
Pakaian sudah berhamburan ke segala arah, Bang Ranggi sudah kesetanan tak karuan setengah mati menginginkan Hana. Posisinya sudah siap menghujam. Pemanasan untuk sang istri sudah lebih dari cukup dan si cantik sudah menuntut hal lebih. Dua telur bebek agaknya sudah bereaksi memberi energi di seluruh urat sendinya, tapi tiba-tiba terbersit ucapan Bang Joy.
Kepala Bang Ranggi rasanya mau pecah, celaka paling utama dirinya adalah 'lemah iman'. Itulah sebabnya saat ia dekat dengan para mantan kekasihnya dulu.. ia selalu membatasi diri karena ia paham betul kelemahan dirinya.
"Kenapa diam saja Bang?" tegur Hana karena sentuhan demi sentuhan membuatnya rindu, saat dirinya sudah merasa terbuai.. Bang Ranggi malah terdiam tanpa pergerakan.
Sadar.. sadaar.. sadaaar Ranggi.. ingat anak istri, jangan kalah sama nafsumu. Tuhan tolooong..!!!!!!.
Tidak hanya Hana yang menahan rasa, tubuhnya pun terasa keringat dingin menahan desiran gejolak batin yang ingin diselesaikan.
Tak lama ada panggilan telepon dari kantor. Bang Ares terlibat perkelahian di depan gapura masuk Batalyon. Terindikasi pria tersebut bernama Serka Herman. Ia mengangkat panggilan telepon itu.
"Saya kesana sekarang..!!" antara kesal dan syukur, ia bisa menghindar dari Hana. Perlahan ia beranjak dan menutup tubuh Hana dengan selimut.
"Ada apa Bang?" tanya Hana usai Bang Ranggi mengakhiri panggilan teleponnya.
"Nggak ada apa-apa. Abang mau ke kantor dulu ya, ada pekerjaan" alasan Bang Ranggi yang tidak ingin mengganggu Hana dengan masalah ini.
Bang Ranggi hendak mengecup bibir Hana, tapi Hana memalingkan wajahnya dan Bang Ranggi menyadari kerinduan istrinya yang tidak terbalas olehnya.
Maaf sayang, ini demi kebaikanmu juga anak kita. Percayalah tidak hanya kamu yang sedang berjuang menahan rindu.. Abang pun juga sedang menahan rindu.
"Abang pergi sebentar" pamitnya tetap mencium bingkai bibir Hana meskipun Hana lagi-lagi menolaknya. "I Love you Ma" bisiknya kemudian memungut pakaian yang tercecer.
:
Bang Ranggi memarkir motornya sembarang. Ia melihat Ares dan Herman sedang baku hantam.
"Kau memang tidak berguna, kau menikahkan Hana dan Hasdin tanpa sepengetahuan ku. Sekarang kau menikahkan Hana dan Ranggi juga tanpa sepengetahuan ku. Kau tak menganggap aku ini Abangmu lagi???" bentak Bang Herman. "Ceraikan dia..!! Lebih baik aku jual saja perempuan menyusahkan itu. Buat malu keluarga saja.. atau minimal suruh dia pergi jadi T*W agar menghasilkan uang"
"Langkahi dulu mayatku..!!" suara Bang Ranggi memekakan telinga. Beberapa orang anggota mengikuti langkah komandan muda itu, menghindari hal yang tidak diinginkan.
"Siapa kamu..!! Jangan ikut campur" teriak Bang Herman.
Seketika kepalan tangan Bang Ranggi melayang menghantam wajah Bang Herman hingga tersungkur dan terjerembab ke sela parit.
__ADS_1
"B******n..!! Siapa kau, beraninya menghantamku???"
Bang Ranggi berkacak pinggang berdiri di hadapan Bang Herman. "Baca nametag ini..!!"
Bang Herman pun beralih melihat nama dada yang di tunjuk Bang Ranggi. R. R. Tanuja. Kening Bang Herman mengeryit.
"Push up..!! Kau tidak mengenali siapa Komandanmu..!!" tegur keras Bang Ranggi.
"Saya mencari Lettu Ranggi" jawab Bang Herman.
"Ada apa mencariku?? Minta tiket ke neraka??" tanya Bang Ranggi.
Mendengar itu, Bang Herman segera berdiri dan berniat menghantam Bang Ranggi. Bang Ares yang tau bagaimana watak litingnya itu sebisa mungkin menengahi pertikaian tapi.. Bang Ranggi sudah lebih dulu menghajar Abangnya.
buugghhhhh..
Bang Herman kembali tersungkur, bibirnya berdarah terhampar paving jalan. "Ceraikan adikku..!! Aku tidak merestui hubungan kalian" kata Bang Herman.
"Buang saja impian gila mu..!!" ucap Bang Ranggi.
"Sudah cukup Bang, kasihan Hana. Dia sedang mengandung. Jangan tambah beban hidupnya lagi" pinta Bang Ares.
Hati Bang Ranggi tergores luka. Kini perasaannya sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah terhantam kuat. Rasa tidak ikhlas dan tidak terima membuat sikap protektif nya tersulut. "Katakan sekali lagi kalau kau berani..!!!!"
Beberapa anggota sudah memegangi kedua tangan komandan muda itu, tiga orang anggota agaknya masih belum cukup menenangkan amarah sang black mamba.
"Siapa kau berani mengaturku, dia adikku.. terserah aku..!!!!!! Mau ku atur seperti apa itu hak ku" bentak Bang Herman.
Bang Ranggi memberontak, ia berusaha lepas dari kekangan para anggota. Emosinya pun sedang tidak stabil. Begitu terlepas.. Bang Ranggi menghajar Herman habis-habisan dan tepat saat itu Danyon melihatnya.
"Ranggi..!!! Stop..!!!!!!!"
...
Dan Vian menahan tubuh Bang Ranggi yang sudah akan kembali menerjang Herman.
__ADS_1
"Tahan emosimu Ranggi. Jangan ribut dengan Matra lain..!!" kata Dan Vian mengingatkan.
"Saya tidak akan menghajarnya kalau mulutnya tidak asal terbuka..!!" Bang Ranggi tak peduli lagi dengan siapa dirinya bicara, yang ia tau tau hatinya panas meradang.
"Serka Herman, ada masalah apa anda datang ke Batalyon dan membuat keributan?" tegur Dan Vian.
"Saya ingin mengambil adik saya yang sudah di nikahi paksa oleh Letda Ranggi. Saya tidak menerima pernikahan ini"
"Pernikahan Letda Ranggi dan Hana adalah pernikahan yang sah di mata agama, negara, dan militer. Menikah juga dengan wali kakak kandung dan sepengetahuan perangkat Batalyon" jawab Dan Vian.
"Satu lagi..!! Saya akan menuntut Ranggi Tanuja karena dia dalang yang sudah membuat ibu saya di jebloskan ke dalam rumah sakit jiwa. Apa ada menantu sebiad*b Ranggi?????????" bentak Bang Herman.
Bang Ranggi semakin emosi, cengkeraman nya semakin kuat tak terkendali. Dan Vian yang biasanya mampu menangani keributan seperti ini sampai kewalahan menghadapi tenaga Bang Ranggi yang luar biasa.
"Duduk semua, kita bicara dengan kepala dingin" ajak Dan Ranggi.
"Tidak.. kalau dengan berkelahi bisa membayar segala keangkuhan dan kebodohan Ranggi Tanuja.. aku mau bicara baik-baik" teriak Bang Herman.
"Aah persetan.. gelud ya gelud..!!" Bang Ranggi menepis kasar lengan Dan Vian sampai terpelanting ke samping. Seketika itu, Bang Ranggi menghajar Herman tanpa ampun.
"Ajudaan..!! pisahkan mereka..!!!!!" perintah Dan Vian melihat Bang Ranggi semakin tak terkendali, di sana Letda Ares sudah pontang panting memisahkan tanpa hasil.
:
"Sudah Ranggi..!!! Kamu kesurupan????" bentak Dan Vian sembari menatap mata Bang Ranggi.
"Saya tau hatimu sakit. Biar hukum yang berbicara..!!"
"Hukum apa?? Terkadang hukum tajam ke atas dan tumpul ke bawah bagi yang punya jabatan, penjilat dan uang. Menurut Komandan, hukuman apa yang pantas untuk pria seperti dia???? Apa salah kalau saya membela istri? Hana tidak punya kekuatan selain saya?? Selepas menikah hanya saya sandaran hidupnya.. kedua Abangnya sudah memiliki kewajiban masing-masing dan kewajiban saya melindungi istri. Dimana salah saya????????" suara Bang Ranggi menggema kuat di seisi ruangan.
Dan Vian mengangsurkan minuman agar Ranggi lebih tenang. Disana Herman mengatur nafas, badannya sudah lebam merah mendapat hantaman bertubi dari adik iparnya yang sedang kalap.
.
.
__ADS_1
.
.