Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 14. Ujian Bang Khaja.


__ADS_3

Andin terbangun lebih awal pagi ini. Suasana hutan, dinginnya angin agaknya kurang membuatnya nyaman. Andin melihat tangan Bang Langsang memeluknya erat.


"Duuhh.. apa kata anggota lain kalau Abang tidur bersamaku semalaman?" gumam Andin. Ia menyingkirkan tangan Bang Langsang yang melingkar di perutnya tapi Bang Langsang seakan tak mau melepasnya.


"Mau kemana?" tanya Bang Langsang.


"Bangun Bang, nggak enak sama yang lain"


"Siapa yang berani cari perkara di belakang Abang?"


"Bukan begitu Bang, ini nggak pantas meskipun kita suami istri. Ayo cepat bangun sebelum anggota yang lain bangun..!!" ajak Andin.


Bang Langsang menekuk wajahnya. Hatinya kesal sekali karena Andin seakan 'menolaknya'.


"Andin mau mandi."


"Abang antar..!!"


:


Matahari belum menebar sinarnya tapi Andin sudah masuk ke dalam aliran sungai yang jernih dan segar bahkan masih banyak ikan yang melintas disana.


Layaknya wanita yang suka dengan keindahan.. Andin begitu ceria bermain air. Kulit dan rambutnya yang basah begitu mengganggu pandangan mata Bang Langsang.


"Sudah dek, nanti masuk angin.." alasan Bang Langsang yang berdiri tak jauh dari Andin untuk berjaga.


"Abang nggak mandi?" tanya Andin.


Mendengar pertanyaan sepele dari Andin, rasanya ia pun tergoda untuk ikut mandi. Kaki Bang Langsang menginjak air sungai. Ia berharap pikirannya sedikit lebih tenang karena terkena dinginnya air sungai, tapi semua seakan begitu sulit ia rasakan. Rindu tetap berdesir.


"Dek.. jangan jauh dari Abang..!!"


"Ada apa Bang?" tanya Andin.


"Kamu pertama kali terjun langsung ke Medan tugas seperti ini ya?"


"Iya Bang, kenapa?"


"Pantas kamu nggak tau. Kalau di hutan ini ada perempuan.. nggak boleh jauh dari laki-laki. Apalagi kalau sudah suami istri" jawab Bang Langsang memasang wajah serius. Tak sengaja ada potongan ranting yang cukup besar jatuh di samping Andin. Agaknya alam berpihak pada Bang Langsang.


byuuuurr..


"Aaaaa... apa itu Bang" pekik Andin.


"Hhsstt.. jangan bersuara..!!" Bang Langsang mengulurkan tangannya. Andin pun mendekat dan refleks memeluk Bang Langsang. "Ini sudah nggak beres dek. Aura mu yang berantakan sudah di incar yang punya hutan" imbuh Bang Langsang.


"Hwaaa.. takuut.. takuuuuutt..!!" Andin berjingkat-jingkat memeluk Bang Langsang sekuatnya.


"Nurut sama Abang ya..!! Dingin khan?" bisik Bang Langsang.


Andin mengangguk menyetujui dan pasrah menerima apapun yang di lakukan Bang Langsang. Perlahan tapi pasti, Bang Langsang membalas peluk hangat sang istri, di kecupnya pipi Andin yang masih basah. Kemudian terjadilah keinginan Bang langsang.


~


"Aduuuuhh muleess..!!" Bang Huda berlari menuju sungai, tapi dari kejauhan matanya menangkap adegan berbahaya yang hanya bisa di lakukan oleh para profesional. "Astagaa.. kurang ajar betul si Langsang. Mana sudah kebelet begini. Malah jadi mengkhayal yang tidak-tidak" Bang Huda memilih menjauh dari TKP.

__ADS_1


:


"Segar sekali DanTim." tegur Bang Huda sambil ikut menyiapkan makan pagi sederhana bersama anggota lain.


"Segar lah. Baru mandi" jawab Bang Langsang.


"Apa ada imunisasi khusus???"


Mendengar pertanyaan Bang Huda, Bang Langsang seketika melirik. "Selama aku masih bernafas.. Aku punya kewajiban memberi nafkah istriku, kapanpun dan di manapun, kecuali aku ini bujangan tanpa harapan seperti mu" jawab Bang Langsang enteng.


"Semprul.. kalau tidak karena ulahmu yang merebut cem-cemanku.. aku pasti sudah melamar Andin" kata Bang Huda.


"Terserah apa cita-cita mu, yang jelas seluruh dunia tau, Andin istri Langsang."


Bang Huda bersiap membuka mulutnya tapi Praka Kristian memanggil mereka untuk makan.


:


Para anggota kembali berjalan menyusuri bukit yang berliku naik turun. Bang Langsang terus memperhatikan Andin, dua kali tawarannya untuk membawakan ransel istrinya itu ditolaknya. "Kalau nggak kuat, sini biar Abang bawakan. Abang masih sanggup memikul dua ransel sama kamu sekalian" kata Bang Langsang.


"Sudahlah Bang.. ini ringan" jawab Andin.


Indri menekuk wajah sepanjang jalan. Rasanya benar-benar kesal melihat perhatian Pak Langsang untuk Andin.


∆∆∆


Naya merasa perutnya terasa penuh sampai tidak sanggup beraktifitas. Suasana kamar, suara musik yang lembut membuatnya lebih tenang.


Bang Khaja yang pulang untuk istirahat siang segera menemui istrinya di dalam kamar. Entah kenapa dua hari ini istrinya tak seperti biasanya, hanya mengurung diri di dalam kamar.


"Wa'alaikumsalam.. Naya sudah balas dalam hati" jawab Naya ketus.


Kali ini pun juga tidak seperti biasanya Naya memasang wajah kesal saat menatapnya. Naya kembali memalingkan wajah.


"Kalau Abang buat salah.. Abang minta maaf" kata Bang Khaja memilih mengalah menghadapi perubahan sikap istrinya.


Dalam hati Bang Khaja terus berpikir keras apa salah yang di perbuatannya hingga Naya seakan malas berinteraksi dengannya. Bahkan tadi pagi saat dirinya menginginkan Naya pun, istrinya seakan enggan melayaninya.


Bang Khaja mengecup kening Naya kemudian menuju meja makan.


~


Dua hari ini Naya tidak memasak makanan seperti biasanya, tidak masalah jika ia harus membeli makanan jadi di warung makan, tapi alasan Naya yang tidak suka aroma bawang terasa tidak masuk akal baginya. Wanita yang sangat akrab dengan aroma bawang tiba-tiba menghindari bahan masakan tersebut.


Bang Khaja mengambil ponselnya lalu menghubungi restoran miliknya yang tidak seberapa jauh dari Batalyon.


"Kirim makanan untuk saya ya..!!"


...


Bang Khaja tidak fokus kerja karena seharian di pusingkan dengan ulah Naya yang 'rewel'. Segala hal tentang dirinya seakan tidak ada benarnya. Bahkan Naya tidak ingin ia menyapanya.


"Ini bagaimana pengajuan pengamanan di sekitar gedung gubernur? Kenapa tertukar dengan pengamanan wakil panglima?? tegur Danyon. "Nama gubernur dan wakil panglima juga tertukar. Kerjamu asal-asalan..!!!"


"Siap salah Dan"

__ADS_1


"Revisi ulang..!!" Danyon membanting proposal pengamanan di hadapan Bang Khaja.


ddrrtt.. dddrrttt.. dddrrttt..


Bang Khaja melirik ponselnya, ada panggilan telepon dari Naya. "Tumben telepon. Ada apa nih?" Bang Khaja segera mengangkatnya. "Assalamu'alaikum.. ada apa sayang?" sapa Bang Khaja lembut.


"Wa'alaikumsalam.. kunci motor unicorn dimana Bang?"


"Ada di atas lemari, kenapa sayang??"


tuuuutt..


Bang Khaja tertegun karena Naya menghubunginya untuk sesuatu yang sama sekali tidak penting. Bang Khaja mengelus dada dan mencoba fokus kembali dengan pekerjaannya.


...


Jam lepas dinas sudah usai. Bang Khaja menuju parkiran motor. Tak lama ada panggilan telepon dari Bang Wana.


"Kamu dimana??"


"Siap.. ijin Bang, baru mau lajur ke asrama. Arahan Bang?"


"Istrimu nyemplung di parit. Motor baru mu ringsek" kata Bang Wana.


"Innalilahi.. parit mana Bang?? Masa istri saya naik motor?? Istri saya nggak bisa kendarai motor, gowes sepeda saja nggak bisa" jawab Bang Khaja.


"Kamu ke rumah sakit dulu..!! Istrimu belum sadar..!!"


"Astagfirullah.. iya Bang. Terima kasih banyak Bang" Bang Khaja segera mematikan panggilan telepon dan langsung melaju cepat menuju rumah sakit.


:


Bang Khaja syok sampai jantungnya seakan ingin melompat dari raga melihat kening Naya terbalut perban. Tubuhnya banyak goresan luka, wajahnya memar, bibir pun luka sobek.


"Apa maumu sayang?? Kenapa kamu jadi begini. Kalau Abang salah.. tegur Abang, jangan diam seribu bahasa. Abang nggak tau inginmu" Bang Khaja terduduk lemas di kursi samping ranjang Naya.


Tak lama berselang Papa Ranggi dan Mama Hana Opa Rico dan Mama Jihan masuk. Mereka mengusap punggung Bang Khaja. Papa dan Mama ikut sedih dengan musibah yang di alami menantunya.


"Kamu bertengkar sama Naya?" tanya Mama Hana.


"Nggak Ma"


"Kenapa Naya pergi sendirian naik motor? bukannya Naya nggak bisa naik motor?? Motornya hancur Khaja" tanya Papa Ranggi.


"Aku nggak tau Pa, beberapa hari ini Naya berubah. Sikapnya ketus sekali. Ada saja hal yang dia permasalahkan. Nggak suka lihat kumisku lah, nggak suka aku pakai kaos oblong. Ya masa setiap saat aku harus pakai baju loreng. Aku nggak boleh pakai parfum, harus pakai minyak kayu putih kalau mau tidur dekat Naya. Banyak hal di luar nalar di lakukan, rasanya aku seperti nggak mengenal Naya. Nggak ada kalemnya lagi. Belum juga sekarang dia nggak pernah masak karena nggak suka bau bawang putih" Bang Khaja mengungkapkan perasaan gundahnya pada sang Papa.


Papa Ranggi dan Opa Rico saling pandang sedangkan Oma Jihan dan Mama Hana menatap Naya tak tega.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2