
Kebijakan lagi dalam membaca..!!
🌹🌹🌹
Sungguh Hana tidak bisa tidur, makan malam pun tak bisa ia nikmati dengan baik meskipun Bang Ranggi begitu memanjakannya. Seperti pria pada umumnya yang kebanyakan ada kan langsung bertekuk lutut jika nafsu b*rahinya sudah terlampiaskan dengan sempurna.
"Tidur dek.. besok masih ada kegiatan. Kamu bisa kecapekan" tegur Bang Ranggi.
"Iya Bang"
"Apa rambutnya masih belum kering? Mau Abang keringkan lagi?" tanya Bang Ranggi.
"Nggak Bang. Ini Hana juga sudah ngantuk kok" kata Hana beralasan.
Bang Ranggi memercing menahan mual, seperti biasa usai bersama Hana mualnya selalu kambuh. "Ya sudah ayo cepat tidur..!!"
***
Pukul sembilan para anggota sudah melaksanakan penyambutan. Bang Ranggi pun ikut mengawal kegiatan tersebut. Istri kepala bagian Humas militer yang ikut mengawal petinggi disana. Beliau melihat Hana dengan perut besarnya.
"Selamat pagi.. Aduuhh.. cantik sekali. Istri siapa ini?" goda Ibu Kabag Humas Militer yang terkenal sangat ramah.. Ibu Netta Yudha.
"Selamat pagi Ibu, mohon ijin.. Saya istri dari Letda Ranggi Tanuja." Hana menunduk memberi jarak karena masih takut salah dan membuat nama baik Bang Ranggi rusak.
"Mana nih 'Om' Ranggi??"
"Siap.. Ijin ibu" Bang Ranggi menyapa Ibu Netta Yudha dengan senyum iseng
"Kenapa ikut kegiatan?. Kasihan ini istrimu, pasti capek. Lagipula ini hanya kunjungan kekeluargaan, bukan resmi banget" kata Bu Netta.
"Oohh.. ini to menantunya Rico. Pantas si Ranggi klepek-klepek ?" sambar Dan Yudha.
"Siap"
"Waahh.. keterlaluan kamu. Istri hamil besar masih ikut kegiatan. Pulang dari sini Papa yang di sidang Mamamu. Kalau ada yang hamil besar begini tantemu suka khawatir" kata Dan Yudha. Ia tersenyum menepuk bahu Bang Ranggi.
"Siap salah"
...
Hana melaksanakan sholat dhuhur bersama yang lain, usai melaksanakan sholat nampaknya Hana tidak sanggup untuk berdiri.
"Kenapa ndhuk? Sini Mama bantu berdiri ya..!!" tanya Ibu Netta.
"Perut Hana kenapa sakit sekali ya Ma?"
"Katamu baru delapan bulan?" tanya Mama Netta.
"Iya ma."
"Kalau masih usia kehamilan segitu masih aman. Ya sudah kita jalan pelan ke ruang pertemuan yuk..!!" ajak Mama Netta.
__ADS_1
:
Bang Ranggi mulai cemas setelah Omnya.. Papa Yudha menegur dirinya.
"Ini kalau sampai Ayahmu tau, kamu bisa di amuk lagi Ranggi.
"Tadi Hana nggak apa-apa Pa" kata Bang Ranggi.
Hana kembali merasa mual dan akhirnya untuk kesekian kalinya Bang Ranggi yang harus menanggung rasa perut teraduk-aduk. Ia berlari ke toilet dan menguras isi lambungnya.
"Astagaaa.. bagaimana sih ini. Hana yang mual, Ranggi yang muntah" Papa Yudha mengikuti langkah Bang Ranggi dan membantu keponakannya itu.
~
"Sebentar Pa, aku nggak kuat" Bang Ranggi merosot karena badannya sudah lemas sementara Hana sudah baikan tapi sesaat kemudian Hana memercing kesakitan.
"Anakmu punya dendam sama kamu ya. Bisa-bisanya ngerjain papanya"
"Biarlah Pa, daripada Mamanya yang ngerjain. Habislah aku" jawab Bang Ranggi.
Setelah beberapa saat Bang Ranggi tenang, mereka pun kembali ke ruang pertemuan.
:
Menginjak acara terakhir.. Hana sudah sedikit sulit untuk berdiri dari duduknya.
"Ijin saja, Hana nggak kuat Rang" kata Bang Ares.
"Aaawwhh" Hana memegangi perut bawahnya.
"Kalau nggak bisa berdiri ya duduk saja, nggak usah di paksa" kata Bang Ranggi beralih terfokus pada Hana. Perasaannya semakin tidak enak. Ia mengarahkan Hana untuk duduk kembali.
"Tapi ini pejabat Bang"
"Abang yang tanggung jawab" Bang Ranggi tak peduli lagi dengan yang lain, melihat Hana kesakitan membuatnya tidak tega.
Baru saja ****** Hana menempel di kursi.. raut wajahnya berubah dan semakin memercing kesakitan. "Bang.. perut Hana sakit sekali, nggak kuat" ucap Hana sampai bersandar di bahu Bang Ranggi.
"Duuhh.. kamu kenapa sih dek?" tangan Bang Ranggi bersiap mendekap Hana tapi Hana sudah ambruk tak sadarkan diri.
"Allahu Akbar.. dek..!!!!!" Untung saja Bang Ranggi sigap menahan tubuh Hana hingga tak sampai terbanting ke lantai.
Seisi ruangan ikut panik melihat Hana pingsan dan Bang Ranggi berpamitan segera membawa Hana ke rumah sakit.
:
plaaaakk..
Entah sudah yang keberapa kalinya Hana memukul, menampar sampai menjambak rambut Bang Ranggi.
"Hwaduuuuuuh.. Abang bisa lebam kamu aniaya dek" kata Bang Ranggi saat Hana mencakarnya. "Besok potong itu kuku. Bahaya..!!!!"
__ADS_1
"Uugghhh.. Sakit Baang..!!" pekik Hana.
"Jangan-jangan Hana mau melahirkan Bang" kata Dinar yang ikut mengantar Hana dan Bang Ranggi ke rumah sakit.
"Sepertinya iya dek" jawab Bang Ares.
"Ya Allah..... aku belum siap Res" Bang Ranggi mulai gelisah.
"Nggak siap matamu. Buatnya aja semangat, giliran yang begini kamu mundur" tegur Bang Ares.
"Aku nggak mundur. Deg-degan nih" kata Bang Ranggi. Tangannya dingin, hatinya cemas dan gugup.
"Masih jauh nggak Bang, Hana nggak kuat..!!"
"Ayo sayang, kamu pasti kuat..!! Tinggal satu tikungan lagi" Bang Ranggi mencoba melawan rasa takut.
Tak sengaja pandangan mata Bang Ranggi tertuju pada kaki Hana. Jantungnya berdetak kencang melihat lelehan darah di sela kedua paha Hana.
"Astagfirullah.." Bang Ranggi mengusap wajahnya. "Cepat sedikit Res, aku di amuk Terong Belanda nih"
"Heehh Ranggi.. Hana nggak punya penyakit bawaan, rahim pendek ataupun gejala berbahaya saat kehamilan Cherry. Sebenarnya Hana kenapa? Apa dia salah makan??" tanya Bang Ares, ia pun ikut cemas melihat keadaan Hana.
Bang Ranggi masih terdiam, sesekali ia ikut memercing karena Hana mencubit lengannya.
"Rang..!! Jangan menutupi fakta. Dokter nggak akan bisa menangani Hana kalau nggak ada keterangan yang valid" bentak Bang Ares.
"Iya salah makan" jawab Bang Ranggi.
"Makan apa??" tanya Bang Ares lagi.
"Sambal belut"
"Lu kira-kira donk. Masa hamil besar masih lu ajak makan sambal belut..!!!!" tegur Bang Ares.
"Adikmu ini merusuh. Belutku terancam.. lama nggak di pancing, adikmu nguber aja. Akhirnya semalam kita bertengkar.. ya sudah jadilah sambal belut level pedas"
"A*u tenan kowe Rang.. duwe welut kurang ajar, potong saja..!!" Bang Ares sampai emosi mengemudikan mobil menuju rumah sakit dan di sana Dinar tertawa mendengar perdebatan kedua pria.
"Main potong aja. Ini mainan kesayangan adikmu" jawab Bang Ranggi.
Hana beralih semakin erat meremas sela paha Bang Ranggi. Bang Ranggi pun mengarahkan Hana memegang tangannya.
"Remas tangan aja yank, kalau nyenggol si Japrak apalagi sampai pecah.. kamu juga yang repot. Barang pecah belah nih"
.
.
.
.
__ADS_1