
Keesokan harinya Hana sudah di ijinkan pulang. Ia berjalan menuju mobilnya dan memapah Hana perlahan.
Baru saja akan menutup pintu mobilnya.. ada sapaan tak jauh darinya.
"Heehh Letda Onar"
Bang Ranggi pun menoleh.
"Abang.. kapan sampai kesini?" tanya Bang Ranggi.
"Dari bandara langsung kesini" jawab Lettu Gazha kemudian melirik Hana.
"Kamu buat ulah apa? Pacarmu hamil?" Bang Gazha merendahkan suaranya.
"Istri aku Bang" jawab Bang Ranggi.
"Gila kamu. Kamu nikah nggak kasih kabar keluarga?? Mama, Papa, Opa, Oma.. semua nggak tau. Maumu apa sih??" bentak Bang Gazha.
"Mau gimana lagi, kebelet Bang" jawab Bang Ranggi enteng.
"Kebelet matamu..!!! Pakai pikiranmu.. main cantik lah Rang. Paling tidak, kamu bila h sama orang tua kalau kamu ada pasangan" tegur Bang Gazha.
plaaakk..
Bang Ranggi mendapatkan satu tanda cinta dari Abangnya.
"Pak.. Gazha.. Jangan marahi Abang" Hana turun perlahan dari mobil. Ia sempat melirik nama dada di seragam Bang Gazha.
"Jangan panik dek, Bang Gazha cuma guyon. Bang Gazha ini kakak iparmu" kata Bang Ranggi.
"Apa kabar dek? Iya, saya ini Abangnya Ranggi. Kalau Ranggi kurang ajar, kamu bisa hubungi Abang" Bang Gazha lebih kalem karena tidak tega melihat Hana baru keluar dari rumah sakit.
"Ii_iya Bang" jawab Hana gemetar dan terbata.
"Jangan takut sayang, Bang Gazha ini Abang terbaik" kata Bang Ranggi kemudian mencolek dagu Hana.
Bang Gazha menggeleng melihat tingkah adiknya. Ia tau sebenarnya Ranggi adalah pria yang tidak mudah mengobral janji manis pada wanita. Sikap sok kenalnya hanya untuk mengetahui pribadi wanita tersebut. Jika wanita tersebut tidak menarik perhatian nya.. maka ia akan bersikap dingin, sedingin es.
"Di rumah saja. Malu di lihat banyak orang" tegur Bang Gazha.
"Eehh.. ngomong-ngomong, tinggal di mana kamu??"
"Ya di asrama Bang. Aku sudah benar-benar menikah" kata Bang Ranggi.
"Cckk.. kau ini" Bang Gazha tak habis pikir dengan ulah adiknya.
Tak lama ponsel Bang Gazha berdering. Ada panggilan telepon dari Avi. Bang Gazha sedikit menjauh.
~
"Abaang, sudah sampai atau belum?" tanya Avi.
"Sabar dek, baru juga Abang sampai. Nanti Abang ke tempat kerja mu ya"
"Avi nggak masuk kerja Bang. Badan Avi lemas" jawab Avi.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Bang Gazha lembut.
"Bang, Avi telat"
Sejenak Bang Gazha memejamkan matanya, tapi kemudian ia tersenyum tipis.
"Alhamdulillah.. Nanti Abang bilang ke Papa mu ya. Kita nikah"
"Avi takut Bang"
"Itu urusan Abang dek" jawab Bang Gazha.
Bang Gazha berjalan menghampiri Ranggi. Seulas senyum terbersit dari wajah tampannya. Tak menyangka ia akan segera menjadi seorang Papa.
"Abang ke kost Avi dulu. Nanti Abang nyusul ke asrama. Kirim pesan saja no rumahmu..!!"
"Oke Bang" jawab Bang Ranggi melihat wajah Abangnya yang tegang.
-_-_-_-_-
Sore itu rombongan besar datang ke asrama. Para anggota cukup kaget karena komandan besar yang datang dan ternyata menuju rumah Bang Ranggi.
:
Bang Ranggi duduk berhadapan dengan Opa Sanca dan Ayah Rico yang sudah menatapnya penuh amarah. Mama Jihan dan Oma Esa sudah menangis.
"Kamu tinggal di asrama???? Mikir nggak kamu.. ini hanya untuk pasangan yang sudah menikah" bentak Opa Garin.
"Kelakuan minus. Ayah tau kamu b******n, tapi ya tau aturan lah, hamilin anak orang.. mau jadi apa kamu???????" imbuh ayah Rico.
"Uhhuukk.. Allahu Akbar.. sakit yah. Luka ku belum kering." Bang Ranggi kelojotan memegangi pinggangnya karena lukanya memang belum kering.
Mendengar suara ribut di luar, perlahan Hana keluar dari kamar dan melihat banyak orang. Lebih terkejut lagi dirinya saat melihat Bang Ranggi terkapar.
"Abaaaaang..!!!!" pekik Hana kemudian berlari.
Bang Ranggi dengan sigap berdiri dan memeluk Hana.
"Abang nggak apa-apa dek, kamu yang tenang ya. Itu Ayah dan Opanya Abang" Bang Ranggi mengusap dada Hana agar istrinya itu tenang. Istrinya itu benar-benar lemas dan tak sanggup berpijak. Oma dan Mama pun langsung membantu Hana untuk ikut duduk.
"Kalem yah, Hana lagi hamil muda" kata Bang Ranggi.
Tak lama Bang Gazha datang menggandeng Avi.
"Yah.. aku mau bicara" kata Bang Gazha.
Mata Ayah Rico berkilat tajam melihat Bang Gazha.
"Jangan bilang Avi juga hamil" bentak Ayah Rico lagi.
"Iya yah, Avi hamil. Mau tiga bulan"
"Astagfirullah.. apa dosaku. Kenapa semua putraku bejat seperti ini?????? Apa ayah tidak mengajarkan adab pada kalian??????"
"Ayaaahh.. tenang dulu. Kita bicara baik-baik" bujuk Mama Jihan.
__ADS_1
"Tenang bagaimana sih ma?? Ayah ini selalu berhati-hati berurusan dengan perempuan. Kita juga punya anak perempuan. Kalau semua Abangnya bejat begini.. bagaimana adiknya. Mikir kamu ma..!!!!" bentak Ayah Rico.
"Aku yang salah Yah..!!" kata Bang Gazha.
"Salahkan aku juga..!! jangan Mama. Situasi saat itu sulit untuk di jelaskan Yah" jawab Bang Ranggi.
"Duduk semua..!!" pinta Opa Garin. Meskipun Opa Garin adalah pria yang humoris.. tapi kalau di hadapkan pada situasi seperti ini, Opa akan berubah tegas.
~
"Hana dan Avi sama-sama hamil muda. Kita selesaikan dengan kepala dingin..!!" perintah Opa Garin.
"Hana.. Avi.. apa kalian baik-baik saja sekarang? Opa minta maaf atas kelakuan cucu Opa"
Avi menangis dan menunduk takut sedangkan Hana selalu bersandar lemas dalam dekapan Bang Ranggi.
"Yang sudah terjadi.. jangan di sesali. Kita semua memang salah, mau bagaimana lagi. Nanti Opa akan bicara sama Opa Sanca tentang masalah Gazha dan Avi karena pasti Om Vian akan marah besar sama kamu Gazha" kata Opa Garin.
"Iya Opa" jawab Bang Gazha pasrah.
"Dan kamu Ranggi. Jaga dan stabilkan emosimu itu. Untuk masalah Hana nanti kita rundingan lagi. Ayahmu akan siapkan team khusus untuk Hana agar Ganda juga bisa di proses." saran Opa Garin.
Ayah Rico hanya duduk bersandar memejamkan mata, tak sanggup merasakan kelakuan kedua putranya yang luar biasa.
"Aku bisa menangani si Ganda itu Opa" jawab Bang Ranggi.
"Kamu jangan sembrono Ranggi. Kamu bukan bujangan lagi. Ada istri yang harus kamu pikirkan keselamatan nya, juga calon bayi mu" bentak Ayah Rico.
"Aku ingin tanganku sendiri yang menyelesaikan"
Opa Garin melirik istri dan putrinya. Mama Jihan dan Oma Esa pun mengerti dan segera membawa Hana dan Avi masuk ke dalam kamar paling belakang karena jika para pria sedang adu argumen.. terkadang akan sedikit menimbulkan kontak yang tidak di inginkan.
"Kamu bisa menurut atau tidak, Ayah ini mau bantu kamu.. bukan menjerumuskan kamu Ranggi..!! Jangan mengandalkan temperamen mu yang kacau itu" ucap Ayah Rico.
Tangan Bang Ranggi mengepal. Bang Gazha sedikit menahan bahu Bang Ranggi agar tidak lepas kendali.
Mata Bang Ranggi berkaca-kaca.. akhirnya ia tidak kuat lagi menahan beban di hatinya. Beban batin yang selama ini begitu berat ia rasakan akhirnya ia tumpahkan.
"Istriku di perkosa. Suami mana yang tahan merasakan istrinya di perlakukan hina seperti itu???? Salahkah aku membela Hana???? Hatiku sakit, remuk seremuk-remuknya. Aku ingin membunuh litting ayah itu dan kuhancurkan hidup-hidup..!!!!!!!" ucap Bang Ranggi. Rasanya darahnya sudah panas mendidih.
Bang Gazha menarik lengan dan memeluk adiknya itu.
"Tenangkan hatimu sedikit..!!"
"Aku sudah hampir gila Bang. Aku mencoba menahan perasaan, memakai akal pikiranku agar tetap waras berjuang untuk Hana. Tapi aku tidak bisa bohong. Batinku tersiksa sekali melihat Hana. Trauma fisik dan mental Hana sangat berat, dia jadi perempuan yang rapuh dan tidak bisa berpijak pada diri sendiri. Semua karena ulah Ganda sialan itu..!!!!!" Bang Ranggi berteriak penuh emosi yang meluap menyesakan dada.
"Abang paham perasaanmu le. Lakukan apa yang menurutmu benar, tapi kamu juga harus perhitungkan dari setiap tindakan mu. Ingat.. ada istri dan anakmu yang masih tetap butuh perlindungan mu" kata Bang Gazha.
Ayah Rico sampai ikut mengusap dada melihat keadaan putranya. Sebagai ayah.. hatinya ikut merasa ngilu sekaligus geram bercampur aduk.
.
.
.
__ADS_1
.