
Mama Hana memijati tangan Naya. Gadis itu diam-diam mengangkat galon sendirian hingga tangannya keseleo karena takut di anggap manja oleh keluarga. Ia malu dan merasa kecil hati tidak punya pekerjaan tetap seperti Andin adik iparnya.
"Mau Naya atau Andin, semua sama saja. Semua menantu Mama. Naya tidak boleh kecil hati dan Andin tidak boleh tinggi hati karena Mama sayang semuanya" kata Mama Hana.
Naya dan Andin mengangguk, disana kak Cherry tersenyum melihat kedua adik iparnya akur.
"Kakak hanya berharap kalian sabar punya suami seperti Khaja dan Langsang. Mereka itu sebenarnya lembut. Hanya usil saja dan sangat protektif."
Naya dan Andin mengangguk lagi.
...
Bang Farid menjinjing keranjang dan bersiap berjualan sate keong di sekitar asrama. "Kalian pelanggan pertamaku. Harus beli..!!" perintah Mayor Farid, Abang ipar Bang Khaja dan Bang Langsang.
"Siap.. ini Bang uangnya" Bang Khaja segera memberikan selembar uang berwarna biru pada Bang Farid.
"Ini Bang, tapi saya nggak mau makan keongnya. Saya geli lihat keong" kata Bang Langsang.
"Nggak bisa, Abang di minta jualan sama kakak mu. Kau belum tau ajaibnya bumil. Cepat makan..!!"
"Aduuh Bang, saya lebih terima makan cabe nya daripada keongnya" jawab Bang Langsang.
"Jadi kamu nggak mau makan keongnya Lang? Kakak pengen lihat kamu sama Khaja makan keongnya." raut wajah Kak Cherry berubah sedih.
"Aku makan nih kak" Bang Khaja segera melahap tanpa hambatan, sedangkan Bang Langsang rasanya mau mati di buatnya.
Baru melihat rupa keongnya, bulu kuduk Bang Langsang meremang. "Nanti ku makan kak" kata Bang Langsang.
Mata Kak Cherry berkaca-kaca. Bang Langsang pun merasa dilema.
"Duuh Tuhan.. nanti bilang sama anakmu ya Kak, Omnya juga berjuang. Begitu lahir nanti Om ajak gelud" ancam Bang Langsang.
"Kok gitu sih?? Jahat banget sama keponakan"
Karena situasi semakin mencekam, Bang Langsang segera melahap sate keong tersebut.
hhkkkk..
Bang Langsang berlari masuk ke dalam kamar mandi rumahnya.
Papa Ranggi tertawa terbahak, agaknya beliau sangat puas melihat putranya tersiksa.
...
Bang Langsang bersandar di sofa. Andin menyuapkan buah durian agar rasa keong tersebut benar-benar hilang.
"Sudah dek, terlalu tajam rasanya. Eneg..!!"
__ADS_1
Andin pun menyimpan kembali buah durian pada piring kecil dan menutup wadah yang besar. "Andin besok masuk saja ya Bang, ada pekerjaan yang belum selesai"
"Kamu masih sakit"
"Sudah baikan kok Bang" jawab Andin.
"Di rumah saja" kata Bang Langsang.
"Andin nggak mau terlihat manja hanya karena Andin istri Abang. Andin juga punya tanggung jawab pada negara Bang"
Bang Langsang terdiam sejenak. Sebenarnya ia tidak tega jika Andin masuk kerja karena ia tau Andin memang belum sehat, tapi jawaban istrinya juga tidak ada yang salah.
"Ya sudah, tapi dalam pengawasan Abang ya"
Andin tersenyum dan mengangguk. "Iya Bang"
***
Sekuat-kuatnya Andin menjalani kegiatan hari ini. Mbak Indri seakan menghukumnya habis-habisan. Mungkin kesal dengan kejadian kemarin. Jam istirahat tiba, pasti suaminya yang garang itu akan mengintrogasi dirinya kalau sampai terlihat lelah.
"Pak Langsang ada disini? Mau makan siang ya?" sapa Indri.
"Iya, mana Andin"
"Ada pak, mungkin sedang santai.. sepanjang hari dia hanya bermalas-malasan padahal yang lain sibuk kerja" kata Indri. "Apalagi sejak tadi Andin hanya mencari perhatian Pak Huda. Lelah saya menasihati dia"
Bang Langsang tak ingin menggubris tapi kenyataannya Andin memang tersenyum cantik di hadapan littingnya itu yang juga adalah litting Bang Khaja.
"Tau pak, calon istri. Jadi selama belum menikah.. bapak masih punya waktu untuk berpikir ulang memilih calon istri yang baik. Apa kata orang kalau calon istri bapak suka melirik pria lain" Indri mencoba memanasi hati Bang Langsang.
"Melirik saja tidak apa-apa. Asal tidak ada rasa. Saya pun kadang suka begitu kalau melihat 'barang' yang indah. Kita manusia, punya mata. Ingat pentingnya sadar diri dan tau batasan saja. Tapi lebih baik kamu tidak membicarakan sifatmu sendiri karena Andin tidak begitu" jawab Bang Langsang kemudian berjalan menghampiri Andin dan Huda.
~
Bang Langsang masih bisa menahan diri di hadapan Bang Huda meskipun sedikit banyak hatinya panas dan kesal karena melihat Andin sedikit akrab dengan littingnya.
"Okelah bro.. nanti di sambung lagi, saya mau ajak Andin makan siang. Kalau dia pingsan satu Markas bisa repot" pamit Bang Langsang.
:
"Abang harap kamu bisa jaga jarak dengan Huda. Amankan batasanmu.. ingat kamu berada di zona apa"
"Andin kerja Bang, Abang khan tau Andin satu Markas dengan Bang Huda" jawab Andin.
"Abang tau dek. Abang paham.. kalau bicara dengan lawan jenis jangan hanya berdua di dalam ruangan seperti tadi. Nggak baik di lihat anggota lain. Kecuali tegur sapa di luar ruangan seperti Abang dan Indri tadi" kata Bang Langsang mengingatkan.
"Tapi ada cctv di ruang kerja Bang"
__ADS_1
"Apa salahnya menjaga. Sekarang Abang tanya.. kalau Abang berada satu ruangan dengan Indri dan hanya berdua.. bagaimana perasaanmu?"
Andin cukup paham tapi sebagian besar anggota Markas masih belum tau jika dirinya adalah istri Lettu Langsang. Tapi ia pun pastinya juga kesal jika Bang Langsang hanya berdua saja dalam ruangan hanya dengan Indri. "Iya Bang, Andin ngerti. Andin minta maaf"
"Di maafkan, ayo cepat makan..!!"
...
Bang Huda menemui Bang Langsang di kantin belakang Batalyon.
"Tumben ada perlu denganku. Ada apa nih" tanya Bang Langsang sambil menyulut rokoknya kemudian menyeruput kopi hitam di hadapannya.
"Aku lihat kamu dekat dengan Andin. Kamu bisa bantu aku dekat sama Andin?? Aku naksir Andin" ucapnya tak bertele-tele.
Seketika kopi di mulut Bang Langsang menyembur ke udara. Ia tersedak sampai wajahnya memerah. "Apa kau bilang????"
"Aku naksir Andin. Nggak kuat lihat body nya yang seksi brooo" jawab jujur Bang Huda.
"Matamuuuu..!!!!" Bang Langsang membanting rokok di jarinya, tangannya sudah mengepal kuat menyiapkan bogem mentah, beruntung Bang Khaja datang tepat waktu.
"Heehh Langsang.. kenapa kamu ini" Bang Khaja memegangi lengan Bang Langsang sekuatnya.
"Berani kamu bilang begitu sekali lagi.. kupatahkan lehermu, kubuat badan mu remuk sampai hancur. B*****t..!!!" umpat Bang Langsang.
Bang Langsang menepis kasar lengan Abangnya sampai menendang kursi dengan keras.
~
"Kamu bilang apa sampai Langsang ngamuk?" tanya Bang Khaja kemudian menyeruput kopi hitam.
"Aku bilang, aku naksir Andin. Sudah nggak tahan lihat bodynya yang seksi" jawab Bang Huda.
Mendengar itu, kopi hitam di mulut Bang Khaja menyembur ke udara sama persis seperti reaksi Bang Langsang tadi.
"Ada apa sih???" Bang Huda pun bingung.
"Allahu Akbar.. makanya apa-apa tuh cari info dulu pot, untung aja kamu nggak di tumbuk si Langsang. Jelas saja dia ngamuk. Andin itu istrinya Langsang"
"Haahh.. Astagfirullah.." Bang Huda mengusap wajahnya merasa jantungan mendadak berurusan dengan Langsang. "Bijimana ceritanya????" tanya Bang Huda.
"Bijimana pala lu. Cari mati kok nggak tanggung-tanggung" Bang Khaja pun jadi ikut pusing memikirkan Bang Langsang.
"Mana kutau Andin bininya si Langsang. Kalau tau mah ogah gue urusan sama Jaguar"
.
.
__ADS_1
.
.