
"Si_apa takut..!!!" jawab Zani tegas meskipun terdengar ada sedikit keraguan.
"Oke.. test kompetensi mu hanya satu minggu. Setiap hari kamu masak buat Abang. Ingat.. masak..!!! Bukan ngeracun..!!!!" kata Bang Tegar memberi peringatan.
Bang Tegar mengambil kartu ATM dan menyerahkan pada Zani. "Kelola uang ini dengan baik. Harus jadi masakan..!!"
"Hmm.. apalagi???" tanya Zani sambil mengambil kartu ATM dari tangan Bang Tegar.
"Setiap sore kamu harus latihan volly sama Abang..!!"
"Abang khan sakit" sela Zani.
"Nggak ada alasan untuk tidak olahraga. Kaki masih bisa di kondisikan, tangan Abang sehat. Kamu masuk team volly..!!" perintah Bang Tegar.
Aduuuhh.. aku nggak suka volly dan nggak bisa volly. Gimana nih?????. Tapi gengsi donk kalau mundur.
"Bagaimana??" tanya Bang Tegar.
"Okee"
"Yang ke tiga.. berpakaian yang sopan layaknya istri seorang abdi negara dan harus tau posisimu di lingkungan militer juga harus membawa nama Abang di atas tubuhmu..!!"
Zani terbelalak. Ia belum menjadi istri Letda Tegar dan bukanlah istrinya tapi ia sudah diminta bersikap selayaknya seorang istri. Kini ia menyesali tingkahnya yang mencari perkara hanya karena ingin tau tentang rasa penasaran dengan sikap seorang abdi negara dalam memperlakukan seorang wanita.
"Ini style nya Zani" jawab Zani.
"Boleh.. asalkan di depanku saja dan jangan memperlihatkan di hadapan orang lain."
Wajah Zani semakin muram. Kini dirinya terjebak tingkahnya sendiri.
:
"Dek.. tolong ambilkan Abang minum..!!" pinta Bang Tegar.
"Hmm.."
"Jawab yang benar..!!" kata Bang Tegar.
"Iya Abaang..!!" Zani segera berjalan.
Ayah Rico hanya bisa membuang nafas panjang karena harus merelakan putrinya sebab itu merupakan tanggung jawabnya juga.
__ADS_1
"Yah.. tolongin Zani..!!" bisik Zani pada Ayah Rico.
"Terimalah adzan dari perbuatan mu sendiri" kata Ayah Rico.
***
Bang Ranggi terjerembab memakai sepatu high heels sampai mengumpat jengkel. Ia ingin mengutuk dirinya sendiri karena harus berpakaian terbuka seperti itu.
"Mana ada model internasional punya otot seperti lenganku ini" gerutu nya sambil berdiri.
"Awww.. bulumu harus di cukur cyiiinn.. malu kalau ketemu bule Arab" kata Mince.
"Aduuh cyinn.. ini peninggalan berharga.. jangan donk.. eyke pakai stocking aja ya" jawab Bang Ranggi seluwes mungkin.
"Ya sudah deh. Jangan lama-lama ya, kali ini bagian mu main sama si bule Arab" kata Mince kemudian berlalu memberi kiss bye untuk Bang Ranggi.
Bang Ranggi mengedipkan mata dengan genit tanda setuju.
Ya Allah Gustiii.. begini amat cari uang. Kamu jangan jijik lihat Abang ya dek. Abang kerja keras demi kamu dan anak-anak. Abang tetap kangen kamu kok. Nggak akan belok.
Bang Ranggi memperhatikan dirinya di cermin. "Astagfirullah hal adzim.. Kulo nyuwun pangapunten Gusti..!!" Bang Ranggi ingin menangis melihat dirinya sendiri. "Kapan puasaku selesai. Kangen banget nih sama Hana. Do'akan Abang kuat ya sayang. Abang janji hanya kerja"
Sepanjang jalan di koridor, Bang Ranggi terus beristighfar. Bukan hanya kalangan plus minus saja disana tapi juga ada kalangan wanita P*K.
Bang Ares mengorek tanah di pinggir jalan dan mengejar orang-orang. Ia pun tertawa puas dengan pekerjaannya kali ini.
"Sekali-kali gila pun tak apa-apa. Ternyata begini asyik juga ya"
Saat asyik tersenyum, dia berpapasan dengan ODGJ yang sebenarnya.
"Kau merebut istriku..!!" teriak ODGJ tersebut kemudian membawa batu bata dengan murkanya.
"Heehh.. aku nggak kenal istrimu" jawab Bang Ares.
"Dasar kau perebut istri orang.." ODGJ tersebut mengejar Bang Ares sambil melempari batu.
"Astagfirullah hal adzim.. lebih baik aku jadi banci saja daripada di serang ODGJ" Bang Ares gugup sekali lari kocar-kacir.
Para Intel setempat sampai bingung karena Bang Ares keluar jalur pekerjaan.
"Ijin Dan, arah target ada di jam tujuh" kata seorang anggota pada alat komunikasi yang Bang Ares bawa.
__ADS_1
"Gundhulmu.. lihat dulu saya mau di timpuk Bata. Lama-lama saya stress jadi ODGJ beneran nih" bentak Bang Ares sambil berlari kencang.
Riuh tawa di seberang sana membuat Bang Ares jengkel setengah mati. "Berani tertawa.. saya tindak kalian semua..!!!!"
"Siap salah..!!"
...
"Cepat kirim obat tidurnya, kalau telat saya bisa di umekin bule Arab nih..!!" Bang Ranggi sudah emosi karena anggotanya telat menjawab arahannya.
"Ijin Dan.. kami terjebak macet..!!"
"Bosoooookk.. opo wae kerjomu le????? Sampai saya di buntingin bule Arab.. kalian semua saya jungkir..!!!!" bentak Bang Ranggi sekuatnya kemudian mematikan panggilan teleponnya.
"Astagfirullah.. sabaaar Ranggi.. sabaaaarr..!!!!" Bang Ranggi mengusap dadanya.
-_-_-_-_-
Bang Ranggi dan Bang Ares usai mandi. Mereka berdua berkacak pinggang dengan murka di hadapan team nya.
"Saya ketimpuk batu karena ulah kalian yang lambat" bentak Bang Ares sambil mengobati lukanya.
"Dan saya hampir di perk*sa bule Arab. Kalian ini bagaimana kerjanya????????" Bang Ranggi pun ikut emosi dan benar-benar marah. "Kerja yang benar jangan sampai buat rekan satu team celaka..!! Kita harus selesaikan tugas dan dapatkan bukti keterlibatan anggota kita dalam pelanggaran. Iki nggak main drama.. ora guyon..!! Satu terbongkar.. kita semua tamat..!!!!!!" Bang Ranggi menghapus sisa lipstick di bibirnya.
"Siap salah Dan"
"Setaaaann.. nggak hilang-hilang ini lipstick.. Hana beli barang kok murahan begini??? Nempel di wajah susah sekali hilangnya" gerutunya semakin emosi.
"Kalau barang mahal memang begitu boss" kata Bang Hasdin yang sedikit banyak ikut membantu disana.
"Duuuhh.. repot sekali jadi perempuan" Bang Ranggi terus menggerutu. Ia memperhatikan lipstick Hana. "Warna ini buatku rindu setengah mati yank" gumamnya pelan.
Tak lama ponsel kerja Bang Ranggi berdering.
"Ada telepon dari bule Arab tuh." Bang Ares mencolek lengan Bang Ranggi.
"Ya Allah.. mati aja deh gue. Sedari tadi dia nggak ngelepasin gue. Hana mana Hanaaa.. gue masih normal broooo..!!!!" rasanya Bang Ranggi sudah frustasi dengan tugasnya hari ini.
.
.
__ADS_1
.
.