Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
S 2. 40. Jadi bapak yang baik.


__ADS_3

Opa Rico terkejut ada suara ribut di luar ruang ICU, sekilas matanya melihat Langsang menggendong istrinya itu.


"Jihan???" Opa Rico segera beranjak keluar dari ruang ICU.


//


"Kenapa kamu membuat posisiku jadi serba salah? Berapa tahun kamu membohongiku??" Opa Rico menggenggam tangan Oma Jihan.


"Maaf Pa, tadinya Mama ingin Alisa menjadi pengganti diriku. Tapi ternyata Papa begitu teguh pendirian. Kenapa tidak Papa katakan kalau Papa ada hati dengannya"


"Jangan ngawur Ma"


"Mama sudah tidak segarang dulu yang selalu mencemburui Papa kemanapun Papa pergi" jawab Oma Jihan.


"Sampai sekarang pun kamu masih pencemburu. Aku mencium Alisa memang salahku, karena rasa terima kasihku untuk cintanya.. tapi yang kucintai hanya Jihan seorang"


"Gombal.." Oma Jihan tersenyum di balik wajahnya yang sayu.


"Jangan tinggalkan Papa Ma. Hari ini juga Papa akan membawamu berobat ke China" kata Opa Rico.


"Jika sudah takdirnya umur Mama hanya disini.. Mama sudah ikhlas"


"Papa yang belum ikhlas, bahkan tidak ikhlas" ucap Opa Rico yang baru mengetahui ternyata selama ini istrinya mengidap penyakit berbahaya.. leukimia.


"Pesawatnya akan segera berangkat Pa, kamu ikut..!! Aku sudah ijin dinas" kata Papa Ranggi.


"Maaf kami tidak bisa mengantar, Naya dan Andin baru saja melahirkan" Bang Khaja ikut menanggapi para sesepuh keluarna.


"Aman.. kalian jaga istri baik-baik. Jangan sampai ada masalah berarti...!!" pesan Papa Ranggi.


"Iya Pa, kami mengerti" jawab Bang Langsang.


...


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un.. benarkah Bang??"


"Masa Abang bohong..!! Oma Alisa meninggal."

__ADS_1


"Semoga tenang ya Bang, Andin takut kejadian seperti ini terulang lagi sama keluarga kita" jawab Andin.


"Apa Bang nggak akan biarkan itu terjadi. Abang akan memantau dan menjaga anak-anak kita"


***


Beberapa hari telah berlalu.


Bang Khaja dan Bang Langsang menggendong bayi mereka di halaman depan rumah. Naya sudah bisa beraktivitas dan sehat seperti biasa, hanya Andin saja yang masih tahap pemulihan. Sesekali Andin duduk jika nyeri pada perutnya kembali terasa.


"Sini Abang bantu..!!" Bang Langsang menghampiri Andin. Ia membantu Andin berjalan sambil menggendong baby Angger.


Andin berusaha keras untuk berjalan. Keringat bercucuran di keningnya.


"Obatnya kamu minum nggak dek?" tanya Bang Langsang.


"Diminum Bang, ini sudah lebih baik.. tapi masih merasa sakit"


" 'Itu' sudah berhenti apa belum?" tanya Bang Langsang lagi.


Kening Bang Langsang berkerut. Seharusnya Andin sudah tidak pendarahan lagi. Mungkin benar masih ada tapi tidak sederas seperti kemarin.


Andin meraba perutnya, ada rembesan darah disana. "Bang.. perut Andin kok berdarah ya?" Andin menunjukan telapak tangannya yang basah pada Bang Langsang.


"Eghm.." seketika Bang Langsang nyeri dan pusing melihatnya, badannya sampai lemas. "Jahitannya lepas??"


"Nggak tau Bang, tapi nyeri" kata Andin.


Bang Langsang segera membawa Andin berjalan perlahan masuk ke dalam kamar lalu mendudukkan istrinya di ranjang, tak lupa Bang Langsang menidurkan si kecil Angger di box bayi.


"Sini Abang periksa"


Bang Langsang menaikan pakaian Andin dan benar saja.. jahitan Andin berdarah dan luka. "Astagfirullah.. kita ke rumah sakit saja ya..!! jahitannya lepas"


:


Karena mempertimbangkan banyak hal, akhirnya dokter Pratama mengalah datang ke rumah dinas Bang Langsang bersama beberapa orang petugas kesehatan.

__ADS_1


Bang Langsang kembali melihat proses penanganan Andin. Sela lambungnya ngilu merasakan Andin harus mendapatkan jahitan ulang dengan bius lokal dan pastinya akan terasa menyakitkan jika efeknya telah habis nanti.


"Tenang Bang, ini nggak sakit" kata Andin.


"Iya sekarang nggak sakit, setelah itu Abang yang kamu omeli karena kesakitan"


"Andin jadi sakit juga karena ulah Abang. Masa Andin ngomelnya ke Bang Khaja..!!" jawab Andin.


"Iyaa.. terserah mu lah" Bang Langsang mengalah, ia tau pengorbanan seorang wanita begitu mahal harganya.


***


Tengah malam Bang Langsang menggendong baby Angger dan membiarkan Andin menikmati waktu tidurnya. Ada rasa takjub saat menggendong bayinya. Berasal dari benihnya dan tumbuh sehat di rahim Andin dengan berbagai perkara dan huru hara kini bayi mungil itu berada di dalam pelukannya.


"Heehh pembuat onar, ayo gelud..!!" ajak Bang Langsang.


Si kecil Angger menggeliat seolah paham ucapan papanya.


"Kita main di ruang tengah saja, jangan ganggu Mama" ajak Bang Langsang. Beberapa hari ini dirinya sungguh menikmati peran sebagai seorang ayah.


"Kapan ya Abang sekolah TK. Papa pengen lihat Abang sekolah" kata Bang Langsang sembari menempelkan hidungnya yang memang mancung ke hidung baby Angger yang seperti hidung mamanya. "Heehh... kamu anak Papa, kenapa hidungmu seperti Mama?? Enak saja.. Papa yang kerja keras, nafas mau putus tapi hidungmu seperti Mama"


Seketika Angger mencebik seakan tidak terima penghinaan terhadap Mamanya.


"Eehh.. uusshh.. uusshh.. Jangan nangis nak, Angger ganteng kok..!!" barulah Angger diam setelah mendengar suara itu.


"Hwwuuuu.. kelakuan mamanya banget..!!"


Kali ini Angger tidak bisa menerimanya, ia benar-benar menangis kencang. Bang Langsang kelabakan, lalu tangannya menggapai botol susu milik Angger. "Astagaaaaa.. apa mulai sekarang aku harus berhadapan dengan bodyguard Mama Andin dulu???? Kenapa aku mencetak musuhku sendiri??" gerutunya gemas.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2