Batalyon Cinta Mas Tentara

Batalyon Cinta Mas Tentara
41. Hidup adalah pilihan.


__ADS_3

Bang Ranggi sudah sedikit lebih baik setelah kurang lebih tiga puluh menit menunggu reaksi obat yang di telannya.


Kedua perwira muda itu segera keluar dari ruangan dokter Astari namun saat keluar dari ruangan, ia melihat beberapa orang berlarian masuk ke wilayah ruang VIP tempat Hana di rawat.


"Ono opo yo bro?" tanya Bang Ranggi.


"Nggak tau, tapi di blok VIP hanya ada tiga kamar dan dua kamar sedang kosong" jawab Bang Ares.


Kedua pria itu saling menatap.


"Hanaaa..!!!!!"


"Dinaar..!!!!!"


:


Mata Bang Ranggi melotot, ia kaget setengah mati melihat Hana kejang dengan wajah baru saja tertutup bantal, seorang perawat juga sedang membantu nya. Tak berbeda jauh dengan Bang Ares yang membantu Dinar, istri Ares itu tersungkur di lantai dan memegangi perutnya.


"Hanaa.. sayang, apa yang sakit dek??" air mata Bang Ranggi menetes melihat Hana begitu kesakitan.


Bang Ares pun sampai histeris mengangkat Dinar untuk duduk di sofa. Perawat satu lagi pun sigap menolong Dinar.


"Kuperingatkan kau untuk terakhir kalinya Res, kalau kau tidak bisa menangani ibumu dengan suka rela.. aku sendiri yang akan menangani nya. Adikmu, istrimu.. anak kita akan jadi korban kelakuan ibumu. Kau pilih satu korban saja atau akan ada lima korban setelah ini????" bentak Bang Ranggi.


Sungguh Bang Ares ingin mati, ia tau apapun tindakan nya tidak akan benar. Ia seorang anak laki-laki bagi ibunya, juga seorang suami bagi Dinar.


"Kalau kau pilih melawan ibu, kamu akan jadi anak durhaka Ares..!!!!!" teriak ibunya dalam penanganan beberapa perawat dan pihak keamanan rumah sakit.


Dengan hati teramat berat, ada luka dalam hatinya. Tapi saat melihat wajah Dinar dan Hana.. hatinya pun ikut sakit.


"Tolong bawa ibu saya ke rumah sakit jiwa.. saya sendiri yang akan bertanggung jawab..!!!" ucap tegas Bang Ares tanpa menatap ibunya lagi.


"Areeeess..!!!!!! Terkutuk kau..!!!!!!" pekik ibunya tidak terima.


"Bawa sekarang jugaaaa..!!!!!!!" perintah Bang Ares.


Para perawat membawa ibu Bang Ares dengan paksa dan terpaksa mengikatnya karena ibu terus memberontak.


Bang Ares luluh lantah bersimpuh di kaki Dinar, ia menangisi hidupnya. Dinar pun ikut menangis merasakan kesedihan Bang Ares.


"Ibuu.. ibuuu..!!" ucap Hana terbata-bata, air matanya berlinang saat menyadari sang ibu sedang di amankan.


"Maafin Abang ya dek. Maaf.. Abang nggak bermaksud menyakitimu" Bang Ranggi duduk menunduk mencium tangan Hana kemudian mencium perut Hana yang masih datar.


-_-_-_-_-

__ADS_1


Senior Bang Ranggi dan Bang Ares sampai menggeleng melihat 'adiknya' itu mengalami hal pelik seperti ini sampai rumah sakit menjadi ribut.


"Untung saja istri kalian baik-baik saja..!!!" tegur keras senior.


"Siap salah Abang"


"Siap salah"


"Kamu tau khan Ranggi.. kehamilan istrimu penuh resiko"


"Siap Abang" mata Bang Ranggi berkaca-kaca.


"Tadinya hanya ada satu nyawa yang harus kamu pikirkan.. sekarang ada dua" kata senior.


"Siap" jawab Bang Ranggi meskipun hatinya tidak siap.


...


plaaaaakkk.. buuugghhh.. plaaaaakkk.. buuugghhh..


Bang Ranggi kalap menghajar Bang Hasdin Luka yang kemarin ia terima belumlah kering tapi kini ia harus mendapatkan colekan cinta lagi dari Bang Ranggi.


"Sudah Dan.. dia sudah tidak kuat..!!" Bang Richi menarik kedua lengan Bang Ranggi.


"Dia mati pun.. itu urusan saya. Pergi kamu dari sini..!!!!!" bentak Bang Ranggi kesetanan.


Perlahan jemari Bang Ranggi merenggang. terbayang kembali tangis pilu Hana.


"Astagfirullah hal adzim" Bang Ranggi mengusap dadanya.


"Keluarlah.. saya baik-baik saja. Saya ingin bicara empat mata dengan Hasdin.


~


Secara jantan.. Bang Ranggi meminta penyelesaian masalah secara terbuka dan hanya mereka berdua di dalam ruangan interogasi.


"Kenapa kamu lakukan perbuatan setan seperti itu?? Apa salah Hana???????" Bang Ranggi membentak Bang Hasdin dengan kuat.


"Aku mencintainya, benar-benar mencintainya. Sungguh aku melakukan pernikahan itu karena aku ingin Cherry bahagia, terutama Hana." jawab Bang Hasdin.


"Dengan menghancurkan mentalnya? Menyakiti fisiknya kau bilang cinta????" Bang Ranggi semakin emosi mendengar pengakuan Bang Hasdin.


"Memintanya baik-baik pun dia tidak mau" air mata Bang Hasdin mulai menggenang.


"Saat ibu memintaku memberinya uang tiga puluh juta, aku memberinya. Aku hanya berharap bisa berjumpa dengan Hana. Aku masih mencintainya"

__ADS_1


"Kamu hampir membunuh calon bayi dalam kandungan Hana" ucap Bang Ranggi.


"Aku benar-benar tidak tau kalau Hana sedang mengandung"


"Lalu kenapa kamu mengakui benih yang sedang ada dalam rahim Hana adalah anakmu, kamu tau khan siapa bapaknya????" hampir saja Bang Ranggi kembali lepas kontrol.


"Karena dia lebih memilihmu yang berpangkat, daripada aku yang tidak terlihat di antara barisan para pria berkedudukan tinggi" jawab Bang Hasdin.


"Kau memuakan Hasdin. Cinta tidak memandang harta, tahta dan kasta kita sebagai pria. Jika dia nyaman denganmu, tidak mungkin dia akan lari darimu..."


Belum selesai pembicaraan mereka, Citra menerobos masuk ke ruang interogasi. Citra begitu histeris melihat keadaan Bang Hasdin. Suaminya itu penuh luka. Citra yang sedang membawa perut besarnya seketika itu menampar pipi Bang Ranggi ia terus memukul meluapkan emosinya, tak terima suaminya itu masuk dalam proses peradilan tahanan militer.


"Kamu laki-laki paling kurang ajar. Kenapa kamu menyiksa suamiku sampai seperti ini??? Dia sudah merelakan Hana dan Cherry kesayangannya untukmu laki-laki b****b. Belum puaskah kamu sampai harus menjebloskan suamiku dalam tahanan???" Citra berteriak tak karuan. Bang Hasdin mencoba menenangkan istrinya yang terus memikul Bang Ranggi.


Suami Hana itu tak melawan dan hanya diam saat Citra menghajarnya.


"Kamu yang tenang dek. Ingat anak kita..!!" kata Bang Hasdin membujuk Citra.


"Ayo kita pulang Bang. Nanti Citra bilang sama Papa"


"Kamu bisa tenang nggak??? Apa seumur hidup kita terus dalam pengawasan papamu??? Abang juga punya harga diri dek..!!" bentak Bang Hasdin.


Seketika Citra terdiam, hantinya terasa ngilu.. untuk pertama kali ia mendapat bentakan dari Bang Hasdin.


"Kau lihat Pak Ranggi yang terhormat, suamiku sampai mendekam dalam tahanan karena dia masih menyimpan rasa pada istrimu. Lebih baik kau jaga istrimu agar tidak menggoda suamiku lagi." ucap Citra, tangan Bang Ranggi mulai mengepal. Ia bisa menerima hinaan untuk dirinya, tapi ia tidak bisa mendengar Hana di perlakukan tidak adil.


"Kenapa?? Bapak marah?? Makanya jadi laki-laki harus pintar menyenangkan istri juga biar istrimu tidak mencari kehangatan di luar" cibir Citra yang sedang kesal.


"B******n.. mulut sampah..!!!!!!!" bentak Bang Ranggi terdengar sangat kuat hingga para anggota POM dan ajudan Bang Ranggi bisa mendengar nya dengan jelas.


braaaakkkk...


Kaki Bang Ranggi menendang kursi hingga terpental dan pecah. Setitik air matanya lolos dari pelupuk mata elangnya. Perasaannya kembali terpukul.


"Dengar baik-baik anak komandan tinggi. Suamimu ini melecehkan istri saya.. dan saya tidak bisa menerimanya. Sekarang kau sudah tau alasan saya menjebloskan suamimu ke dalam tahanan. Kau bisa pilih.. saya tuntut pemecatan untuk Hasdin.. atau dia tetap disini tapi... tubuhnya kuremukan. Ingat Citra.. seperti apapun aku membalas, Hana ku tetap merasa sakit. Lukanya tidak bisa sembuh seumur hidup. Dengan apa kalian bisa mengganti??. Asal kau tau ya.. dia belum saya binasakan hanya karena dia bapaknya Cherry." Bang Ranggi melepas seragam luarnya lalu membantingnya kasar. Luapan di hatinya ia lontarkan seluruhnya.


"Sabar Dan..!! urusan kita ini, jangan melibatkan Citra.. dia sedang hamil"


"Okee, Saya lepas pangkat ini Hasdin. Memangnya istrimu saja yang sedang hamil. Kita selesaikan secara jantan. Kamu baru merasa tidak tega karena istrimu sedang hamil. Sekarang saya disini untuk Hana. Saya suaminya.. bisa apa kamu??????" Bang Ranggi semakin emosi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2