
Malam itu Hana masuk ke dalam rumah barunya, ia meletakan beberapa barang Cherry yang memenuhi ruangan rumah Bang Ares. Rumah itu terlihat gelap, ia meraba-raba dinding untuk menyalakan lampu.
Sekilas tercium bau asap rokok menyeruak di hidungnya. Hatinya bertanya-tanya siapa sosok yang sedang merokok disana. Hanya ada sedikit cahaya sulutan api di sudut ruang dapur.
"Abang?" sapa Hana.
"Kenapa belum tidur? Disini gelap" jawab Bang Ranggi.
"Hana mau taruh barang Cherry disini" Hana tau betul suara Bang Ranggi. Cahaya itu terlihat mendekatinya.
"Oya? Atau kangen sama Abang?" tanya Bang Ranggi.
Dalam temaram akhirnya semakin jelas wajah tampan Bang Ranggi dalam pandangan mata Hana. Gesture pria itu tampak gagah dan berwibawa. Beberapa bulan ini dirinya bahkan tidak bertemu Bang Ranggi secara langsung. Bang Ranggi selalu menemui putrinya dan menitipkan surat cantik berisi kata-kata manis untuk dirinya atau sengaja di kirimkan melalui burung merpati kesayangan Bang Ranggi.
Ada aroma parfum menyeruak. Khas seorang Ranggi yang biasa ia hirup aromanya dalam surat.
"Hana hanya mau taruh barang Cherry Bang" jawab Hana menahan diri.
"Bagaimana kalau Abang yang rindu. Berbulan-bulan nggak melihat wajahmu" Bang Ranggi menghampiri Hana. Ia langsung melingkarkan tangannya memeluk Hana.
"Abaaang.. tunggu lah sampai lusa" kata Hana karena merasakan tangan Bang Ranggi mulai tidak bisa diam.
"Lusa itu terlalu lama. Abang sudah rindu sekali sama kamu" Bang Ranggi menarik tangan Hana agar menyentuhnya dan Hana juga merasakan tubuh Bang Ranggi bereaksi.
"Jangan dulu Bang, sabar" Hana menjauhkan tangannya tapi saat bibir Bang Ranggi memberi rasa pada bibir manisnya, ia seakan mati kutu dan malah terbawa arus yang di ciptakan Bang Ranggi.
Bang Ranggi pun sempat merebut ponsel Hana karena suara ponsel Hana yang mengganggu.
Terdengar suara d***h kecil dari Hana dan itu semakin membuat Bang Ranggi bertambah liar. Nafasnya memburu dan menggebu. Ia pun sibuk melonggarkan pakaiannya.
//
"B*****n.. Abang tau di rumah itu sedang ada Ranggi. Untuk apa mereka berdua berlama-lama di dalam sana"
Dinar tau mungkin saja di dalam rumah itu sedang terjadi sesuatu, tapi tidak mungkin mereka ikut campur urusan Bang Ranggi dan Hana lebih jauh.. apalagi lusa keduanya akan menikah.
"Bang.. si dedek pengen di usap papanya" kata Dinar mengalihkan pikiran Bang Ares.
"Oohh.. anak Papa manja sekali. Sini sama Papa" Bang Ares pun beralih memanjakan Dinar.
//
Bang Ranggi sudah terbuai perasaan apalagi Hana yang berada di dalam kungkungannya pun tidak bisa berbuat banyak dan melawan karena ulahnya, hanya suara rintihan kecil yang membuat dirinya hampir gila rasanya.
__ADS_1
Saat Bang Ranggi nyaris melepaskan diri, ia tersentak kaget.
"Astagfirullah hal adzim..!!" secepatnya Bang Ranggi menarik diri dan menutup tubuh Hana. Ia pun segera berbalik badan dan membenahi pakaiannya.
"Kenapa Bang? Hana juga sudah pernah jadi pelampiasan nafsu lelaki" ucap Hana lirih.
"Ya Allah dek, sungguh Abang nggak bermaksud seperti itu. Ini juga Abang nggak nyentuh kamu khan sayang" Bang Ranggi merasa sangat bersalah dengan perbuatannya barusan. Ia yang begitu penasaran.. membelai lembut tubuh Hana dalam gelap. Akal sehat dan batinnya berperang hebat.
Allahu Akbar.. kenapa aku bisa sampai kelepasan begini? Andai saja aku tadi sempat melakukannya.. apa bedanya aku sama Hasdin.
"Jangan nangis dek. Abang khilaf. Maaf ya..!!" Bang Ranggi begitu gelisah karena sudah membuat Hana menangis.
Tak lama ponsel Hana kembali berdering dan Bang Ranggi segera mengangkatnya.
"Pot, lu bisa nikahin gue sekarang nggak?" tanya Bang Ranggi.
"Heeii jabrik.. lu apakan adik gue??????"
"Bisa nggak???" tanya Bang Ranggi lagi.
"Ya Tuhan.. jangan bilang lu sudah macam-macam ya Ranggi..!!"
Sambungan telepon itu langsung terputus dan Bang Ares segera menyusul Hana di rumah barunya.
~
"Kau apakan adik ku Ranggi?????" tanya Bang Ares lagi.
"Nggak aku apa-apain, cuma nyolek kejunya doank" jawab Bang Ranggi santai.
"Keju matamu iku" bentak Bang Ares. Melihat kemungkinan sudah ada kerusuhan yang terjadi, maka Bang Ares memutuskan untuk mengambil tindakan dengan cepat.
"Aku sudah minta pak Hasan dari kantor agama kesini malam ini juga. Resepsi mu tetap lusa. Nikahnya sekarang saja. Aku benar-benar nggak percaya kamu ini 'pria baik-baik' " kata Bang Ares.
Bang Ranggi pun tertawa geli.
"Alhamdulillah.. akhirnya gue bisa buka kios" jawab Bang Ranggi.
"Astagfirullah.. benar-benar nggak tau malu kamu ya" tegur Bang Ares.
"Pakai baju kok malu."
,"????"
__ADS_1
...
"Sah.. Alhamdulillah"
Beberapa anggota yang datang menjadi saksi pernikahan Bang Ranggi, mereka masih meng 'aamiin'i lepasnya masa lajang sang komandan bringas itu, tapi tanpa di duga...Bang Ranggi sudah menyambar sekilas bibir Hana.
"Astagfirullah.." ucap istighfar Bang Ares kemudian menepak kepala Bang Ranggi.
plaaaaakk...
"Lihat sikon gitu lho Rang.. main serang aja" tegur Bang Ares akhirnya ikut menanggung malu karena ulah littingnya itu.
Bang Ranggi pun mengusap rambutnya mengurangi rasa malu.
:
Di sudut sana ada mata yang seolah terus mengawasi Bang Ranggi dan Hana yang sedang duduk berdua di halaman samping.
"Abang mau dek..!!" kata Bang Ranggi saat Hana sedang menyantap salad buah.
"Abang suka juga?" tanya Hana dan ia sempat melihat Bang Ranggi mengangguk dalam pekatnya malam.
"Iya, jawab Bang Ranggi"
Tau dirinya sedang di awasi Pratu Hasdin.. hatinya mendadak kesal. Ia pun membuka mulutnya saat Hana menyuapinya.
"Buahnya nggak manis" kata Bang Ranggi.
"Masa sih Bang, Hana coba manis kok"
"Hmm.. ini ada satu yang manis" ucap pelan Bang Ranggi.
"Mana Bang?" tanya Hana.
"Ini..!!!" Bang Ranggi menyambar bibir Hana dan menyentuhkan rasa manis disana. Bang Ranggi menyingkirkan salad buah dari tangan Hana kemudianl memeluk Hana dengan sayang, Tangan Bang Ranggi sengaja menyelip di balik pinggang Hana, dan jelas itu semua memang ia sengaja.
"Abang mau apa?"
"Kapan Abang boleh menajamkan tombak? Selama ini belum pernah Abang asah" tanya Bang seketika memanaskan hati Bang Hasdin.
.
.
__ADS_1
.
.