Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 47. Karena nyawa separuh jalan.


__ADS_3

"Jangan nangis sayang, Abang hanya sebentar saja. Paling lama satu bulan" bujuk Bang Khaja.


"Iya Bang, Naya nggak nangis kok" jawab Naya tapi air mata deras membasahi pipi.


"Terus ini apa?" tanya Bang Khaja menghapus air mata Naya.


"Naya sakit mata" jawab Naya polos.


Bang Khaja tersenyum gemas. "Langsang malah pergi ke medan perang. Abang hanya memeriksa patok batas negara. Lebih berbahaya tugasnya Langsang" Bang Khaja berusaha menenangkan Naya.


Andin pun menghampiri Naya. "Nanti tinggal di rumahku saja ya biar nggak sendirian. Biar ada yang batu awasi Inay"


"Nggak apa-apa, Naya berani kok di rumah" jawab Naya.


"Pintar istri Abang, istri pasukan harus berani. Abang pergi cuma sebentar saja. Nggak lama dek" Bang Khaja mencondongkan badannya mengecup kening Naya.


...


Malam hari.


Terdengar suara Inay menangis kencang, memang ini kali pertamanya si kecil Inay jauh dari sang Papa.


"Abang, coba lihat ke rumah Mbak Naya..!! Inay sedari tadi menangis terus" kata Andin.


"Kamu saja yang kesana, biar Angger sama Abang" tolak Bang Langsang kemudian bermaksud mengambil Angger dari gendongan Andin.


"Abang saja yang kesana, Angger masih minum ASI."


"Nggak pantas lah dek, kamu lihat Naya dulu..!! Kalau ada apa-apa baru kamu bilang sama Abang..!!" jawab Bang Langsang.


~


Andin ikut menggendong Inay yang jadi demam karena Papanya berangkat dinas.


"Sini biar sama aku aja, Mbak Nay makan dan istirahat dulu..!! Isi tenagamu..!!"


"Aku nggak masak. Inay rewel terus" Naya duduk di sofa karena kakinya lumayan pegal terus menggendong Inay.


"Aku hubungi Abang dulu ya..!!"


:

__ADS_1


Andin dan Naya sedang makan malam dan Bang Langsang menggendong dua bayi sekaligus, sekarang ia merasakan repotnya harus menjaga dua bayi tapi harus ia akui kedua bayi tersebut tidur dan nyaman di dalam dekapannya.


"Kalian harus akur sampai besar, apapun yang terjadi tidak boleh saling menyerang dan harus saling melindungi" nasihat Bang Langsang untuk Angger dan Inay.


***


Bang Langsang tidur di kamar belakang rumah Bang Khaja bersama Inay dan Angger. Dirinya tidur satu ranjang bersama kedua bayi hingga lupa menyerahkan pada ibunya.


Pukul dua pagi Inay menangis menginginkan ASI, tapi Bang Langsang tidak bangun juga. Ia pun berusaha membangunkan Andin.


"Ndin.. tolong ambilkan Inay di kamar Bang Langsang donk..!!" Naya mencoba menepuk bahu Andin yang tidur bersamanya di kamar depan tapi Andin tak bangun juga, mungkin Andin benar-benar kelelahan menjaga kedua bayi karena baby Angger juga sedang rewel. Efek pemulihan pasca operasi memang tidak secepat pemulihan persalinan normal.


Semakin lama, Naya semakin tidak tenang saat mendengar Inay terus menangis bahkan suaranya sampai serak. Akhirnya dengan memberanikan diri, Naya masuk ke kamar belakang dan mengambil Inay.


"Sini dek, Abang kangen..!!" Bang Langsang menarik tangan Naya dan mengira itu adalah tangan istrinya.


"Bang, jangan donk..!!" Naya menarik tangannya, Naya benar-benar takut Bang Langsang akan menggodanya.


"Abang lihat lukamu..!! Abang mau cek lukamu dulu..!!" masih dalam setengah sadar, Bang Langsang menarik Naya hingga jatuh di atas tubuhnya.


"Baaaanngg..!!" pekik Naya berusaha bangkit saat Bang Langsang mendekapnya. Ingin menampar wajah Bang Langsang tapi tangannya terkunci. Naya semakin cemas saat tubuh Bang Huda merespon pergesekan dari keduanya.


"Abaaaanngg..!!!!!!" teriak Andin kemudian menampar wajah Bang Langsang sekuatnya.


"Astagfirullah.. deekk..!!!!!!!" Bang Langsang berjingkat sampai Naya terdorong dari atas tubuhnya.


Naya segera mengambil Inay lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya. Tinggal lah Bang Langsang yang masih ternganga bingung sembari mengusap hidungnya yang mengucur darah segar namun sesaat kemudian ia menyadari sesuatu yang membuatnya cemas. Andin menangis menatapnya dan baby Angger mulai menggeliat bersiap menangis.


"Duduk sini dek..!!" kata Bang Langsang merendahkan suaranya.


Andin menggendong baby Angger lalu membawanya pulang ke rumahnya sendiri. Mau tidak mau, Bang Langsang ikut menyusulnya.


~


"Abang benar-benar mengira itu kamu dek"


"Berapa lama kita menikah, kenapa Abang sampai tidak mengenali aroma tubuh istri sendiri? Apa Mbak Naya terlalu menarik??" tanya Andin.


"Abang minta pengertian mu sayang, semua di luar kesadaran Abang. Mungkin Abang sudah rindu sama kamu sampai jadi seperti itu"


Andin tersenyum sinis. "Abang minta Andin untuk mengerti sedangkan Mbak Naya berada di atas perut Abang."

__ADS_1


"Apa Abang mau melihat Andin ada di bawah perut Bang Khaja"


Bagai tersambit celurit hati Bang Langsang ikut sakit, tapi sungguh kejadian ini benar-benar tidak di sengaja. Mulutnya bungkam seribu bahasa.


"Abang tidur di luar..!!" pinta Andin.


"Tapi dek..!!"


"Abang tidur di luar..!!!!!!!" ucap Andin sekali lagi.


Mau tidak mau akhirnya Bang Langsang mengalah, ia menuju belakang rumah.


...


Ribuan sesal memukul batin Bang Langsang. Ketidak sengajaan hari ini membuat hal fatal dalam hidupnya.


Duuuhh.. kalau Naya mengadu gawat nih. sampai Bang Khaja salah paham, aku bisa di sikat? Andin saja sudah ngamuk, kalau nggak segera aku selesaikan bisa bubar hidupku.


Bang Langsang menghisap rokok berharap hatinya bisa tenang tapi ternyata harapnya salah, dirinya masih gelisah memikirkan insiden tadi.


...


"Abang berniat meluruskan kejadian semalam.. Abang harap kalian jangan emosi" pinta Bang Langsang.


"Naya nggak mau dengar apa-apa lagi..!!" Naya beranjak dari duduknya hendak meninggalkan Bang Langsang dan Andin.


"Tunggu, kalau pembicaraan ini hanya sepotong saja.. kita tidak bisa menyelesaikan masalah..!! Yang kita alami tadi.. murni salah Abang. Abang minta maaf, Abang nggak sengaja..!!" kata Bang Langsang.


"Untuk kamu Abang juga minta maaf, Abang rindu sampai terbawa mimpi. Nyawa Abang masih belum genap, Abang sungguh ingin memeluk kamu.. bukan Naya..!!" Bang Langsang pun turut membujuk sang istri.


Naya seakan tak mau mendengar lagi. Andin pun berdiri dan kembali pulang, juga tidak ingin mendengar alasan Bang Langsang.


Ya Allah.. bagaimana ini?????? Kepalaku sakit memikirkan semua ini.. aku harus minta bantuan siapa agar semuanya berakhir damai.


Bang Langsang mengacak-acak rambutnya pusing sendiri.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2