Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
79. Rasa yang janggal.


__ADS_3

"Ijin Danyon, wadanyon, senior dan rekan semua. Ini bukan acara syukuran yang besar. Hanya saja saya hanya ingin buat acara kecil karena baby Khaja sudah lahir juga istri usai persalinan dalam keadaan sehat"


"Pak Ranggi pingsan nggak nih? Pak Ares saja hampir pingsan" ledek wadanyon.


"Siap.. tidak Dan. Semua aman" jawab Bang Ranggi menahan malu mendapat ledekan dari seniornya.


"Halaaah.. terus yang kemarin itu apa?? dzikir??" Bang Ares pun ikut meledek.


"Letda Ranggi merenung.. kapan punya anak lagi" sambar Danyon.


"Ijin Dan.. saya tidak mau punya momongan lagi. Cherry dan Terong Belanda sudah cukup." jawab Bang Ranggi dengan senyumnya.


Para anggota jadi tertawa pasalnya Letda Ranggi adalah sosok yang garang, dingin, kaku, tegas dan penuh wibawa namun kalah dengan keadaan yang berhubungan dengan sang istri.


"Ihiiir.. nanti kejadian seperti Letda Ares. Istri baru melahirkan sudah di hamili lagi" kata perwira yang lain.


Akhirnya Bang Ranggi ikut tertawa. "Itu sih memang Ares saja yang keterlaluan Dan"


Anggota pun kembali tertawa. Riuh menyambut anggota baru di wilayah kesatuan kompleks.


...


Hana menata tempat tidur. Si kecil Khaja tidak rewel sama sekali, mungkin tau Mamanya masih belum sehat.


"Kamu nggak pompa ASI dek?" sapa Bang Ranggi daripada ia mati kutu tidak tau harus bicara apa pada istrinya sendiri padahal selama ini dirinya tidak pernah gugup berhadapan dengan Hana.


"Iya Bang, sebentar lagi."


"Abang ambilkan pompanya ya? Sudah steril khan?" tanya Bang Ranggi.


"Iya.. sudah Bang"


~


Hana berdiri diam menunduk memegang pompa ASI di tangannya.


"Kenapa?" Bang Ranggi bingung melihat Hana hanya menunduk tidak melakukan apapun.


"Abang keluar. Hana malu" jawab Hana.


"Oohh.. Ya sudah.. Abang keluar sekarang" Bang Ranggi berjalan meninggalkan kamar dan ia memilih ke belakang rumah.

__ADS_1


~


Terlihat saat itu dirinya berpapasan dengan Ayah Rico.


"Kenapa wajahmu kusut?" tanya Ayah Rico kemudian kembali memperhatikan ponsel yang sedang di bawa Papa mertuanya. Opa Garin sangat serius menatap layar ponsel seakan tak peduli dengan apapun lagi.


"Hana membuat jarak sama aku Yah" jawab Bang Ranggi.


"Buat jarak bagaimana sih? Nggak usah baperan deh kamu. Ngaco aja"


"Hana minta aku keluar kamar saat mau pompa ASI"


"Itu bukan jaga jarak. Hana tau betul kamu celamitan. Makanya dia suruh kamu keluar biar otak mesum mu nggak aktif di saat yang tidak tepat" jawab Ayah Rico.


"Mana kepikiran yang begitu sih Yah. Lihat Hana melahirkan itu rasanya aku nggak kuat. Mana tega lah aku mau buat macam-macam" kata Bang Ranggi yang memang masih mati rasa untuk hal satu itu.


Harus ia akui perjuangan seorang wanita terutama istrinya membuatnya tersadar betapa rendahnya kualitas seorang pria yang mampu menyakiti fisik dan mental pasangan hidupnya apalagi wanita tersebut telah melahirkan darah dagingnya. Taruhan nyawa yang bisa melayang kapan saja demi sang buah hati begitu menyentuh perasaannya.


Ayah Rico tersenyum gemas pasalnya ia tidak percaya dengan ucapan putranya sendiri. Ayah Rico tau betul bagaimana kualitas seorang Ranggi Tanuja. "Terserah kamu saja, tapi ingat.. jangan sampai trauma palsumu itu berkepanjangan. Hiduplah normal apa adanya" pesan Ayah Rico.


Bang Ranggi melirik ponsel yang sedang di bawa Opa Garin. Mata Bang Ranggi melotot melihat Opanya anteng memegang ponsel Ayah Rico. "Astagfirullah.. Opaa.. kenapa lihat seperti ini sih?" pekik Bang Ranggi.


"Hhhsstt.. aaahh.. kamu ini..!! Jangan ribut donk. Mama bisa ngomel" kata Ayah Rico.


"Aaaahh.. Asyiiiiiiikk.. putar lagi bagian yang itu Opa..!!" Bang Ranggi mulai bereaksi gemas mengikuti arus sesat Ayah dan Opanya.


"Suaramu Ranggiiii..!! Kalau Mamamu tau, tamatlah kita..!!!!!!" Ayah Rico geram mendengar putranya mende**h nakal melihat video yang sedang di putar Opa Garin.


Benar saja, akhirnya suara itu terdengar oleh Mama Jihan. "Apa yang kalian ributkan? Kamu Ranggi.. kenapa nggak bantu istrimu dan malah nongkrong disini???? Kamu tau nggak Hana sendirian di kamar urus anakmu..!!!"


Bang Ranggi mundur teratur meninggalkan Ayah Rico yang mati kutu karena Mama Jihan sudah melirik ponselnya.


Ayah Rico berusaha membela diri tapi sayang.. usahanya kalah cepat dengan Opa Garin. "Papa sudah ingatkan suamimu agar tidak menonton yang seperti ini. Ingat umur.. tapi Papa malah di paksa, terpaksa lah Papa ikut disini mengawasi suami dan anakmu." Opa Garin melenggang dengan santainya meninggalkan Ayah Rico yang harus menanggung semua dosa sendirian.


"Ada penjelasan???" tanya Mama Jihan.


"Siap salah Ma" jawab Ayah Rico pasrah.


~


"Kamu tidur saja, biar Abang yang jaga Khaja"

__ADS_1


"Abang saja yang tidur, besok Abang masih kerja. Lagipula.. kenapa tangan Abang luka?" tanya Hana yang baru bisa menanyai suaminya malam ini.


Bang Ranggi menyimpan senyumnya, tak mungkin ia katakan bahwa dirinya sempat ribut dengan Abang iparnya. "Biasa.. laki-laki sejati tuh luka, bukan perawatan di salon" jawab Bang Ranggi.


"Abaang.."


"Hmm.." hingga saat ini Bang Ranggi masih enggan menatap lekat wajah Hana. Di lubuk hatinya yang terdalam, terbersit pergolakan batin yang sulit ia uraikan meskipun ia berusaha keras untuk menepisnya.


"Terima kasih banyak hadiahnya dan... untuk semuanya." ucap Hana terdengar begitu menggemaskan di telinga Bang Ranggi.


"Sama-sama" jawabnya singkat dan dingin.


Hana menghindar karena merasa Bang Ranggi tidak seperti kemarin, ia merasa suaminya itu begitu dingin.


Kenapa Hana menghindariku? Apa yang salah dariku? Apa Hana merindukan Bang Rahman???.


"Tidurlah.. biar Abang yang urus Khaja..!!" kata Bang Ranggi.


Hana menurut dan merebahkan diri di atas tempat tidur. Terdengar sesekali suara Hana mendesis saat mencoba untuk duduk di ranjang lalu kemudian berdiri lagi karena merasa tidak nyaman.


Tau Hana kesulitan untuk duduk, Bang Ranggi pun menghampiri. "Jadi sejak tadi kamu berdiri?" Bang Ranggi mengangkat Hana dengan lembut. Entah berapa lama istrinya itu berdiri dan mungkin saat ini sedang merasa sangat lelah.


Bang Ranggi mencuri pandang menatap wajah Hana.


Ya Allah dek.. kenapa debaran ini semakin kencang saja saat menatap wajahmu yang ayu. Kemarin saja hadirmu sudah membuat Abang tergila-gila. Sekarang Abang benar-benar menjadi gila.


Perlahan Bang Ranggi menurunkan Hana. "Abang pijat ya dek..!!"


Hana mengangguk pelan.


Bang Ranggi memijat Hana tanpa bersentuhan kulit. Awalnya Hana masih terdiam. Tapi saat Bang Ranggi memijat punggungnya, ia merasa seakan Bang Ranggi semakin membatasi diri berdekatan dengannya. Itu pun seakan mengambang dan tak berasa. Tak terasa air matanya menetes.


Kenapa Abang menjauhi Hana? Apa setelah melahirkan Khaja tubuhku menjadi sangat menakutkan???


#


Apa yang Hana rasakan? Apa masih terasa sangat sakit atau tak suka aku menyentuhnya???


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2