Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 39. Berakhirnya kisah.


__ADS_3

Opa Rico memilih menginap di puncak bersama keluarga untuk menenangkan diri.


#


Bang Langsang mencuci pakaian Andin di sisi belakang rumahnya.


"Ini pakaian Inay.. mana pakaian Angger?" tanya Bang Khaja.


"Ada di kursi tuh." kata Bang Langsang masih serius menyikat kain jarik Andin.


"Itu warna luntur atau......"


Bang Langsang tersenyum kecil. "Mundur kau.. ini perjuangan istriku"


"Astagfirullah.." Bang Khaja melompat naik ke atas kursi panjang antara takut dan geli karena mungkin tidak seharusnya dia melihat hal itu.


Tawa Bang Langsang pecah melihat wajah cemas Bang Khaja. "Kapan Naya pulang?" tanya Bang Langsang.


"Sudah di rumah sama Inay." jawab Bang Khaja. "Andin kapan?"


"Insya Allah besok. Andin lemas sekali. Pendarahan" akhirnya Bang Langsang tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.


"Sabar.. mudah-mudahan Andin cepat sehat."


"Iya Bang"


Ponsel Bang Khaja berbunyi. Bang Khaja segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum.. kamu dimana Khaja?" tanya Papa Ranggi.


"Wa'alaikumsalam.. Di rumah Langsang Pa. Ada apa?"


"Oma Alisa mencoba bunuh diri. Bantu Papa.. Cepat kalian ke rumah sakit..!!" perintah Papa Ranggi.


"Innalilahi.. Ya sudah Pa, aku sama Langsang kesana sekarang. Assalamu'alaikum" jawab Bang Khaja kemudian mematikan panggilan teleponnya.


"Ada apa Bang?" tanya Bang Langsang.


"Oma Alisa mencoba bunuh diri"

__ADS_1


"Astagaa.. masalah apalagi ini? Malas sekali aku Bang" jawab Bang Langsang.


"Nanti saja ngomelnya. Ayo cepat berangkat..!!" ajak Bang Khaja.


"Aku belum mandi"


"Mandi sekarang..!!!!"


-_-_-_-_-


Mau tidak mau Opa Rico menurut Oma Jihan untuk menemui Oma Alisa.


"Ayo Pa, sekali saja" bujuk Oma Jihan.


"Kamu ikut Ma..!!"


"Papa duluan. Alisa butuh Papa, bukan Mama." kata Oma Jihan.


Dengan langkah berat Opa Rico akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar rawat Oma Alisa.


Mama Jihan tersenyum di dalam sedihnya. Bang Langsang yang begitu ekstrim dalam setiap tindakan, menegur Oma Jihan dengan keras.


"Aku tau Oma ikhlas, tapi wanita punya batas ketahanan. Kalau Oma tidak sanggup.. kenapa memaksa??"


"Aku laki-laki Oma.........."


Papa Ranggi menarik lengan Bang Langsang agar tidak lagi melanjutkan ucapannya sebab situasi sedang tidak baik.


~


Di dalam kamar rawat Oma Alisa. Opa Rico hanya menatap wajah wanita yang lebih memiliki banyak gurat keriput daripada Jihan istrinya, mungkin karena beban yang di pikul Oma Alisa begitu berat.


"Kenapa kamu lakukan ini Alisa?"


Kelopak mata Oma Alisa perlahan terbuka. Ia melihat Opa Rico sedang menunggui dirinya.


"Aku tidak ingin mengganggu dan menjadi beban kalian lagi" kata Oma Alisa.


"Dengan berbuat seperti ini kamu malah membuat masalah di antara kami" ucap jujur Opa Rico.

__ADS_1


Tangis Oma Alisa tercekat. "Bolehkah aku menyentuh tanganmu Mas, mungkin untuk yang terakhir kalinya"


"Tidak.. jiwaku dan hatiku hanya untuk almarhumah Asya dan istriku Jihan"


"Apa tidak bisa Mas pertimbangkan karena aku sudah melahirkan anakmu?" tanya Oma Alisa.


"Aku tidak pernah memintanya Alisa. Anak-anak yang ada di hatiku hanya anak dari almarhumah Asya dan Jihanku saja"


Tangis Oma Alisa semakin deras. "Begitu berat mencintaimu Mas. Jika ada kehidupan yang akan datang.. aku akan meminta Tuhan untuk mendekatkan diriku denganmu"


"Tuhan sudah mempertemukan kita, tapi dalam kehidupan manapun.. aku menginginkan Jihan dan hanya Jihan"


Mendengar itu seakan Oma Alisa putus urat nadi. Hingga usianya penuh.. cinta Rico gak pernah ia dapatkan. Hatinya sakit. Oma Alisa mengejang.


"Alisa..!!"


Mata Oma Alisa masih membulat besar, wajahnya seakan menahan rasa sakit.


"Alisaaaa..!!" Opa Rico menggenggam tangan Alisa, ia menggoyang lengan Alisa. "Sadar Alisa.. kamu masih bisa mendengar suaraku??" tanya Opa Rico.


Oma Alisa menatap mata Opa Rico dengan lekat, Opa Rico pun menatapnya. "Apa aku harus mati dulu agar kamu mau menyentuhku Mas?"


Melihat Oma Alisa sudah begitu kesakitan, hati kecilnya tak tega. "Sudahi semuanya Alisa. Aku bukan milikmu, aku tidak pernah mencintaimu"


"Sekalipun ada anakmu mas?"


"Iya, karena dia bukan keinginan ku." jawab tegas Opa Rico.


Tangan Oma Alisa gemetar, pandangannya mulai kabur. "Baiklah Mas, terima kasih karena sudah memberiku pengalaman menjadi seorang ibu. Aku adalah ibu dari anak seorang pria yang aku cintai. Terima kasih banyak telah memberi kehormatan itu padaku. Dalam hidup, aku bukan wanita baik-baik tapi aku menjaga diriku hanya untukmu Mas. Kenangan ini akan kubawa sampai mati, saat kamu menatap mataku dengan lembut untuk pertama dan terakhir kalinya. Jika Mas berkenan, bolehkah do'akan aku.. agar jalanku lapang, jika tidak sebagai ibu dari anakmu.. do'akan ada ku sebagai sesama manusia"


Sisi kemanusiaan Opa Rico terketuk. Ia mengangguk, menggenggam tangan Alisa dan mulai melantunkan do'a. Do'a 'pengantar tidur' yang ia lantunkan, hanya dirinya saja dan Tuhan yang tau, sebagai rasa terima kasih sudah melahirkan keturunan nya meskipun ia tidak menginginkannya. Nafas Oma Alisa mulai redup tenggelam.


Opa Rico mengecup kening, pipi, hingga sekilas menyentuh bibir Alisa. "Terima kasih untuk kesetiaan mu untuk ku Alisa. Aku bukan pria yang baik untukmu. Aku pun akan mengingatmu sebagai bagian dalam hidupku" ucap Opa Rico.


Seulas senyum terbersit dari bibir Oma Alisa yang kemudian pergi menghadap Ilahi bertepatan dengan tumbangnya Oma Jihan yang menyaksikan segalanya tentang Opa Rico dan Oma Alisa.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2