
Bualan Bang Ranggi sudah cukup membuat Hana tenang. Saat ini, Hana sudah bisa tidur.
"Pulangnya di tunda sampai besok ya, atau minimal keadaan Hana sedikit lebih stabil." kata senior Bang Ranggi.
"Siap Bang." jawab Bang Ranggi sesekali melirik jarum infus yang baru saja di tarik perawat dari punggung tangannya.
"Sebenarnya infusmu belum boleh di cabut. Kamu belum sehat, tubuh dan pikiran mu masih butuh rileks"
"Hana butuh saya Bang, saya sudah sehat" jawab Bang Ranggi.
"Jangan salahkan saya atau pihak rumah sakit kalau kamu sampai pingsan lagi atau sakitmu semakin parah" ancam Dokter senior.
"Siap.. mengerti"
...
Bang Ranggi bersandar seorang diri. Ia menghisap rokoknya di smoking area. Tak terasa air matanya menetes. Ingin menolak gundahnya hati, tapi bayang masa lalu Hana cukup menyiksa batinnya juga.
Ya Allah, kenapa rasa sakit ini tidak hilang juga. Kenapa hatiku sangat buruk tetap membayangkan kelakuan Hasdin pada Hana dulu, aku juga selalu mengingat saat Hasdin melecehkan istriku padahal aku sudah berjanji untuk melupakan semua. Apa rasa cemburuku ini terlalu berlebihan? Suami macam apa aku ini.
Disana Bang Ranggi tak menyadari Bang Ares sudah duduk di sampingnya. "Kenapa kamu simpan sakitmu sendiri?"
Mendengar itu Bang Ranggi segera menghapus air matanya dan mengurai senyum seolah tak terjadi apapun. "Aku sudah tidak sakit lagi" jawab Bang Ranggi mengalihkan topik pembicaraan.
"Kamu tau kondisi Hana. Dengan kamu tidak jujur dengan perasaanmu, kamu sudah menyakiti Hana. Tidak ada pria yang baik-baik saja jika mengalami hal sepertimu. Wajar kalau hatimu sakit"
"Nggak usah ngelantur" raut wajah Bang Ranggi mendadak berubah tajam.
"Adikku juga tidak akan kuat kalau menyadari suaminya memendam kekecewaan sebesar ini. Adikku itu tidak seperti wanita pada umumnya, mentalnya tidak normal. Kau akan lelah saat dia sering kambuh dalam depresinya. Banyak wanita yang bisa membuatmu bahagia, yang tentu saja sehat dan bukan seorang janda"
"Lalu apa maumu?? Aku meninggalkan Hana saat anakku baru saja menatap dunia?" Bang Ranggi terpancing emosi apalagi dirinya sedang tidak seberapa sehat.
"Aku tau kau sakit hati. Hana sudah rusak saat kau nikahi. Aku pasrah kalau kau ingin meninggalkannya. Mungkin saat ini hatimu pun masih mencintai Zahra" entah mengapa kata itu terlontar dari mulut Bang Ares.
__ADS_1
Bang Ranggi menarik kerah pakaian littingnya itu lalu menghajarnya habis-habisan. "B******n sekali kau Res. Kau sungguh ingin aku menghamili wanita lain di depan matamu????" bentak Bang Ranggi tak terkendali.
Saking emosinya, dada Bang Ranggi terasa penuh sesak. Tangannya beralih menghantam dinding kaca ruang smoking area, bagai orang kerasukan.. dinding tersebut sampai pecah berhamburan mengundang perhatian pengunjung rumah sakit tak terkecuali Ayah Rico dan Papa Yudha. Lelehan darah melukai tangannya. Bang Ranggi pun tak sanggup menahan tubuhnya.
"Ranggi.. lukamu..!!" Bang Ares mencoba menolong sahabatnya itu tapi Bang Ranggi menepisnya.
"Memang hatiku sakit, bahkan sampai saat ini masih terasa sangat sakit. Aku tidak butuh bantuan siapapun termasuk kamu, karena belum tentu kau akan mengerti perasaanku" bentak Bang Ranggi.
"Aku minta maaf..!!"
"Setelah niatmu untuk memisahkan aku dan Hana, sekarang kau minta maaf?? Aku sanggup menahan beban ini sendirian meskipun rasanya dunia ini runtuh menimpaku. Apa kau tau rasanya gagal menjadi suami?????"
"Ranggi..!!!! Tahan emosimu..!! Kenapa sampai ribut di area umum??" tegur Ayah Rico.
Bang Ranggi pun berjalan melenggang pergi tapi langkahnya begitu tak bertenaga hingga dirinya jatuh terperosok di anak tangga.
"Astagfirullah.. Ranggi..!!" Ayah Rico dan Papa Yudha menolongnya dan Bang Ranggi bersikeras menolak.
plaaakk..
Bahkan tamparan ringan dari Ayah Rico sudah membuatnya setengah sadar.
"Kau ini sungguh terlalu. Kalau sudah emosi tidak pernah takut langit dan bumi. Ya Allah Ranggiii"
:
Dokter memberikan suntikan penenang sampai akhirnya papa muda itu tertidur dan dokter bisa merawat lukanya.
Papa Yudha sampai harus membawa Ayah Rico keluar ruangan karena ikut stress melihat keadaan Ranggi yang berantakan sedangkan di dalam ruang penanganan sudah ada Bang Ares dan Bang Gazha yang menemani.
"Sebenarnya ada apa sampai kacau begini Res. Hana kambuh, Ranggi kalap"
"Semua salahku Bang" jawab Bang Ares penuh sesal. " Aku merasa Ranggi tidak menerima dengan ikhlas keadaan Hana. Sebagai kakak, aku hanya tidak ingin Ranggi menyakiti Hana karena penyesalannya sudah menikahi korban perkosaan dengan mental yang hancur, di tambah lagi cobaan berat usai pernikahan. Aku tidak mau Hana........." suara seorang Abang tercekat, tak sanggup membayangkan segala yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
"Itu hanya bayangmu saja. Kamu wajar berpikir dengan pikiranmu dan Ranggi wajar masih menyimpan sakit hati. Manusiawi rasa di antara kalian berdua. Abang tidak bermaksud membela, tapi saya ini Abangnya Ranggi.. Abang tau sifat dan karakter Ranggi, dia bukan pria yang seperti kamu ucap tadi"
"Aku takut dia masih menyimpan rasa untuk Zahra"
Bang Gazha tersenyum mendengarnya. Ia mendekap bahu Bang Ares menenangkan juniornya. "Ribuan Zahra tidak akan menggoyahkan hati dan iman Ranggi. Meskipun Zahra akan datang lagi. Dia tidak akan pernah kembali menjalin hubungan dengan Zahra. Adikmu itu sudah membuat Ranggi bertekuk lutut. Abang sendiri taruhannya..!!"
Bang Ares sampai menitikan air mata, tak ada hati seorang kakak yang baik-baik saja melihat adiknya terus menerus menghadapi cobaan.
...
Bang Ares membantu mengusap bibir Bang Ranggi. Efek obat penenang masih meninggalkan pening sampai berkali-kali sahabatnya itu masih mual.
"Aku bisa sendiri. Kau tidak perlu seperhatian ini" Bang Ranggi merebut tissue basah dari tangan Bang Ares.
"Aku terpaksa, kalau adikku tidak mencintaimu.. infusmu ini sudah kuberi racun" kata Bang Ares.
"Coba saja kalau berani..!!" ancam Bang Ranggi tapi masih membiarkan Bang Ares membenahi kancing bajunya yang terlepas saat pengecekan dokter barusan.
"Yang itu kamu benahi sendiri, aku malas kalau sampai nyenggol belut nggak berguna" sindir Bang Ares.
"Belut kau bilang?? Ini yang di namakan black mamba. Satu-satunya senjata perang menghadapi adikmu."
"Masih anakan saja kau banggakan. Hana pasti pikir panjang" tak hentinya Bang Ares meledek membuat sahabatnya itu kesal setengah mati.
"Waahh.. kurang ajar betul kau ya, sekali ku tebar bisa.. perut adikmu itu bengkak sembilan bulan" ucap Bang Ranggi penuh emosi. "Kau tak tau saja kelakuan adikmu di balik layar. Jangankan 'puasa', baru bersiap kusyuk saja dia sudah membuyarkan niat"
.
.
.
.
__ADS_1