
Bang Langsang sudah hampir menggampar Ayu tapi Bang Huda memasang badan dan memeluk Bang Langsang.
"Aku minta maaf, aku juga salah. Ampuni adikmu Lang, dia pasti juga nggak tau keadaan Andin."
"Matamu bisa lihat nggak Andin sampai seperti itu??" suara Bang Langsang masih meninggi berontak dari dekapan Bang Huda.
"Iya.. aku minta maaf"
Bang Khaja menarik Ayu menjauh dari Bang Langsang. "Mau mu apa dek?? Abangmu itu sedang stress berat karena Andin sedang tidak sehat dalam menjalani kehamilannya. Kamu malah cari perkara seperti ini. Kamu tau sendiri Bang Langsang kalau sudah marah.. kamu pun bisa di hajarnya. Nggak ingat kamu sama tragedi waktu itu??"
"Ayu nggak tau kalau kehamilan mbak Andin bermasalah" jawab Ayu sesenggukan.
"Karena ulahmu itu, Huda sampai ikut menanggung nya" bentak Bang Khaja.
Papa Ranggi menepuk punggung putra keduanya. "Duduk dulu le, redakan emosimu. Andin pasti baik-baik saja..!!"
:
"Memang sempat drop tapi sekarang sudah lebih baik dan sudah sadar" kata Bang Pratama.
"Kandungannya bagaimana Bang?" tanya Bang Langsang.
"Sementara tidak ada masalah meskipun masih lemah." kata Bang Pratama menjelaskan.
"Alhamdulillah..!!" Bang Langsang bersujud syukur kemudian mengusap wajahnya dan langsung masuk ke ruang tindakan tanpa kata apapun.
"Mohon maaf atas kelakuan cucu saya ya dok..!!" kata Opa Rico.
"Nggak apa-apa Pak, santai saja..!! Saya paham keadaan Kapten"
~
Bang Langsang masuk ke dalam kamar dengan hati gundah gulana. Andin memalingkan wajahnya sama sekali tidak ingin menatap wajah Bang Langsang.
"Kita bicara dulu dek. Biar Abang jelaskan..!!"
"Andin nggak mau dengar apapun Bang, belum cukupkah Abang menduakan Andin" pekik Andin.
Bang Langsang terpaksa mengarahkan wajah Andin agar menatapnya. "Dengar dek..!! Bagaimana masalah ini bisa selesai kalau kamu nggak mau dengar..!!"
"Menikahlah dengan wanita itu, ceraikan Andin sekarang juga..!!!!" Andin berteriak histeris, emosinya tak terkendali. Bang Langsang pun segera memeluknya.
"Kamu salah paham sayang, wanita itu Ayu. Dia sengaja bicara begitu untuk mengelabui Huda.. tapi malah kita yang kena imbasnya."
"Bohong.. Abang hanya menutupi kesalahan Abang saja..!!"
"Nggak dek.. sumpah..!!" Bang Langsang terus berusaha meyakinkan Andin.
Pintu kamar Andin terbuka. Terlihat Ayu masuk bersama Bang Huda di dampingi Papa Ranggi di belakangnya.
"Mau apa kamu kesini?? Belum puas kamu lihat Abang sama Mbak mu ribut????" hati Bang Langsang sudah tak karuan menahan rasa berantakan, pikirannya tak karuan.
Ayu menghampiri Andin, tapi Bang Langsang menghadangnya.
__ADS_1
"Pergi kamu..!! Jangan buat Andin semakin stress..!!!!!!" bentak Bang Langsang.
Melihat putranya sangat sulit untuk di redakan amarahnya, juga Andin yang tidak bisa untuk di tenangkan.. Papa Ranggi pun terpaksa angkat bicara.
"Andin.. maafkan Papa, tapi memang keributan ini adalah ulah Ayu. Papa sendiri yang menjamin kalau suamimu berkata benar." kata Papa Ranggi.
"Papa juga menjamin Langsang tidak pernah berbuat di luar batas" tiba-tiba saja Papa Rahman masuk ke dalam kamar rawat Andin dan ikut membantu menenangkan putrinya.
Papa Rahman mengambil alih Andin dari pelukan Bang Langsang. "Jangan mudah mendengar dan percaya berita hanya dari satu pihak. Kalau ternyata semua tidak sesuai dengan kenyataan.. kamu juga khan yang rugi sayang" kata Papa Rahman.
"Abang nggak sayang Andin Pa" jawab Andin.
"Nggak sayang bagaimana sih? Papa Lihat Langsang sayang sekali sama kamu. Setiap kamu sakit, nggak pernah dia mengabaikan kamu.. papa tau apapun yang kamu minta selalu di turuti"
Tak berapa lama ada suara pintu terbuka, Sumadi mengantarkan bucket pesanan Bang Langsang. "Ijin.. mengantarkan paket pesanan Pak Langsang"
"Oke.. terima kasih ya" Bang Langsang menerima paket dari Sumadi.
Andin memalingkan wajah seolah tidak peduli.
"Sayang.. ini bucket bunga Abang letakan dimana?" tanya Bang Langsang.
"Letakan di samping Andin" jawab Andin.
Papa Rahman dan Bang Langsang saling menatap sekilas.
"Bunganya indah lho" kata Papa Rahman membujuk.
Papa Rahman dan Bang Langsang kembali saling melempar pandangan tak paham dengan maksud Andin.
"Kalau nggak selembar, pasti kurang dua lembar jumlahnya" ucap Andin seolah tau betul isi bucket uang tersebut. Bucket uang berwarna campur melibatkan seluruh nominal pecahan rupiah di negeri ini.
Papa Rahman penasaran, beliau mengambil bucketnya. "Jumlahnya berapa Lang?"
"Lima belas juta lima ratus lima puluh lima ribu rupiah Pa" jawab Bang Langsang.
"Papa juga mau ikut hitung" Papa Ranggi pun ikut penasaran.
Papa Rahman dan Papa Ranggi mulai menghitung satu persatu jumlahnya karena keduanya memastikan ucapan bumil cantik.
"Oke fix" kata Papa Ranggi.
"Bener nih.." Papa Rahman juga sudah selesai menghitung nominalnya.
"Alhamdulillah.." Bang Langsang merasa lega.
"Benar-benar kurang" jawab Papa Ranggi.
"Yaaaa.. kok bisa Pa??" seketika Bang Langsang kecewa mendengarnya.
"Jumlahnya Lima belas juta lima ratus lima puluh tiga ribu rupiah. Kurang dua ribu" jawab Papa Ranggi"
Bang Langsang menepuk dahinya. Pasalnya saat mengirim uang tersebut, ia sudah menghitungnya berulang kali. Ia mengambil ponsel lalu menghubungi Sumadi. "Sumadi.. masuk sebentar..!!"
__ADS_1
~
"Kenapa nominalnya beda. Saya sudah beri kamu uang genap lima belas juta lima ratus lima puluh lima ribu rupiah. Bukan masalah nominalnya ya.. saya sih nggak masalah, tapi kalau urusannya sama bumil.. saya nggak sanggup" tegur Bang Langsang.
"Siap salah.. ijin.. uang dua ribu rupiah saya pakai parkir" jawab Bang Sumadi.
"Ya salam. Kalau begini saya yang kena sanksi. Lihat itu, ibu negara sudah melirik saya penuh ancaman. Kamu sih enak.. saya bisa di telan bulat-bulat. Perkara dua ribu rupiah di bilang nggak sayang istri" omel Bang Langsang.
"Siap salah."
"Saya khan sudah kasih kamu ongkos jalan untuk bawa uangnya ke tempat pembuatan bucket" Bang Langsang tak habis pikir dengan Sumadi yang akhirnya harus membuatnya pusing tujuh keliling.
"Siap salah.. ijin.. dari komandan tiga ratus ribu utuh. Kasihan tukang parkirnya cari uang kembali"
"Hadeeehh.. kamu ini. Ya sudah sana"
"Siap Dan"
...
"Jangan terlalu keras sama Langsang. Anakmu itu bertanggung jawab kok" kata Papa Rahman.
"Iya Bang, terkadang aku sering lupa kalau ternyata Langsang itu sudah dewasa, sudah menikah dan bahkan sudah mau punya anak. Sifat bengalnya itu keterlaluan sekali sampai aku nggak bisa lupa." jawab Papa Langsang sambil meminum kopinya.
"Sama Langsang saja kamu keras sekali. Bagaimana dengan Ayu??" tanya Papa Rahman.
"Itu lagi.. urakan sekali bikin kepalaku rasanya mau pecah"
//
Ayu gelisah sekali karena Mbak Andin belum mau bicara dengannya.
"Makanya kalau mau berulah itu pikir panjang dulu, jangan asal. Abangmu kalau sudah marah.. banaspati saja kalah" kata Bang Huda.
"Ayu mana tau kalau Mbak Andin ternyata selemah itu" jawab Ayu.
"Waahh.. belum tau rasanya hamil kamu ya.. Mau coba biar tau rasanya???" ucap Bang Huda sedikit lebih keras.
"Idiihh.. sama siapa?"
"Ya sama Mas Huda" jawab Bang Huda seenaknya.
"Ogah.. Ayu terlalu berharga" ucap Ayu dengan sombongnya.
"Kau kira Abang mau sama gadis sepertimu?? Sorry ya, peluru Abang juga berharga" pungkas Bang Huda tak kalah sombongnya.
.
.
.
.
__ADS_1