
"Abang sayang Andin nggak?" tanya Andin.
Bang Langsang hanya bisa mengelus dada setiap kali mendengar pertanyaan konyol sang istri. "Sayang donk" jawab Bang Langsang.
"Kenapa Abang nggak pernah ngerayu Andin seperti orang di drama Korea?"
Duuhh.. celaka. Disaat begini otakku buntu nggak bisa merayu istri. Kenapa dulu sama perempuan-perempuan lancar sekali bicaraku.
"Bang..!!" Andin menggoyang lengan Bang Langsang.
"Nanti di rumah ngerayunya" jawab Bang Langsang karena di belakangnya duduk Papa Ranggi dan Mama Hana.
"Rayu aja Lang, Papa nggak dengar kok" kata Papa Ranggi.
"Papa nggak dengar itu lho Bang" Andin masih tetap menagih dan mengganggu Bang Langsang sepanjang jalan.
Bang Langsang menggeleng gemas, ia pun mulai berdendang.
Terminal Madiun Ngawi nggen dolanku
Ora bakalan aku ngelalekke
Mbiyen jaman semono kowe janji karo aku
Nanging nyatane kowe ngingkari janjimu
"Nggak lho Mas" jawab Andin membuat Bang Langsang tersenyum kecil.
Dek aku kangen, kangen karo sliramu
Tak sawang-sawang fotomu ning dompetku
Dek aku kangen, kangen karo sliramu
Tak elus-elus fotomu ning dompetku
"Ini ada Andin disini" kata Andin sambil mencolek dagu Bang Langsang.
Opo kowe ra keroso tak batin saben dino?
Ra bakal ilang fotomu ning dompetku
Opo kowe ra keroso tak batin saben dino?
Ra bakal ilang jenengmu ning atiku
Andin tersipu malu memalingkan wajahnya ke arah jalan.
Bang Langsang ikut tersenyum, ia mengusap perut Andin. "Anak Papa nggak boleh nakal ya, kasihan Mama. Sehat-sehat kamu ya nak..!!" do'a kecil Bang Langsang untuk calon bayinya.
__ADS_1
\=\=\=
Empat bulan kemudian.
Usia kandungan Naya sudah mencapai sembilan bulan. Tubuhnya mulai sulit bergerak. Hari ini ada kegiatan di kantor. Ia pun datang meskipun sebenarnya Danyon sudah memintanya untuk off dari kegiatan.
"Istri saya dimana Bu?" tanya Bang Khaja mencari Naya pada seorang ibu pengurus ranting.
"Ada di dalam Pak. Sedang makan nasi kuning"
"Saya masuk ya Bu?" ijin Bang Khaja.
"Silakan Pak"
~
Bang Khaja lumayan khawatir karena semalam ia baru saja 'menjenguk' baby nya. Ia takut Naya terlalu lelah.
"Kenapa keringat dingin begitu dek?" Bang Khaja melihat pendingin ruangan sudah menyala tapi Naya masih saja berkeringat.
"Perut Naya mulas deh Bang" jawab Naya.
"Kebanyakan makan kamu sayang. Mau ke toilet? Ayo Abang antar..!!" ajak Bang Khaja kemudian membantu Naya untuk berdiri.
"Aduuhh.. nggak kuat, sakit Bang"
"Iya mungkin Bang" jawab Naya meringis kesakitan.
"Ya sudah, kita ke rumah sakit sekarang..!!" Bang Khaja kembali membantu Naya untuk berdiri tapi Naya menolaknya.
"Sebentar Bang, Naya habiskan nasi kuning nya dulu" kata Naya.
"Lailaha Illallah.. kamu sudah sakit begini masih mikir makanan dek"
"Naya nggak boleh makan nih Bang?????" tanya Naya sengit.
Bang Khaja mulai ketar-ketir melihat raut wajah tegas dan garang sang istri. "Boleh.. boleh banget. Mau makan apalagi?" Bang Khaja memilih mengalah daripada terjadi hal yang tidak di inginkan.
"Mau bakso Bang" pinta Naya meskipun terlihat sekali istri Kapten Khaja menahan rasa nyeri.
"Jalan ke rumah sakit dulu ya. Sampai rumah sakit Abang belikan bakso" bujuk Bang Khaja.
"Nggak, Naya mau makan disini..!!"
Bang Khaja menepuk dahinya. "Cilakaa"
:
Naya menggigit bibirnya, sesekali ia meremas tangan Bang Khaja. Setelah rasa sakit mulai mereda, Naya menyantap lagi bulatan baksonya dan ini sudah sampai mangkok ke dua dari empat mangkok yang ia beli.
__ADS_1
"Ayo makan di mobil saja dek. Abang takut anak kita brojol di sini"
"Ya ampun.. Abang bisa diam nggak sih? Nggak sabaran amat" kata Naya mendesis mengunyah bakso pedasnya.
"Abang bukannya nggak sabar, kalau anak kita main seluncur disini terus bagaimana???" jawab Bang Khaja.
Benar saja, Naya baru saja menelan baksonya. Tiba-tiba perutnya terasa tertekan seperti ada dorongan untuk meluncur keluar.. lantai pun menjadi basah. "Ini apa ya Bang?" tanya Naya sambil melihat ke arah lantai yang basah.
"Astagfirullah.. Sumadi.. bawa mobil kesini..!!!!!!!!"
...
"Kamu bagaimana sih Khaja.. ini sudah hampir pembukaan lengkap" tegur Bang Pratama.
"Saya nggak tau kalau ternyata sudah mulai persiapan Bang" jawab Bang Khaja.
"Jangan banyak bicara Abaaaanngg.. perut Naya sakit" teriak Naya.
"Iya sayang.. sabar sedikit, ini juga Abang jalan cepat ke ruang bersalin" kata Bang Khaja sambil mendorong brankar menuju ruang bersalin.
"Siapa suruh jalan??? Lari Bang..!!!!!"
"Allahu Akbar.. iya ini Abang lari" Bang Khaja mempercepat langkahnya.
:
Dokter Pratama tersenyum puas. Istri Kapten Khaja sangat pandai bekerja sama.
"Sekali saja ya Bu Khaja, tapi tekan sangat kuat..!!" kata Bu Bidan yang membantu dokter Pratama menangani persalinan Naya.
Bang Khaja mengusap peluh Naya, ia memercing ngilu melihat Naya yang sedang berjuang demi buah hatinya. Tak terasa air matanya menetes, perasaannya tak tega melihat Naya kesakitan.
"Bismillahirrahmanirrahim.. Ayo sayang..!! Kamu kuat, kamu pasti bisa..!!"
Naya menggenggam tangan Bang Khaja, Sekuat-kuatnya Naya mengejan sampai akhirnya ada bayi kecil terlahir ke dunia.
"Alhamdulillah Pak Khaja, bayinya perempuan" kata Bu Bidan.
"Alhamdulillah..!!" Bang Khaja bersujud syukur atas kelahiran putrinya kemudian beralih mengecup kening, pipi dan bibir Naya. "Terima kasih banyak sayang, kamu sudah membuat hidup Abang menjadi penuh warna. Terima kasih banyak atas perjuangan mu ini. Abang jadi punya dua bidadari cantik di dalam rumah" Bang Khaja memeluk erat tubuh Naya.
"Bang, tadi baksonya sempat di bungkus nggak?" tanya Naya.
.
.
.
.
__ADS_1