
Kelap kelip lampu 'diskotik' menjadi saksi hangatnya malam Bang Ranggi dan Hana. Malam ini Bang Ranggi sungguh melepaskan segala beban dalam hati, mulai rasa cemburu hingga sakit hatinya. Terkadang alurnya sedikit kasar namun saat mengingat Hana tengah mengandung buah hatinya, ia mengurangi ritmenya dan hingga pada puncaknya.. saat Hana juga nyaris lepas, ia mengimbangi Hana untuk menuntaskan segalanya hingga titik penghabisan entah sudah yang ke berapa kalinya.
"Sudah.. ini yang terakhir kok" ucap Bang Ranggi lembut karena ia tau betul Hana sudah sangat kelelahan meskipun semua itu juga karena ulah Hana sendiri.
"Terima kasih banyak sayangku" Bang Ranggi mengecup kening Hana.
"Hana capek sekali Bang"
"Iya.. Abang tau. Makanya jangan coba-coba goda Abang seperti tadi. Itu keterlaluan dek" tegur Bang Ranggi.
"Tapi Abang senang khan? Abang nggak kecewa sama Hana?" tanya Hana.
Bang Ranggi tersenyum.
"Abang sangat bahagia, nggak mungkin Abang kecewa" jawab Bang Ranggi kemudian membantu Hana untuk bangun tapi perut Hana terasa sedikit kram.
"Kita pulang saja ya..!!" ajak Bang Ranggi cemas karena ia sadari tadi sempat lepas kendali.
Hana mengangguk menurut, dirinya juga sudah merasa lelah.
***
Tak disangka pagi ini Danyon meneliti keadaan Batalyon serta renovasi gudang logistik yang sedang berjalan. Mata Danyon memicing ada bekas 'kerusuhan' di dalam gudang.
"Ada apa semalam?" tanya Danyon.
"Siap.. tidak tau" jawab para anggota.
"Ares.. tolong kamu selidiki tempat ini..!! Apa ada pihak luar yang dengan sengaja memakai tempat ini untuk kepentingan pribadi" perintah Danyon.
"Siap Abang" jawab Bang Ares yang sepertinya semalam sempat mendengar suara dentun kecil dari balik ponselnya saat menghubungi Ranggi.
"Ngomong-ngomong kemana Ranggi?" Danyon celingukan tak melihat sosok Ranggi disana.
"Ijin Bang, Ranggi tidak masuk karena sakit"
"Mabuk lagi dia??" Danyon memastikan.
"Siap.."
"Mau bagaimana lagi, saya dulu juga begitu." kata Danyon kemudian melenggang pergi.
//
Bang Ranggi duduk bersandar lemas di samping toilet rumahnya. Memang dirinya sedang benar-benar lemas hingga untuk merosot duduk saja seakan membutuhkan banyak tenaga.
Papa Rico melihat jam tangannya. Ia harus segera berangkat ke Aceh menggunakan pesawat militer tapi melihat putranya seperti 'antara hidup dan mati' akhirnya perasaan seorang ayah tidak tega juga.
"Setau ayah kalau sampai seperti ini berarti kamu sedang berulah. Apa kamu macam-macam di belakang Hana?" tanya Ayah Rico.
"Macam-macam apa sih yah? Istri sedang hamil nggak mungkin aku bertingkah" jawab Bang Ranggi.
"Kamu seperti kena tulah karena tingkahmu sendiri. Hayoo ngaku.. buat dosa apa kamu??" imbuh Opa Garin.
"Nggak ada Opaa" jawab Bang Ranggi memercing kesakitan.
Opa Garin dan Ayah Rico saling menatap, mereka pun tak tau apa yang terjadi pada Bang Ranggi.
__ADS_1
"Allahu Akbar.. kenapa ada sakit seperti ini???" kata Bang Ranggi mengeluh.
"Heehh.. jangan bilang begitu. Nanti kalau istrimu melahirkan, jangankan sakit seperti ini.. lihat Hana lemas saja kamu sudah nggak karuan. Sudah jangan mengeluh. Nikmati saja sakitnya, hitung-hitung kamu tanggung sakitnya Hana" Ayah Rico terus memberi semangat untuk Bang Ranggi.
Bang Ranggi terdiam sejenak, setelah ia mengingat kembali.. mabuknya yang parah selalu terjadi usai ia meng*auli Hana.
Masa iya aku nggak boleh begituan sama Hana. Terus kalau kangen harus bagaimana? Apa iya solo karir???.
"Ada yang kamu ingat?" tanya Opa Garin.
"Nggak ada Opa" jawab Bang Ranggi menutupi keadaan. Tidak mungkin dirinya mengumbar masalah kamar pada Opa dan ayahnya.
"Jadi bagaimana ini? Ayah bisa berangkat ke Aceh nggak? Ayah cemas malah Hana jadi mengurusmu yang mabuk tanpa sebab begini" tanya Ayah Rico.
"Tinggal saja, aku pasti bisa mengurus istriku yah" jawab Bang Ranggi.
Beberapa saat berselang. Bang Ares bertandang ke rumah Bang Ranggi.
~
"Sumpah aku nggak bawa perempuan lain ke gudang logistik"
"Tapi ada buktinya. Juga ada Bintara jaga yang melihatmu disana dan ada seorang perempuan berpakaian minim. Kamu menduakan Hana???" tanya Bang Ares keras. Dirinya sedang bertugas tapi juga tak terima karena Hana di duakan.
"Kamu main gila di belakang Hana????" bentak Ayah Rico.
"Kemana otakmu Ranggi. Kamu ini sejak dulu kalau tidak masalah berantem.. pasti masalah perempuan. Apa Hana saja masih kurang????????"
"Ya Allah.. aku harus bilang bagaimana lagi sih. Aku nggak selingkuh apalagi bawa perempuan.. yang semalam itu................."
buuugghhh.. baagghhhhh...
"Dengar dulu yah, perempuan itu Hh.................."
plaaaaakkk.. buugghhhhh...
"Kurang ajar..!! Sembur sana.. sembur sini" Ayah Rico kembali menghajar Bang Ranggi hingga akhirnya suami Hana itu berucap di balik sisa kesadarannya.
"Itu Hanaaa yaah." tak lama Bang Ranggi ambruk tak sadarkan diri.
"Haaahh.. Astagfirullah hal adzim"
Ayah Rico kelabakan, tak terkecuali dengan Bang Ares yang akhirnya ikut membantu Bang Ranggi untuk di tidurkan di sofa.
~
Oma Esa membalurkan minyak angin di badan Bang Ranggi.
Ayah Rico menggeleng gemas melihat banyaknya tanda cinta di tubuh Ranggi. Mulutnya ingin berkomentar tapi terpaksa terkunci sebab itu semua adalah urusan pribadi putranya.
"Makanya jadi laki jangan terlalu bandel, akhirnya di cubit kucing nakal khan?" ledek Opa Garin.
"Aku suka kucingnya Opa, nakal ngangenin" jawab Bang Ranggi menggigit kecil bibirnya dengan gaya tengilnya tak lupa alisnya naik turun padahal dirinya sedang kesakitan.
"Huusshh.." Oma Esa mencubit kecil perut cucunya.
"Bocah edan. Nggak ada malunya di depan Oma" tegur Ayah Rico.
__ADS_1
:
Hana yang tadinya baru pulang dari pasar akhirnya di dudukan berdua di hadapan Ayah Rico.
"Benar yah" jawab Hana.
"Ya Tuhanku.. sebenarnya apa mau kalian?? ini lingkungan terhormat, satu perwira.. satu lagi istri perwira. Kenapa membuat contoh yang buruk untuk anggotamu??????" tegur keras Ayah Rico.
"Ini salahku yah. Aku yang memberinya ijin" jawab Bang Ranggi masih bersandar lemas.
"Terutama kamu Ranggi. Bagaimana caramu mendidik istri?" suara Ayah Rico terdengar membahana.
"Siap salah yah. Hana ngidam, pengen ke diskotik. Makanya aku buat ruangan jadi seperti itu"
"Sampai akhirnya ada yang tau kamu disana dan menyangka kamu sedang serong dengan wanita lain???" bentak Ayah Rico.
"Ayah akan turunkan surat pencabutan jabatanmu sebagai perwira Intel. Kamu tidak pantas menyandang jabatan itu. Kamu terlalu ceroboh..!!!!!!"
"Siap..!!" jawab Bang Ranggi tidak melawan.
Hana berlutut menyentuh kaki Ayah mertuanya.
"Hana minta maaf yah, Hana yang salah. Kalau Hana nggak minta hal seperti itu.. pasti Abang nggak akan kena masalah"
Ayah Rico mengarahkan Hana agar duduk di sampingnya.
"Sudah ndhuk.. kamu jangan mikir macam-macam. Nggak ada yang perlu di persalahkan. Ini hanya bentuk teguran untuk suamimu dari berbagai sisi. Pertama dia melanggar kode tentara, kedua dia juga mencelakaimu." kata Ayah Rico.
"Tapi Hana penyebab semuanya yah"
"Ayah paham ndhuk. Tapi tetap ada yang tidak di benarkan disini. Sudahlah.. hukuman ini adalah makanan sehari-hari kami. Kamu tenang saja. Ayah hanya minta kamu jaga baik-baik cucu ayah ini" pesan Ayah Rico.
"Ares.. pangkas habis rambutnya dan suruh dia lari keliling lapangan membawa ransel dan senjata. Biarkan yang lain melihat.. ini sebagai hukuman dan penekanan bagi yang lain agar tidak ceroboh dalam mengambil keputusan..!!" perintah Ayah Rico pada Bang Ares. Ini pun perintah terakhirnya sebagai Komandan pusat di daerah itu.
"Siap..!!"
"Abaaaaang..!!!!!!" Hana berteriak histeris saat Bang Ares membawa suaminya. Ia meraih tangan Bang Ranggi dan menggenggamnya kuat.
"Sayang.. Abang hanya lari-lari saja. Abang janji tetap ganteng meskipun terbakar matahari" janji Bang Ranggi yang sudah siap menerima konsekuensi dari kecerobohannya.
"Nggak mau..!! Jangan pergi..!!" Hana terus saja merengek.
"Nanti sore beli sate ayam.. Mau nggak?? Oiya.. bunga Bank nanti sore juga cair. Banyak lho dek..!!" bujuk Bang Ranggi.
Tak berapa lama Hana melonggarkan genggaman tangannya.
"Cantiknya istri Abang.. sebentar ya, Abang mau nge gym dulu. Nanti Abang pulang, bunga nya sudah cair" kata Bang Ranggi.
Hana mengangguk, wajahnya pun perlahan tidak se melow tadi. Hati Bang Ranggi perlahan juga tenang.
Astagaa.. luluhnya hanya dengan bunga Bank.
.
.
.
__ADS_1
.