
Andin terduduk kasar bersandar pada tas ransel nya dan saat itu juga tanpa aba-aba langsung tertidur dengan nafas ngos-ngosan membuat Bang Langsang panik setengah mati.
"Ndin.. bangun dek..!!" Bang Langsang menepuk pipi Andin berkali-kali. "Andiin.. buka mata..!!" Bang Langsang sampai menggoyang badan Andin cukup keras.
"Andin ngantuk Abaang.. mau tidur sebentar" jawab Andin akhirnya bereaksi meskipun pelan dan terdengar begitu manja.
"Astagfirullah.. Abang bisa gila mikir kamu dek..!!" Bang Langsang segera melepas tas ransel Andin kemudian merebahkan tubuh istrinya agar lebih nyaman tidur meskipun berada di tumpukan daun kering.
Tak ada suami yang baik-baik saja melihat istrinya tidur dalam keadaan serba sederhana seperti ini, makan pun juga amat sederhana. Tak masalah jika dirinya yang merasakan semua itu, tapi melihat sang istri sedang bertugas rasanya sungguh menyayat hatinya.
Bang Langsang hanya bisa mengusap bahu Andin, ingin rasanya mencium sayang keningnya tapi ia harus sadar batasan diri dalam lingkungan kerja. "Cepat kita selesaikan tugas ini dan kita pulang. Kamu bisa tidur di ranjangmu dengan nyaman. Lain kali Abang tidak akan mengijinkan kamu berangkat dinas. Lebih baik Abang baku hantam melawan atasan dari pada melihat mu harus seperti ini" gumam Bang Langsang.
Bang Huda menepuk bahu littingnya. "Pasang selambu darurat, biarkan Andin tidur sebentar. Kita maklumi saja tubuh perempuan nya." kata Bang Huda.
...
Bang Langsang semakin resah saat Andin menolak makan siang. Segala makanan ia muntahkan sampai istrinya itu lemas. "Sedikit saja dek. Kalau nanti selesai tugas, kamu beli saja segala apa yang kamu mau" bujuk Bang Langsang.
Andin hanya menggeleng dan ingin terus tidur. Bang Langsang akhirnya membongkar isi tas Andin dan mengambil peralatan infus.
"Kamu mau apa Lang??" tanya Bang Huda.
"Kamu rasakan udara disini.. dingin sekali. Andin nggak mau makan. Kalau dia semakin drop malah bahaya" jawab Bang Langsang kemudian memasang infus di tangan Andin.
Bang Huda sampai ikut panik melihat satu anggotanya sakit dalam penugasan. "Nanti ransel Andin, aku yang bawa. Kamu Gending Andin..!!" saran Bang Huda.
"Iya.. mungkin lebih baik begitu"
∆∆∆
Bang Khaja membaca hasil laboratorium milik Naya. Dokter senior pun tak tau apa sebabnya Naya belum juga sadar.
"Kira-kira kenapa ya Bang?" tanya Bang Khaja.
"Ya badannya lemah, untung saja tidak ada patah tulang. Semua hanya memar dan syok." jawab dokter senior.
Mata Bang Khaja tak hentinya menatap Naya yang tidak kunjung sadar juga.
"Nanti kamu tebus resep ini. Segera ya..!! Biar bayimu anteng"
"Siap Bang" jawab Bang Khaja. "Eehh.. tunggu Bang, Ijin.. Abang barusan bilang apa??"
"Kamu nggak baca? test lab itu menunjukan kalau istrimu hamil muda" kata dokter senior menjelaskan.
__ADS_1
"Allahu Akbar.. Alhamdulillah.." Bang Khaja langsung bersujud syukur atas hadirnya si buah hati di rahim istrinya. Terbersit rasa sesal ia sempat kesal dengan perubahan sikap Naya.
...
Bang Khaja mengomeli dua puluh anak buahnya karena tidak bisa mendapatkan obat untuk Naya.
"Kamu keluar kota sekarang.. cari sampai dapat, saya yang tanggung jawab..!!" perintah terakhirnya dan Papa Ranggi menggeleng melihat kepanikan putranya.
"Duduk dulu, jangan pakai panik untuk mikir.. sementara obat dari dokter khan masih ada. Hanya untuk besok pagi saja yang tidak ada obatnya. Di dengar baik-baik perintah dokter. Kalau nanti malam Naya sadar, sudah aman" kata Papa Ranggi mengingatkan.
Papa Ranggi juga tau rasanya menjaga bumil, bagaimana dulu sulitnya sang istri mengandung buah hatinya terutama Langsang yang nyaris membuat nyawa Mama Hana melayang dan syukur saat mengandung Masayu.. Mama Hana tidak mengalami kendala apapun, hanya manjanya saja yang membuatnya pusing tujuh keliling bahkan membuat Papa Ranggi darah rendah.
∆∆∆
Naya tersadar dari pingsannya dan melihat wajah Bang Khaja cemas menatapnya. Bukannya trenyuh melihat Bang Khaja cemas, Naya malah jengkel setengah mati di buatnya.
"Naya nggak suka lihat Abang" ucapnya pertama kali.
"Ngalah le.. ngalah..!!" kata Opa Rico mengingatkan.
Bang Khaja pun mundur teratur karena Naya hanya ingin berdekatan dengan Mama Hana.
"Sayang lapar nggak? Mama suapi ya?" tanya Mama Hana.
"Iya ma"
Naya sampai menahan tangis, mungkin perutnya sangat lapar karena istrinya itu kini berbadan dua, tapi luka di bibirnya membuatnya sulit untuk makan.
"Sama Abang ya dek..!!" Bang Khaja mencoba mendekati Naya.
"Nggak" tolak Naya.
-_-_-_-_-
Malam pun tiba, Naya kembali tertidur meninggalkan perut berbunyi nyaring. Kini hati Bang Khaja sungguh sangat sakit. Perasaan sedih bercampur aduk dalam benaknya. Kini dirinya sungguh merasakan mengapa Papanya tak pernah mengomel saat Mama membuka suara dan Bang Farid yang seakan kehilangan taring di depan Kak Cherry, ternyata itu semua adalah resiko dari sebuah perjuangan panjang untuk mendapatkan sang buah hati.
Bang Khaja benar-benar menangis memikirkan Naya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi ajudannya.
:
Pelan-pelan Bang Khaja menyendok dan mengalirkan sedikit demi sedikit jus alpukat ke bibir Naya yang tidak terluka.
"Ayo sayang, habiskan.. biar perutmu kenyang. Nggak apa-apa kamu benci setengah mati lihat wajah Abang, yang penting anak kita dan kamu sehat..!!"
__ADS_1
Karena ketelatenan Bang Khaja akhirnya tiga perempat gelas sudah masuk ke perut Naya. "Alhamdulillah.. Abang minta maaf ya sayang.. Abang sempat kesal dan tidak peka dengan keadaanmu" Bang Khaja mengusap pipi Naya.
Merasakan ada yang menyentuhnya, Naya bangun dan melihat Bang Khaja duduk menatapnya. "Iihh.. Abang kenapa disini????" omel Naya.
"Ya sudah, Abang pergi. Kamu tidur ya..!!" Bang Khaja pun beralih pergi.
:
Malam semakin larut. Naya menangis karena tubuhnya tidak bisa bergerak, ingin berteriak tapi suaranya tak sampai, namun yang paling parah... dirinya sangat merindukan Bang Khaja.
Tepat saat itu, Bang Khaja masuk kamar rawat karena mengira Naya sudah tertidur. Ia pun berniat kembali menutup pintu tapi suara kecil Naya membuatnya terkejut.
"Bang.. Naya nggak bisa gerak"
Bang Khaja memastikan pendengarannya dan benar saja. Naya sudah keringat dingin merasakan tubuhnya.
"Ya Allah dek, nelangsa benar Abang lihat kamu begini. Cepat sehat ya..!!" Bang Khaja membantu Naya sedikit beralih posisi.
"Naya pengen dekat Abang, tapi nggak suka lihat Abang..!!" Naya sampai menangis di buatnya.
"Rasanya bagaimana.. bilang sama Abang..!!"
"Naya pengen muntah lihat Abang, tapi pengen di peluk Abang" ucapnya Naya begitu pilu.
"Ya Allah.. kenapa nggak aku saja yang mabuk dan susah payah. Aku lebih terima sekarat menggantikan Naya daripada Naya sampai sakit begini" gumam Bang Khaja akhirnya ikut menangisi Naya.
:
"Bagaimana Naya??" tanya Papa Ranggi.
"Tidur nyenyak Pa" jawab Bang Khaja terpaksa memakai masker wajah steril milik rumah sakit, paling tidak Naya tidak melihat wajahnya dengan jelas.
"Anak yang pintar, sudah say hello aja sama Papanya. Nanti Langsang bagaimana ya?" kata Papa Ranggi.
"Dia tunda punya momongan sampai kembali dari dinas luar Pa" jawab Bang Khaja menyesuaikan ucapan adiknya.
Papa Ranggi mengangguk. "Baguslah."
Sesaat kemudian perhatian Papa Ranggi teralihkan pada berita di group kerjanya.
.
.
__ADS_1
.
.