Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 4. Belum sadar.


__ADS_3

Ayah Handro memberi hormat pada Papa Ranggi tapi Bang Ranggi memeluknya. "Sudahlah.. ini ada urusan anak-anak kita"


"Maksudnya Dan??"


"Sepertinya putraku ada hati dengan putrimu. Jadi.. aku kesini mengantar Khaja untuk meminang putrimu Naya" jawab Papa Ranggi.


:


Ditatapnya paras cantik putrinya. Lama sekali tak bersua dengan sang putri meskipun masih dalam satu kota. Ayah Handro lebih merelakan sang putri hidup bersama sang nenek yang kini sudah menikah dengan pria yang usianya sangat jauh di bawahnya.


"Kamu benar ingin menikah dengan Lettu Khaja? Kamu suka??" tanya Ayah Handro.


"Kalau Ayah nggak suka, Naya nggak akan menikah" jawab Naya.


"Tugas Ayah menemanimu hanya sampai kamu menikah, jika hatimu memang tergerak untuk memilih Bang Khaja.. Ayah tidak akan melarang. Ayah bahagia jika putri Ayah bahagia"


Naya memeluk ayahnya. "Tolong jauhkan Naya dari nenek..!!" pinta Naya untuk pertama kali dan saat ini juga adalah penyesalan terdalam seorang ayah karena memenuhi permintaan terakhir sang istri.


"Ayah sudah pernah katakan.. pulanglah jika memang tak sanggup"


"Bunda hanya minta satu hal, dan bunda berjanji mengijinkan Naya pergi dari nenek jika ayah sudah menikahkan Naya dengan pria yang tepat" kata Naya.


Seluruh keluarga sudah mendengar semuanya. Bang Khaja ikut sedih dengan nasib yang di alami Naya.


"Tapi kamu bersedia menikah dengan Bang Khaja?" tanya ayah sekali lagi.


"Iya Yah"


"Baiklah, saya siap dan bersedia menikahkan putri saya satu-satunya denganmu Khaja" kini panggilan akrab itu akan lebih terdengar indah di telinga.


:


"Pernikahan ini tidak sah, aku sebagai neneknya tidak setuju" teriak ibu Tami. Ia sangat marah saat melihat cucunya menikah tanpa seijinnya juga tanpa sepengetahuan dirinya. Entah darimana Bu Tami tau Naya sudah menikah. Ia ingin menarik paksa tangan Naya tapi Bang Khaja menahannya.


Seketika Bang Khaja berdiri di hadapan Bu Tami. "Tidak ada yang bisa mengambil Naya dari saya. Naya istri saya sekarang..!!" ucap Bang Khaja.


Bu Tami meludahi wajah Bang Khaja. Dengan santai Bang Khaja mengambil tissue basah di atas meja lalu membersihkan wajahnya.


"Pernikahan saya ini sah. Kalau nenek membuat keributan.. maka nenek akan berurusan dengan hukum" kata Bang Khaja.


Suami Bu Tami pun maju di hadapan Bu Tami. Berani sekali kau mengancam istriku. "Apa pekerjaan mu?"

__ADS_1


"Pegawai serabutan" jawab Bang Khaja.


Bu Tami dan suaminya tertawa terbahak, jelas sekali tawa itu seakan sindiran untuk Bang Khaja. Tapi saat Papa Ranggi berdiri, tawa Bu Tami hilang bak di telan bumi. "Diam sayang..!!" ucapnya mencubit pinggang suaminya.


"Ya ampun Pak Ranggi.. kita bertemu lagi. Maaf saya tadi hanya bercanda saja. Maklum orang tua memang suka menguji.. Naya cucu satu-satunya, wajar kalau saya ingin yang terbaik." kata Bu Tami kemudian memeluk Bang Khaja kemudian mengambil tissue basah dan membersihkan wajah Bang Khaja dengan lembut.


Bang Khaja mencekal tangan Bu Tami. "Jika ada Harta saya yang akan jatuh ke keluarga ini. Hanya namamu saja yang tidak akan saya sebut." ancam Bang Khaja.


"Jangan begitu lah nak. Kita khan satu keluarga" Bu Tami terus bermanis muka membujuk Bang Khaja.


Bang Langsang pun berdiri di hadapan Bu Tami memasang wajah gahar. "Silakan pergi dari rumah ini dan jangan mencoba membujuk dengan wajahmu. Kalau kau berani melakukannya.. akan kupatahkan tulang rusukmu yang bagai krupuk kulit itu"


Bu Tami memilih mengalah untuk sementara waktu karena tidak mungkin dirinya atau suaminya akan menang melawan keluarga Ranggi.


Ayah Handro menahan rasa sedihnya, karena ulah ibu mertuanya itu, Zahra istrinya harus meregang nyawa usai melahirkan Naya.


Naya berlari memeluk ayahnya. Ia menangis sekuatnya.


Papa Ranggi sungguh sedih melihatnya. "Ma, kamu harus sayangi menantumu ya. Mereka sama-sama tidak mendapatkan peluk hangat seorang ibu. Hanya kamu ibunya. Papa percayakan semua di tanganmu"


"Iya Pa. Mama paham"


"Malam ini pulang kemana?" tanya Bang Langsang.


"Ya ke Mess. Surat kita belum jadi. Kalau ada apa-apa kasihan istri kita" jawab Bang Khaja.


"Ada apa-apa bagaimana maksudmu. Kita sudah menikah dan ada surat di atas materai" kata Bang Langsang.


"Kau jangan ceroboh Lang.. Surat itu belum berganti surat resmi. Kalau mereka pada isi.. repot juga kita"


"Lu kali Bang. Aku mah santai. Wajah Andin aja aku nggak tau. Seperti membeli kucing dalam karung" nada Bang Langsang masih terdengar datar tak bersahabat. "Sepertinya kalau aku di sodorin seribu Andin juga nggak bakalan nafsu."


"Halaaahh.. moncong kau. Sama Belinda aja bisa, padahal Belinda bukan istrimu.. terus apa kabarnya juga wanita-wanita mu di luar sana"


"Mereka jelas beda Bang, kucing di sodorin ikan asin ya nyamber. Lha kalau Andin.. sudah aku nggak tau rupanya, rambutnya bagaimana, apa dia gendut" kata Bang Langsang.


Bang Khaja tersenyum, itu adalah pernyataan dan pikiran wajar dari manusia. "Jadi belum ikhlas nih?" ledek Bang Khaja.


"Ikhlas lah Bang. Tapi ya......." Bang Langsang menggeleng gemas dengan tawanya. "Kalau bini gue segede gaban. Tamat gue di 'aniaya' "


"Istri mendahului tuh enak lho. Impian rata-rata para pria tuh"

__ADS_1


"Wedhuuuss tenan kowe iki Bang." Bang Langsang semakin gemas penasaran memikirkan


Kakak beradik itu pun tertawa terbahak meskipun mereka tau, terlihat dari jemari lentik Andin.. tak mungkin istri Langsang itu berbadan subur.


***


Bang Langsang menemui Andin di kampus. Setelah mencari keterangan tentang Andin, baru kali ini dirinya bisa menemui gadis itu.


"Ada apa mencariku?" tanya Andin dengan ketus.


Bang Langsang pun tak tau alasannya mengapa dirinya ingin sekali menemui si cantik Andin.


"Gayanyaa.. kau tidak ingat sudah punya hutang padaku?? Sudah di tolong.. pakai kabur segala" jawab Bang Langsang beralasan.


Mendengar itu mulut Andin terasa terkunci pasalnya memang benar dirinya kabur dari rumah sakit.


"Berapa harus membayarmu??" ucap ketus tak pernah lepas dari bibir indah Andin.


"Lima juta.. Cash. Saya malas ke ATM" jawab Bang Langsang.


"Apa-apaan nih. Ini namanya pemerasan. Masa kamar rumah sakit yang di pakai hanya setengah hari bisa semahal itu????" protes Andin.


"Perawatan mu itu mahal Neng, ada tindakan khusus biar ususmu nggak jebol. Lagipula kamarmu juga VVIP" alasan Bang Langsang. "Kalau nggak bisa bayar, kita ke kantor polisi..!!"


Andin gelisah memainkan jemarinya. "Kalau segitu sih nggak ada. Andin cicil dulu dah Bang" kata Andin.


"Ya sudah mana..!!" Bang Langsang menyodorkan telapak tangannya meminta uang tersebut.


Andin pun merogoh sakunya. "Ini...!!" Andin meletakkan dua lembar uang di tangan Bang Langsang.


"Astagaaa.. ini bayar hutang atau beli jus jeruk. Masa hanya lima belas ribu???????"


"Uang Andin tinggal segitu Abaaaaang.." Andin mulai gelisah.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2