Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
65. Ternyata..


__ADS_3

Bang Ranggi mengarahkan Hana untuk bersandar padanya agar dirinya bisa setengah memeluk Hana. Tangan Bang Rahman mengusap perut Hana yang kini sudah jelas terlihat.


"Benarkah kalian sudah menikah?" Bang Rahman sedikit berbisik karena Hana baru saja tertidur dalam dekapan Bang Ranggi.


"Apa ada yang salah Bang?" tanya Bang Ranggi.


"Nggak ada. Abang hanya kepikiran sama Hana saja. Abang bingung. Kau yang membuatnya menolak Abang atau......"


"Yang saya dengar.. Abang meninggalkan dia sepihak" jawab Bang Ranggi.


"Abang nggak meninggalkan dia. Ibu yang menyampaikan kalau Hana tak menginginkan hubungan ini, juga akan menggugurkan kandungan jika Abang tidak mau memutuskan semuanya" kata Bang Rahman.


"Abang percaya?"


"Dalam keadaan seperti itu, kalau sudah menyangkut anak.. Abang tidak berani berbuat banyak. Banyak nyawa menjadi pertaruhan kalau Abang egois. Abang hanya bisa memantaunya sampai benar-benar kehilangan kontak karena saat itu Abang sedang dinas luar" ucap Bang Rahman masih terdengar penuh penyesalan.


Bang Ranggi tersenyum kecut. Ia tau betul semua itu pasti ulah ibu mertuanya.


"Yang sudah terjadi.. biarlah terjadi. Mungkin Tuhan memang tidak mengijinkan Abang bersama Hana. Kamu sudah tau Hana tidak sesempurna wanita di luar sana, tapi ingat Ranggi.. hanya raganya saja yang tergores.. tidak untuk dirinya.


"Siap.. saya paham Bang."


"Abang titip Hana dalam penjagaan mu. Dia adalah wanita yang membuat Abang tidak bisa melirik wanita lain hingga saat ini"


Bang Ranggi melirik kesal, itu berarti hingga detik ini hati Bang Rahman masih terpatri kuat hanya untuk Hana dan itu jelas membuat hatinya panas.


"Sudahlah.. Abang cukup tau diri dan tak akan berbuat macam-macam pada istrimu" kata Bang Rahman.


"Siap"


Bang Rahman terdiam, ia tertunduk merasakan pedih sama persis saat dirinya kehilangan Hana. Tidak ada yang bisa di salahkan dalam hal ini tapi jika ada yang harus di persalahkan.. jelas itu adalah dirinya sendiri yang kurang tegas tentang hubungannya dulu dan sekarang Hana sudah bahagia bersama pria lain dan pria itu begitu di segani di kalangan militer karena gaungnya terdengar hingga petinggi negeri di usianya yang masih terbilang sangat muda.


Tak lama Hana menggeliat karena badannya pegal, mungkin karena terlalu banyak menunduk.


"Abaaang.. pulang yuk..!!" ajak Hana.


"Sudah puas sama Bang Rahman?" tanya Bang Ranggi.


Hana mengangguk. Nampaknya memang Hana sudah puas mendapat usapan lembut dari Bang Rahman namun sangat membuat emosi bagi Bang Ranggi.


...


Hana kembali tertidur di dalam mobil, tak biasanya ia tidur dalam waktu yang cukup lama.


"Dek.. mau makan apa nih sayang? Sudah jam tiga nih, kamu belum makan lho" Bang Ranggi mengusap pipi Hana tapi betapa terkejutnya Bang Ranggi saat merasakan pipi Hana menghangat.


"Astagfirullah.. kamu demam dek???" Bang Ranggi menepikan mobilnya dan memeriksa kondisi Hana di bawah tulisan 'di larang berhenti'.


"Dek.. ayo buka mata, sejak kapan kamu nggak enak badan??" tanya Bang Ranggi cemas.

__ADS_1


Hana belum merespon sampai ada petugas kepolisian yang mengetuk kaca jendela Bang Ranggi.


Bang Ranggi pun membuka jendelanya.


"Mohon maaf Pak.. Bapak sudah melanggar, ada tanda di larang berhenti" tegur seorang polisi muda.


Bang Ranggi celingukan mencari tanda tersebut, ia sampai menepak kasar kemudi mobilnya.


"Baik pak, saya salah. Mana surat tilangnya" pinta Bang Ranggi.


"Cepat ya pak, istri saya sedang sakit"


Polisi tersebut melihat Hana seperti merintih di dalam mobil.


"Istri bapak sedang hamil?" tanya Polisi tersebut.


"Iya Pak, dalam perjalanan tiba-tiba saja demam" jawab Bang Ranggi.


"Apa jangan-jangan keguguran Pak?"


Mata Bang Ranggi menatapnya geram.


"Kerjakan saja tugasmu dan jangan merusuh rumah tangga orang lain..!!" ucap Bang Ranggi sedikit keras membentak.


"Maaf Pak, baik.. segera saya buatkan laporannya"


Hana semakin menggigil dan itu membuat Bang Ranggi cemas bukan main.


Bang Ranggi bersandar memejamkan matanya sejenak.


"Lailaha Illallah.. kamu ini demam karena pengen sate ayam???"


:


Usai membayar biaya tilang tadi, Bang Ranggi segara mengajak Hana membeli sate ayam. Kini tak tau lagi bagaimana dirinya harus menata hati, Ranggi junior begitu 'menggodanya'.


"Mau jadi apa kamu nak, kenapa buat papa kelabakan nggak karuan begini? Oke lah kamu boleh ajak main Papa, tapi anak baik nggak boleh buat Mama sakit." tangan itu terus mengusap perut Hana.


Beberapa saat berjalan ada rumah makan yang menjual sate. Bang Ranggi membuka kaca jendela mobil agar Hana bisa menghirup aroma asap pembakaran sate.


Benar saja, tak lama Hana menghirup aroma bakaran sate dan mengerjab.


"Lapar nggak?" tanya Bang Ranggi.


"Nggak juga"


"Ya sudah.. ayo makan dulu. Abang lapar..!!" ajak Bang Ranggi padahal ia tau betul Hana sudah kelaparan bukan main.


Hana mengangguk menurut.

__ADS_1


~


"Ini sate apa aja Bang?" mata Hana menyisir beberapa jenis sate di atas meja.


"Sate ayam, kambing, sapi, kelinci, kalkun, kuda dan ular. Kamu mau yang mana?" tanya Bang Ranggi.


"Sate ayam aja. Kenapa Abang pesan semua sate?" Hana tidak ingin terlalu memberatkan Bang Ranggi meskipun suaminya itu mampu.


"Abang takut si Terong Belanda pengen makan semua. Jadi Abang pesan semua" Jawab Bang Ranggi.


Senyum Hana merekah mendengar jawaban Bang Ranggi. Memang benar, mulutnya sedang ingin mencoba berbagai rasa.


"Bagaimana Abang tau Hana pengen coba semua?"


"Tau lah, Abang punya indera ke enam. Apalagi tadi Terong Belanda sudah minta ke Papanya untuk beli sate" jawab Bang Ranggi meyakinkan.


"Masa sih Bang??"


Bang Ranggi mengangguk serius.


"Kalau begitu Abang tau nggak kalau Hana pengen minum lemon tea?" tanya Hana.


"Tau lah"


"Hayooo, kalau Abang memang jago.. Hana pengen minum apa?"


Bang Ranggi menunduk menahan tawa sekuatnya, ia belaga berpikir keras padahal Hana sudah menyebutkan keinginannya.


"Ehhmm.. sepertinya lemon tea deh" Bang Ranggi semakin meyakinkan.


"Waaahh.." Hana bertepuk tangan saking girangnya.


"Ternyata tentara itu juga di ajarkan ilmu indera ke enam ya" pekik Hana terdengar bahagia.


"Jangan kamu sebar luaskan ya, takut Abang terkenal di Batalyon"


Hana mengangguk cepat.


"Iya Bang, Hana pasti tutup mulut.. nggak akan bilang kalau Abang dukun"


"Dukun c***l?? Ada saja lah kau ini" gumam Bang Ranggi pelan.


Sensasi punya istri kalem.. luar biasa. Abang pasti pertahankan kamu sampai titik penghabisan dek.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2