
Bang Ranggi menyatukan kedua tangan Hana dengan satu tangannya kemudian menarik Hana ke dalam pelukannya. Mata keduanya saling menatap.
"Oke kita pulang, tapi kamu tetap harus ganti rugi karena sudah buat onar..!!" kata Bang Ranggi.
"Apa?" jawab Hana seakan menantang Bang Ranggi. Tangannya terkunci tapi lututnya bereaksi menyelip di sela paha pria di hadapannya itu.
Bang Ranggi pun mati kutu menghadapi Hana yang kini sudah berubah drastis.
"Jangan macam-macam. Ini rumah sakit..!!" Bang Ranggi menoleh ke sekitar, cemas kalau ada perawat, tamu atau dokter yang melintas pasalnya ia hanya menutup gorden di kamar rumah sakit setengahnya saja.
"Memangnya kenapa? Abang takut?" tantang Hana semakin membuat Bang Ranggi kelabakan.
"Kamu nantang atau nanya. Kalau sampai kamu nggak bisa kendalikan maunya Abang.. Abang pithes bener kamu dek" jawab Bang Ranggi karena memang dirinya sudah terpancing karena ulah nakal Hana.
"Bisa lah, ini sampai ada terong Belanda disini pasti juga karena Abang tergoda khan?"
"Aseeemm tenan kowe dek..!!" tak pedulikan apapun lagi, Bang Ranggi langsung menyambar bibir manis Hana. Rasa rindu tiba-tiba mencuat mengalihkan segala dunianya dan hanya menginginkan Hana seorang.
Nafas Bang Ranggi kian memburu. Dadanya sesak, badannya tegang membuatnya harus segera melonggarkan benda yang menyesakan di sekitar tubuhnya.
Baru akan memulai aksinya, Ayah Rico datang bersama Bang Ares untuk menjemput Hana. Mendengar suara pintu terbuka, tentu saja membuat Bang Ranggi panik dan secepatnya membenahi diri.
"Kenapa kamu gugup seperti lihat setan?" tegur ayah Rico dengan sengaja padahal sekilas ayah Rico pun tau apa yang sedang di lakukan putranya itu.
"Nggak apa-apa yah. Cuma sedikit pusing saja" jawab Bang Ranggi karena memang sekarang dirinya merasa sedikit pening.
"Ya sudah, cari kopi dulu sana biar lega pikiran sama hatimu" kata ayah Rico.
Tak buang banyak waktu lagi, Bang Ranggi segera keluar karena semakin dirinya melihat Hana, rasa rindunya semakin tidak terkendali dan disana Hana dengan centilnya berkedip nakal seolah mengejek Bang Ranggi.
"Awas kamu ya..!!" ancam Bang Ranggi masih terbawa gemas.
"Yaahh.. Abang ngancam" kata Hana mengadu pada ayah Rico.
"Ranggiiiiii.. cepat sana ke kantin..!!" perintah ayah Rico membela menantunya padahal menantu kesayangan Ayah Rico lah yang mencari perkara.
Hana menjulurkan lidahnya kemudian mengacungkan jari perdebatan di belakang punggung ayah Rico.
"Waahh.. cari hal nih ceritanya. Sampai rumah.. lihat saja kamu, bakalan nangis minta ampun kamu sama Abang" ancam Bang Ranggi.
"Ranggiiiiiii.. mulai main ancam kamu..!!!!!!" tegur keras ayah Rico yang tidak tau duduk perkaranya dan Bang Ares hanya tertawa geli melihat Ranggi dan Hana.
__ADS_1
"Iyaaaa.." Bang Ranggi segera berjalan pergi.
~
Di kantin, Bang Ranggi tersenyum gemas sendirian mengingat ulah Hana yang selalu membuatnya rindu.
"Selamat pagi Dan..!!" sapa Pratu Richi.
"Pagi juga.. ada apa di rumah sakit pagi begini?" tanya Bang Ranggi yang sama sekali tidak melirik Imelda yang berada di samping Bang Richi.
"Janjian untuk bertemu dengan dokter Dan. Mohon ijin arahan.. kapan saya bisa menghadap Intel?"
"Aduuuhh.. iya ya, kamu khan sedang pengajuan nikah. Maaf saya tidak di tempat mulai kemarin, istri saya tidak enak badan" jawab Bang Ranggi.
"Siap Dan"
"Kamu ke rumah saja lah, biar saya tanda tangani di rumah. Jadi kamu tidak perlu menghadap ke ruangan saya" arahan Bang Ranggi.
"Siap Komandan"
"Apa saya perlu menghadap istrinya Intel?" tanya Imelda dengan sombongnya seperti biasa.
Sebenarnya tidak perlu hal rumit dalam pengajuan nikah, tapi menurut Bang Ranggi.. kali ini Imelda memang kelewatan dan ingin memberinya sedikit pelajaran di luar prosedur resmi kantor.
...
"Gendong..!!" pinta Hana yang kini tidak seperti dulu yang sangat pemalu dengan keadaan dirinya dan Bang Ranggi hanya tinggal mengimbanginya saja.
"Enak aja, badanmu sudah mekar kiri kanan. Abang nggak kuat" ledek Bang Ranggi sengaja mencari perkara.
"Abang mau bilang Hana gendut????????" pekik Hana membahana dalam satu ruangan.
"Abang nggak bilang gendut, cuma mekar saja kiri kanan" jawab Bang Ranggi.
plaaaaakkk..
Seperti biasa Hana menepak bahu Bang Ranggi sekuatnya merasa jengkel karena ulah suaminya.
"Aduuuhh.. KDRT ini namanya. Abang di hajar terus lho dari kemarin" protes Bang Ranggi memasang wajah kesakitan.
"Abang kira buat terong Belanda ini nggak buat Hana sakit?" Hana tak mau kalah dengan jawabannya.
__ADS_1
"Yeeeee, sakit juga kamu yang cari perkara. Kamu juga yang minta di ulang-ulang. Fitnah atau fakta??" jawab Bang Ranggi.
Ayah Rico dan Bang Ares ternganga mendengar ocehan sepasang suami istri yang membuat keduanya salah tingkah.
"Fitnah, Abang yang suka paksa"
"Okeeee.. Abang yang paksa. Nanti benar-benar Abang paksa.. bakalan nangis minta ampun kamu ya" sambar Bang Ranggi yang sedetik kemudian akhirnya sadar masih ada ayah Rico dan Ares disana.
"Yawes ayo Abang gendong sampai parkiran" Bang Ranggi pelan. Akhirnya mengalah daripada perdebatan sengit mereka tak ada ujungnya.
"Gitu khan beres, kenapa harus ribut dulu?" jawab Hana menang telak.
-_-_-_-_-
Usai sampai di rumah, Bang Ranggi pun menggendong Hana memasang wajah kesal padahal dalam hatinya tersimpan bahagia luar biasa melihat Hana semakin pulih.
"Kenapa wajahnya nggak ikhlas sekali? Hana nggak seberat itu Bang" protes Hana.
"Kenapa perempuan itu banyak sekali maunya?" tanya Bang Ranggi.
"Ya karena laki-laki juga mau yang serba ekstra. Permintaan laki-laki pastinya juga berat" jawab Hana.
"Apanya yang berat? Apa selama ini Abang banyak permintaan?"
"Abang minta Cherry sama terong Belanda, itu khan berat" cerocos Hana.
"Oohh gitu ya, mungkin sekarang kamu mulai hilang ingatan sayang. Sepertinya Abang harus ingatkan kamu bagaimana proses terjadinya Cherry ku tersayang" jawab Bang Ranggi kemudian mengecup bibir Hana. Meskipun ada desir rasa sakit, tapi ia akan berusaha keras menyelamatkan mental Hana.
"Masa sih, Abang khan paksa Hana" hati Hana mulai terbolak balik bimbang.
"Kata siapa?? Abang nih korban, korban penyerangan cat woman.. masa iya kamu lupa." kata Bang Ranggi.
Hana terdiam berpikir keras mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu namun tak kunjung mendapat titik temu.
Bang Ranggi tersenyum geli dalam hati membiarkan Hana berpikir dengan fantasinya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
.