
Karena terlalu emosi, keadaan Bang Ranggi seketika drop. Ia mual dan muntah sampai kejang lemas.
Ayah Rico sendiri yang menangani dan merawat putranya. Tak ada kata lagi yang terucap dari bibirnya tentang masalah yang sedang di hadapi putranya itu.
"Masih mual?" tanya Ayah saat keadaan putranya itu berangsur membaik.
Bang Ranggi mengangguk pelan.
"Ayah tenang saja. Kalau stressnya reda, mualnya juga hilang" kata Mama Jihan.
"Iya Ma." jawab Ayah Rico prihatin.
Tak lama ada Cherry masuk mengendap di antar anak buah Pak Yasin, Ayah dari Dinar. Gadis kecil itu takut melangkah karena pertama kali melihat sosok baru dalam hidupnya.
"Eehh.. siapa nih cantik sekali. Opa buyut boleh kenalan?" sapa Opa Garin dengan senyumnya yang hangat.
Melihat sapaan lembut itu, Cherry pun mendekat.
"Namaku Cherry.. Opa buyut" jawab Cherry.
"Ini kakaknya dedek alpukat ya?" tanya Opa Garin.
"Terong Belanda Opaa.. mana ada alpukat disini. Anak Bang Gazha kali yang alpukat" jawab Bang Ranggi kesal.
Beberapa saat kemudian Bang Ares muncul dan memberi hormat pada para tetua disana.
"Selamat sore Komandan"
"Halaah kamu. Duduk sini..!!" ajak Ayah Rico.
"Siap..!!"
"Santai saja. Saya juga ayahmu" kata Ayah Rico.
"Iya Dan.. yah" jawab Bang Ares masih kikuk.
"Istrimu mana Res?" tanya Mama Jihan.
"Siap.. ada di depan Bu"
Mama Jihan tersenyum, ia tau Bang Ares masih membiasakan diri dengan mereka.
"Biar mama jemput."
...
"Sakiiit Yaaaahh..!!!!" teriak Bang Ranggi saat Ayah Rico memberi tato Jawa di punggung Bang Ranggi.
"Kena kerok setan nggak teriak.. ini di kerokin sebentar saja kok seperti di cakar macan" ledek Opa Garin.
"Mending aku di pukul. Kalau di kerok seperti ini aku nggak tahan Opaaa..!!" pekik Bang Ranggi.
"Biar Hana saja yang lanjutkan Yah" kata Hana yang sudah lebih bisa beradaptasi dengan keluarga baru.
"Kamu istirahat saja. Kalau kamu yang lanjutkan.. ceritanya bisa lain. Ranggi ini nggak bisa di pancing, kena senggol sedikit sudah celamitan" jawab Ayah Rico.
__ADS_1
"Persiiiss seperti ayahnya" sambar Mama Jihan sambil menggendong Cherry. Kini Mama Jihan punya 'boneka' baru setelah rumahnya sepi bertahun-tahun tanpa tangis dan tawa anak-anak.
"Kamu ini" Ayah Rico refleks meminta Cherry dari gendongan istrinya. Awalnya Cherry sedikit takut melihat tampang Opanya yang garang.
Melihat cucunya takut, Opa Rico tersenyum.
"Sini ikut Opa Rico. Kita jalan-jalan sama Oma yuk..!!" ajak Opa Rico.
"Ayo Opa, nanti kita main Barbie ya" ajak bocah tiga setengah tahun itu tersenyum membalas Opa Rico.
"Main Barbie ya, boleh deh" jawab Opa Rico.
"Hahahaha.. akhirnya kalau sama cucu, garangmu kabur tertiup angin" ledek Opa Garin.
Ayah Rico melebarkan senyumnya.
"Aku Opa kece masa kini Pa. Meskipun sudah Opa, masih banyak perempuan yang antri. Main Barbie saja ringan. Daripada main perempuan"
Oma Jihan melirik tajam ke arah Opa Rico.
"Kita main yuk di luar" Opa Rico melangkah keluar pelan-pelan daripada harus mendapat amukan Oma.
...
Hana melamun di kamarnya. Air matanya hingga detik ini masih sering meleleh. Keluarga Bang Ranggi sungguh hangat dan menerima dirinya apa adanya, belum lagi Mama Jihan yang memanjakan dirinya.
Bang Ranggi membuka pintu kamar dan melihat Hana mengusap air matanya.
"Lhoo.. kenapa dek? Kamu nggak enak badan?" meskipun dirinya belum stabil, tapi melihat Hana menangis membuatnya melupakan rasa sakitnya sendiri.
Bang Ranggi langsung memeluk Hana, ia cemas sekali melihat Hana berlelehan air mata.
"Mama baik sekali" ucap Hana.
"Hhhh.. Abang kira ada apa dek. Jantung Abang mau copot rasanya" Bang Ranggi mengusap punggung Hana.
"Mama sayang sama kamu dek. Sama orang lain saja mama bisa sayang, apalagi sama menantunya" jawab Bang Ranggi.
"Kalau Ayah Bang??" tanya Hana.
"Ayah itu sosok panutan bagi Abang. Didikan Ayah lumayan keras. Selalu memberikan sikap disiplin yang kuat. Ayah paling membenci pria yang menyakiti wanita, apapun alasannya.. karena ayah pernah pernah kehilangan seorang istri.. ibunya Bang Gazha.. jadi Ayah sangat meminimalkan membuat kesalahan sama perempuan" jawab Bang Ranggi.
"Maksud Abang.. ayah punya dua istri?"
"Bukan, Mama Asya meninggal karena suatu hal.. dan Ayah selalu mengingat kesalahan itu sampai saat ini dan tidak ingin mama Jihan mengalami hal yang sama. Ayah dan mama menikah setelah Mama Asya nggak ada. Tiga tahun lebih Ayah merasakan jadi duda" Bang Ranggi memeluk Hana.
Hana bisa mendengar degub jantung Bang Ranggi yang lebih kencang dari biasanya.
"Sungguh kah Abang tidak menyesal menikahi janda.. Hana juga......"
Secepatnya membungkam bibir Hana dan melu*atnya penuh cinta. Bang Ranggi sampai meneteskan air mata merasakan rindu yang teramat dalam juga rasa hatinya yang tak karuan. Ia melepaskan perlahan pagutannya. Ia membelai pipi Hana.
"Seumur hidup.. tidak pernah Abang merasakan hal seperti ini pada seorang wanita. Teramat sayang, takut kehilangan, rela mati.. biar harga diri Abang jatuh di hadapan mu, tapi inilah apa adanya Abang. Abang juga punya perasaan"
Hana kembali memeluk Bang Ranggi.
__ADS_1
"Maafin Hana ya Bang, Hana bukan istri yang sempurna" ucap Hana.
"Sudahlah sayang. Jangan terus katakan hal itu. Apa gunanya membahas masa lalu.. dan kalau kamu tau masa lalu Abang, mungkin kamu tidak akan pernah ingin mengenal Abang" kata Bang Ranggi.
"Kenapa Bang?" tanya Hana.
Bang Ranggi tersenyum getir, terasa pahit ia sekilas mengingat masa lalunya.
"Apapun itu, percayalah.. Abang sangat menyayangimu dan kamu satu-satunya di hati Abang"
Hana mengangguk.
"Iya Bang, Hana percaya" jawab Hana.
***
"Tolong carikan saya telur asin, tapi bukan dari telur bebek" pinta Bang Ranggi pada Pratu Richi.
Bang Richi berkedip bingung menerka apa permintaan Letda Ranggi yang sedang berwajah menahan rasa tidak nyaman.
"Telur ayam Dan?" tanya Bang Richi.
"Memangnya telur asin hanya dari bebek atau ayam saja?? Cari yang lain..!!!!!" perintah Bang Ranggi.
"Siap..!!" jawab Bang Richi meskipun ia sama sekali tidak punya akal untuk pemecahan masalahnya kali ini.
...
Bang Richi mampir menjenguk Bang Hasdin littingnya di dalam tahanan. Ia menyempatkan diri bertemu karena Bang Hasdin memintanya mengirim uang untuk Citra istrinya.
"Ini uang tambahan untuk Citra. Bilang untuk beli susu ibu hamil..!!" kata Bang Hasdin.
"Bagaimana keadaanmu, badanmu memar semua di hajar Pak Ranggi"
"Mungkin kalau aku mati, itu juga belum cukup membayar perbuatanku. Aku sudah melecehkan istri komandan. Pak Ranggi pasti sakit hati sekali" jawab Bang Hasdin.
"Iya, beliau juga kurang sehat"
"Kenapa? Apa lukanya belum baikan?" tanya Bang Hasdin.
"Bukan.. Pak Ranggi ngidam, jadi lah kita satu batalyon ketempuhan ribet. Mana sekarang minta telur asin, tapi nggak dari telur bebek atau telur ayam. Mana ada telur asin di buat cepat dan langsung ada." jawab Bang Richi.
Bang Hasdin tertawa, baru kali ini Bang Hasdin bisa tertawa lepas.
"Oohh.. aku nggak pernah lihat wajah Pak Ranggi yang sedang ngidam" tawa Bang Hasdin terus lepas.
"Nggak usah cemas, sini aku bocorin resepnya"
.
.
.
.
__ADS_1