
"Aaawhhh.." Andin sampai sulit berdiri karena terkilir.
"Sini Abang bantu" suara Bang Langsang mulai melunak.
"Nggak usah. Ngomel aja terus..!!" nada suara Andin mulai meninggi.
"Maaf dek. Abang telepon Bang Farid deh buat minta ijin besok kamu nggak masuk"
"Nggak usah."
"Abang belikan martabak ya, kamu suka nggak"
"Nggak..!!" jawab Andin ketus.
Mati aku, kenapa horror begini kalau istri ngamuk, bisa batal adu kesaktian nih.
Bang Langsang menyambar tasnya lalu mengambil dompetnya. "Dek.. Abang baru dapat bonus dari proyek di luar. Ini kartu ATM proyek.. ini uang cash" Bang Langsang meletakkan uang dan kartu ATM di samping Andin lalu keluar dari kamar.
Andin hanya terdiam tapi tangannya menyambar kedua benda membahagiakan tersebut.
Saat kembali, Bang Langsang tersenyum geli karena ternyata ia sudah tau alat perang untuk membujuk sang istri jika sedang marah.
Mata Andin terbelalak karena ada uang cash sejumlah.....
"Bang.. uangnya kenapa kurang lima puluh ribu?? Ini hanya sembilan juta sembilan ratus lima puluh ribu"
Bang Langsang pun masuk ke dalam kamar membawakan sirup yang manis untuk sang istri. "Nanti Abang ganti. Kemarin Abang pakai jajan cilok sm es teh" jawab Bang Langsang sekarang lebih lembut.
"Tulis di kertas pakai materai. Uangnya kurang lima puluh ribu..!!"
"Alaah Gustii.. Neng geulis istri Abang yang cantik.. Galak bener dah pakai materai segala. Sebentar lagi Abang ambilkan gantinya" kata Bang Langsang.
"Nggak mau, harus genap sekarang..!!" pinta Andin sengaja membalas galaknya Bang Langsang tadi.
"Ya sudah, minta berapa kamu??"
"Satu kali gaji..!!" pinta Andin tak tanggung-tanggung berniat menyusahkan Bang Langsang.
"Oke.. Abang tanda tangan..!!" Bang Langsang mengambil materai dari dompetnya lalu berjongkok menempel materai lalu memberi tanda tangan disana.
Mata Andin melotot melihat dengan mudahnya Bang Langsang membubuhkan tanda tangan. Baginya satu kali gaji pun lumayan besar.
"Simpan kertas ini, Abang ambil uangnya dulu..!!" ucapnya sambil mengeluarkan beberapa buah kartu ATM. "Ini gaji, ini remun, ini tambahan dan yang kamu pegang itu kartu ATM proyek. Sekarang Abang pegang dua ya..!! Isinya kamu cek sendiri besok"
Andin masih ternganga melihat banyaknya kartu ATM yang ada. Rasa terkilirnya seakan hilang begitu saja.
"Untuk Mama.. sudah apa belum Bang?"
"Mama nggak akan pernah mau ambil dari anak-anaknya. Kata Mama, uang dari Papa sudah bisa di buat tidur" jawab Bang Langsang.
Andin terus memegang kartu ATM itu dengan beribu pemikiran.
__ADS_1
"Cepat di simpan, nanti hilang."
"Abang nggak merampok khan?" tanya Andin.
Bang Langsang tertawa mendengar pertanyaan Andin. "Merampok hatimu saja" jawabnya kemudian berlalu.
...
Mama Hana terus mengomel karena Bang Langsang membuat Andin terkilir. Papa Ranggi pun sampai tak bersuara dan hanya mendengar istrinya bicara. Memang benar karena ulah Bang Langsang, Andin harus di urut sampai berteriak tak karuan.
"Kamu ini.. tenagamu khan lebih besar. Kenapa main banting begitu???" entah keberapa kalinya Mama mengomeli Bang Langsang.
"Kamu juga Khaja, yang lembut kalau sama istri..!!" akhirnya Bang Khaja pun terkena imbasnya.
"Abang Khaja nggak pernah kasar kok ma" kata Naya menengahi itu.
"Andin beda ma, dia itu pasukan.. sudah biasa di tekuk" Bang Langsang masih saja menggoda mamanya.
"Mau pasukan atau tidak, perempuan tetap saja perempuan Lang. Kalau Andin lagi hamil gimana? Sanggup kamu mikirnya??" kini Papa Ranggi mulai membuang suara.
~
Tukang urut sudah pulang dan meninggalkan Andin yang masih meringis menahan sakit. Bang Langsang sempat melirik sekilas melihat punggung Andin merah lebam.
"Andin ijin ya Bang..!!" pinta Bang Langsang pada Abang iparnya.
"Ya sudah ijin saja. Biar istirahat dulu. Sepertinya istrimu juga capek sekali Lang" jawab Bang Farid sambil mengusap perut kak Cherry. Mata Bang Langsang dan Bang Khaja tiba-tiba menjadi iri melihatnya.
"Mau nggak dek?" Bang Khaja menyenggol lengan Naya dan membuat istrinya itu menunduk malu.
"Ya mau, kalau yang di ajakin duet juga mau." gerutu Bang Langsang.
"Ya sudah, cepat proses cucu Papa. Biar semakin ramai. Kalau bisa kalian ini punya anak perempuan dulu. Terutama kamu Lang, biar tingkahnya di rem sedikit" pinta Papa Ranggi.
Kak Cherry mendesis tak nyaman, agaknya hamil muda membuatnya selalu mual. "Pa, mau sate keong donk!!"
"Beli di mana ma, Papa nggak tau pedagang sate keong" jawab Bang Farid mulai waspada.
"Khaja sama Langsang aja yang cari di sawah. Nanti Opa Rico yang bersihkan, Opa Ranggi yang masak" kata Kak Cherry dengan entengnya.
"M****s.." Bang Khaja menepuk dahinya.
"Aseemm.. anak siapa ini, belum lahir aku sudah kena getahnya" gumam Bang Langsang.
"Alhamdulillah papanya nggak kena bagian" kata Bang Farid bernafas lega.
"Papanya pikul keranjang jual keong di asrama" jawab Kak Cherry.
"Walah dalaah.. tambah nemen" Bang Farid menggeleng pasrah mendengar permintaan sang istri.
...
__ADS_1
Mau tidak mau Bang Khaja dan Bang Langsang berburu keong di sawah demi keinginan keponakan yang masih ada dalam kandungan.
"Kalau Naya hamil ribet begini nggak ya?" tanya Bang Khaja.
"Sepertinya Naya kalem Bang, aku malah cemas si
Andin. Kalau sudah marah, galak betul dia" jawab Bang Langsang.
"Kak Cherry tuh kurang kalem bagaimana. Begitu hamil, galak juga dia. Bang Farid sampai nggak berkutik. Garangnya hilang" kata Bang Khaja.
"Bisa gitu ya Bang. Jangankan tegas, bersuara keras di depan kak Cherry saja nggak berani"
Bang Khaja dan Bang Langsang tertawa terbahak mengingat kelakuan Bang Farid yang kehilangan taring di hadapan Kak Cherry.
"Lanang broo.. Lanang..!!" Bang Langsang mengacungkan jari metal masih menertawai Bang Farid yang lemah di hadapan sang istri.
...
Bang Langsang dan Bang Khaja masing-masing memikul satu karung besar berisi keong sawah. Wajah mereka terlihat lelah tapi demi kakak perempuan, mereka rela melakukan apapun.
"Kasihan adik-adik Kakak. Capek ya?" Kak Cherry terdengar menyindir kedua perwira garang.
"It's oke lah kak. Asalkan keponakanku sehat" jawab Bang Langsang dan mendapatkan tambahan jempol dari Bang Khaja.
"Ngomong-ngomong kapan kalian nyusul punya baby?" tanya Kak Cherry.
"Masih di wirid in kak. Mamanya masih takut" jawab Bang Khaja.
"Hedeeehh.. baru mau nyolek sudah di depak kak" jawab Bang Langsang lebih terdengar mengenaskan.
"Lho.. masa sih Lang, setau kakak Andin kalem lho"
"Galak kak, aku omelin satu kalimat, dia ngomel satu bab" kata Bang Langsang.
"Kamunya saja yang kurang cekatan. Wanita lain bisa kamu taklukan dengan mulut buayamu. Masa satu Andin saja tidak bisa" ledek Papa Ranggi. "Intai, sergap.. selesaikan. Sanggup nggak?"
"Papa meragukan kemampuanku???"
"Nyatanya kau lambat sekali?" Papa Ranggi tak hentinya membakar hati putranya.
"Okee.. lihat saja Pa, pantang bagi Langsang menolak tantangan. Kubuat Andin bengkak sampai minta ampun" kata Bang Langsang.
"Huusshh.. mulutmu..!!" Papa Ranggi memelototi putranya yang asal bicara tanpa saringan.
.
.
.
.
__ADS_1