
Andin menggeliat lelah bangun dari tidurnya. Tulangnya terasa patah. Bang Langsang seakan tak membiarkan dirinya tidur nyenyak semalaman.
"Bangun dek, sholat dulu..!!" kata Bang Langsang.
Andin mencoba berdiri tapi perut bawahnya terasa begitu nyeri. Ia pun kembali duduk.
Bang Langsang pun sigap menggendong Andin ke kamar mandi. "Abang tunggu di luar..!!" Andin terdengar lebih manja pagi ini.
"Kenapa? Abang sudah tau semua rahasia besarmu" kata Bang Langsang.
"Iihh.. Abang nih" Andin memaksa menutup pintu kamar mandi.
Bang Langsang tertawa terbahak tapi tetap menunggu diluar pintu.
...
Dengan bertelanjang dada Bang Langsang selesai memasak nasi goreng untuk sarapan mereka berdua. Bang Langsang tau Andin terlihat sangat lelah. Jadi hari ini adalah waktu spesial untuk memanjakan sang istri meskipun ia mengesampingkan rasa lelahnya sendiri.
"Pakai baju Bang..!! Masa hanya pakai celana pendek??? Sudah jam berapa ini Bang???" tegur Andin dengan handuk masih terlilit di dada. Ia memilih duduk sejenak mengurangi rasa ngilu.
"Nanti kotor. Kalau mau berangkat saja Abang pakai. Lagipula sudah Abang siapkan juga sekalian sama pakaianmu" jawab Bang Langsang.
"Minimal pakai kaos dan celana panjang.. Awas saja kalau ada perempuan yang melirik" Andin bersungut kesal. Sejak semalam mulai terbersit rasa cemburu dan takut jika Mbak Indri akan menggoda suaminya. Wajahnya cemberut mengingat ulah genit Mbak Indri.
"Apa istri Abang mulai cemburu?" Bang Langsang berdiri di hadapan Andin.
Perut sixpack Bang Langsang membuat Andin menelan saliva dengan kasar.
"Mau yang mana? atas atau bawah?" tanya Bang Langsang.
Andin menggigit bibir bawahnya. "Eghm.. bawah" jawab Andin pelan.
Bang Langsang menunduk melihat ekspresi Andin dan akhirnya menahan tawa geli melihat ekspresi Andin menatap tubuhnya sampai tidak berkedip. "Heeehh.. Abang getok ya kepala mu. Abang tanya mau pakaian yang di atas atau di bawah?? Ini hari Jum'at, pakaianmu apa sayang???"
Andin tersenyum malu-malu kucing.
"Ada yang belum kapok ternyata..!!!" Bang Langsang tersenyum nakal dan menyeringai gemas. Ia membelai rambut Andin kemudian mengikatnya.
-_-_-_-_-
Bang Langsang tertidur dengan posisi pasrah saat DansatIntel memberikan arahan saat briefing pagi ini. Bagai pasukan kalah perang Bang Langsang tidak mendengar apapun bahkan teriakan keras dari seniornya.
"Haduuuuhh.. Langsang ini hidup atau mati??? Suara bass pun dia tidak dengar" kata Bang Wana yang akan pindah satuan tugas dan akan di gantikan oleh Bang Langsang saat kenaikan pangkat nanti.
"Langsaaaaang..!!!!!!!!!" teriak Bang Wana.
"Siaaap..!!" Bang Langsang terbangun dengan mata memerah, kepalanya pening, jantungnya berdegup kencang.
"Siap gundhulmu.. kamu sama sekali tidak siap?" tegur Bang Wana.
"Guling botol di lapangan.. biar kamu benar sadar..!!!!!!"
__ADS_1
"Siap komandan..!!!!"
:
"Bu.. ada air kelapa hijau nggak?" tanya Bang Khaja karena merasa sangat lelah pagi ini.
"Ada Pak, Pak Langsang juga baru saja minum." Bu Minah kemudian mengambilkan air kelapa hijau untuk Bang Khaja.
Tak lama Bang Langsang di papah kedua ajudannya duduk di teras belakang kantin Pak Sakih.
"Tumben Pak Langsang lemes begitu? Sakit Pak?" tanya Pak Sakih.
"Habis ngeronda pak, sekalian apel tertib" jawab Bang Langsang enteng.
"Waahh.. Pak Langsang ini rajin sekali" Pak Sakih menganggap jawaban Bang Langsang serius. "Pak Khaja ngeronda juga?"
"Nggak pak, saya sih dinas dalam"
Pak Sakih mengangguk paham dan mengacungkan jempol.
...
Sampai siang hari Andin masih sibuk dengan kegiatan lapangan. Karena Andin tentara wanita paling junior, sudah biasa dirinya ikut mondar-mandir mengerjakan ini dan itu bersama seniornya.
"Kamu bawa berkas ini ke gudang arsip ya Ndin..!!" pinta Mbak Sita.
"Iya Mbak" Andin pun berjalan membawa tumpukan berkas ke gudang Arsip.
~
Andin setengah berlari sampai akhirnya kakinya tersangkut ranting dan terjungkal.
Dari atas gedung Papa Ares tau perlakuan Indri pada Andin. Sudah terlalu sering Indri berbuat semena-mena tapi dalam kedinasan militer sudah ada penanganan masing-masing pada bagian anggota laki-laki dan perempuan. Papa Ares pun menghubungi seseorang.
Tepat saat itu Bang Huda datang. Ia segera menolong Andin. Bukan karena masih ada rasa, lebih tepatnya karena kemanusiaan.
"Ya Allah, kamu nggak lihat jalan atau bagaimana? ranting sebegini besar kenapa nggak tau??" tegur Bang Huda.
Andin berusaha berdiri tapi tubuhnya seakan tak kuat lagi. Bang Huda berinisiatif membawa Andin ke unit kesehatan kemudian menghubungi Bang Langsang.
~
"Ada apa?" jawab Bang Langsang malas.
"Jangan marah dulu. Sekarang kamu cepat ke unit kesehatan. Andin sakit."
~
Bang Langsang masuk ke dalam unit kesehatan. Benar saja, Andin sedang berbaring di sana.
"Istrimu nggak apa-apa. Hanya kecapekan aja" kata senior yang sudah tau keadaan Andin. "Ngomong-ngomong.. Andin nggak hamil khan Lang?" tanya senior.
__ADS_1
"Siap.. tidak Bang..!!"
"Markas akan kirim Andin dalam tugas pengamanan di wilayah timur" kata senior.
"Siap..!!" jawab Bang Langsang meskipun hatinya sama sekali tidak siap.
"Cek ur*ne ya, sebagai bukti kalau belum isi..!!" imbuh senior mengarahkan Bang Langsang.
"Siap.. silakan Bang..!!"
:
Bang Langsang membaca nama yang akan berangkat dalam pengamanan ini dan ternyata ada nama Lettu Huda, Sertu Indri, Serda Andin dan beberapa orang anggota. Bang Langsang pun melihat nama di ponselnya yang tentunya akan mengirim lebih banyak anggota, tapi setelah membacanya.. hatinya gundah dan kacau tak karuan karena malah nama Lettu Khaja yang tertera di sana.
"Cckk.. malah Khaja yang berangkat."
"Ada apa Bang??" tanya Andin.
"Nama Abang nggak ada dalam team pengamanan. Nanti Abang menghadap Danyon dan rolling dengan Khaja" jawab Bang Langsang. "Kalau di sana kamu sakit.. siapa yang mau merawatmu?? Huda????"
"Iihh Abang nih. Kalau Abang ikut juga mau apa?? dekat sama Mbak Indri???" balas Andin.
"Abang ini mikir kamu dek. Tugas pengamanan tidak bisa di tentukan lama atau tidaknya."
Bang Langsang pusing tujuh keliling. Hatinya tidak tenang.
-_-_-_-_-
Atas permintaan Bang Langsang akhirnya Bang Khaja ikut menghadap Danyon. Tentu saja dalam hal ini Bang Khaja juga di untungkan karena artinya dirinya akan lebih lama menemani Naya dan tidak mendapat tugas luar yang jauh.
"Baiklah kalau itu permintaanmu. Jadi deal ya.. Lettu Langsang yang berangkat.. Lettu Khaja pengamanan di tempat..!!"
"Siap laksanakan Komandan."
:
"Hhh.. bikin panik saja. Pengantin baru sudah mau di pisahkan" gerutu Bang Khaja.
"Aku juga tidak akan membiarkan Andin berduaan dengan Huda" jawab Bang Langsang.
"Lang.. disana kau tidak hanya memikirkan nyawamu.. tapi nyawa Andin juga. Aku harap Andin jangan hamil dulu." kata Bang Khaja.
"Aamiin.. mudah-mudahan nggak lah."
"Mulai sekarang kamu harus pintar mengatur dirimu sampai kamu kembali lagi dalam tugas" kata Bang Khaja.
"Iya Bang. Tenang saja"
.
.
__ADS_1
.
.