
"Bilang sekali lagi kalau itu bukan anak Abang..!!" Bang Kristian sampai membentak Indri karena gadis itu terus menghindarinya.
"Iya.. ini bukan anakmu Bang..!!" pekik Indri.
"Tatap mataku dan katakan sekali lagi dengan jelas..!!" Bang Kristian sampai mengguncang bahu Indri agar mau berbicara jujur dan menatap matanya.
"Ini anak pria yang ku inginkan, tidak sepertimu Bang."
"Karena apa? Pangkatku???" Bang Kristian menjadi sedikit tersenggol dengan ucapan Indri.
"Iya.. jadi menjauhlah dariku..!!" pinta Indri.
"Kenapa banyak wanita berhati iblis seperti mu Indri, jika tidak merusuh rumah tangga orang lain.. kau merusak harga dirimu demi keinginan ilusi dalam pikiranmu..!!" bentak Bang Kristian semakin menjadi karena frustasi.
"Sekarang kau sudah tau siapa aku Bang. Pergilah dan carilah wanita yang bisa mendampingi mu. Aku bukan wanita baik-baik..!!" Indri pun ikut frustasi. Indri berpaling meninggalkan Bang Kristian tapi tepat saat itu Bang Huda datang.
"Kamu anak buah Letnan Langsang dan Indri anak buah saya. Selesaikan baik-baik dan tanpa emosi..!!" kata Bang Huda. "Sekarang kembali ke ruangan KasiIntel..!!" perintah Bang Huda.
~
Bang Huda yang baru saja membuka pintu ruangan seketika menutup kembali pintu tersebut. Nafasnya terasa tak beraturan tak sengaja melihat littingnya sedang membelai manja sang istri.
Setelah beberapa detik mengatur nafas, ia pun membuang nafas perlahan lalu mengetuk pintu.
tok.. tok.. tok..
Beberapa saat kemudian ada jawaban dari dalam ruangan. "Masuk..!!"
Bang Huda membuka pintu perlahan dan bersikap seolah tak terjadi apapun disana. "Ijin menghadap.." goda Bang Huda.
"Silakan..!!" Bang Langsang mengarahkan para tamu untuk duduk di sofa.
"Saya kesini untuk mendampingi anggota saya yang 'berselisih' dengan anggota Pak Langsang" kata Bang Huda membuka percakapan secara formal.
"Saya paham Pak Huda, dan keduanya pergi sebelum pembicaraan selesai" jawab Bang Langsang.
Indri terdiam dengan tatapan kosong, wajahnya sudah pucat sedangkan duduk di sebelahnya Praka Kristian dengan tangan masih mengepal erat menahan amarah memuncak.
"Kris.. tentunya seorang pria memiliki kepekaan tersendiri. Sekarang dari kamu saja. Apa ada yang kamu yakini soal kehamilan Indri?" tanya Bang Langsang.
"Indri bilang bukan anak saya" jawab Praka Kristian dengan tegas namun suaranya terdengar bergetar.
"Jadi itu keyakinanmu?" Bang Huda ikut bertanya. "Dengar Indri.. Kris.. ini semua sudah terjadi. Sekarang kalian berdua bisa bersikap egois, tapi pada saatnya nanti.. saat kalian sudah berbaur dan bermasyarakat, saat anak ini mulai mengenal pertemanan, menginjak bangku sekolah.. anak ini akan membutuhkan silsilah dalam keluarganya. Apa yang akan kalian katakan saat perselisihan ini tidak segera clear sejak awal??"
Bang Kris hanya sedikit melirik Indri. Memang ada rasa sakit dalam hatinya karena ucapan Indri tadi, tapi ia sadari Indri pasti mengucapkan hal itu dengan beribu alasan.
"Saya yakin.. maka dari itu saya memutuskan untuk keluar dari kesatuan" jawab Praka Kristian dengan jelas dan tegas.
Indri menangis.. air matanya tumpah ruah. "Biarkan aku yang menanggung nya. Aku yang tidak bisa menjaga diri sendiri. Abang jangan terlibat dalam masalahku..!!"
"Masalahmu adalah masalahku juga Indri. Kamu bisa mengatakan ribuan kata penolakan tapi tak bisa mengubah takdirmu. Anak itu memang anakku..!!" Amarah Praka Kristian semakin menjadi-jadi, matanya berkilat merah.
__ADS_1
"Saya tidak berhak ikut campur dalam masalah kalian berdua tapi saya rasa.. saya perlu memberikan sedikit gambaran meskipun mungkin apa yang akan saya katakan akan terasa sangat berat untuk di jalani." Bang Langsang membuka suara. "Kamu Kris.. jika memang keputusan mu untuk keluar dari kedinasan sudah final, akan saya sampaikan pada atasan. Setelahnya kamu bisa menemui saya dan membantu saya atau mungkin Pak Huda untuk mencari recehan 'diluar' dan Indri terus bekerja di kedinasan. Tapi kalau kalian memutuskan untuk Indri yang mengalah, maka tanggung jawab rumah tangga kalian, sepenuhnya akan di pikul Kristian."
"Kami akan berunding dulu Dan" kata Praka Kristian.
"Tidak bisa lama Kris. Sudah hampir tiga bulan khan?"
Praka Kristian mengangguk membenarkan.
"Saya tidak habis pikir, dimana kalian melakukanya." Bang Huda menggeleng merasakan kekacauan kali ini.
"Siap.. tragedi Ubi Let" jawab Praka Kristian.
Bang Huda dan Bang Langsang saling pandang.
"Astagfirullah.. itu tragedi Andin ngamuk sama Indri khan????" tanya Bang Langsang.
"Siap.."
"Kaco tenan kowe Kris" Bang Langsang tak tau lagi bagaimana menyikapi masalah Kris dan Indri.
dddrrttt.. dddrrtt.. ddrrtt...
"Aduuuhh.. ada apa lagi Papa Aresmu" gerutu Bang Huda.
"Dimana?" tanya Dan Ares.
"Siap.. ijin.. di Batalyon. Arahan komandan..!!" jawab Bang Huda.
Bang Huda menepuk dahinya. "Siap salah Dan, saya kembali ke markas sekarang juga..!!"
"Saya pamit dulu ya.. mau urus kenaikan pangkat. Saya telat kirim berkas..!!"
"Baiklah, urusan ini kita tunda sampai selesai acara dan saya harap kalian sudah dapat titik terang dari permasalahan ini..!!" pesan Bang Langsang.
...
tok..tok..tok..
"Jangan kemana-mana..!!" pinta Andin.
"Sabar donk.. ada yang ketuk pintu"
Bang Langsang beranjak dari ranjang, meninggalkan Andin yang cemberut karena pijatan nya harus terhenti.
~
Mata Bang Langsang melotot melihat adiknya bergaya genit di hadapannya. "Astagfirullah Ayuuuuu..!!!"
"Iisshh Abang"
Bang Langsang secepatnya menarik tangan Ayu agar segera masuk kedalam rumah. "Duduk..!!" bentak Bang Langsang.
__ADS_1
"Apa sih Abang"
"Kamu pikir bagus lewat pos penjagaan pakai pakaian minim seperti itu??"
"Ayu pakai kain penutup kok. Ini kainnya" Ayu mengangkat kain yang masih di pegangnya sebagai penutup paha.
"Ini kalau kena angin juga kabur kemana-mana Ayuuu..!!"
Mendengar suara ribut di ruang tamu, Andin segera menghampiri. "Ada apa Bang?"
Ayu dan Andin saling menatap. Baru kali ini Ayu melihat Mbak Andin istri Bang Langsang. Ia pun juga belum pernah bertemu dengan istri Bang Khaja. "Seleramu cantik juga ya Bang. Kukira Abang mau lanjut dengan Mbak Belinda" kata Ayu.
"Beri salam sama Mbak Andin..!!" perintah Bang Langsang.
"Hai Mbak, kau bisa beladiri?" tanya Ayu.
"Sedikit.." jawab Andin datar.
"Ayo kita adu skill..!!" ajak Ayu.
"Nggak, cepat kamu ke rumah Bang Khaja, Mama Papa ada disana..!!" tolak Bang Langsang.
Belum sampai bibir Bang Langsang tertutup, Ayu sudah melayangkan tendangan ke arah Andin.
"Ayuu.. jangan......!!"
Ayu menghantam Bang Langsang hingga Abangnya terpelanting. Akhirnya Andin meladeni serangan Ayu.
Bang Langsang masih terbatuk merasakan sakit akibat tendangan Ayu. Menyadari Ayu semakin menjadi, tendangan kuat mengarah pada perut Andin.. Bang Langsang segera berdiri dan balik menepis kasar tangan Ayu dan dengan sigap menarik Andin ke belakang punggungnya.
plaaakk..
"Langsang.. kenapa pukul adikmu..!!" tegur Papa Ranggi.
"Seharusnya pipinya kutampar juga..!!" suara Bang Langsang memekakan seisi ruangan.
"Lancang sekali kamu Ayuu..!! Mbak mu ini hamil muda.." Bang Langsang menarik Andin ke dalam kamar.
Papa Ranggi berkacak pinggang menatap putrinya. "Sebenarnya keonaran apa yang kamu buat sampai Abangmu ngamuk????"
"Ayu nggak tau kalau Mbak Andin hamil, Ayu ajak Mbak Andin duel beladiri" jawab Ayu mulai resah.
"Astaga Tuhan.. Ayuuuu..!!" Papa Ranggi ikut membentak Ayu saking geramnya.
.
.
.
.
__ADS_1