
"Iya.. Andin hamil"
Seketika mata Bang Langsang berkaca-kaca. Ia beringsut di lantai kemudian bersujud syukur. Tak menyangka ia kembali mendapatkan kepercayaan secepat ini. "Alhamdulillah Gusti Allah. Terima kasih banyak" dalam hatinya terasa sesak namun juga bahagia luar biasa mendapatkan kabar manis dari Andin.
Bang Langsang kembali berdiri dan memeluk Andin. Begitu erat dan hangat tubuh Andin yang masih sibuk menghitung lembaran uang di tangannya.
"Iiisshh Abang.. kenapa selalu kurang. Katanya satu juta lima ratus. Kurang nih" protes Andin.
"Astaga.. sejak kapan aku pelihara deptcolllector." gumam Bang Langsang.
"Ya sudah ambil sendiri nanti di ATM..!!" bujuk Bang Langsang.
"Naah.. begini khan clear urusannya" kata Andin. Tapi kemudian ia mengecup sisi bibir Bang Langsang. "Terima kasih banyak ya Pa"
Bang Langsang pun tersenyum manis, terlihat begitu tampan. "Sama-sama Mama sayang. Terima kasih juga untuk hadiahmu. Abang bahagia sekali" jawab Bang Langsang.
...
Memang hati Bang Langsang sangat bahagia, tapi rasa cemasnya juga tak kalah hebat. Dimana segala resiko bisa saja terjadi selama masa kehamilan Andin.
"Kenapa merenung sendirian?" Bang Khaja menyapa adiknya.
"Andin hamil Bang" jawab Bang Langsang.
"Astaga Lang, bukankah seharusnya tunda dulu tiga bulan??"
"Ya mau gimana? Keceplosan Bang" jawab Bang Langsang.
"Keceplosan apa?? Siapa yang keceplosan" tak tau sejak kapan Papa Ranggi ada di belakang mereka.
"Aku Pa, Andin hamil" jawab Bang Langsang.
"Astagfirullah Langsang..!!!!!!!!!!" Papa Ranggi tak ingin marah tapi semua ini bagai kaca dirinya dulu.
"Please Pa, jangan buat aku tambah stress" kata Bang Langsang.
"Dulu Mama hampir meregang nyawa gara-gara......."
"Apa Pa?".
Papa Ranggi duduk di samping kedua putranya.
flashback on...
Hana berkali-kali pingsan, daya tahan tubuhnya seakan hilang sejak mengandung putra keduanya. Bang Ranggi sudah mengusahakan apapun agar Hana stabil, tapi memang kondisi ibu hamil sangat sulit di prediksi.
"Pingsan lagi Rang??" tanya Bang Ares.
"Iya Res, Kalau sudah sadar.. mualnya datang nggak kira-kira. Mau mati aku merasakan Hana begini terus." jawab Bang Ranggi cemas.
"Sabar Rang.. punya istri hamil juga banyak godaannya." Bang Ares pun ikut trenyuh tak tega melihat adiknya sampai lemas seperti itu. Untung saja Dinar tidak separah Hana dalam menghadapi kehamilannya.
"Kurang sabar bagaimana ini Res??" tak hentinya tangan Bang Ares mengusap perut Hana.
:
"Rasanya sesak sekali Bang, nggak kuat jalan" kata Hana.
"Abang gendong ya, kita pulang.. istirahat di rumah..!!" ajak Bang Ranggi.
Hana mengangguk tak bertenaga membuat hati Bang Ranggi resah.
Kamu harus perempuan nak, Papa nggak mau ada lagi temannya Khaja di rumah. Papa nggak sanggup merasakan kaca diri papa dalam anak-anak Papa. Papa takut gagal. Biar semua sifat Mamamu yang turun padamu. Jangan sifat Papa.
Saat kelahiran putra keduanya. Sudah dua hari bayi di dalam kandungan Hana tidak kunjung lahir.
"Operasi saja ya dek, bayinya nggak masuk ke panggul"
"Nggak Bang, biarkan dia jadi anak Sholeh kita.. lahir dengan semestinya" kata Hana.
"Lahir lewat operasi juga perjuangan dek"
"Tapi Hana ingin semua anak kita merasakan perjuangan ibunya. Ibunya masih mampu" Hana memercing sangat kuat." Hana mengatur nafasnya dengan hati-hati.
__ADS_1
"Kamu jangan memaksa kalau memang nggak kuat..!!!!!"
Tak berapa lama tekanan dalam perut Hana semakin kuat. Hana mengejan tanpa aba-aba dari bidan.
"Bu...tolong..!!!!!!!" Bang Ranggi panik bukan main.
~
"Hanaaaa..!!!" jantung Bang Ranggi nyaris terlepas melihat para dokter menangani Hana. Istrinya itu seketika tak sadarkan diri usai berjuang mati-matian melahirkan putra keduanya. Bayi laki-laki sungsang.
"Ranggi.. jangan panik, kami sedang berusaha menyelamatkan Hana" kata dokter senior.
"Tolong Bang.. tolong istri saya..!!" Bang Ranggi menekuk lututnya memohon.
"Dokter, pasien koma..!!" laporan seorang bidan.
Pandangan Bang Ranggi seketika kabur berputar-putar, tubuhnya ambruk menghantam lantai kamar tindakan Hana hingga keningnya terluka dan mendapat dua jahitan.
***flashback off***..
"Kehamilan dalam jarak dekat terlalu beresiko Lang" kata Papa Ranggi sendu. "Mamamu baru sadar tiga hari kemudian, badanmu mulai menghangat, rewel. Dalam pikiran pendek Papa sampai bersumpah.. kalau ada apa-apa dengan mama. Papa akan ikut menyusul Mama. Saat itu Papa begitu hancur. Khaja masih belum satu tahun, kamu sudah lahir, mama koma. Papa hampir gila Lang" Papa mengusap air matanya mengingat kisahnya dulu.
"Terus bagaimana bisa Papa dapat Masayu?" tanya Bang Khaja.
"Iisshh Papa keterlaluan, asal sambar" gerutu Bang Langsang merasa heran dengan ulah papanya.
Papa Ranggi tertawa mendengar ocehan putranya padahal saat ini Bang Langsang sudah membuat kecerobohan yang sama.
"Sudahlah, itu semua masa lalu. Sekarang tugasmu adalah harus menjaga Andin. Pantai terus perkembangan kesehatannya, jangan sampai dia tidak meminum vitamin dan obat dari dokter" Papa Ranggi mengingatkan putra keduanya.
...
"Waaahh.. gerak cepat juga ya adikmu Bang" kata Naya.
"Apa garis keturunan dari leluhur Abang ada yang gagal?" tanya Bang Khaja, ia mendekatkan wajahnya menginginkan Naya.
Naya tersenyum. Nampaknya memang beberapa hari ini istri Khaja itu semakin tenang, ulahnya pun tidak seekstrim di awal kehamilan dan sekarang malah istri Langsang yang terus membuat keributan.
"Bang..!!"
"Apa sayang?" suara Bang Khaja begitu lembut selembut sutra.
"Naya mau es krim" ucapnya malu-malu.
__ADS_1
Bang Khaja tak bisa menyembunyikan perasaan gelinya melihat ekspresi wajah Naya dengan tingkahnya yang manja. "Sekarang Bu?" tanya Bang Khaja.
Naya mengangguk, pipinya memerah.
Bang Khaja merebahkan diri di atas ranjang dengan pasrah membawa wajah nakal.
"Ayo beli es krim" ajak Naya menagih janji karena Bang Khaja malah merebahkan diri.
"Es krim apa nih jadinya???" tanya Bang Khaja gemas.
"Ya es krim. Masa Naya harus jelaskan bentuk es krim" jawab Naya dengan polosnya.
Bang Khaja meraup wajahnya. Harapannya seakan pupus tak berarah. "Kamu ini.. sudah buat Abang *semrawut*.. nggak tanggung jawab lagi.." nada suara Bang Khaja mendadak meninggi. Ia bangkit menarik Naya lalu menggulingkan di atas ranjang. Naya pun panik dan kaget sebab ia merasa tidak ada yang salah.
"Abang kenapa sih??" tanya Naya dengan polosnya.
"Habiskan dulu es krim mu disini. Nanti Abang belikan satu lemari es, kalau perlu sama pabriknya sekalian..!!" jawab Bang Khaja.
Naya menatap wajah tegas Bang Khaja. Aura gahar dan jantan begitu kental terasa. Tubuhnya sampai gemetar karena takut.
"Abang memintanya baik-baik"
Naya berusaha untuk tenang meskipun hatinya sedikit terbalut rasa takut.
∆∆∆
"Abaaang..!!"
"Dalem.." Bang Langsang melembutkan suaranya, dirinya sungguh ingin membuat Andin benar-benar nyaman menghadapi kehamilannya.
"Andin bosan tidur di kamar..!!"
"Jadi kamu mau apa? Abang nggak akan ijinkan kamu berbuat macam-macam. Si dedek masih terlalu kecil, rawan banget untuk kamu beraktifitas berat apalagi sampai kecapekan" jawab Bang Langsang tegas.
Paras wajah cantik Andini berubah melow. Agaknya hormon kehamilan membuat perasaannya tak karuan dan belum bisa stabil.
"Belum juga bilang, sudah di larang" Andin memalingkan wajahnya membawa perasaan kesal.
"Astagfirullah.." Bang Langsang mengusap wajahnya. "Yo wes, mau apa sih Ma??" tanya Bang Langsang membelai rambut Andin.
.
.
.
__ADS_1
.