Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 27. Ayu vs Huda.


__ADS_3

Andin masih terbaring lemah di atas ranjang tapi keadaan nya sudah jauh lebih baik. Cairan infus lebih membuatnya segar.


"Masih marah ya?" tanya Bang Langsang.


Andin hanya memalingkan wajah. Malas melihat Bang Langsang.


"Abang tambahin uang seratus dollar, mau nggak?" bujuk Bang Langsang agar bisa berdekatan dengan Andin.


"Tambah nol nya satu lagi..!!" kata Andin menawar.


Bang Langsang sempat melotot mendengar permintaan sang istri, ia pun berusaha tenang. "Ya sudah Abang tambahi, kita baikan ya..!!"


"Oke..!!" jawab Andin singkat.


Nafas lega terlepas dari Bang Langsang. Akhirnya Andin mau bicara juga dengannya meskipun dengan cara yang sedikit unik.


Bang Langsang mengambil ponselnya lalu menghubungi ajudannya.


"Madya.. saya minta tolong..!!"


"Siap.. Ijin arahan Dan??"


"Tolong siapkan saya uang dalam bentuk dollar. Kamu ke ruangan saya ya..!!"


"Siap..!!"


...


Bang Huda datang berniat menjenguk Andin di rumah sakit. Tak menyangka malam itu Bang Huda melihat Ayu sedang menghubungi seseorang. Entah darimana datangnya rasa penasaran, ia mendekat dan bersembunyi di balik pilar, memasang telinganya lebar-lebar.


Samar terdengar suara Ayu merayu manja seseorang. Tiba-tiba hatinya terasa kesal, remuk dan panas mendidih.


Minus sekali kelakuannya. Apa dia nggak takut sama kedua Abangnya yang galak itu?? Terutama si Langsang. Sungguh keterlaluan..!!.


Tak lama Ayu selesai menghubungi seseorang. Ia berniat menuju kamar Mbak Andin tapi Bang Huda langsung mengambil posisi tepat di depannya.


"Buat ulah apalagi kamu??" tegur Bang Huda.


Melihat wajah tidak menyenangkan dari Bang Huda, terbersit rasa keinginan Ayu untuk mengerjai litting kedua Abangnya itu. "Biasa lah Bang, cari tambahan uang saku" jawab Ayu genit sambil mencubit lembut perut Bang Huda tak berbeda jauh dari kedua Abangnya.


"Kamu mau di gampar Abang-abangmu??? Kamu tau sendiri Khaja sama Langsang galaknya bukan main, apalagi si Langsang" kata Bang Huda.


"Bang Khaja sibuk sama Mbak Naya, Kalau Bang Langsang sedang fokus sama Mbak Andin yang sedang sakit. Siapa yang mau menyorotku?" jawab Ayu.

__ADS_1


"Berapa yang kamu minta? Batalkan janji sama dia, ikut Abang..!!"


"Sebenarnya hanya sekitar satu juta belum dengan penginapan, tapi kalau untuk Abang.. tiga juta. Ayu pilih-pilih pelanggan" jawab Ayu sengaja memberatkan Bang Huda.


"Mana nomer rekening mu. Abang lebihkan tapi batalkan bertemu dengan pria itu..!!!!" ucap tegas Bang Huda.


Ayu mengambil sesuatu di tas lalu menyerahkan selembar kertas nama dan Bang Huda mengambilnya, keningnya berkerut ada nama Milan beserta nomer rekening tertera di sana. Tak menunggu waktu lama, Bang Huda sudah mengirim nominal uang di dalam rekening Ayu.


Getar ponsel sudah terasa, Ayu mengambil ponsel itu dan melihat nominal empat juta di sana. Sungguh ia tak menyangka Bang Huda serius membayarnya, ia terpaku bingung harus berbuat apa, rasanya menelan saliva pun terasa sangat berat.


"Ayo berangkat..!! Mau pilih tempat dimana kamu???" tantang Bang Huda.


Bukan Ayu namanya kalau tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya. Ia mendekati Bang Huda lalu memainkan jemari lentiknya di sekitar pinggang hingga perut Bang Huda. "Sebenarnya Ayu mau sekarang, tapi sayangnya Ayu lagi 'dapat' tadi saja Ayu batalkan"


Ada desir rasa tak karuan dalam diri Bang Huda, pasalnya ia lelaki normal yang pastinya memiliki gairah nafsu yang stabil dan aktif apalagi Ayu jelas menggodanya meskipun ia sadar betul sebenarnya Ayu tidak serius, jauh sebelum Ayu bertingkah seperti ini.. dirinya sudah lebih dulu 'mengenal wanita' bersama Khaja dan Langsang. "Nggak masalah, tabrak saja..!!" Bang Huda membalas mendekati wajah Ayu.


Bulu kuduk Ayu meremang cemas karena ternyata Bang Huda tidak menolaknya dan bahkan malah tetap menginginkan dirinya.


"Abang bayar kamu mahal non. Belum tentu kamu sepintar yang Abang bayangkan" jawab Bang Huda lebih luwes mengendalikan diri.


Ayu kesal sekali mendengar ucapan Bang Huda yang terdengar meremehkan dirinya. "Jangan sembarang bicara ya, Abang pasti sembah sungkem sama Ayu kalau sudah tau rasanya. Bang Khaja, Bang Bang Langsang sama Bang Farid saja sampai kehilangan suara di hadapan istrinya" sambar Ayu.


"Itu karena istri mereka memang pintar. Apalah kamu ini minta di bandingkan dengan mereka, sudah rusuh.. tidak ada manis-manisnya sama sekali. Pahit seperti mahoni" gerutu Bang Huda.


Refleks Bang Huda dan Ayu menjauh salah tingkah, wajah keduanya memerah tapi Bang Huda masih stay cool seakan tak terjadi apapun.


:


Bang Huda duduk tepat di hadapan Ayu yang juga duduk di antara kedua Abangnya.. Khaja dan Langsang.


"Mau apa kalian di lorong gelap??" tegur Bang Khaja tegas menatap Bang Huda.


Melihat ketegasan Abangnya, Ayu merasa keluar dari mulut buaya. Ia tersenyum nakal penuh kemenangan.


"Tadi menyapa adikmu saja" jawab Bang Huda.


"Apa tidak ada tempat menyapa selain disana?? Lagipula apa yang mau disapa??" Bang Langsang pun tak kalah keras menegur Bang Huda.


Ayu terus saja tersenyum mengejek karena dirinya tau Bang Huda pasti kalah telak melawan kedua Abangnya yang garang.


"Tidak sengaja bertemu nya disana" jawab Bang Huda sampai bingung memposisikan diri di hadapan Khaja dan Langsang padahal kedua pria itu adalah sahabatnya tapi memang kenyataan tak bisa di ubah, Bang Langsang melihat dirinya setengah berpelukan dengan Ayu.


"Bang Huda duluan nih Bang" Ayu semakin nakal menggoda, ia sedikit membuka pahanya berniat membuat Bang Huda jadi salah tingkah. Benar saja, Bang Huda mengalihkan pandangan.. rasanya gugup dan keringat dingin berhadapan dengan Ayu.

__ADS_1


Melihat Bang Huda gugup, Bang Khaja dan Bang Langsang menoleh menatap adiknya.


"Astagfirullah..!!" ucap istighfar Bang Khaja.


"Ya Allah.." Bang Langsang tak kalah syok nya.


Refleks kaki Bang Khaja dan Bang Langsang menendang kaki Ayu dari arah kanan dan kiri secara bersamaan agar tidak menjadi perhatian Bang Huda.


"Apa-apaan kamu Ayu, beraninya kamu bertingkah seperti itu???" bentak Bang Langsang.


Ayu menunduk takut mendapat bentakan dari Abangnya.


"Tingkahmu kuwi lho, tak pithes tenan kowe ndhuk..!!" Bang Khaja sampai menjitak ubun-ubun Ayu saking gemasnya.


...


Ayu masih saja berdebat dengan Bang Huda karena mendapat sidang dari kedua Abang.


"Ya kamu itu bermasalah, kenapa harus bertingkah genit??"


"Kalau Abang nggak menanggapi pasti Bang Khaja dan Bang Langsang nggak akan turun tangan" kata Ayu.


"Wajar lah Abang menanggapi. Abang masih punya naluri. Kalau saja tadi Abangmu nggak datang.. kamu pasti sudah habis Abang sikat..!!" ancam Bang Huda sudah berkacak pinggang.


"Halaaahh.. bilang aja nggak berani. Kalau benar berani tuh langsung di buktikan.. nggak hanya besar di suara..!!" ucap Ayu sesumbar tapi sesaat kemudian ia menyadari ucapannya yang mengarah pada kesesatan.


"Oohh.. gitu maunya?? Tadinya Abang nggak mau jadi laki-laki b*****k, tapi kamu memancing perkara terus, ingat ya.. kamu sudah terima bayaranmu.. jadi jangan nangis kalau Abang balas..!!" Bang Huda langsung menarik tangan Ayu tak peduli dengan Ayu yang berusaha keras melepaskan genggaman tangan Bang Huda.


~


Bang Langsang sudah mau menyusul Ayu karena melihat Bang Huda menarik tangan adik perempuan nya tapi Bang Khaja mencegahnya.


"Biar saja.. Huda nggak akan macam-macam" kata Bang Khaja.


"Nggak macam-macam matamu, kau khan tau Huda sama b******n nya seperti kita Bang" Bang Langsang sudah terpancing emosi.


"Karena Abang tau dia sama b*****knya seperti kita, dia pasti jauh lebih berhati-hati. Pria bejat nggak akan mau menggoda perempuan seperti sensasi. Lagipula Huda juga belum tau betul siapa Ayu" jawab Bang Khaja meskipun dalam hatinya pun cemas bukan main.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2