
Selepas Bang Ares pergi, Bang Ranggi hanya bisa menggerutu dengan geram. Kondisinya belum benar pulih dan masih menyisakan rasa penasaran.
"Maafin Hana ya Bang"
"Kamu nggak salah.. Abangmu saja yang keterlaluan, nggak tau moment penting" jawab Bang Ranggi masih kesal.
"Kita memang salah Bang, ini masih pagi sekali" kata Hana.
"Abang khan nggak minta macam-macam. Kenapa semua orang sensitif sekali" ucap Bang Ranggi dengan malas.
Hana hanya bisa menggeleng pelan dengan senyum lembutnya.
...
"Kenapa Hasdin belum kirimi ibu uang? Bilang sama Hasdin, kalau dia masih mau jadi menantu ibu.. dia harus kirim uang sekarang juga..!!!!!" bentak ibu.
"Sabar ya Bu..!! Nanti Hana bilang sama Abang. Lagi pula ibu khan sudah di transfer sejumlah tiga juta tiap bulan" kata Hana.
"Heeehh anak bodoh. Tiga juta itu tidak bisa jadi apa-apa di kampung. Bahkan ibu saja sekali beli baju sekali beli bisa lebih dari tujuh ratus ribu. Tiga juta hanya bisa untuk beli gorengan" tak hentinya ibu marah hingga memekakkan telinga.
"Tapi baju ibu saja sudah tiga lemari. Apa masih kurang??" tanya Hana.
"Siapa dek??" teguran Bang Ranggi yang tiba-tiba membuat Hana terkejut dan refleks mematikan panggilan telepon.
Hana berusaha tenang di balik kegugupannya.
Bang Ranggi tau Hana sedang menyembunyikan sesuatu tapi ia tidak mau gegabah menghadapi Hana agar istrinya itu tidak takut dengan ketegasannya.
"Bu_kan siapa-siapa Bang. Orang nyasar saja. Salah sambung" jawab Hana dengan sekilas senyum kemudian segera pergi ke kamar Cherry.
:
Hana tak sanggup lagi membendung perasaannya. Sejak pernikahan dirinya dengan Bang Hasdin berlangsung. Setiap dua minggu sekali ibunya selalu meminta uang pada Hana sedangkan dirinya tidak bekerja dan setelah dirinya menjanda.. Hana harus menguras uang tabungannya untuk memenuhi permintaan sang ibu.
Sebenarnya Bang Ranggi sudah memberinya dua buah kartu ATM sejak dirinya menjanda, tapi ia sama sekali tidak ingin menggunakan kartu ATM pemberian Bang Ranggi apalagi Bang Ranggi sudah memberi ibu uang di luar uang di dalam kartu ATM tersebut.
Semakin malam.. Bang Ranggi semakin curiga dengan sikap Hana. Sebagai seorang suami tentu saja hatinya merasa gundah melihat perubahan Hana. Melihat kamar yang sepi dan Cherry yang sudah tidur pulas, Bang Ranggi berusaha mencari celah untuk bicara berdua dengan Hana.
"Sebenarnya kamu kenapa? Abang ini suamimu..!! Cerita lah kalau memang ada yang mengganjal di hatimu..!!" pinta Bang Ranggi.
Hana yang tadinya sedang mengusap tangan Cherry kembali menunjukkan wajah pias.
__ADS_1
"Nggak ada apa-apa Bang" Jawab Hana tetap tidak ingin mengaku.
"Mengaku lah sebelum Abang menemukan sendiri fakta yang sedang kamu sembunyikan..!!" kini mata Bang Ranggi sudah menatap tajam wajah sendu Hana.
"Hana sudah jujur Bang. Sungguh tidak ada apa-apa" ucap Hana meskipun badannya terlihat gemetar.
Tak ingin suasana semakin memanas, Bang Ranggi melebarkan senyum dan mengusap bahu Hana.
//
"Ceraikan saja istri tidak berguna itu, hanya numpang makan, numpang hidup dan mau enaknya saja sama kamu. Wanita yang hanya membebanimu saja" kata ibu membentak Bang Ares.
Suasana belanja yang awalnya nyaman berubah menjadi panas. Semangat Dinar paham, ia merasa rendah diri berdampingan dengan Bang Ares yang memang bisa di bilang cukup mapan dalam hal keuangan.
"Ngomong apa sih Bu. Bicara itu yang baik-baik. Ibu sudah mau punya cucu. Ubah sedikit sifat ibu..!!" ucap Bang Ares
"Kamu ngajarin ibu???? Kalau saja ibu tidak melahirkan kamu.. istrimu yang tidak berguna itu tidak akan bisa menikmati hartamu. Tidak menikmati dirimu yang sudah tampan." bentak ibu.
"Kalau ibu sudah mengingatkan dia baik-baik tapi dia tidak mau dengar.. Biar ibu yang kesana mengatakan langsung sama perempuan itu..!!"
"Ibuuuu......!!!!!" belum sempat Bang Ares bicara.. Dinar sudah pingsan menabrak rak etalase di supermarket.
"Halah.. sudah penyakitan, menyusahkan juga" kata ibu kemudian mematikan sambungan teleponnya.
:
"Alhamdulillah nggak apa-apa pak. Biasa kalau ibu hamil sering lemas. Jangan banyak pikiran saja" kata dokter.
"Baiklah kalau begitu dok. terima kasih banyak. Saya memang panik sekali tadi" jawab Bang Ares mulai bisa tersenyum lega.
***
Siang hari Bang Ranggi ikut mengemasi barang Cherry di rumah sakit. Si kecilnya itu sudah menagih janji sang Papa untuk membelikannya rumah Barbie yang cantik.
"Ayo sekarang Pa berangkatnya..!!" pinta Cherry.
"Sebentar sayang..!! Ini masih mengemasi barang. Cherry anak pintar khan?"
"Iya Pa. Cherry tunggu Papa" kata Cherry.
Bang Ranggi pun tersenyum melihat keceriaan dan semangat putrinya.
__ADS_1
Tak lama ponsel Hana berdering nyaring tapi Hana segera mematikan panggilan teleponnya. Bang Ranggi hanya menoleh sekilas berpura-pura tidak peduli.
...
"Sepuluh juta rupiah pak..!!"
"Okee..!!" Bang Ranggi mengeluarkan kartu ATM dari dompetnya dan membayar harga mainan Cherry.
Hana sampai meneguk salivanya merasakan mainan yang terbilang cukup mahal itu.
"Bang.. itu mahal sekali..!!" bisik Hana.
"Ya nggak apa-apa. Ini khan untuk anak Abang, bukan untuk perempuan lain juga" kata Bang Ranggi.
"Tapi jangan berlebihan juga Bang"
"Abang itu kerja siang malam banting tulang.. badan remuk nggak di rasa ya untuk kamu sama Cherry. Sudah lah jangan meributkan masalah sepele seperti ini dek..!!" tegur Bang Ranggi.
Hana sampai tak bisa menjawab ucapan Bang Ranggi.
"Permisi pak, ini kartunya..!!" kata kasir.
"Iya.. terima kasih" jawab Bang Ranggi.
"Ayo sayang.. sekarang kita belanja untuk Mama sama dedek" ajak Bang Ranggi.
"Memangnya Mama mau punya adek Pa?" tanya Cherry polos.
"Ya kalau Cherry pintar.. mau belajar makan sendiri, nurut sama Mama, apalagi mau belajar bobok sendiri.. pasti sebentar lagi Cherry punya adek" jawab Bang Ranggi kemudian melirik Hana.
"Oke Pa.. Cherry bobok sendiri..!!" kata Cherry mantap.
Wajah Bang Ranggi seketika berubah tersenyum manis penuh aura kelicikan.
"Pintar...!! Adiknya Cherry pasti cepat datang"
.
.
.
__ADS_1
.