera menolongnya.
:
"Ijin Bang, apa semua aman?" tanya Bang Langsang.
"Alhamdulillah aman, tapi memang tergores pisau dan sedikit dalam lukanya" kata Bang Pratama. "Siapa penanggung jawabnya?"
"Siap.. ijin.. saya sendiri Bang"
__ADS_1
Kening Bang Pratama berkerut tapi kemudian mengangguk tak mempersoalkan lagi.
:
Bang Langsang membuka tas gadis itu. Di dalamnya ada perlengkapan make up dan beberapa barang rahasia wanita. Bang Langsang tersenyum nakal saat melihatnya dan akhirnya Bang Langsang menemukan apa yang sedang dicarinya. Dyah Mada Andini.. nama gadis yang baru saja di tolongnya.
Mata Bang Langsang melirik gadis yang belum sadar juga dari tidurnya. "Dasar brutal, tak punya ilmu tapi nekat" gumam Bang Langsang.
Teringat dalam benaknya ucapan sang Papa yang ingin menjodohkan dirinya dengan putri sahabat Papa. Papa terus meminta dirinya menikahi putri sahabatnya sampai hatinya jengah. Mata itu terus memperhatikan paras ayu Andini.
dddrrttt.. ddrrtt..ddrrtt..
~
"Batal pun tidak apa-apa Pa" kata Bang Langsang.
"Enak saja kamu, lebih baik kamu menikah biar ada yang mengontrol kelakuamu..!!" ucap tegas Papa Ranggi.
"Apa dalam hidup aku tidak punya pilihan??"
"Orang tua hanya ingin mengarahkan yang terbaik, Papa tidak akan memilihkan gadis yang buruk untuk kamu" jawab Papa Ranggi.
"Aku hanya takut tidak mencintainya dan malah akan menyakitinya karena sikapku Pa, pernikahan itu tidak main-main. Pernikahan adalah sebuah janji.." kata Bang Langsang.
"Ini Mamamu yang minta le. Kamu tau khan Mama sering sakit karena mikir kamu. Tolong le, kasihan Mama" pinta Papa Ranggi merendahkan suara.
Tak lama gadis itu siuman. Efek obat bius membuatnya mual. Bang Langsang segera mengambilkan tempat.
~
Dengan telaten Bang Langsang merawat gadis itu.
"Jangan pegang-pegang..!!" ucap ketus gadis itu.
"Kapan Abang pegang kamu Andin, bukannya sejak tadi Abang tidak menyentuh kulitmu..!!"
"Tunggu.. darimana Abang tau namaku Andin???" tanya Andin dengan wajah terkejutnya.
"Abang punya ilmu menembus waktu" jawab Bang Langsang asal.
"Benarkah Bang, apa tentara sehebat itu??" wajah Andin terlihat sangat lugu.
"Aahh kamu ini, Abang bongkar tas mu untuk cari identitas" Bang Langsang tidak sabar menghadapi Andin, salah bicara dia akan kena getahnya.
"Apa Bang??? Disana ada banyak barang yang tidak boleh Abang lihat, kenapa Abang lancang sekali??????" pekik Andin sekuatnya. "Aaawwhh.. sakiiitt" Andin memegangi perutnya merasa nyeri karena luka jahitan.
"Makanya, jangan marah terus. Abang nggak lihat yang lain, hanya cari identitas mu saja" kata Bang Langsang.
__ADS_1
"Jaga jarak.. Andin sudah ada yang punya"
"Apa kau saja.. sudah ada yang punya. Abang juga mau nikah. Dasar perempuan bar-bar..!!!!!" Bang Langsang jengkel dan memilih duduk di teras.
Ponsel Andin berdering, ia segera mengangkatnya.
"Kamu dimana?" tanya Papa.
"Di rumah sakit Pa, tadi saat demo.. perut Andin tergores pisau" jawab Andin.
"Ya Tuhan.. Papa bilang khan jangan ikut acara seperti itu. Kamu mau menikah, jaga diri Andiiinn..!!!!!! Tunggu disana. Papa berangkat ke tempatmu. Cepat shareLoc..!!!!"
...
Papa Rahman kebingungan mencari putrinya. Kamar rawat putrinya itu sudah kosong melompong tanpa jejak.
"Tolong cari putri saya..!!" perintah Papa Rahman pada anak buahnya.
"Siap Dan"
~
Tak berbeda jauh dengan Papa Rahman, Papa Ranggi pun tak bisa menghubungi Bang Langsang.
"Langsang kemana Pa??" Mama Hana menangis sesenggukan memikirkan putranya dan sampai lemas bersandar dalam dekapan Papa Ranggi.
"Kemana anak itu? Onar sekali dia"
"Tadi ada pa, sekarang aku nggak tau Langsang ada dimana" jawab Bang Khaja.
"Cari Langsang sampai dapat, kasihan Mamamu ini Khajaaa..!!!"
"Iya Pa" Bang Khaja segera berangkat mencari adiknya.
"Sabar bro, kamu juga kalau di hadapkan masalah begini pasti juga syok" kata Papa Ares menenangkan.
"Tingkahnya benar-benar nggak karuan, pakai sifat siapa dia??"
Opa Rico tertawa mendengarnya, pertanyaan yang pernah singgah dalam benaknya. Segalanya seakan hukum karma. "Langsang itu kaca dirimu. Blangsak seperti kelakuanmu"
.
.
.
.
__ADS_1