Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 43. Tak ingin kehilangan kasih.


__ADS_3

Bang Langsang mengecoh ular cobra dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanan bersiap menangkap kepala ular tersebut. Perlahan tapi pasti, Bang Langsang memperhatikan gerakan kecil dari ular.


Dalam hitungan persekian detik Bang Langsang menyambar kepala ular tersebut dan Bang Khaja turut membantunya karena ular yang di pegang Bang Langsang tergolong besar.


"Tolong ambilkan karung dek..!!" pinta Bang Khaja.


Naya gugup, ia turun perlahan. Tangannya tak bisa cepat bergerak membuka lemari dapur karena tiba-tiba urat-urat jarinya tremor.


"Ayo dek..!!"


"Mana Bang, nggak ada..!!" kata Naya.


"Astaga.. ambil apa saja lah yang ada disana..!!" perintah Bang Khaja.


Secepatnya tangan Naya menyambar ransel besar milik Bang Khaja dan segera membawanya pada sang suami.


"Allahu Akbar.. kenapa nggak sekalian kamu bawa bak mandi yank..!!"


"Kenapa Abang marah??? Kata Abang ambil apa saja yang ada di lemari??" protes Naya.


"Duuhh.. piye iki Lang.. iso nggak masuk ransel??" tanya Bang Khaja.


"Ya nggak bisa Bang, dia bisa lolos. Kita penggal saja bagaimana? di buat sate cobra..!!" ide Bang Langsang.


"Yawes aku ambil parang dulu buat tebas ularnya..!!"


Bang Langsang menekuk perut ular tersebut agar tidak bisa berontak dan mematuk dirinya.


~


ctttsssss...


Darah segar mengucur dari leher ular yang mempunyai panjang dua meter itu, bukan hal mudah Bang Langsang menaklukan ular tersebut.


"Bang.. Andin takut lihat darahnya" kata Andin.


"Jangan lihat.. cari saja kesibukan lain. Kamu sama Naya lihat jadinya saja..!!" Bang Langsang tau Andin tidak begitu berani dengan hal yang bersifat kekerasan meskipun istrinya itu adalah seorang tentara.


"Rasa ular enak nggak sih Bang?" tanya Naya di belakang Bang Khaja.

__ADS_1


"Ya nanti coba sendiri kalau sudah matang" jawab Bang Khaja santai sambil menyiapkan api gas agar rasa dan bau anyir tidak begitu lekat.


"Nggak mau, nanti Naya keracunan" celetuk Naya.


"Itu Langsang sudah pisahkan bisanya. Nggak akan keracunan"


Bang Langsang tertawa geli melihat raut wajah kedua perempuan yang sungguh begitu repot melihat seekor ular yang bahkan nyawa saja sudah tidak ada.


Dengan cekatan Bang Langsang menyiapkan bumbu-bumbu yang akan di pergunakan untuk memasak daging ular cobra.


"Nanti ajak adik-adik Bang, banyak begini." kata Bang Langsang menyarankan.


"Ya sudah di share saja, perwira di barak hanya tinggal sepuluh butir"


...


Makan malam dadakan pun tiba. Rumah Bang Khaja ramai dengan para perwira junior. Riuh tawa dan candaan khas pria terdengar natural.


"Yang sudah punya bakat kawin, di segerakan.. biar ada yang masakin di rumah" kata Bang Langsang.


"Siap Abang.. di segerakan..!! Bulan depan saya pengajuan"


"Bagus.. jangan lama-lama membujang.. Nggak baik" imbuh Bang Khaja. "Menikah itu meminimalkan kita berbuat keburukan, salah satunya untuk hawa nafsu yang mulai sulit di kendalikan"


***


Tengah malam waktu negeri dan siang hari waktu luar negeri.


"Permisi Pak, seluruh organ ibu Jihan.. rata-rata sudah tidak berfungsi. Ini surat untuk melepas semua alat di tubuh ibu Jihan, dengan kata lain.. ini juga menjadi nafas terakhir ibu Jihan" kata dokter asal Indonesia yang menangani langsung kasus Oma Jihan.


"Jangan.. berapapun biayanya akan saya tanggung" Jawab Opa Rico.


"Jika tidak di ambil sekarang pun.. tiga puluh hari adalah batas terlama dari kami dan dari rentang waktu tersebut, bisa saja ibu Jihan menyerah" dokter menjelaskan meskipun sangat berat untuk di ucapkan.


Dada Opa Rico terasa sesak, rasanya tak sanggup berpisah dengan istri tercinta. Detik demi detik waktu berpacu. Opa Rico meremas dadanya yang terasa tertekan kuat.


"Biarkan saya mati bersamanya dok..!!" pinta Opa Rico.


Dokter tak bisa mengatakan hal apapun jika semua ini tentang sebuah perpisahan.

__ADS_1


:


"Hai cantik.. lama sekali tidurnya? taukah kamu, Abang rasa kehilanganmu jauh lebih terasa menyakitkan. Bolehkah Abang ikut kamu saja? Abang tau.. tak akan kuat jauh darimu"


Opa Rico mengusap air matanya, suaranya parau tercekat. Disana ia juga melihat tetes air mata sang istri. "Tenang saja sayang, Abang tidak akan pernah meninggalkan kamu. Abang sudah janji akan selalu menjagamu. Kamu ingat itu khan sayang..!!"


Papa Ranggi seakan tak sanggup melihat semuanya, ibu yang telah melahirkan dirinya terdiam tanpa pergerakan, ia memeluk Mama Hana sekuatnya dan mengecup puncak kepalanya. "Abang tak memungkiri kelemahan pada diri. Kamu pun segalanya untuk Abang"


"Hana ngerti Bang, maaf.. Hana menjadi penengah cinta Abang untuk Mama" kata Hana.


"Cinta Abang untuk Mama dan cinta Abang untukmu tidak bisa di samakan. Itu adalah kasih yang berbeda. Terima kasih atas cintamu untuk Mama, terima kasih karena kamu tidak pernah merasa punya saingan dalam hidup karena bakti Abang untuk Mama. Terima kasih banyak"


"Itu semua karena Abang sekalipun tak pernah menyakiti hati Hana, Abang berhasil mengungkapkan rasa sayang tanpa membuat kami saling bersinggungan."


Sungguh saat ini Om Gazha dan Papa Ranggi gundah gulana. Apalagi saat para tenaga medis sudah wira-wiri di sekitar ruangan dan memantau perkembangan Oma Jihan setiap saat.


"Rasanya aku nggak kuat kalau harus kehilangan Mama Jihan. Apapun yang terjadi, Mama Jihan tetap ibuku khan Ma..!!" ucap Om Gazha.


Istri Bang Gazha sampai mengusap wajah suaminya yang tidak karuan. "Iya Pa.. tenangkan hatimu ya Pa..!!"


~


Opa Rico melihat denyut jantung Oma Jihan semakin melemah. Sambil terus memandangi wajah Oma Jihan.. Opa Rico merogoh sesuatu dari saku bajunya. Ia mengambil dua wadah. Wadah pertama, ia buka.. terlihat cincin yang sangat cantik. Dengan tangan gemetar, beliau memakaikan cincin emas tersebut di jari manis Oma lalu mengecup jemari lentik yang masih terlihat bersih di usia senjanya.


Tangan itu lalu mengusap pipi sang istri dengan lembut penuh cinta kasih. "Hai sayang.. Abang tidak pernah melamarmu dengan indah. Di kehidupan yang akan datang.. Abang tetap ingin ada kamu yang selalu menemaniku. Jika kamu tak kuat lagi.. Abang ikhlaskan kamu pergi menghadap Ilahi.. Sang Pemberi Kehidupan.. Jangan takut, Abang menemanimu..!!"


Dari wadah kedua, Opa menelan sesuatu lalu mendekatkan wajahnya di telinga Oma Jihan. Beliau membacakan do'a penuntun untuk sang istri.


"Pergilah bidadariku yang terindah.. Abang yang menjemputmu datang di kehidupan Abang dan kini Abang mengantarmu kembali padaNya." Opa Rico mengecup bibir Oma Jihan kemudian duduk menundukan kepala menggenggam tangan Oma dengan erat.


~


"Paa.. Papaaaa..!!!!!!" Papa Ranggi histeris melihat sejak tadi Opa Ranggi menunduk tak bergeming.


"Dokter.. tolong dok..!!!!" Om Gazha ikut panik melihat orang tuanya di dalam ruang ICU.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2