
"Sebenarnya Andin kenapa sampai seperti ini???" tegur keras Bang Khaja.
Bang Langsang masih bungkam, ia memastikan tubuh Andin masih baik-baik saja. Beberapa menit berlalu, Andin tak kunjung sadar, badannya mendadak demam tinggi membuatnya semakin panik.
"Lang..!!!!!"
"Aku nggak sengaja membentaknya Bang, Andin terus menuduhku punya selingkuhan" kata Bang Langsang.
"Teruss???"
Bang Langsang kembali terdiam, wajahnya pias ikut pucat pasi melihat keadaan Andin.
"Kamu pasti bicara yang tidak-tidak. Abang khan sudah bilang sama kamu Lang, bumilmu ini luar biasa.. jangan terpancing emosi. Kamu mau kehilangan anakmu lagi?? Bagaimana kalau dua-duanya yang hilang?????" bentak Bang Khaja. "Bodoh sekali kau ini. Kesalahan itu cukup hanya satu kali dan tidak untuk di ulang..!!!!"
Perasaan Bang Langsang semakin tidak tenang, ia mengguncang tubuh Andin. "Bangun dek.. Abang minta maaf..!!"
"Langsaang..!! Apa maumu?? anakmu bisa ikut kaget..!!" bentak Bang Khaja lagi.
"Bagaimana ini Bang?? Bagaimana anakku? Apa Andin baik-baik saja??" ucapnya dalam kepanikan.
"Tenangkan dulu pikiranmu..!! Apa panik mu bisa menyelesaikan masalah???"
Bang Langsang memijat pelan sela jemari Andin sampai akhirnya Andin terbangun.
"Alhamdulillah.." Bang Langsang berjongkok di samping Andin lalu membelai rambutnya yang selalu panjang sebatas bahu. Bang Langsang beralih menggenggam tangan Andin. "Apa yang sakit? Kita pulang nya dek?" suara Bang Langsang terdengar menjadi begitu lembut.
Andin menarik tangannya, ia memalingkan wajahnya tak ingin menatap wajah Bang Langsang lagi. Air matanya mengalir. "Pulangkan Andin ke rumah Papa..!!" pinta Andin.
"Kita bicara di rumah ya..!!" bujuk Bang Langsang.
"Andin mau pulang..!!"
"Mau pulang kemana dek?? Tempat kerjamu juga disini" Bang Langsang mulai cemas dengan keadaan Andin.
"Andin mau pulang..!! Pokoknya Andin mau pulaaang..!!!" Andin semakin berteriak sekuatnya sampai akhirnya kembali pingsan.
...
Papa Rahman menatap tajam ke arah Bang Langsang. Baru kali ini sorot mata itu begitu tajam menusuk. "Papa sudah berusaha sabar menerima sifat temperamen mu Langsang. Mungkin memang benar Andin bersikap keterlaluan, untuk soal itu Papa minta maaf. Tapi sampai membuat Andin seperti ini jelas sangat keterlaluan Lang. Istrimu ini hamil, ada hal-hal di luar inginnya yang kadang terlepas begitu saja. Andin hanya ingin manja meskipun sangat menyebalkan" tegur Papa Rahman.
"Iya Pa, saya salah"
Papa Ranggi tak tau lagi harus bagaimana menyembunyikan wajah malunya, beliau sampai harus kembali datang dari Maluku dan langsung menuju rumah sakit karena mendengar menantunya tak sadarkan diri karena ulah Langsang putra keduanya. "Mewakili Langsang.. saya minta maaf yang sebesar-besarnya Bang..!!"
"Sudahlah, ini urusan anak-anak. Jangan tersinggung kalau saya bereaksi berlebihan, dulu mendiang Mama Andin juga seperti ini. Sakit selama tujuh bulan masa kehamilan, badannya sangat kurus. Almarhumah begitu manja sampai saya ke kamar mandi pun ingin ikut, saya pun sempat kesal tapi hanya saya pendam saja dalam hati karena tau mungkin semua ini bukan inginnya dan benar saja.. mungkin itu tanda usianya tak lama lagi" kata Papa Rahman.
Bang Langsang terasa terpukul mendengarnya. Kakinya lemas, ditatapnya wajah sendu Andin. Memang selama ini dirinya kurang memperhatikan Andin karena kesibukannya yang padat dan ia tadi malah sempat membentak Andin karena Andin terus merengek karena tuduhannya yang tidak jelas.
"Jangankan Andin. Mamamu saja kadang masih suka mencemburui Papa. Itu sifat alami perempuan. Hanya sedikit berlebihan saja"
Bang Langsang mengusap perut Andin, ada rasa sesal dalam hatinya.
"Banyak sabar, banyak istighfar.. punya istri hamil rasanya luar biasa. Yang di bawa juga bayimu Lang, malah terkadang kita harus kuat puasa demi anak karena ibunya tidak kuat" kata Papa Rahman.
Bang Langsang mengangguk. "Iya Pa" memang itu yang sedang ia lakukan saat ini.
...
Bang Langsang sangat sedih karena Andin selalu menangis dan ingin menjauh saat berdekatan dengannya. Andin terus menolak kehadirannya.
Di sela rasa lelahnya yang luar biasa.. ia mengambil ponsel untuk menghubungi Sumadi karena Madya sudah ikut pindah tugas bersama Bang Huda. Hingga posisinya harus di gantikan Praka Kristian. "Sumadi.. tolong siapkan saya beberapa barang, dan jangan lupa.. minta Kristian untuk mengambil pesanan saya di toko langganan..!!"
"Siap Dan.. segera..!!" jawab Om Sumadi.
...
Andin menatap langit-langit kamar, matanya menerawang mencoba melupakan segala ucapan kasar Bang Langsang. Tak lama pintu kamar rawat Andin terbuka, banyak orang masuk membawa bunga ke kamar VVIP yang pastinya Bang Langsang siapkan khusus untuknya.
"Kenapa banyak bunga Pak? Siapa yang pesan?" tanya Andin dengan suara seraknya karena terlalu banyak menangis.
__ADS_1
"Permisi ibu, di kartu ucapannya tertulis pesan ini" kata pengantarnya bunga sambil menyerahkan kartu ucapan.
Abang bukannya sengaja mengucap kata yang melukai hatimu. Abang tau kata-kata tak akan bisa untuk di tarik kembali, air matamu sudah menjadi hukuman berat darimu. Untuk selanjutnya.. Abang berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Dari aku yang mencintaimu
Mas Ganteng mu.💋
Wajah Andin berubah kesal. "PeDe sekali mengungkapkan dirinya ganteng" gerutu Andin kemudian menyimpan kartu itu di bawah bantalnya.
Dari luar kamar, Bang Langsang mengucap syukur karena Andin menanggapi kiriman hadiahnya.
Tak lama banyak bucket uang masuk dan memenuhi kamar Andin. Andin melotot melihat sepuluh rangkaian bucket semakin menyesakan kamarnya. Salah satunya di berikan oleh petugas kurir langsung ke tangan Andin.
Masih dengan rasa kagetnya.. menyusul selanjutnya Bang Langsang masuk membawa gitar dan duduk di ranjang Andin. Jemarinya yang terlihat kaku memetik gitar dengan lentur. Ia memetik nada kalem dan sendu.
Notice me
Take my hand
Why are we
Strangers when
Our love is strong?
Why carry on without me?
Suara lembut itu baru saja Andin dengar langsung dan ia baru tau suaminya bisa bernyanyi dengan suara yang indah.
And every time I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby
And every time I see
You in my dreams
It's haunting me
I guess I need you baby
Nada demi nada ia dengar, merasuk dalam hatinya hingga tak tahan memendam air mata. Lama kelamaan air matanya jatuh juga.
I make-believe
That you are here
It's the only way
That I see clear
What have I done?
You seem to move on easy
Dengan tulus Bang Langsang menyanyikan kata demi kata ungkapan sesal di hatinya.
And every time I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby
__ADS_1
And every time I see
You in my dreams
You're haunting me
I guess I need you baby
I may have made it rain
Please forgive me
My weakness caused you pain
And this song's my sorry
At night I pray
That soon your face will fade away
And every time I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby
And every time I see
You in my dreams
You're haunting me
I guess I need you baby
"Abang minta maaf, Abang sudah berucap keterlaluan sama kamu. Kita baikan ya?" ucapnya usai menyelesaikan lagi. Bang Langsang menyodorkan kelingkingnya.
"Apa dengan semua ini bisa membuat Andin memaafkan Abang?? Abang lebih memilih berduaan dengan perempuan lain daripada menemani Andin..!!!" ucap Andin masih emosi tapi tangannya menyimpan bucket uang di bawah bantalnya.
"Itu bukan perempuan dek" kata Bang Langsang sambil terus memperhatikan tangan Andin yang sibuk menyimpan uang di samping ranjangnya.
"Lalu apa namanya?? Andin sudah lihat sendiri Bang..!!" Mata Andin sibuk melirik dan menghitung jumlah uang di bucket selanjutnya.
"Nanti dia kesini. Ketemu langsung sama kamu" jawab Bang Langsang merendahkan suaranya.
Andin menatap mata Bang Langsang. Mata Andin berkaca-kaca. Jantung Bang Langsang serasa mau lepas melihat reaksi Andin.
"Sumpah demi Allah, yang sama Abang tadi siang itu bukan perempuan. Abang nggak pernah kepikiran macam-macam" kata Bang Langsang.
"Uangnya di buket ini kurang sepuluh ribu Bang. Abang niat minta maaf nggak??" tanya Andin.
Secepatnya Bang Langsang mengambil ponselnya dan menghubungi Bang Kristian.
"Selamat Malam. Ijin Arahan Dan..!!"
"Bucket nomer empat kenapa kurang sepuluh ribu rupiah. Kenapa nggak kamu hitung ulang?? Saya sudah bilang ini misi berbahaya.. hati-hati..!!!!!" tegur Bang Langsang berbisik sembari memastikan ekspresi wajah Andin.
"Siap salah Dan."
"Kesini kamu..!!" perintah Bang Langsang.
.
.
.
.
__ADS_1