Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 13. Tugas.


__ADS_3

Bang Langsang membeli beberapa kebutuhan yang akan di bawanya saat berangkat bertugas. Andin membeli perlengkapan secara mendetail termasuk barang wanita dan pem**lut yang ia rasa cukup sedangkan Bang Langsang jatuh pada alat-alat pria.


Tiba saat membayar total belanjaan. Andin melihat banyak alat pengaman pria.


"Untuk apa barang sebanyak itu Bang?" tanya Andin. "Masa dalam tugas.. pikiran Abang masih berkelana kesana kemari???"


"Bukan begitu.. kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti. Apa salahnya mengamankan diri." jawab Bang Langsang. "Mau dalam tugas sekalipun, kita ini suami istri. Tidak ada yang bisa mengingkari hal itu"


Andin diam saja meskipun pemikiran Bang Langsang tidak sepaham dengan hatinya.


***


Hari yang ditentukan telah tiba. Bang Langsang melihat tanda palang di lengan Andin. Ia baru menyadari bahwa istrinya pernah mempelajari ilmu kesehatan.


"Apa saja barang di punggungmu itu? Kenapa lebih banyak dari barang Abang?" tanya Bang Langsang.


"Ini bentuk tasnya saja Bang, isinya tidak banyak." jawab Andin.


"Ya sudah ayo naikan ke atas truk..!! pesawat sudah menunggu" perintah Bang Langsang.


...


Andin memejamkan mata di atas pesawat. Perutnya terasa sedikit kram.


"Mabuk dek?" tanya Bang Langsang.


"Nggak Bang, tiba-tiba saja nggak kuat aroma pesawat. Bahan bakarnya terlalu kuat" jawab Andin.


"Huda.. tolong bantu aku bongkar parasut Andin..!! Aku mau terjun tandem" kata Bang Langsang.


"Kau gila?? Ini menjelang malam. Bagaimana kalau kamu tersangkut bersama Andin???"


"Aku pasti baik-baik saja" jawab Bang Langsang.


"Terserah mu lah" Bang Huda segera membantu Bang Langsang mengenakan alat terjunnya.


:


Duduk berdua di body paling ujung pesawat.. Bang Langsang memijat pelipis Andin.


"Apa jadinya kamu kalau Abang nggak ikut? Apa yang semalam buat kamu capek sekali?" tanya Bang Langsang.


"Nggak Bang, cuma lagi malas gerak saja. Bawaannya pengen tidur." jawab Andin sambil memejamkan mata.


"Itu capek dek. Ya sudah tidurlah, kamu aman sama Abang"


...


Parasut Bang Langsang mendarat dengan sempurna. Andin pun sudah tidak bermasalah dengan bau bahan bakar lagi. Mereka pun berjalan menyusuri hutan yang rimbun, dingin dan lembab.


"Aawwh.. kaki ku" pekik Indri.


Praka Kristian segera membantu Sertu Indri tapi Sertu Indri menolaknya. "Saya bisa sendiri."


"Terserah mbak, yang sakit juga kaki mu" jawab Praka Kristian jauh lebih santai berinteraksi dengan Sertu Indri.

__ADS_1


"Mas Kris.. aku heran saja. Kenapa Pak Langsang dekat sekali dengan Andin. Bukan kah seharusnya mereka memiliki batasan yang jelas. Malu di lihat anggota yang lain." kata Sertu Indri.


Praka Kristian hanya menggeleng dan tersenyum heran melihat Sertu Indri yang sepertinya cemburu dengan kedekatan Pak Langsang dan Andi. "Tanyakan sendiri Mbak" jawab Praka Kristian.


...


Hari sudah sore, matahari sudah hampir tenggelam.


"Kita berhenti disini saja untuk istirahat. Besok pagi kita lanjutkan perjalanan. Silakan kalau mau membersihkan diri, ibadah dan lain-lain" perintah Bang Langsang.


"Sekalian persiapan tenda darurat ya. Pastikan keamanan di sekeliling kita..!!" imbuh Bang Huda.


:


Sebenarnya Bang Langsang ingin lebih dekat dengan Andin, hanya saja ada batasan tertentu untuk tidak terlalu dekat dalam penugasan meskipun status mereka adalah suami istri.


"Bagaimana tenda kalian?" tanya Bang Langsang pada Indri dan Andin.


"Siap.. sudah aman Dan" jawab Andin lebih formal.


"Siap.. Aman Dan" Indri sedikit salah tingkah karena Bang Langsang masih perhatian dengannya.


"Kamu bawa minyak kayu putih khan dek. Abang minta..!!"


"Tumben Bang" Andin segera mengambilkan minyak kayu putih lalu menyodorkan pada Bang Langsang.


"Nggak tau dek. Mungkin kembung. Sepertinya ngopi enak nih" setelah menerima minyak kayu putih, Bang Langsang segera mengoleskan ke perutnya yang seperti tumpukan bata.


:


Bang Langsang dan Bang Huda merundingkan tentang taktik yang akan mereka gunakan esok hari. Dua cangkir kopi panas menemani malam mereka.


~


Karena masih mengingat status senior dan junior.. Andin segera berdiri dan membuat kopi. Perapian mereka pun tidak jauh dari tempat Bang Langsang berunding.


"Kamu minum kopi dek?" tegur Bang Langsang.


"Untuk Mbak Indri." jawab Andin.


Bang Langsang tak terlalu banyak menanggapi karena sudah biasa dalam militer ada hubungan senior dan junior. Asal tau aturan main, semua masih di perbolehkan hanya saja memang menurut Bang Langsang.. Indri sedikit usil.


Tau Bang Langsang tidak memberikan reaksi apapun, ia merasa perwira muda itu sedang membelanya.


"Kalau sudah bikin kopi, cepat istirahat. Kalau nggak biasa begadang kepalamu sakit" kata Bang Langsang mengingatkan.


"Siap Dan..!!"


***


Tengah malam Indri keluar dari tenda dan melihat Bang Langsang duduk sendirian, mungkin ikut bergantian jaga malam karena Bang Huda pun sudah terlelap tidur.


"Ada apa Indri?" sapa Bang Langsang.


"Ijin Dan, Mau ke sungai" jawab Indri.

__ADS_1


"Berani nggak?" tanya Bang Langsang.


"Ijin Dan, kalau bisa tolong di antar..!!"


"Ya sudah, ayo..!! Kamu jalan dulu..!!" Bang Langsang memberi jalan pada Indri.


Bang Langsang menginjak kaki Bang Huda dengan kuat karena kakinya hampir terkena perapian.


~


"Kamu nggak apa-apa??" tanya Bang Langsang karena tiba-tiba Indri jatuh terperosok.


"Ijin Dan, kaki saya sakit nggak bisa jalan." rengek Indri.


Bang Langsang sedikit mengangkat celana bawah Indri lalu sedikit mengurutnya. "Enakan nggak?"


"Ijin Dan, belum"


"Saya angkat kamu sampai tenda. Disini terlalu gelap" Bang Langsang segera membawa Indri ke tenda.


~


Andin menguap karena masih merasa mengantuk. Tak lama Bang Langsang datang dengan membawa Indri yang bersandar manja di bahu suaminya.


Andin masih berusaha berpikiran positif karena dalam satu team memang harus solid dan ia tau Bang Langsang menjaga tenda sementara yang lain sedang berpatroli di sekitar. Meskipun hatinya juga terbersit rasa kesal.


"Kris.. kamu urut kaki Indri" perintah Bang Langsang.


"Siap..!!"


"Ijin, kalau bisa Pak Langsang saja. Tadi sudah lumayan baikan" kata Indri.


Angin berhembus kencang menyadarkan Bang Langsang atas ketidak beresan yang terjadi di sana.


bruugghh..


"Andin.. Ya Allah..!!" Bang Huda kaget karena melihat Andin Tiba-tiba pingsan.


"Astagfirullah..!!" Bang Langsang pun setengah mati tak kalah kagetnya. Perhatian nya teralihkan pada Andin. Bang Langsang segera membawa Andin masuk ke dalam tendanya. "Kamu kenapa sayang??" Bang Langsang panik dan perlahan menidurkan Andin perlahan dan menyalakan lampu darurat kecil. Tapi saat lampu menyala, Bang Langsang dua kali terkejut karena Andin membuka matanya lebar-lebar.


"Enak gendong perempuan lain???" tanya Andin dengan suara amat sangat pelan sekali. Ternyata Andin sedang kesal dengan Bang Langsang.


Bang Langsang membuang nafas lega di antara cemasnya. "Kamu tau ini tempat apa? Bisa nggak kalau kamu nggak buat Abang cemas?"


"Sana urus Indri. Dia bahkan minta pijatan dari Lettu Langsang"


Perlahan Bang Langsang merebahkan diri di atas tubuh Andin kemudian mematikan lampu darurat. Ia mengatur nafas yang tak karuan. "Siap salah..!!"


Andin menggigit bahu Bang Langsang saking kesalnya. Bang Langsang hanya memercing menggigit bibirnya pasrah menghadapi jaguar wife's yang sedang marah.


Di luar sana para anggota yang masih terjaga hanya ternganga karena mereka mengira Lettu Langsang sedang berusaha menyadarkan Andin, tapi rata-rata dari mereka sudah tau status komandan mereka, kecuali.. Indri.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2