
Bang Ranggi ternganga masuk ke kamar rawat Hana.
"Masya Allah.. Abang nggak salah lihat Neng?" Bang Ranggi begitu takjub, untuk pertama kali dirinya melihat Hana menggunakan pashmina.
Hana tersenyum malu hingga pipinya memerah dan baru kali ini juga Bang Ranggi salah tingkah di hadapan istrinya sendiri. Jangankan untuk memandang. Menyentuh tangan sang istri pun tak berani.
"Ada apa kalian ini? Aneh sekali" tegur Ayah Rico.
Bang Ranggi menunduk menyembunyikan pandangannya. Seisi ruangan ikut tersenyum geli melihat tingkah Bang Ranggi dan Hana. Ternyata ide Oma Esa untuk membolak-balikan hati cucu dan cucu menantunya memang jitu apalagi make up natural dari Mama Jihan semakin membuat Bang Ranggi mati kutu.
"Sepertinya kurang menarik. Bukan style nya Hana" Opa Garin memasang tampang seolah tidak suka.
"Iya Pa" Ayah Rico ikut memasang ekspresi tidak setuju.
"Jangan Yah, sudah begitu saja. Cantik" jawab Bang Ranggi semakin lirih.
"Kalau cantik tuh di sayang to istrinya. Bukan di plengosi" kata Ayah Rico.
Entah kenapa saat itu tangan Bang Ranggi begitu dingin, Hana pun gugup seperti temanten anyar yang baru saja di pertemukan. Bang Gazha dan Bang Ares sampai terbahak melihat pemandangan langka itu.
"Waahh.. kalau cantiknya seperti ini sih Rahman bisa jatuh cinta sama Hana. Hati-hati kamu Ranggi" kata Bang Gazha.
"Cckk.. apa sih Bang" Bang Ranggi melirik Abangnya dengan tatapan tidak bersahabat. Ia pun kemudian mencuri pandang menatap Hana.
Astagfirullah.. kenapa denyut jantungku tidak bisa di atur begini? Hana istriku sendiri tapi.. rasanya aku seperti melihat bidadari baru turun dari langit.
"Apa kamu tidak mau membantu Hana turun dari ranjang dan hanya meliriknya saja?" tegur Ayah Rico membuat Bang Ranggi semakin salah tingkah.
Mendengar teguran ayahnya Bang Ranggi mengangkat tubuh Hana karena tidak ingin istrinya bergesekan dengan ranjang. Tangan Bang Ranggi sedingin es begitu juga dengan Hana yang begitu terasa di belakang tengkuk Bang Ranggi. Tak sengaja pandangan mereka berdua saling bertatapan. Bang Ranggi yang gugup seketika mendudukkan Hana kembali.
"Aawwh.. sakit Abang" protes Hana.
"Oohh.. Maaf dek. Abang nggak sengaja" jawab Bang Ranggi merasa bersalah.
"Apa Opa saja yang turunkan Hana? Begini juga Opa masih kuat" kata Opa Garin.
"Nggak Opa, saya bisa" secepatnya Bang Ranggi menurunkan Hana dari ranjang.
Tanpa sadar wajah mereka terasa begitu dekat. "Ayunee.." gumam Bang Ranggi.
"Nanti saja memuji Hana, Khaja sudah protes belum di gendong Papanya" Ayah Rico menyerahkan baby Khaja pada Papanya.
Pandangan Bang Ranggi pun beralih pada bayinya. Makhluk kecil ciptaan Tuhan dari benihnya sendiri tapi semua itu tak mengurangi rasa sayangnya pada putrinya Cherry.
__ADS_1
"Pa, Cherry mau adik perempuan" celetuk ringan gadis kecil kesayangan Papa Ranggi.
"Laahh.. Papa bisanya buat adik cowok. Gimana donk" jawab Bang Ranggi secara halus menandakan dirinya tidak ingin lagi menambah momongan. Melihat Hana melahirkan sudah cukup memberi sensasi tersendiri baginya.
Seketika Cherry cemberut mendapat penolakan dari Papanya.
"Nanti adiknya Papa Gazha perempuan" kata Bang Ranggi mengalihkan masalah pada Abangnya.
Bang Gazha tersenyum tapi kemudian berbisik di dekat telinga Bang Ranggi. "Bersiaplah di amuk Cherry. Baby ku juga jagoan"
"Lahdalah.. m****s..!!"
"Sudahlah, kamu buat lagi. Nggak apa-apa kok. Sakitnya Hana hanya sebentar. Nanti juga malah dia yang nagih" kata Bang Gazha.
"Benar itu Ranggi. Dinar saja begitu sembuh sakitnya langsung ngajak duet" jawab Bang Ares memberi semangat.
"Naahh.. melahirkan itu hanya masuk ruangan. Bidan hitung satu.. dua.. tiga.. tekaaann.. yaaakk.. Lahir deh" ucap Bang Gazha dengan bahasa yang begitu ringan keluar dari mulut.
Seisi ruangan refleks berhenti berjalan dan menatap ke arahnya.
"Eehh.. telo.. disini hanya kamu saja yang belum jadi bapak. Jangan asal bicara..!!" tegur Opa Garin.
"Salahku apa Opa??"
"Woooo.. bocah Iki njaluk di unyek..!!!!!" Ayah Rico langsung menarik jambang Bang Gazha dengan gemas. "Kalau kamu belum tau rasanya bapak.. jangan pernah asal bicara. Bisa jadi malah kamu lebih parah dari Ranggi atau Ares"
...
Rombongan keluarga sudah tiba di Batalyon. Malam itu sepanjang jalan begitu indah mengiringi mobil Bang Ranggi beserta keluarga memasuki area asrama.
"Meriah sekali Bang. Ada apa ya?" tanya Hana bingung.
"Penyambutan anggota baru" jawab Bang Ranggi.
"Tumben meriah begini. Tamtama, Bintara atau Perwira?"
"Panglima cilik" Bang Ranggi pun berbelok masuk ke dalam garasi.
Bibir Hana masih ternganga bahkan saat Bang Ranggi turun dari mobil dan membukakan pintu untuknya.
"Itu mobil kenapa parkir di depan rumah kita.. Mobil siapa Bang?"
"Mobil Mamanya si Panglima." Bang Ranggi menjawab dengan lembut tapi hingga saat ini matanya tetap tidak berani menatap lekat memandang wajah Hana.
__ADS_1
AB 114 NA Hana membaca plat nomer mobil yang terparkir itu.
"Ijin ibu.. ini kunci mobilnya..!!" Om Richi menyerahkan kunci mobil itu pada Hana.
"Ini mobil siapa Om?" tanya Hana.
"Ijin ibu, mobil ibu.. hadiah dari Pak Ranggi atas kelahiran baby Nukhaja" jawab Om Richi.
Bang Ranggi terlihat biasa saja, kakinya malah sibuk menyingkirkan bebatuan di jalanan.
"Ini benar Bang?" tanya Hana.
Bang Ranggi hanya mengangguk kecil menjawab pertanyaan Hana.
"Ijin arahan Dan"
"Nggak ada, setelah ini langsung di mulai saja syukurannya si Khaja lalu acara bebas untuk remaja tapi jam sembilan malam tetap apel tertib" arahan dari Bang Ranggi.
"Siap Dan"
Hana menunduk menyimpan wajahnya. Ada seulas senyum menghiasi wajahnya. "Terima kasih banyak ya Bang"
"Sama-sama dek" jawab Bang Ranggi.
Dari jauh Opa Garin terus berdebat dengan Ayah Rico. Tak menyangka efek menutup rapat istri Ranggi berdampak aneh pada keduanya.
"Ini gimana sih yah. Ranggi jadi tidak seperti Ranggi yang biasanya."
"Nggak apa-apa. Biarkan saja mereka mulai jatuh cinta dari awal. Biar mereka menjadi sosok yang baru. Oma Esa jagonya buat klepek-klepek" kata Opa Garin.
"Jihanku juga sampai saat ini tetap luar biasa Pa. Mau jadi adiknya Zani pun masih oke" jawab Ayah Rico tak sengaja.
"Heeehh Rico, hapus itu ide gila dari kepalamu. Makanya si Ranggi itu kencangnya setengah mati kalau sama perempuan. Ayahnya saja masih garang" tegur Opa Garin.
"Hhsstt Papa.. jangan ribut. Nanti kita lihat video girlband di dalam. Ada yang cantik Pa." bujuk Ayah Rico.
"Kamu iniii..!!!!!!! Ayo sekarang saja..!!" ajak Opa Garin sambil mengajak Ayah Rico masuk ke dalam rumah lebih dulu.
Ayah Rico mengusap dadanya. "Selamaat.. untung Papa mau" gumam Ayah Rico kemudian mengikuti mertuanya.
.
.
__ADS_1
.
.