Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
32. Memang benar cinta.


__ADS_3

Sejak malam itu Bang Hasdin lebih banyak diam, berbeda dengan Citra yang selalu bertanya-tanya mengapa ibu PasiInt selalu ada bersama Cherry. Lama kelamaan hatinya sedikit terusik.


"Mohon ijin ibu, kenapa ibu tidak memilih beristirahat saja di rumah. Biar saya yang menjaga Cherry" kata Citra.


"Bu Citra keberatan kami ada disini? Padahal kami tidak keberatan Pak Hasdin dan ibu ada disini" jawab Bang Ranggi.


Tak lama seorang perawat datang membawakan makanan untuk Cherry. Makanan khusus yang sengaja Bang Ranggi pesankan putrinya.


"Waahh.. sarapan anak gadis Papa sudah datang nih. Sepertinya enak" senyum Bang Ranggi selalu mengembang jika berhadapan dengan si kecil Cherry yang sekarang sudah merasuk dalam diri dan menjadi bagian dari hidupnya.


"Anak?? Cherry anak Pak Ranggi??" tanya Citra seakan masih tidak percaya pendengarannya.


"Iya.. dia anak gadis saya. Ada masalah?" jawab Bang Ranggi kemudian sigap mengambil sarapan Cherry dan langsung menyuapi putrinya itu.


"Paa.. Cherry mau rumahnya Barbie." pinta Cherry merajuk manja pada Papa Ranggi.


"Cherry.. nggak boleh gitu aahh" tegur Hana karena mainan yang di inginkan Cherry harganya cukup menguras kantong.


Saat itu Bang Ranggi langsung menyenggol kaki Hana agar istrinya itu diam.


"Iya, nanti Papa belikan. Tapi Cherry harus makan yang banyak. Begitu keluar dari rumah sakit.. kita beli mainannya" kata Bang Ranggi.


"Janji Pa??" tanya Cherry dengan wajah riang.


"Janji donk.. Papa ini taat dan nggak pernah bohong sama perempuan." jawab Bang Ranggi cukup meyakinkan.


"Oke pa."


Perawat ikut tersenyum dan meninggalkan tempat bersamaan dengan Bang Ares yang datang ke ruang rawat Cherry.


"Apa kabar anaknya Daddy???" sapa Bang Ares.


Dinar pun berlari kecil memeluk keponakannya.


"Apa kabar sayang?" tanya Dinar.


"Cherry sehat sekali Dad.. bunda" jawab Cherry.


"Pintar.. makan apa nih sama Papa?" tanya Bang Ares yang melirik Bang Ranggi yang menyuapi dirinya sendiri.


"Heehh Jabrik.. kenapa sarapan Cherry kamu makan? Lapar??" tegur Bang Ares.

__ADS_1


"Nggak.. aku hanya mencicip saja. Rasanya lebih ke tawar. Mana mungkin anakku suka" jawab Bang Ranggi.


"Namanya juga makanan rumah sakit bro. Mau enak ya makan di warteg" celoteh Bang Ares.


Tak ada yang menyadari air mata Citra berlinang.


"Ijin Pak Ares, Ijin ibu" sapa Citra merasa tidak enak.


"Santai saja Bu Hasdin. Silakan duduk" Dinar tetap mengembangkan senyumnya.


Kini Citra mulai paham bahwa Cherry adalah putri semata wayang suaminya dan Ibu Hana yang kini sudah menjadi istri Letda Ranggi.


"Saya harap kita bisa sedikit melunak kan perasaan. Ada hati yang harus kita jaga.. utamanya mental Cherry." kata Bang Ares membuka suara.


Bang Ranggi dan Bang Hasdin masih terdiam tapi Bang Ranggi tetap berusaha menekan perasaan.


"Terserah kalian mau bilang apa. Cherry itu putriku meskipun tidak mengalir darahku. Dia hanya keajaiban dari Tuhan yang kutemukan karena jasamu" ucap Bang Ranggi.


"Cukup Ranggi.. jangan berdebat lagi. Ini di rumah sakit..!!" tegur Bang Ares.


Bang Ranggi langsung menarik tangan Hana dan mengajaknya keluar ruangan.


Hana melihat raut wajah Bang Ranggi begitu suntuk dan malas. Tak hentinya pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu terus menghisap rokoknya.


Hana menarik batang rokok yang masih ada di selipan jari suami tampannya itu.


"Apa diam seribu bahasa dan terus menghisap rokok akan membuat hati Abang tenang?" tanya Hana.


"Abang harus bagaimana? kenyataannya Cherry memang putri kandung si b******k itu" jawab Bang Ranggi.


"Tapi semua tentang Hana dan Cherry adalah milik Abang. Juga sayangnya Hana.. untuk Abang" jawab Hana lirih.


Seketika mood Bang Ranggi berubah. Wajahnya yang masam mendadak berubah cerah. Jiwa 'gatal'nya mulai merangkak ke permukaan.


"Oya??? Apa buktinya kalau sayang? Selama ini Abang yang ngejar kamu. Mana ada kamu usaha dekatin Abang" ucap Bang Ranggi sok jual mahal.


"Kita khan baru menikah tadi Bang. Masa Hana langsung nodong Abang?" jawab Hana menunduk takut.


"Kamu khan merayu suami sendiri. Bukan merayu suami orang. Sama suami sendiri kok jaga jarak" ledek Bang Ranggi dengan sengaja tapi tangan itu pun dengan sengaja merentang di belakang punggung Hana.


Luluh perlahan.. Hana bersandar di bahu Bang Ranggi. Rasanya begitu damai dan tenang berada dekat dengan Bang Ranggi.

__ADS_1


"Terima kasih banyak ya Bang, Abang bersedia mengangkat derajat wanita hina seperti Hana" ucap Hana.


Bang Ranggi sangat sakit hati mendengarnya. Bagaimana pun juga hanya dirinya yang tau bagaimana berharganya seorang Hana.


"Jangan katakan itu lagi..!! Apa gunanya kamu merendahkan dirimu sendiri. Kamu adalah pilihan Abang, yang akan menjadi ibu dari anak-anak Abang. Kamu Abang tinggikan bagai ratu dan tidak Abang rendahkan sebagai simpanan untuk Abang injak-injak. Sekali lagi Abang dengar kata itu, kamu akan dapat pelajaran berharga dari Abang..!!" tegur keras Bang Ranggi.


Hana mendongak menatap wajah tampan Bang Ranggi.


"Jika Hana meminta lebih.. apa Abang tidak marah?" tanya Hana.


"Memangnya kamu minta apa?"


"Jangan pernah ada wanita lain di hati Abang meskipun Hana tidak seindah wanita yang Abang bayangkan." pinta Hana. Helaan nafas Hana meremangkan bulu kuduk Bang Ranggi hingga tubuhnya menegang membuatnya begitu tergoda.


"Abang sudah sampai seperti ini mencintaimu, kalau Abang masih menginginkan perempuan lain.. untuk apa kamu Abang nikahi" kata Bang Ranggi.


Bang Ranggi mulai gelisah tak karuan. Seberapa kerasnya ia berusaha menahan diri tapi tetap saja ada naluri kelelakian yang tidak bisa ia tahan.. hanya saja ia harus menyadari, sang putri sedang sakit.


"Benar itu Bang?" tanya Hana.


Bang Ranggi menelan salivanya susah payah. Ia menoleh celingukan melihat ke sekeliling.


"Benar lah" jawabnya sambil kembali celingukan.


"Sini..!! Abang nyolek sedikit boleh khan?" tanpa menunggu jawaban Hana.. Bang Ranggi menyambar bibir manis istrinya itu. Hana berusaha menolak tapi usahanya itu seakan sia-sia tak mampu menolak tenaga Bang Ranggi.


Tanpa sengaja Bang Ares menghampiri mereka karena akan mengajak Dinar berbelanja kebutuhan bulanan.


"Astaga.. benar-benar nggak tau tempat dan waktu. Ini masih pagi" gumam pelan Bang Ares.


"Eheeem...!!" Bang Ares sengaja berdehem menyadarkan Ranggi dan Hana.


Seketika Bang Ranggi terlonjak dan menyambar rokoknya tersenyum salah tingkah. Ia masih merasakan bibirnya yang terasa manis strawberry sedangkan Hana duduk tak berani bergerak melihat Abangnya berkacak pinggang di hadapan mereka.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2