
"Ya Tuhan.. Opaaa.. kenapa ribut sama Opa Garin??" Mama Aira merebut sandal dari tangan Opa Sanca.
Mendengar suara itu akhirnya Bang Ranggi ikut keluar.
"Ada apa Tante?"
"Ini lho.. Opamu, ribut. Malu khan ini di rumah sakit" jawab Tante Aira.
Karena terlalu ribut dan cemas akan mengundang pihak keamanan.. Papa Vian dan Ayah Rico mengamankan kedua Opa rusuh.
...
Seluruh pihak keluarga sudah bisa pulang terkecuali Avi yang masih harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.
Bang Ranggi mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Tangan kirinya selalu ia usahakan untuk menjaga Hana yang mulai tertidur di mobil. Setiap melihat Hana, hatinya terasa nyeri.
"Biar ayah yang kemudikan mobilnya, kamu bisa duduk berdua sama Hana di depan. Cukup khan, badan Hana juga nggak gemuk" kata ayah Rico.
"Nggak apa-apa yah. Hana sensitif sekali. Biar saja posisi begini." tolak Bang Ranggi.
"Tapi Hana lagi suka sama aroma tubuhmu, mungkin kalau kamu peluk dia, pusingnya Hana bisa hilang" saran Ayah Rico.
"Asalkan nggak muntah biar saja yah. Kalau Hana benar-benar sehat, aku yang ambruk. Bukannya nggak mau berbagi Pa, tapi aku kerja. Bisa terbengkalai semua pekerjaanku" jawab Bang Rico pelan-pelan.
Memang Bang Ranggi sedikit kerepotan jika mengalami mabuk, pasalnya ia memiliki usaha sampingan di luar sana.
"Apa Hana tau pekerjaan sampingan mu?" tanya Ayah Rico.
"Belum tau yah. Aku bisa di amuk kalau Hana salah paham" jawab Bang Ranggi.
"Bilang saja, daripada dia tau dari orang. Memang ini juga pekerjaan tapi bagi yang tidak biasa pasti akan berpikir yang tidak-tidak" kata ayah Rico mengingatkan.
"Iya Yah"
***
"Nikah..!!"
"Baik om. Kalau perlu sekarang juga saya akan menikahi Avi" jawab Bang Gazha saat Papa Vian meminta Bang Gazha untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Panggilkan penghulu sekarang..!!" pinta Papa Vian pada seorang anak buahnya disana.
"Siap Dan" jawab ajudan yang sedari tadi standby disana kemudian pergi.
"Gugurkan saja Pa. Avi sudah membuat Papa malu" ucap Avi masih terus berderai tangis.
"Setelah menikah, jangan kembali ke rumah Papa lagi ataupun lingkungan tempat Papa tinggal. Papa sangat kecewa sama kamu Avi" kata Papa Vian.
"Mau kamu lanjutkan atau kamu gugurkan kehamilanmu.. itu terserah padamu. Dia darah dagingmu" imbuh Papa Vian. Rasa hatinya tidak tega dan begitu sakit mengucapkannya tapi semua harus ia lakukan karena hidup setelah menikah tidak hanya semanis saat Avi dan Gazha melakukan kesalahan itu berdua. Papa Vian juga ingin melihat keseriusan Gazha untuk putri satu-satunya.
"Langkahi dulu mayatku.!! Tidak ada yang boleh menyentuh anak ini. Dia anakku. Aku akan menjaganya..!!" ucap keras Bang Gazha.
"Dengan apa? Menjaga satu perempuan saja kamu tidak bisa. Apapun alasannya.. kamu sudah merenggut kehormatan seorang wanita. Dan kamu Avi.. Papa membesarkan kamu dengan pendidikan yang memadai.. kenapa beraninya kamu membuka paha untuk lelaki yang belum menjadi suamimu? Apa bedanya kamu dengan......"
"Cukup Om.. salahkan saya..!! Jangan hina ibu dari anak saya" ucap keras Bang Gazha. Ubun-ubun nya terasa panas. Dadanya begitu sesak.
"Kamu ngajarin saya??????" bentak Papa Vian.
__ADS_1
"Jika itu menyangkut Avi dan anak saya. Saya akan pasang badan untuk keduanya."
Papa Vian terdiam sejenak tapi hatinya terasa lega, setidaknya mengingat latar belakang keluarga Gazha.. ia sudah tenang menyerahkan hidup Avi pada pria yang tepat.
"Menikahlah.. Papa merestui"
***
Sudah dua hari ini Ayah Rico dan Mama Jihan menemani Hana dan si kecil Cherry lebih senang ikut dengan Opa Garin dan Oma Esa.
"Apa sekarang badanmu sudah lebih enakan sayang?" tanya Mama Jihan sore itu.
"Iya Ma, cuma kadang masih terasa sedikit pusing." jawab Hana.
Hana menghela nafasnya di hari Sabtu begini Bang Ranggi masih saja keluar rumah.
"Kenapa Han?" tanya Ayah Rico.
"Abang belum pulang juga ya yah?" jawab Hana lebih perasa.
Tak lama Bang Ranggi pulang. Aroma tubuhnya begitu wangi bercampur aroma tubuhnya yang maskulin.
"Assalamualaikum..!!" ucapnya lesu.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Hana lebih pelan dari yang lain.
Bang Ranggi sedikit menunduk hendak mencium bibir Hana tapi istrinya itu menghindar. Bang Ranggi pun beralih mencium lembut kening Hana.
"Sudah makan apa belum dek?" tanya Bang Ranggi.
Bang Ranggi meletakkan ponsel di atas meja.
"Abang mandi dulu ya, nanti kita makan sama-sama" Bang Ranggi mengusap pipi Hana.
Baru beberapa langkah berjalan, ponsel Bang Ranggi bergetar. Ada pesan dari seseorang disana. Ia mengirim beberapa 'gambar mesra' Bang Ranggi 'berpelukan' dengan seorang wanita.
Mekky : Bagi lah sedikit, masa di peluk sendiri. Sepertinya Miss Valentina sangat menggoda hatimu Pak Ranggi?
Tak hanya itu, pria bernama Mekky itu juga mengirim video pendek kebersamaan Bang Ranggi dan Valentina.
Membaca pesan dan melihat video itu tangan Hana gemetar. Mama Jihan yang melirik video itu juga sempat cemas.
"Siapa yank?" tanya Bang Ranggi sambil melepas jam tangan kemudian meletakan di atas meja hias.
"Apa Miss Valentina sangat menggoda mu.. Mas Ranggi" ucap Hana, matanya berkaca-kaca.
Seketika Bang Ranggi menoleh dan berjalan cepat menyambar ponsel di tangan Hana. Ia melihat semua pesan dari Mekky littingnya.
"Ini Mekky dek, litting Abang" jawab Bang Ranggi berusaha menjelaskan tapi Hana langsung beranjak dari sofa seakan tidak ingin mendengar penjelasan Bang Ranggi.
"Hana istirahat dulu ya Ma.. yah" pamitnya pada Ayah Rico dan Mama Jihan.
Mama Jihan tersenyum menjawabnya. Ayah Rico masih memantau situasi dan ikut geram.
Bang Ranggi langsung menghubungi Mekky. Tak lama panggilan telepon itu tersambung.
"Hallo broo.."
__ADS_1
"Heehh Mek.. kenapa lu kirim video tadi??" tanya Bang Ranggi.
"Nah lu yang pilih sendiri si Valentina daripada Imelda mantan lu" jawab Bang Mekky.
"Jelas aja gue pilih Valentina. Body bikin semriwing tapi dalaman bikin nyali garing" ucap kesal Bang Ranggi.
"Yang bener.. lu asyik bener 'sayang-sayangan' sama Valentina. Kelihatan menikmati bener daripada sama si Imelda" kata Bang Mekky.
"Gue uda punya istri Mek.. sekarang lu ke rumah gua..!! Jelaskan yang sejelas jelasnya tentang kejadian tadi. Bini gue hamil Mek.. gue nggak mau buat dia kepikiran."
...
tok..tok..tok..
"Yank.. buka pintunya sebentar dek..!!" bujuk Bang Ranggi.
Tak ada jawaban dari Hana dan itu sukses membuat Bang Ranggi kelabakan. Tepat saat itu terdengar suara motor.
"Dek.. ada Mekky tuh. Dia mau jelaskan masalah video tadi" kata Bang Ranggi pelan.
:
Wajah Hana sembab. Badannya pun kembali lemas. Bang Mekky pun sampai takut kalau sampai terjadi sesuatu pada istri Ranggi itu.
"Ehm.. ini anu Hana.. begini. Memang yang ada di video itu benar adanya. Ranggi ada di video itu"
Hana tersandar pada sandaran sofa dan hampir pingsan.
Bang Mekky semakin cemas saja melihat Hana.
"Lanjutkan Mek..!!!" pinta Bang Ranggi.
"Valentina itu laki-laki" kata Bang Mekky.
Saat itu dada Hana sesak. Seluruh keluarga ikut panik tak terkecuali Bang Ranggi. Kejujuran yang seharusnya mungkin melegakan kini berubah menjadi petaka.
"A_bang.. g*y"
"Astagfirullah.. Abang kurang bagaimana sama kamu sampai kamu tuduh Abang g*y??"
"Soalnya Abang nggak pernah bergairah sama Hana. Kita juga nggak pernah berhubungan sampai Abang selesai. Jangan-jangan Abang nggak suka Hana" jawab Hana yang langsung mendapat bungkaman tangan dari Bang Ranggi yang tersenyum kecut salah tingkah.
"Hilang ingatan kamu ya????" Bang Ranggi memelototi Hana.
"Nanti kita bicara di kamar..!! Masalah ranjang nggak boleh kamu umbar begitu dek. Nggak pantas" bisik Bang Ranggi sambil tersenyum menahan malu menatap wajah Ayah dan Mama.
"Benar begitu Ranggi?????" tanya Ayah Rico.
"Ya Tuhanku.. repot duwe bojo polose ora umum" Bang Ranggi menepak dahinya.
.
.
.
.
__ADS_1