Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 20. Suasana hati.


__ADS_3

Bang Langsang mengantar Andin sampai kantornya, tepat saat itu Indri juga datang bersamaan dengan Bang Kristian.


"Kamu sudah sehat Ndin?" sapa Indri.


"Sudah mbak" jawab Andin mengurai senyumnya.


"Ayo masuk..!!" Mbak Indri mengulurkan tangannya kemudian masuk bergandengan tangan dengan Andin.


"Indrii..!!" sapa Bang Langsang. Indri pun menoleh. "Titip Andin ya..!!"


"Siap Pak, saja jaga baik-baik" jawab Indri tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya.


"Ayo cepat.. sudah mau jam apel..!!" tegur Bang Langsang melihat Bang Kris terus memperhatikan langkah Indri.


"Siap Dan..!!"


...


Para pria galau sedang duduk di kantin Pak Sakih. Ada Bang Khaja, Bang Langsang, Bang Kristian. Mereka sesekali melempar suara tapi kemudian kembali terdiam.


"Waahh.. laki-laki penuh derita sedang berkumpul. Kalau sudah begini baru aku paham nikmatnya jomblo" goda Bang Huda.


Mata ketiga pria langsung menatap penuh ancaman.


"Yaaa.. ngopi.. lihat nih.. pria bahagia itu pesannya beda." kata Bang Huda. "Pak Sakih.. untuk pria tertampan masa kini.. tolong buatkan saya soda gembira ya..!!"


"Siap Pak Hudaa.. laksanakan" jawab Pak Sakih.


"Dasar bujang tak laku. Sudah mau Kapten masih saja jomblo" ledek Bang Langsang.


"Aku bukannya tidak laku. Aku hanya masih memilih yang terbaik. Kriteriaku itu tinggi."


"Kau pikir seperti Naya tidak kriteria tinggi???" Bang Khaja mulai terpancing emosi.


Bang Huda menelan ludah dengan kasar karena ketiga pria di hadapannya semakin menatapnya kesal.


...


Bang Kristian menatap layar ponselnya. Ia memandangi wajah Indri. Terasa pening ia rasa sampai terasa menusuk ulu hati.


"Ada apa menemuiku Kris?" tanya Bang Langsang karena memang atasan Bang Kris.


"Ijin Komandan..!! Saya menanyakan perihal.. bagaimana cara saya mengundurkan diri dari kesatuan"


"Apaa?? Apa alasanmu sampai kamu ingin mengundurkan diri dari kesatuan. Tidak semudah itu Kris" jawab Bang Langsang.

__ADS_1


"Ada alasan tertentu Dan"


"Saya bukannya ingin ikut campur dalam urusanmu, tapi segalanya butuh alasan yang tepat. Tidak asal saja. Ingat orang tuamu yang sudah bangga karena dirimu sudah menjadi abdi negara"


"Alasannya adalah.. saya.. menaruh hati pada Sertu Indri" jawab Bang Kristian.


"Ya Allah Kris." Bang Langsang mengusap wajahnya. "Sebelum jauh perasaanmu.. sebaiknya jangan di lanjutkan. Cepat cari penggantinya. Kamu khan pasti sudah paham aturan kedinasan" Bang Langsang mengingatkan anak buahnya.


"Siap Dan, saya paham"


"Kita memang tidak bisa memilih pada siapa cinta itu akan berlabuh, tapi saya harap kamu bisa memutuskan jalan yang terbaik karena suka atau tidak.. mau tidak mau.. takdir kita sebagai pria adalah sebagai imam, menafkahi keluarga dan pemimpin rumah tangga."


Wajah Bang Kristian seakan memikul beban berat dalam hatinya. "Siap..!!"


...


Bang Langsang tersenyum bahagia melihat Andin tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Mungkin rasa sakit itu masih ada, tapi ia tidak memupuknya hingga menjadi 'penyakit' dalam diri.


"Makan yang banyak sayang..!!"


"Ini sudah banyak Bang" Andin tak sanggup lagi menghabiskan makanan yang di pesan Bang Langsang.


Nelangsa hati Bang Langsang melihat bobot tubuh Andin berkurang drastis.


"Mau cepat ada dedek nggak? Kalau tenagamu hanya setengah-setengah kapan mau jadi" kata Bang Langsang.


"Yang penting kita terus berusaha dan tidak putus do'a." Bang Langsang terus menguatkan Andin meskipun hatinya pun terasa sakit.


Andin mengangguk dan tersenyum tapi wajah itu tak bisa bohong. Setelah menyadari bayinya telah tiada, jiwa keibuannya muncul dan ia merasa sangat kehilangan. Tak terasa air mata itu tumpah lagi. Bang Langsang duduk lebih dekat dengan Andin lalu memeluknya. "Abang janji. Kamu terima jadi. Abang akan mengusahakan Andin kecil segera datang" janji Bang Langsang.


***


Andin mengarahkan rambut sebatas bahu berpotongan gaya bob nungging yang membuat Bang Langsang terpesona.. model khas kebanyakan wanita tentara namun sangat cocok dengan bentuk wajah Andin.


Mata Bang Langsang tak lepas memandang wajah cantik sang istri sampai Andin harus menepuk lengan Bang Langsang yang bengong menatapnya. "Bang.. ayo berangkat..!!" ajak Andin.


Baru kali ini Andin mengenakan pakaian kebesaran istri tentara. "Baaang..!!" sapa Andin lagi.


"Oiya.. Ayo berangkat..!!" Bang Langsang tersenyum gemas kemudian menunggu Andin naik ke atas motornya kemudian menarik gas.


:


Empat belas hari sejak musibah itu terjadi. Bang Langsang termenung di ruangan, hatinya sudah gelisah. Pikirannya tidak tenang. Berkali-kali Bang Langsang mengubah posisi duduknya tapi tetap terasa tidak nyaman. Sejak tiga hari yang lalu emosinya seakan seperti kora-kora bergelayut naik turun. "Ayu tenan to dek..!!" Bang Langsang mengusap dadanya sekedar menenangkan diri.


Bang Langsang melihat jam tangannya. "Jam dua siang. Hawanya panas sekali" Bang Langsang mengibaskan baju lorengnya. Pendingin ruangan agaknya tak mampu mengatasi rasa panasnya. "Apa sebaiknya aku lari siang saja. Mikir Andin malah nggak karuan begini".

__ADS_1


...


Sore itu, usai Bang Langsang berlari siang.. ia masuk ke dalam ruangannya dengan bertelanjang dada. Kaos loreng tersampir di pundak, rambutnya acak-acakan.


"Darimana sih Bang, Andin tunggu Abang daritadi" kata Andin kemudian menghampiri Bang Langsang dan merapikan jambulnya. "Ternyata kalau baru pangkas rambut.. suami Andin ini tampan sekali" puji Andin sambil mengusap peluh di wajah Bang Langsang.


"Ini godaan atau rayuan?"


"Andin memuji Abang" jawab Andin.


Bang Langsang menyerusuk ke sela leher Andin. Kini ia menyadari, kegelisahan dirinya adalah bagian rasa rindu tertahan yang belum terselesaikan. Rasa stress yang menumpuk membuat batinnya tidak tenang. "Pulang yuk..!!" ajak Bang Langsang.


"Andin masih mau rapat dengan ibu pengurus ranting" kata Andin.


"Ijin saja, bilang Lettu Langsang tidak enak badan..!!" Bang Langsang sudah semakin tidak tenang.


"Nggak bisa Bang. Masa Andin nggak hadir. Nggak enak dengan yang lain" tolak Andin.


"Kamu itu mau nurut siapa? ibu-ibu atau nurut suamimu? Nggak baik mengabaikan suami"


Andin menarik nafas dalam-dalam. Akhirnya ia menurut Bang Langsang daripada harus bersitegang dengan Bang Langsang. "Andin hubungi Bu Made dulu"


Andin segera mengirim pesan singkat pada Bu Made dan mendapat respon cepat.


tuutt..


"Selamat siang ibu"


"Selamat siang Bu Made.. maaf ya saya nggak bisa ikut rapat. Abang nggak enak badan Bu. Nanti saya ijin ibu ketua. Sekarang beliau masih sibuk khan Bu" kata Andin yang sibuk menyingkirkan tangan Bang Langsang yang sudah berpatroli.


"Oohh iya ibu.. siap.. nanti saya sampaikan juga pada ibu ketua."


"Cepat dek. Kamu ijin apa? lama sekali, berbelit-belit" Bang Langsang sudah ingin merebut ponsel Andin. Andin sampai kaget dan menutup ponselnya agar suara nakal Bang Langsang tidak terdengar oleh Bu Made.


"Baik Bu, begitu saja ya. Terima kasih banyak" Andin mengakhiri obrolan dengan cepat.


"Sama-sama ibu"


Panggilan telepon pun terputus.


"Abaaang.. Andin sampai nggak konsentrasi. Hampir salah bicara..!!" tegur Andin sampai terpaksa harus mencubiti tangan Bang Langsang yang terlalu tanggap darurat.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2