
Bang Ranggi berjalan menuju tempat cukur Batalyon. Saat berjalan, ia bertemu dengan Cherry yang sedang duduk sendirian di bawah teriknya matahari.
Melihat ada yang aneh, Bang Ranggi pun mendekatinya.
"Hai gadis kecil. Kenapa sendirian?" Bang Ranggi menyentuhkan punggung tangannya saat tau gadis kecil itu tidak bisa melihat.
Cherry tersenyum karena pria yang mendekatinya kemungkinan tidak akan berbuat jahat.
"Cherry lupa jalan pulang Om" jawab Cherry.
"Okeeyy.. Cherry tinggal di tempat ini sama siapa?" tanya Bang Ranggi melembutkan suaranya dan melupakan identitas nya sebagai pria gagah.
"Sama Daddy"
"Nama Daddynya siapa?" tanya Bang Ranggi lagi.
"Ares" jawab Cherry.
Mata Bang Ranggi melotot bingung dengan anggota keluarga littingnya itu. Jika anaknya saja sebesar ini, berarti....
"Ayo Om antar..!!" ajak Bang Ranggi daripada hatinya bertanya-tanya tidak jelas.
...
"Oohh.. adiknya Ares. Cantik ya..!! Perkenalkan.. saya Bang Roy" Bang Ranggi pun mengulurkan tangannya, seperti biasa.. tingkah Bang Ranggi sudah bagai pria tertampan sedunia.
Belum sampai Hana menyambutnya, tangan Bang Ares meremas jemari Bang Ranggi dengan kuat.
"Salam kenal. Saya Ares..!!" ucap tegas Bang Ares sambil menatap wajah Bang Ranggi.
"Hwaduuuuuuh..!!" Bang Ranggi berjingkat menahan sakit.
"Jangan aneh-aneh lah bro, adik gue sudah nikah" kata Bang Ares.
"Mbak mu sudah pulang Han?" tanya Bang Ares celingukan mencari keberadaan Dinar di rumah.
"Lho, tadi khan sama Abang. Memangnya Mbak Dinar kemana?" tanya Hana.
"Ya Tuhan, pasti masih ngambek. Lu sih pot perkaranya" Bang Ares kesal sekali saat tau Dinar belum juga pulang ke rumah.
"Bini gue lagi hamil, sampai ada apa-apa.. lu kudu bayar mahal, gue hajar lu habis-habisan" ancam Bang Ares tak main-main.
"Yeeeeee.. itu khan bini lu. Jagain donk..!!" ucap enteng Bang Ranggi.
"Cepat kembali ke mess..!! Jangan bikin masalah lu pot..!!" Dengan wajah kesal, Bang Ares kembali keluar rumah meninggalkan Bang Ranggi dan Hana.
Selepas Bang Ares pergi, Bang Ranggi pun memilih pergi. Bang Ranggi cukup tau diri. Tak baik rasanya berduaan di dalam rumah bersama istri orang.
"Abang pamit dulu ya..!!" kata Bang Ranggi berpamitan pada Hana, kemudian ia sedikit membungkuk menatap si kecil Cherry.
__ADS_1
"Hai cantik.. Om Ranggi kembali ke Mess dulu ya. Lain kali kita bertemu lagi..!!" Bang Ranggi memperkenalkan diri dengan nama yang sesungguhnya pada Cherry, satu-satunya gadis yang tau nama aslinya. Punggung jari telunjuk Bang Ranggi menyentuh pipi Cherry.
"Iya Om. Terima kasih" jawab Cherry.
"Sama-sama Cherry sayang"
Bang Ranggi pun berbalik badan, tanpa sengaja saat akan pergi.. dengan jelas ia melihat sosok Bang Hasdin di depan matanya.
"Selamat siang komandan" sapa Bang Hasdin sembari menegakan punggungnya.
"Selamat siang. Nanti kamu menghadap ke ruangan saya..!!" perintah Bang Ranggi tegas penuh wibawa.
"Siap Dan..!!"
"Abang pamit ya Hana..!!" Bang Ranggi masih sempat melempar senyumnya untuk Hana.
Selepas Bang Ranggi pergi, Bang Hasdin menatap mata Hana dengan tajam. Hatinya sangat kesal melihat ada pria lain di dalam rumah Bang Ares. Lebih tepatnya ada rasa cemburu di dalam hatinya.
"Abang rasa kamu pasti paham mana yang baik dan tidak untuk di lakukan seorang istri saat suaminya sedang tidak ada di rumah" ucap Bang Hasdin.
...
"Siap.. saya suami Hana"
"Dan apa itu berarti kamu suami dari Citra juga?" tanya Bang Ranggi.
"Tidak, saya hanya di minta untuk menemani Mbak Citra" jawab Bang Hasdin.
Bang Ranggi mengeryit dahi pasalnya ia tidak benar-benar tau saat Dan Ganda menikahkan putrinya dengan seorang anggota. Bang Ranggi pun tidak bisa berbuat banyak karena dirinya tidak memiliki bukti yang kuat.
"Baiklah kalau begitu. Silakan kembali dengan kegiatanmu..!!" Bang Ranggi mempersilakan Bang Hasdin untuk meninggalkan ruangan nya.
"Siap Dan.. Terima kasih"
...
"Sayang.. sini cantik..!!!" Bang Ares membujuk Dinar yang hanya duduk di samping kebun Batalyon. Bukan masalah kebun yang ia permasalahkan, tapi pada kursi panjang yang sedang di duduki Dinar ternyata sudah sangat rapuh.
Dinar memalingkan wajahnya, gayanya sekarang malah lebih mirip Cherry yang sedang merajuk.
Astagfirullah.. gini amat ya punya bini hamil. Polah tingkah nya bisa tak karuan seperti ini.
"Sumpah sayang.. Abang ini laki-laki normal, masih doyan gelud sama istri" jawab Bang Ares.
"Kenapa tadi Abang cium Bang Roy.. itu menjijikan Bang" Dinar masih saja teringat dengan kejadian tadi.
"Namanya bukan Roy.. tapi Ranggi. Nama panjangnya bubuk Rangginang." Bang Ares mulai malas berdebat. Jika selama ini dirinya di lapangan tiada tanding, tapi jika berhadapan dengan sang istri.. hatinya menjadi ciut tak punya daya.
Mendengar itu, Dinar terkikik kecil. Bisa-bisanya Bang Ares menyamakan Bang Ranggi dengan bubuk rengginang.
__ADS_1
Ada hela nafas lega melihat Dinar terkikik geli.
"Jangan ngambek lagi kenapa sih Neng? Abang cemas setengah mati mikir kamu" ucap jujur Bang Ares.
"Ya sudah, Dinar nggak ngambek lagi. Tapi Dinar pengen main volly" pinta Dinar dengan jelas.
"Haahh.. ngelindur opo piye sih dek. Masa minta main volly?????" wajah Bang Ares sudah kembali menegang.
Belum saja mulutnya tertutup, Dinar sudah memasang wajah datar.
"Kalau begitu Abang yang main..............."
"Oke.. Abang yang main..!!" jawab Bang Ares langsung menyanggupi.
"Tapi pakai daster sama bando" imbuh Dinar.
Mata Bang Ares seketika melotot.
"Lanjuuuutt.. pejantan tangguh tidak akan menolak tantangan" jawab Bang Ranggi yang muncul entah sejak kapan.
"B******n.. diam lu pot, masa gue tanding bareng ibu-ibu pakai daster. Harga diri lah pot" ucap gemas Bang Ares.
Kini giliran mata Bang Ranggi yang melotot pasalnya dirinya sungguh tidak mendengar permintaan Dinar.
"Oohh.. Bang Ranggi ikut saja, pasti seru" kata Dinar.
"Naaahh.. pejantan tangguh pantang menolak tantangan. Ayo kita ke lapangan..!!" Bang Ares menarik kuat lengan Bang Ranggi menuju lapangan karena sebentar lagi akan ada volly ibu-ibu kompleks.
"Aduuhh.. kaki ku terkilir" Bang Ranggi mulai beralasan.
"Nggak ada alasan. Makanya.. moncong mu itu di tutup rapat saja kalau ada perempuan ngambek. Sekarang kita berdua kena hukum tradisi nikah loreng, dimana pangkat istri lebih tinggi satu tingkat dari suami" ucap kesal Bang Ares.
"Itu istrimu Res, bukan istriku" Bang Ranggi berusaha melepaskan diri dari tarikan tangan Bang Ares tapi saat di sana melintas ibu-ibu muda.. Bang Ranggi jadi berubah haluan.
"Selamat sore Pak Ares, Selamat sore Pak Ranggi" sapa ibu-ibu muda disana.
"Selamat sore" jawab Bang Ares datar.
"Ehhmm.. selamat sore ibu-ibu. Waah.. segar sekali ya sore ini. Sudah siap mau olahraga ya" Bang Ranggi mulai tebar pesona.
"Wes.. mulaiii.. Garangan" gumam Bang Ares paham dengan tingkah polah littingnya itu.
.
.
.
.
__ADS_1