Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
34. Barang celaka.


__ADS_3

Hari ini Cherry meminta tidur di kamarnya sendiri karena kamar yang sudah di siapkan Papa Ranggi begitu cantik dan indah. Motif kelinci yang sedang berlarian membuat Cherry betah di kamar itu apalagi segala mainan semakin membuatnya nyaman.


"Benar nih Cherry mau tidur sendiri?" tanya Bang Ranggi meyakinkan.


"Benar pa, Cherry khan mau punya adik" jawab Cherry.


"Oke sayang.. adikmu pasti cepat datang kalau kakaknya pintar begini" kata Bang Ranggi memuji Cherry dengan wajah sumringah.


...


Malam tiba.


Hana usai menyuapi Cherry yang tidak sabar ingin segera main dalam kamar barunya. Bang Ranggi sangat bahagia melihat putri kecilnya bahagia.


"Cherry mau tidur dulu ya Pa. Papa nggak sedih khan nggak tidur sama Cherry?" tanya Cherry kecil.


Bang Ranggi memasang raut wajah kecewa.


"Papa takut ya? Nanti di temani Mama ya. Kalau Cherry khan sudah berani tidur sendiri" kata Cherry.


"Ya sudah deh. Papa di temani Mama aja tidurnya" jawab Bang Ranggi semakin memasang wajah kecewanya.


Cherry menepuk bahu Bang Ranggi.


"Papa juga harus belajar tidur sendiri. Papa khan sudah besar"


Bang Ranggi mengangguk menahan tawa gelinya.


"Tapi kalau Papa harus selalu di temani Mama. Soalnya nanti Papa harus gantian jaga Mama kalau ada adik kecil" ucap Bang Ranggi meyakinkan.


"Oiya ya. Papa harus jaga adik kecil. Ya sudah.. nggak apa-apa deh Papa tidur sama Mama" Cherry pun berlalu pergi masuk ke dalam kamar.


...


Satu jam kemudian Bang Ranggi masih duduk merokok sendirian di ruang belakang. Perasaannya campur aduk tak karuan memikirkan Hana.


"Belum tidur Bang?" sapa Hana.


Mendengar suara itu, Bang Ranggi refleks menoleh. Betapa terkejutnya Bang Ranggi melihat penampilan Hana yang begitu jauh berbeda. Dress satin berbalut kimono halus membuat mulut ternganga sampai asap rokok kembali tertelan olehnya.


"Astagfirullah.." Bang Ranggi celingukan melihat ke sekeliling. Takut ada orang di sekitarnya yang melihat mereka berdua.


"Pakaianmu kenapa begitu dek?? Bagaimana kalau ada yang lihat??" tegur Bang Ranggi.


"Yang lihat cuma Abang. Di sekeliling kita kebun. Mana ada orang yang lihat?" jawab Hana sambil meletakkan secangkir minuman di samping Bang Ranggi.

__ADS_1


Bang Ranggi meneguk salivanya merasakan denyut nadinya mulai tak beraturan.


"Kamu niat buat Abang jantungan?? Sexy sekali istri Abang" ucap jujur Bang Ranggi.


"Iyalah.. sekarang khan Hana sudah jadi istri Abang. Jadi nggak apa-apa donk Hana menyenangkan Abang" kata Hana.


"Bukan main.. istri sholehah. Kalau begini caranya.. Abang pilih nggak kerja, ada ilmu kebatinan yang harus Abang latih"


"Minum dulu itu Bang..!!" tegur Hana karena Bang Ranggi sama sekali tak melepas pandangan saat melihatnya.


Masih tanpa melihat cangkir tersebut, Bang Ranggi langsung meneguknya.


"Aawwh panas.. pahiit.. hhkkk" Bang Ranggi sudah kelabakan ingin memuntahkan minuman itu tapi Hana menahannya.


"Mau terong Belanda cepat launching nggak Bang?" tanya Hana pelan.


gleekk..


Akhirnya minuman tersebut masuk juga dalam kerongkongan Bang Ranggi.


"Ya Allah dek.. kenapa harus pakai seperti ini sih?? Kamu pikir Abang nggak kuat buat si Terong Belanda??" tegur Bang Ranggi karena ulah nakal Hana.


"Ya itu khan juga buat Abang biar lebih semangat" kata Hana dengan polosnya.


"Maaf Bang.. Hana pikir Abang suka" Hana mulai sedih karena melihat raut wajah Bang Ranggi.


"Sukaa.. tapi bukan saat pertama begini. Nanti lah ada saatnya. Ini karena ulahmu sendiri ya. Jangan salahkan Abang kalau kamu nggak nyaman nantinya" ucap tegas Bang Ranggi.


"Terus bagaimana donk Bang. Muntahkan..!!!" Hana sedikit mendorong tengkuk Bang Ranggi dan memijat nya meminta suaminya itu agar segera muntah.


"Iisshh.. nggak bisa. Muntahnya nggak sekarang..!!" Bang Ranggi menggapai tangan Hana dan menguncinya. Mata mereka saling bertatapan.


"Kamu nakal sekali sayang. Kalau minuman itu bereaksi.. kamu harus terima akibatnya"


Badan Bang Ranggi perlahan memanas. Tubuhnya perlahan juga mulai menegang, aroma parfum Hana menusuk hidungnya dan membuat pikirannya mulai berkelana.


"Kamu tau.. bukan barang celaka itu yang buat Abang semangat, tapi memang karena rasa sayang Abang sama kamu. Kamu yang buat hati Abang bergetar. Tidak ada suami yang tidak tergoda saat istrinya mengajak beribadah seperti ini"


"Jadi gimana Bang? Mau di terima atau di tolak?" tanya Hana berkedip-kedip manis sekali.


"Yo di tompo to yoo, kapan maneh gawe jenang dodol" jawab Bang Ranggi kemudian mengangkat tubuh langsing Hana.


Jerit kecil Hana semakin membangkitkan gairah kejantanan Bang Ranggi.


"Pelankan suaramu. Nanti Cherry bangun..!!" kata Bang Ranggi mengingatkan.

__ADS_1


"Hana takut jatuh"


"Nggak akan" Bang Ranggi secepatnya membawa Hana masuk ke dalam kamar.


:


Nafas Bang Ranggi terdengar memburu, ia tak peduli apapun lagi. Yang ada di pikirannya hanya Hana.. Hana.. dan Hana saja.


"Sekarang Abang donk yang pelan..!! Kalau ranjangnya berderit, nanti Cherry bangun" sekarang Hana yang mengingatkan Bang Ranggi.


"Ranjang b*****t.. nggak tau orang mau ritual. Besok Abang ganti lah ranjangnya. Jangan pakai ranjang inventaris begini" gerutu Bang Ranggi perlahan kembali pada posisinya tapi lagi-lagi ranjang itu berderit padahal dirinya sama sekali belum melakukan apapun pada Hana dan masih mengambil ancang-ancang saja.


"Abang jangan marah-marah. Nggak baik lho Bang mau ngajakin istri tapi emosi" kata Hana mulai bersungut.


"Ora emosi piye.. Gara-gara barang setan itu Abang sudah setengah mati nahan, eehh sekarang gara-gara ranjang yang ikut bersorak. Abang sudah nggak tahan dek" ucap jujur Bang Ranggi.


"Ya sudah, sekarang saja..!!" jawab Hana pelan.


"Jangan protes lagi ya..!!" ancam Bang Ranggi.


Hana pun mengangguk


#


"Hhgg Abaaang..!!" tangan Hana semakin erat memeluk pinggang Bang Ranggi.


Bang Ranggi semakin gemas melihat ekspresi wajah Hana. Perlahan tapi pasti.. ia memberikan pengalaman pertama untuk Hana. Tapi.. saat tiga perempat jalan usaha Bang Ranggi, tiba-tiba pintu kamar terbuka.


"Maaa.." sapa Cherry sambil mengucek mata.


"Haaahh.. Astagfirullah..!!!!!" Secepatnya Bang Ranggi mematikan lampu yang tadinya remang-remang menjadi gelap gulita. Tak lupa tangannya menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya dengan Hana.


Hana pun kaget dan ingin beranjak tapi Bang Ranggi berusaha menahannya.


"Diam dulu dek. Please.. Kamu nggak kasihan sama Abang..???"


Hana terdiam sejenak, ia menggigit bibirnya dengan resah apalagi Cherry semakin mendekat.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2